Membunuh Kepolosan

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Oktober 2016
Membunuh Kepolosan

#september 2015

Setelah membaca semacam ulasan novel Amba oleh Pak Martin Aleida beberapa waktu lalu, saya pun berpikir untuk menulis serupa. Dalam tulisannya beliau memaparkan dengan cukup gamblang betapa mengagumkan cara bertutur Laksmi Pamuntjak yang termanifestasi dalam Amba. Ulasan itu saya nilai cukup gamblang, karena selain menjelaskan alur cerita, juga sesekali menyinggung dan menyerempet sekelumit kontroversi yang turut mengiringi novel itu.

Bagi Anda-Anda yang lumayan banyak maupun sedikit mengikuti geliat sastra Indonesia, tentu tak melewatkan beberapa kerikil yang menyandung perjalanan novel yang dirilis tahun 2012 lalu itu, hingga sekarang. Tentu masih jelas di ingatan kita gugatan keras dari Linda Christanty dan AS Laksana terkait novel itu beberapa bulan lalu, yang tentu saja berhubungan dengan akan dihelatnya Frankfurt Book Fair bulan depan. Kritik itu dilayangkan menyusul kesan ‘terlalu diagung-agungkan’-nya novel itu beserta penulisnya (Laksmi) oleh para jurnalis Jerman, yang disebut sebagai penulis perempuan ‘utama’ pendobrak tabunya peristiwa mandi darah ’65. Padahal, kita tahu bahwa tema mandi darah ’65 sudah banyak diangkat oleh penulis-penulis lain.

Selain kritik itu, ada deretan kritik lainnya. Mulai dari tendensi perspektif tokoh dalam novel yang terkesan elitis dan berbau eksklusivisme; kecurigaan bahwa novel itu ‘tidak-ditulis-sendiri’ oleh Laksmi; sentimen negatif bahwa novel itu tak layak disebut buah karya sastra Indonesia karena ia hanyalah terjemahan dari naskah aslinya yang berbahasa Inggris; hingga merembet ke geng Salihara beserta kepala sukunya, Goenawan Mohamad, beserta aroma politik sastranya, yang tak bisa tidak mengingatkan kita pada cerita gontok-gontokan LEKRA dan Manifes Kebudayaan dulu sekali.

Tapi sudahlah. Saya tak ingin membahas detail ke sana. Selain tak ingin, mungkin juga karena tak mampu. Apalah saya ini.

Seperti yang kubilang di muka, membaca ulasan Pak Martin itu membuat saya ingin menulis tulisan serupa. Namun lagi-lagi, apalah saya ini. Membaca tulisan yang hampir 30 paragraf itu saja perut saya langsung lapar, energi saya terkuras habis, mata saya lelah, yang kemudian kututup dengan memesan nasi-ikan-sayur, menu andalan saya di lapak Lia, lapak andalan anak-anak Elektro.

Tulisan serupa yang kumaksud tentu saja tulisan review atas buku-buku yang selesai kubaca. Kebetulan, waktu itu saya lagi membaca ulang buku To Kill a Mockingbird. Buku yang sebenarnya sudah kubaca bertahun-tahun lalu itu terpaksa kubaca ulang berhubung baru mendaratnya ‘sekuel’ buku itu di rak buku saya. Apa lagi kalau bukan Go Set a Watchman, naskah Harper Lee lainnya yang sebenarnya adalah saudara tua dari To Kill a Mockingbird, yang baru ditemukan akhir tahun lalu setelah hilang berpuluh-puluh tahun selepas diserahkan ke penerbit.

Niat awal, begitu selesai menuntaskan To Kill a Mockingbird, akan langsung kuestafet ke Go Set a Watchman. Namun karena tulisan Pak Martin itu, kupikir saya harus rehat sebentar untuk menulis sedikit review. Namun lagi lagi dan lagi, apalah saya ini. Membaca ulasan Pak Martin saja saya keblinger, apalagi menulis review. Apalagi novel sekelas To Kill a Mockingbird. Membayangkan sematan ‘novel terbaik abad ke-20’ saja, saya langsung keder dan menarik kesimpulan cepat, bahwa novel ini hanya layak dibaca juga dikagumi, dan jelas tak layak untuk diulas dan dibedah, apalagi pembedahannya dilakukan oleh manusia payah sekelas saya.

