Toko Buku?

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Oktober 2016
Toko Buku?

#permulaan 2015

Akhirnya ke toko buku lagi setelah sekian lama. Tapi hampir tak ada yang berubah, kecuali dua hal: tempat penitipan tas yang sudah dipindah ke luar toko, dan buku Blink tulisan Malcolm Gladwell yang ternyata sudah ada cetak terbarunya. Tak ada yang berubah, buku-buku yang kucari selalu tak bisa kutemukan di sana, hanya buku-buku populer yang terlihat. Buku-buku yang katanya ‘populer’, tapi selalu gagal menarik perhatianku, tak menggugah minat baca. Mungkin hanya soal selera.

Akhirnya tibalah saya di salah satu rak buku yang menurutku sangat unik. Niat awal saya ke rak itu adalah untuk mencari dan membaca beberapa buku yang membahas tokoh-tokoh dan ide-ide besar mereka tentang dunia. Ya, figur-figur besar semacam Soekarno, Tan Malaka, Einstein, Habibie, Hitler, Gandhi, Tesla, dll. Tapi yang kudapati di rak itu cuma puluhan buku yang hanya menjelaskan satu tokoh saja, hanya satu orang, dan bukan tokoh-tokoh yang kusebutkan di muka. Bayangkan, satu rak buku yang mungkin ukurannya 3x2 meter lebih itu seolah jadi rak buku yang homogen. Bukunya sih beda-beda, tapi tokoh yang dibahas sama, dan inti dari buku-buku itu tak jauh beda, itu-itu juga, itu-itu saja, itu-itu terus. Ungkapan ‘jangan menilai buku hanya dari kovernya’ menurutku tak cocok untuk buku-buku jenis ini. Kalau mau kukalkulasi, kuhitung-hitung, dominasi jumlah buku-buku jenis ini hanya bisa dikalahkan atau mungkin sama dengan jumlah novel-novel teenlit, buku misteri Agatha Christie, deretan buku Sherlock Holmes, dan karya-karya fenomenal Paulo Coelho. Oh iya, Tere Liye juga.

Tokoh yang tak perlu kusebutkan namanya itu, dalam buku-buku di rak tersebut dijelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana dan santun, saking santun dan sederhananya bahasanya, jadi susah kumengerti. Buku-buku itu membahas kehidupan sang tokoh dari lahir, bagaimana ia tumbuh di keluarga dan lingkungan yang sederhana bahkan nyaris miskin. Mungkin latar belakang hidupnya yang sederhana inilah yang menjadikannya pribadi yang juga sederhana, merakyat, ulet, pekerja keras, hangat, peduli, dan penuh empati. Ada pula buku yang membahas dimensi lain dari kehidupan si tokoh ini, seperti kesuksesan bisnis kayunya, kesukaannya pada musik death metal, dll. Bahkan ada salah satu buku yang kovernya menampilkan potret sang tokoh dengan jari telunjuk dan jari kelingking tangan kanan mengacung, simbol yang lumrah bagi para penyuka musik metal, yang kerap dikorelasikan dengan simbol satanis. Oh iya, ada pula di salah satu kover buku yang lain, tepatnya di sudut kanan atasnya bertuliskan: ‘berhadiah mobil’.

Awalnya kupikir tak akan ada yang membaca buku-buku jenis ini. Sampai akhirnya datang dua pemuda urakan mengambil salah satu dari deretan buku-buku itu. Dari gayanya yang urakan, bisalah kita tebak buku mana yang dia ambil, ya, buku dengan kover gaya death metal itu. Dan mulailah ia membaca beberapa halamannya sambil sesekali berdecak. Dari yang sempat kudengar dalam obrolan dua pemuda itu, mencuatlah nama-nama lain semisal Jusuf Kalla, Aher, Gita Wirjawan, Anies Baswedan, Puan Maharani, Megawati Soekarno Putri, dll. Jujur saya bingung, kover death metal tapi kok tokoh-tokoh politik yang disebut-sebut?

