Kampret kau, Kafka!

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Oktober 2016
Kampret kau, Kafka!

Entah karena motif apa, beberapa hari terakhir saya iseng-iseng membaca-baca kembali beberapa tulisan Franz Kafka. Seperti biasa, selalu saja suram, muram. Harus kuakui, membaca tulisan-tulisan semacam ini selalu menarik. Muram tapi menarik, kau mengerti?

“Ya, harus kau akui, Van, hidupmu juga suram,” mungkin itulah kalimat yang kubisikkan sendiri dan bergema di pikiran saat kudapati beberapa penggalan kalimat Kafka yang membuat meringis. Tak apalah, karena sedikit tusukan dan sengatan pada saraf saat membaca itu penting. Berapa pun kadarnya, senihil apapun porsinya, itu penting. Untuk apa membaca sesuatu yang sekedar mencolek epidermis? Sudah sewajarnya lah ia sampai hingga ke sum-sum.

Di antara sekian tulisan Kafka yang kudapat, ada satu tulisan yang, jujur, sangat menohok saya. Seperti pukulan di ulu hati, begitu mengena. Nanti akan kulampirkan gubahan Kafka itu. Tulisan itu membuat saya teringat pada satu dari sekian fragmen hidup saya, yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Fragmen hidup apa yang penting, jika keseluruhan hidup itu sendiri adalah sebuah kemuraman? Kelancangan macam apa yang kau punya hingga bisa bilang bagian kecil dari sesuatu yang muram adalah sebuah fragmen penting? Apakah mata seseorang yang menampilkan ekspresi muram terlihat menarik? Apakah bibir seseorang yang muram bisa semerekah biasanya? Apa yang menarik dari gelayut awan mendung? Kilatan petirnya? Gemuruh gunturnya? Tentu tidak. Pelangi yang menunggu sesudahnya? Persetan dengan itu. Personifikasimu berlebihan, akh!

Walau begitu, ia bisa jadi perlu dituliskan. Karena nukilan fragmen dari keseluruhan potret kemuraman, walau mungkin terkadang tak penting, setidaknya bisa jadi media refleksi. Atau, setidaknya sebagai pengingat, bahwa momen menggelitik bisa juga terselip dari sesuatu yang muram. Bahwa absurditas dan nihilisme hidup sebenarnya tidaklah nyata. Kita tentu ingat Angela’s Ashes, memoar getir dari Frank McCourt. Betapa banyak fragmen menggelitik-agak-tak-penting yang McCourt selipkan, yang justru jadi daya tarik utama dari naskahnya tersebut. Jadi, marilah kugelarkan fragmen tak penting tersebut:

Hari itu, seperti biasanya, kuhabiskan waktu di kampus saja, tak ke mana-mana. Setelah pagi hingga siang berkutat dengan berkas dan asistensi, sisa waktu hari itu pun kuhabiskan dengan membaca buku. Saya lupa buku apa yang kubaca hari itu, mungkin saja The Famished Road-nya Ben Okri.

Membaca di kursi kayu—tanpa busa—memang merepotkan. Mungkin untuk sekian menit pertama masih nyaman-nyaman saja. Tapi begitu masuk menit kesebelas dan seterusnya, kau mesti sering gonta-ganti posisi. Ya, ini tentang mulai panasnya pantatmu karena duduk terlalu lama, juga tentang jenuhnya tulang punggung dan urat saraf lehermu sehingga perlu direnggangkan sedikit. Sudut-sudut kursi kayu yang beradu dengan kulit dan saraf yang jenuh, seperti menghadirkan neraka tersendiri. Beruntung jika kau punya meja atau kursi kedua untuk meluruskan kakimu ke depan, jika tidak, mungkin kau hanya bisa tahan membaca sekian menit saja. Mulai dari pose berselonjor bertumpu pada tulang ekor, menyandarkan batang leher pada tepi atas sandaran kursi, hingga pose bertumpu pada siku tangan kanan. Hah, membayangkan pose-pose itu saja sudah membuat saya pegal. Apalagi melakoninya langsung.