Pesimismeku ini menggiring saya pada pertanyaan: energi luar biasa macam apa yang mereka, penulis-penulis—semisal Pak Martin—itu punyai sampai bisa menulis banyak dan panjang sambil berpikir rigid seperti itu? Menulis memang bukan pekerjaan mudah. Di era media sosial ini, Anda tentu banyak melihat tulisan-tulisan—entah panjang atau pendek, penting ataupun tidak—saat menggulung linimasa. Terlihat jelas usaha netizen untuk mencoba menyajikan tulisan-tulisan yang, setidaknya, terbaca menyenangkan. Ada yang memang menyenangkan, ada pula yang sok asik, dan tentu, ada juga yang asik sendiri. Setidaknya, mereka mencoba, karena selera relatif. Kadang-kadang saya juga terpikir, suatu saat harus menulis sepanjang, sepadat, serinci, juga seserius tulisan mereka.

Tapi karena memang dasarnya saya tak tahu diri, maka saya tulis juga tulisan ini.

Secara garis besar, To Kill a Mockingbird merepresentasikan kehidupan di Amerika awal abad lalu, saat segregasi ras masih sangat kental. Potret prasangka rasial juga diskriminasi digambarkan begitu menyedihkan.

Buku itu, setidaknya terdiri dari tiga fase. Fase pertama, tentu saja gambaran petualangan Scout dan Jem. Petualangan dua anak kecil merambah dan menjamah lingkungan hidupnya. Bertemu manusia-manusia lainnya, anak-anak lainnya, pun orang-orang dewasa. Cerita penuh pelarian, persembunyian, juga sedikit perkelahian. Penggambaran yang mengingatkan saya pada dua buku lain beserta empat tokohnya, dua tokoh pada masing-masing buku. Buku pertama tentu saja petualangan Tom Sawyer dan Huck Finn karya Mark Twain. Dan buku kedua, Pater Pancali* tulisan Banerji, kisah tentang Apu dan Durga, dua bersaudara yang bergumul dalam kemiskinan Bengali, India. Seperti juga penuturan Mark Twain untuk Tom Sawyer dan Huck Finn, dan Banerji untuk Apu dan Durga, penuturan Harper Lee untuk Scout dan Jem dilakukannya dengan sangat indah dan membuai.

Walaupun seluruh isi buku secara umum memaparkan petualangan Scout dan Jem, tipe petualangan di fase pertama yang kumaksud tentu berbeda dengan yang ada di fase kedua. Fase kedua adalah mulai bersinggungannya mereka dengan pekerjaan sang Ayah, Atticus, yang seorang advokat dan sedang menangani kasus seorang kulit hitam yang dituduh menganiaya dan memperkosa wanita kulit putih. Di fase ini, menurut saya, adalah fase yang begitu sarat nilai. Nilai yang dipampangkan dengan sangat terang oleh penulis di fase ini tentu saja: KEBERANIAN. Keberanian memperjuangkan apa yang diyakini benar, keberanian memihak mereka yang terdiskriminasi, keberanian menentang mereka yang mayoritas, keberanian mendobrak pola pikir kolot, keberanian untuk berenang melawan arus umum. Tak ada yang lebih mengharukan daripada getirnya kesaksian Mr. Robinson di sidang itu. Juga tak ada yang lebih heroik daripada orasi penutup yang Atticus lantangkan di pengujung sidang. Akan kukutipkan di akhir tulisan ini nantinya.

Dan fase ketiga, tentu saja fase setelah persidangan Tom Robinson. Atticus gagal menyelamatkan Mr. Robinson dari dakwaan bersalah. Walau akhirnya Mr. Robinson divonis bersalah, kita bisa sepakat bahwa Atticus tidak gagal. Ia membuka mata orang-orang Maycomb County. Menampilkan dengan jelas bagaimana wajah keadilan yang seharusnya dan semestinya.