Satu hal yang terbersit di pikiran saya, betapa inginnya saya terlibat dalam pembicaraan dan obrolan-obrolan macam itu. Mereka pastilah pemuda-pemuda yang sangat revolusioner.

Walaupun saya tak menemukan buku yang saya cari, hari itu saya tidak keluar toko buku dengan kecewa. Dari sekian banyak buku yang hanya menjelaskan satu tokoh itu, terselip satu buku luar biasa, yang membuat saya betah bertahan membaca lama di situ. Buku tulisan Jared Diamond, Profesor Geografi dari University of California, judulnya Collapse. Buku berkover hijau itu, sesuai judulnya, membahas tentang runtuhnya peradaban-peradaban dunia seperti Viking, Maya, Anasazi, masyarakat Pulau Paskah, dan peradaban-peradaban dunia lainnya. Seperti buku Jared Diamond yang sebelumnya kubaca –Guns, Germs, and Steel-, dimana saya terjebak di satu bab yang ditempatkan di bagian akhir buku, ketika membaca Collapse kali ini, fenomena itupun terulang. Jika dalam Guns, Germs, and Steel saya terjebak di bagian epilog yang menjelaskan ‘Siapakah Bangsa Jepang Sebenarnya?’, di buku Collapse saya terjebak di Bab 14 ‘Mengapa Sejumlah Masyarakat Membuat Keputusan yang Berakibat Buruk?’

Dalam bab itu banyak dipaparkan contoh pengambilan keputusan yang berakibat buruk bagi suatu masyarakat, seperti penebangan pohon palem oleh masyarakat Pulau Paskah, hancurnya koloni Britania karena mendatangkan rubah dan kelinci ke Australia, kekeliruan para pemburu gading walrus di sekitaran Greenland, penggundulan hutan oleh orang-orang Maya di Copan yang berakibat erosi, dan masih banyak contoh lain yang dipaparkan dengan sangat luar biasa oleh penulis.

Potongan kalimat yang masih kuingat jelas yang juga dibahas dalam bab itu adalah:

“Satu alasan lain mengapa masyarakat mungkin gagal mengantisipasi suatu masalah adalah karena mereka kerap melibatkan penalaran analogi yang salah. Sewaktu kita berada dalam situasi yang tidak akrab, kita mengandalkan analogi dengan situasi-situasi lama yang kita akrabi. Itu cara yang bagus bila situasi lama dan baru memang ternyata beranalogi, namun berbahaya bila ternyata kedua situasi itu hanya mirip di permukaan.”

Logika inilah yang menjelaskan kegagalan orang-orang Viking menciptakan padang-padang penggembalaan di tanah Eslandia, karena sebenarnya tanah Eslandia jauh berbeda dengan tanah di Britania dan Norwegia, walaupun spesies pohonnya sama. Juga kegagalan Prancis di Perang Dunia II.

Walaupun banyak gangguan ketika membaca buku itu; mulai dari obrolan dua pemuda revolusioner tadi, backsound toko buku –yang biasanya lagu-lagu Kerispatih dan Adera, tapi kali itu malah lagu-lagu idola cilik yang diputar--, adanya event mendongeng yang diadakan toko buku itu, juga teguran khas yang sudah sering saya tanggung dari mas-mas dan mbak-mbak pekerja di toko buku itu tiap kali saya berkunjung: “Mas, tidak boleh duduk di lantai, mas,” itu tidak menghalangi saya untuk menyelesaikan bab yang terdiri dari 28 halaman itu, juga halaman-halaman lain dalam buku itu yang menurut saya penting.

Ada dua hal yang agak mengganggu pikiran saya saat meninggalkan toko buku itu waktu sore. Pertama, akh, andai saja saya punya uang lebih, pasti kuboyong pulang buku Collapse Jared Diamond itu. Kedua, toko buku itu aneh. Mengizinkan pengunjung membaca di tempat, melarang kita membaca sambil duduk di lantai, tapi tidak menyediakan kursi.

 

  • view 146