Problem dan derita di atas mungkin hanya jadi punya saya pribadi, dan tidak dirasakan orang lain. Mungkin karena anatomi tubuh saya yang aneh? Lagipula kajian antropometri dan ergonomi dalam membuat perabot tak pernah bisa jadi lebih penting daripada kepentingan ekonomisnya.

Entah saat itu sudah berapa kali saya ganti posisi, sampai akhirnya seorang kawan saya melintas. Awalnya, kupikir yang akan disinggungnya adalah posisi membaca saya yang sudah mulai aneh, tapi ternyata tidak. Masih kuingat jelas apa yang dikatakannya saat itu,

“Beh, Ivan membaca terus.” Jeda sebentar, kemudian dilanjutkannya kembali, “Kalau seandainya kau perempuan, Van, sudah kupacari kau.”

Kalimat itu, awalnya ingin kutanggapi dengan seloroh perihal masih normalnya orientasi seksual saya, atau sedikit gugatan pada orientasi seksual kawan saya tersebut, tapi itu kuurungkan. Karena itu respon yang terlalu biasa, basa-basi busuk. Jadi kutanggapi hanya dengan gelak dan bahak, walaupun kutahu itu juga respon biasa, bahkan terlalu biasa.

Setelah momen itu, membaca kulanjutkan kembali. Komentar kawan saya itu menguap entah ke mana, tak sedikitpun mengganggu bacaan saya. 30 menit selepas itu, pertanda untuk menutup buku pun mulai muncul, seperti menguap berkali-kali dan mulai melelehnya air mata. Buku pun kututup, dan mulailah kukhayalkan apa yang baru saja kubaca. Ini penting, mengkhayalkan sebentar apa yang baru saja dibaca berguna untuk pemahaman dan penyerapan pengetahuan baru ke otak. Meski ada yang bilang bahwa jangan pernah terlalu mengingat-ingat kembali buku-buku yang pernah dibaca, bahkan lebih baik dilupakan sekalian, dengan alasan persiapan slot untuk buku dan pengetahuan baru setelahnya, aktivitas mengkhayal dan menimbang-nimbang selepas membaca itu tetap saja kulakukan.

Nah, saat tengah mengkhayal ini kemudian melintas kembalilah celetukan kawan saya tadi. Dan, khayalan saya pun beralih fokus ke kata-kata kawan saya tersebut, tak lagi ke buku yang baru saja kubaca. Gema kata-kata kawan saya itu entah kenapa mengantar saya pada dua khayalan konyol.

Pertama; kenapa juga kata-kata itu harus datang dari seorang kawan yang berhormon dominan testosteron, alias laki-laki? Kenapa coba tak datang dari kawan-kawan yang dominan estrogen, alias perempuan? Saya mungkin punya banyak momen ditegur dengan nada yang sama oleh kawan-kawan perempuan saya soal kecanduan saya membaca buku. Tapi komentar mereka hanya berhenti di situ, tak beranjak lagi. Tak pernah sampai pada tahap premis kedua seperti yang diucapkan kawan laki-laki yang kusebutkan di atas, ya, tahap menghendaki untuk berpacaran.

Atau mungkin pernah mereka ucapkan, tapi cuma di dalam hati dan pikiran, tak bergema hingga ke luar? (berhenti berpikir seperti itu, Van, kau bukan Matt Parkman). Atau mungkin pernah direpresentasikan dengan kalimat dan bahasa kode? (oh maaf, saya bukan agen intelijen yang fasih menafsir dan menakar kode).