Di fase ini pula kita dapati bagaimana Mr. Ewell, yang merasa dihinakan sewaktu sidang, meludahi wajah Atticus. Yang kemudian hanya ditanggapi dingin oleh Atticus, karena ia tahu, orang-orang rendah semacam Mr. Ewell tak layak diladeni. Bagian ini mengingatkan saya pada satu adegan di dalam bar di Pulau Jaya, saat Luffy dan Zoro digebuk habis-habisan oleh Bellamy dkk. Mereka digebuk sebagai ganjaran dan ledekan atas keyakinan mereka pada keberadaan Sorajima, Skypiea, negeri di atas awan, negeri di langit. Bellamy menganggap itu hanyalah semacam utopia dari mereka yang terlalu bodoh dan polos.

Saat itu Luffy bisa saja menghajar mereka semua sendirian, tapi itu tidak dilakukannya. Ia justru kasihan pada Bellamy dkk. Ia kasihan pada mereka yang bahkan untuk bermimpi sekalipun tak berani. Dan benar, Sorajima bukan sekedar utopia. Negeri di atas langit itu benar-benar ada, eksis.

Kembali ke Maycomb. Di fase ketiga itu pula akhirnya kita mengakhiri cerita dengan sangat tragis. Ya, kematian Mr. Ewell. Dengan pisau melesak di antara iganya. Insiden yang melibatkan Scout dan Jem. Pergumulan dalam gelap, yang saking gelapnya, akhirnya hanya berakhir dengan kebenaran yang samar. Sesamar akhir perdebatan Atticus dan Sheriff Tate: Mr. Ewell ditikam Jem, ataukah tak sengaja jatuh menimpa pisau?

Buku itu memang dipenuhi peristiwa-peristiwa, kejadian-kejadian, yang menampilkan keaslian segregasi yang terjadi. Praktik-praktik ketidakadilan, ironi demi ironi. Ia terlihat begitu asli, tentu saja, karena ia hadir dari perspektif anak-anak. Di situlah titik sentral naskah ini: kemurnian perspektif dalam memandang realitas.

Jika harus kurangkum nilai apa yang bisa kupelajari dari naskah To Kill a Mockingbird, mungkin hanya akan jadi beberapa kalimat saja: ‘Betapa keadilan hanya bisa direngkuh oleh anak-anak. Merabai kebenaran hanya mungkin dicapai melalui kemurnian dan kepolosan selayak anak-anak. Dan mereka yang dewasa, seakan tak punya harapan, hidup dalam penyangkalan, kompromi, absurditas, nihilisme, dan selalu sesak oleh cekikan norma. Meneruskan kebodohan demi kebodohan.’

Ah iya, lirik lagu Super Beaver lagu pembuka Barakamon itu, ‘Rashisa’. Anime terbaik tahun lalu itu juga menampilkan bagaimana mereka yang dewasa memang mestinya banyak-banyak belajar dari anak-anak. Menjiwai kepolosan dan kemurnian mereka. Berikut petikan terjemahannya:

Apa artinya ‘menjadi dirimu sendiri’? // ‘membedakan dirimu sendiri dari orang lain’ // di sampul majalah di toko tetiba kulihat tulisan itu.

apa artinya menjadi dirimu sendiri? // saat anak-anak aku tak peduli hal itu // marah jika aku tak menyukai sesuatu // jika menyukai sesuatu aku akan bilang aku menyukainya.

kita ini pasti akan berubah // hal berharga yang ingin kita lindungi pun berubah // dari harta karun yang tak perlu penjelasan // hingga perilaku sosial yang kita terima hanya untuk dipahami.

semakin dewasa kita semakin menjadi makhluk yang penuh penyesalan // tapi meskipun begitu // pasti ada hal yang akan kau pelajari di sana.

karena itulah aku akan menjadi diriku sendiri // dan kau pun akan menjadi dirimu sendiri // sejak awal itu bukanlah sesuatu yang harus kita cari // aku bukan kau // dan kau pun bukan aku

menjadi diri sendiri itu sebenarnya apa? // kita semua memiliki sesuatu yang tak tergantikan // tidak ada yang salah dengan kehidupan yang selalu berubah.

*

Seperti yang sudah kujanjikan di atas, mari kunukilkan penggalan pidato Atticus di akhir pembelaannya untuk Mr. Robinson. Pidato yang hampir saja membuat saya terisak sore itu saat membacanya ulang.

*

“Dalam hati, saya merasa kasihan pada saksi utama negara, tetapi rasa kasihan saya tidak mencakup tindakannya yang membahayakan hidup seseorang, yang dilakukan perempuan itu untuk menyingkirkan rasa bersalahnya sendiri.

