Mengimani Harapan

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Mengimani Harapan

“Apakah kita akan menapaki jalan ini hingga mencapai ujungnya?”

“Ya,” jawab roh itu. Ia berjalan seolah-olah jarak tak berarti apa-apa.

“Tapi katamu jalan ini tak berujung.”

“Itu benar,” jawab roh itu.

“Bagaimana bisa benar?”

“Dari sudut pandang tertentu, alam semesta sepertinya terdiri dari banyak paradoks. Tetapi segala sesuatu berubah. Itulah fungsi dari kontradiksi.”

“Aku tak mengerti.”

“Kalau kau bisa melihat segala sesuatu dari setiap sudut pandang yang bisa dibayangkan, mungkin kau akan mulai mengerti.”

“Apa kau bisa?”

“Tidak.”

*

Itu petikan favorit saya dari The Famished Road. Kalau saya jadi Azaro, mungkin Roh Berkepala Tiga itu sudah saya dorong hingga jatuh ke dasar jurang. Jawaban macam apa itu coba?

Tapi memang benar, kontradiksi dan paradoks tak bisa dihindari. Menggenggam semua perspektif pun sepertinya mustahil.

Misalnya saja Anda ke rumah sakit menjenguk, menemani, atau mengantar sanak famili. Saya yakin ini tidak hanya terjadi pada diri saya. Derajat keyakinan saya ini mungkin sama seperti kelancangan jawaban-jawaban Roh Berkepala Tiga untuk Azaro di atas. Terkadang, ada semacam ketidakpastian, kebingungan menakar kecenderungan. Di satu sisi, Anda pasti merasa was was, khawatir, cemas, sedih, prihatin, dan segala perasaan negatif lainnya saat tengah menunggu di rumah sakit. Tapi di sisi lain, kadang juga datang—meski tidak sering—suatu kesyukuran, karena di sela-sela penantian Anda di rumah sakit, kerap melintas rupa-rupa yang....... Subhanallah. Tak perlulah saya deskripsikan secara detail, satu kata itu cukup mewakili.

Tapi itu jelas terlalu dangkal. Selain menunjukkan kesan ketakikhlasan menunggui pasien, di situ juga tampak kekurangajaran tak tertanggungkan, karena ada ekspresi libido yang murahan, memalukan, tak tahu diri, bahkan hina.

Tapi setelah merenung-renung lagi, ada pikiran lain yang saya kira sedikit lebih dalam dari pikiran dangkal di atas. Ada paradoks, kontradiksi, atau apalah-namanya lainnya biasa terjadi di rumah sakit.

Semesta medis adalah semesta sains. Semuanya mesti terukur. Tak bisa sembarangan. Dosis obat, probabilitas keberhasilan operasi, tingkat presisi dan ketepatan penggunaan alat, juga sterilisasi perangkat, semuanya harus dihitung tepat. Ilmiah, rasional... titik!

Tapi di balik itu, ia kadang—bahkan sering—harus berkawin pula dengan sesuatu yang tak ilmiah, irrasional. Sebutlah ia harapan. Saat keluarga pasien berkonsultasi dengan Dokter, perihal kemungkinan-kemungkinan, juga kebijakan yang mesti diambil, tak jarang kita mendengar, “Akan selalu ada kemungkinan berhasil.” Bahkan saat kondisi sudah sampai di waktu terburuknya, saat semuanya seakan tak tertolong lagi, kalimat itu masih juga sering terlontar. Sungguh hal-hal yang tak terukur, tak ilmiah.

Memang, hidup manusia hanya disandarkan pada dua hal: harapan dan penyangkalan. Saat keluarga Anda sakit parah, Anda menyangkal sebisa mungkin kalau si sakit belum akan pergi. Sekaligus di sisi lain melempar harapan, melepasnya ke awang-awang, mungkin dalam bentuk doa.

Seperti dialog di 90 Minutes in Heaven itu:

“Ibu tetap tidak bahagia dan Ayah tidak membaik.”

“Sayang, kau harus tetap berdoa, kau tahu apa arti dari iman? Kau bisa saja punya harapan tanpa iman, tapi kau tidak bisa punya iman tanpa harapan.

  • view 259