Hentikan pikiran-pikiran semacam itu, Van. Apa kau lupa kata-kata seorang kawanmu yang lain saat sore kelabu dulu itu? “Kita hanyalah pribadi-pribadi yang terlalu antagonis untuk digunjingkan sekumpulan wanita, tak pantaslah kita.” Lihat, bahkan digunjingkan pun tak pantas, apalagi dirindukan dan dicintai. Sudahlah, Van, kau memang bukan pribadi yang membekas di hati.

Khayalan kedua; korelasi macam apa yang terbangun antara buku dan perempuan yang pantas dipacari? Memang sih, harus kuakui, perempuan yang gemar membaca itu sexy. Apalagi yang berkacamata, haih. Saya punya beberapa kawan perempuan yang memang kutahu seorang pembaca yang tekun, dan kerap terlibat percakapan bersama mereka. Bercakap dengan mereka, asli menyenangkan. Frekuensinya sama, jadi wajar bisa klop.

Tapi jika lagi-lagi—terpaksa—bicara soal pantas tidaknya dipacari, saya kok justru agak takut ya dekat dengan perempuan-perempuan semacam ini—wangi misoginis kental di sini, saudara-saudara. Ya, mengobrol bersama seorang pembaca yang tekun, logikamu berpotensi besar diobok-obok. Orang-orang yang tekun membaca jelas punya banyak referensi di kepalanya. Setiap kata yang kau keluarkan bisa saja terus-terusan digugat. Beruntung jika kau pandai berkilah, atau juga seorang pembaca yang tekun sehingga punya banyak argumen, tapi jika tidak? Yah, terima-terima saja lah logikamu diacak-acak, dipecundangi. Di satu sisi memang menarik beradu argumen dengan mereka perihal logika dunia, itu dimensi yang mungkin kusanggupi, tapi jika beralih ke dimensi sebelahnya, yakni perasaan, saya angkat tangan.

Demikianlah. Hakh, sungguh pengalaman yang konyol diselingi khayalan-khayalan yang payah.

Sampai di sini, mungkin sudah ada yang penasaran dengan tulisan Kafka yang bisa sampai membuat saya flashback pada pengalaman konyol di atas. OK lah akan kulampirkan. Judulnya PENOLAKAN (dari judulnya saja sudah miris, kan?).

---------

Ketika kutemui seorang gadis jelita dan kumohon padanya agar sudi pergi denganku. Ia berlalu tanpa mengucap sepatah kata pun, yang kuartikan sebagai: “Kau bukan seorang pangeran yang masyhur, juga bukan pria Amerika yang pemurah, malah dirimu mirip dengan Indian berkulit merah dengan pandangan mata yang tenang, kamu telah dipijat oleh hembusan angin padang rumput dan sungai-sungai yang mengalir di sana, kau belum pernah sekalipun bertualang ke danau besar dan menjelajahinya, di mana pun tempat itu berada dan dapat ditemukan dengan tepat, maka kenapa wanita jelita seperti diriku hendak berjalan denganmu?”

Kau lupa bahwa tak ada sebuah mobil mewah pun yang membawamu berayun-ayun menyusuri jalan; tak ada kulihat seorang pria terhormat sebagai pendamping di sisimu, mengenakan setelan jasnya yang ketat membalut tubuhnya, berjalan di belakangmu sambil membisiskkan rayuan-rayuannya; dadamu dengan rapi terpencet rapi di balik korset yang kau kenakan, namun paha dan pinggulmu bebas tanpa himpitan, kau pakai gaun tafeta yang dihiasi lipatan, seperti gaun-gaun yang telah menggembirakan semua orang di musim gugur, tahun lalu, meski demikian dengan bahaya mematikan yang sebenarnya tersembunyi dalam dirimu—kau tersenyum sedap sesaat.

Benar, kita berdua sama-sama benar, dan untuk menjaga dari hal-hal yang hanya menyebabkan perbantahan, maka sebaiknya bila kita berjalan pulang sendiri-sendiri.

---------

Lihat, lihat, betapa kerennya tulisan itu, kan? Kampret kau, Kafka!

  • view 181