“Saya sebut rasa bersalah, Tuan-Tuan, karena rasa bersalahlah yang memotivasinya. Dia tidak melakukan kejahatan, dia hanya melanggar norma masyarakat kita yang kaku dan mengakar, norma yang begitu keras sehingga siapa pun yang melanggarnya akan dilecehkan di tengah-tengah kita karena tak layak diajak hidup bersama. Dia adalah korban kebodohan dan kemelaratan yang kejam, tetapi saya tak bisa mengasihaninya: dia berkulit putih. Dia tahu benar betapa besar pelanggaran yang dilakukannya, tetapi karena keinginannya lebih kuat daripada norma yang dilanggarnya, dia tetap melanggarnya. Dia melanggar, dan reaksi selanjutnya adalah sesuatu yang pernah dilakukan setiap anak—dia mencoba menyingkirkan bukti pelanggarannya. Tetapi, dalam kasus ini, dia bukanlah anak yang menyembunyikan barang selundupan: dia menyerang korbannya—dia merasa perlu menyingkirkannya jauh-jauh—Tom Robinson harus dienyahkan dari hadapannya, dari dunia ini. Dia harus memusnahkan bukti pelanggarannya.

“Apakah bukti pelanggarannya? Tom Robinson, seorang manusia. Dia harus menyingkirkan Tom Robinson dari hadapannya. Tom Robinson akan mengingatkannya setiap hari tentang perbuatannya. Apa yang dilakukannya? Dia menggoda seorang Negro.

“Dia seorang berkulit putih, dan dia menggoda seorang Negro. Dia melakukan sesuatu tak terbayangkan dalam masyarakat kita: dia mencium seorang berkulit hitam. Bukan seorang kakek tua, tetapi seorang lelaki Negro yang muda dan kuat. Norma tidak berarti apa-apa baginya ketika dia melanggarnya, tetapi menimpanya setelah itu.

“Demikianlah seorang Negro yang pendiam, terhormat, rendah hati, dan dengan kekurangajaran yang tak termaafkan merasa ‘kasihan’ kepada seorang perempuan berkulit putih, harus bersaksi melawan dua orang berkulit putih. Saya tak perlu mengingatkan Anda tentang penampilan dan perilaku mereka di kursi saksi—Anda melihatnya sendiri. Para saksi negara, kecuali Sheriff Maycomb County, telah hadir di hadapan Anda, Tuan-Tuan, di pengadilan ini, dengan keyakinan sinis bahwa kesaksian mereka tak akan diragukan, yakin bahwa Anda, Tuan-Tuan, akan ikut bersama mereka dengan asumsi—asumsi jahat—bahwa semua orang Negro berbohong, bahwa semua orang Negro adalah makhluk yang pada dasarnya tidak bermoral, bahwa semua lelaki Negro berbahaya jika berada di dekat perempuan kita, asumsi yang hanya dimiliki oleh otak sekaliber mereka.

“Yang kita ketahui, Tuan-Tuan, adalah bahwa asumsi tersebut adalah kebohongan sehitam kulit Tom Robinson, kebohongan yang tak perlu saya tekankan pada Anda. Anda tahu kebenarannya, dan kebenarannya adalah begini: sebagian orang Negro berbohong, sebagian orang Negro tak bermoral, sebagian orang Negro berbahaya bagi perempuan—yang berkulit hitam maupun putih. Tetapi, kebenaran ini berlaku bagi seluruh umat manusia dan tidak khusus pada satu ras saja. Tak ada orang di ruang pengadilan ini yang belum pernah berbohong, yang belum pernah berbuat amoral, dan tak ada lelaki hidup yang tak pernah memandang serang perempuan dengan hasrat.

“Satu hal lagi, Tuan-Tuan, sebelum saya selesai. Thomas Jefferson pernah berkata bahwa semua manusia diciptakan sederajat, frasa yang disukai kaum Yankee dan golongan wanita cabang Eksekutif di Washington untuk diteriakkan kepada kita. Ada kecenderungan beberapa orang pada tahun 1935 ini untuk menggunakan frasa ini di luar konteks, untuk memenuhi semua kondisi. Contoh yang paling konyol yang terpikir oleh saya adalah bahwa orang yang memimpin sekolah negeri menyamakan derajat orang yang bodoh dan malas belajar sejajar dengan yang rajin—karena semua manusia diciptakan sederajat, para pendidik akan berkata dengan serius, anak-anak yang tinggal kelas menderita rasa rendah diri yang parah. Kita tahu semua manusia tidak diciptakan sederajat dalam arti yang ingin diyakini oleh sebagian orang—sebagian orang lebih pintar dari yang lain, ada yang memiliki lebih banyak kesempatan karena dilahirkan dengan itu, ada yang berpenghasilan lebih dari yang lain, sebagian perempuan membuat kue lebih enak daripada yang lain—ada yang dilahirkan dengan bakat jauh di luar cakupan normal sebagian besar manusia.

“Tetapi, ada satu hal di negara ini yang menunjukkan bahwa semua manusia diciptakan sederajat—ada satu lembaga kemanusiaan yang membuat seorang pengemis sederajat dengan seorang Rockefeller, seorang bebal sederajat dengan seorang Einstein, dan seorang tak berpendidikan sederajat dengan Rektor Universitas mana pun. Lembaga itu, Tuan-Tuan, adalah pengadilan. Baik itu Mahkamah Agung Amerika Serikat atau pegadilan negeri paling rendah di tanah ini, atau pengadilan terhormat tempat Anda mengabdi ini. Pengadilan kita memiliki kecacatan, sebagaimana lembaga manusia mana pun, tetapi di negara ini, pengadilan kita merupakan penyetara besar, dan dalam pengadilan kita, semua manusia diciptakan sederajat.

“Saya bukan seorang idealis yang meyakini dengan teguh integritas pengadilan dan sistem juri kita—ini bukan ideal bagi saya, ini kenyataan yang hidup dan terjadi. Tuan-Tuan, pengadilan tidak lebih baik daripada setiap orang di antara kalian yang duduk di hadapan saya dalam dewan juri ini. Sebuah pengadilan hanya sebaik jurinya, dan juri hanya sebaik orang-orang yang menyusunnya. Saya yakin bahwa Tuan-Tuan akan menelaah tanpa perasaan bukti yang telah kalian dengar, mencapai keputusan, dan mengembalikan terdakwa kepada keluarganya. Demi nama Tuhan, tunaikanlah tugas Anda.”

*

To Kill a Mockingbird dirilis tahun 1960. Publikasinya tidak mulus. Banyak sudut di Amerika yang menolaknya, mengutuknya beredar. Tentu saja karena pengungkapannya akan hal-hal tabu kala itu. Namun, seperti yang kita lihat hari ini: segregasi, prasangka rasial, juga praktik diskriminasi seperti tak henti-henti muncul. Kisah ini mungkin abadi, akan selalu relevan dan kontekstual.

Hari ini, diskriminasi tak lagi sekedar melihat warna kulit, tapi menyasar lebih banyak titik—sebanyak mungkin titik yang bisa ia jangkau. Mereka yang islam, mereka yang berkalung salib, suku tertentu, mereka yang sekedar memanjangkan rambut, yang minoritas, yang gay, yang lesbian, yang kebetulan menjatuhkan pilihan baru, yang komunis, yang sosialis, yang berjenggot, petani, nelayan, syiah, ahmadiyah, dlsb. Diskriminasi bisa menggilas siapa saja, juga bisa dilakukan siapa saja, tentu, untuk menggilas yang lainnya. Kasus teranyar: #IStandwithAhmed, anak 14 tahun yang dikira membuat bom.

Oleh karena ini September, Anda mungkin bisa menyalahkan Bush, ya, saya bicara tentang tragedi 9/11. Atau untuk kalian yang mengimani konspirasi secara akut, bisa menyalahkan Illuminati, Freemason, Yahudi, Eastern Star, Soeharto, PKI, dlsb.

Tak ada salahnya menyalahkan mereka-mereka itu. Silakan, itu hak Anda. Tapi kalau boleh saran, sebelum menyalahkan mereka, periksalah dulu rasio dan benak kita masing-masing. Mungkin saja memang kita sendirilah yang merawat secara mandiri prasangka-prasangka menjijikkan itu.

 

---------------------------

* Pater Pancali baru saja dicetak ulang oleh Penerbit KPG

  • view 172