Pemanasan Sebelum Akhir September

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 September 2016
Pemanasan Sebelum Akhir September

Pernah suatu kali berbincang bersama seorang kawan. Tak tahu juga dapat inspirasi dari mana tiba-tiba saya tanya begini, “Betul tidak itu Aidit sebelum ditangkap waktu ’65 dia sembunyi dalam lemari?”

“Wah, saya baru dengar itu. Kalau betul, betul-betul pengecut dia, ya? Padahal orang-orang PKI kan dikenal garang,” begitu responnya.

Saya tidak suka jawaban itu. Dan sontak berpikir mungkin kawan saya itu memang anti-PKI.

Pulang ke rumah saya berpikir. Dulu—akh tidak usah dulu, keadaan sekarang juga masih ada yang begitu—menurut cerita waktu zaman Soeharto, militer itu sering bilang begini kalau ditanyai perihal aktivis-aktivis penentang, “Lha kalau mereka merasa benar, ya seharusnya tidak usah sembunyi, kan?”

Padahal kita tahu, di belakang mereka sibuk menculik, menyiksa, dan membunuh. Para aktivis itu sembunyi, ya karena itu lebih menjamin gerakan bisa terus dilancarkan. Lagian kalau menampakkan diri, memangnya orang-orang militer itu mau debat terbuka? Atau maukah mereka mengerti dengan yang para aktivis sampaikan? Mana punya mereka kelapangan hati macam itu.

Terus, pernah juga ada teman yang bilang begini, “Soeharto dan Soekarno itu sama saja, hobinya memenjarakan orang. Jadi kalau Soekarno tersiksa di pengujung masa jabatan atau hidupnya, ya itu balasan yang mesti dia tanggung.”

Nah ini, kata-kata yang lagi-lagi saya tidak suka. Penjara zaman Soekarno dan Soeharto itu beda. Konteks zamannya lebih kontras lagi perbedaannya. Mari saya kutipkan sedikit tulisan dari buku (Alm.) Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965:

“Penyebab utama konflik di antara para kolonel—yang didukung oleh banyak pemimpin PSI dan Masyumi—dengan pemerintah pusat ini disebabkan oleh ketidakpuasan di kalangan para pemimpin militer daerah dengan para atasan mereka dan pemimpin nasional di Jakarta, dan berakar pada ketimpangan kemakmuran antara pejabat pemerintah pusat dan mereka yang berada di daerah-daerah di luar Jawa. Pada saat itu sebagian besar teritori di luar Jawa dikuasai oleh komandan-komandan militer lokal yang berusaha memperoleh keuntungan finansial dengan cara menyelundupkan hasil bumi setempat sepert karet, kopra, minyak mentah, yang kebanyakan dikirim ke Singapura. Seperti ditulis Doeppers, para komandan militer daerah menjustifikasi aktivitas pelanggaran hukum ini dengan argumen bahwa ‘Jakarta tidak mengembalikan keuntungan yang adil dari kekayaan yang diambil dari sumber daya alam kepulauan luar, terutama royalti ladang minyak di Sumatera dan Kalimantan.’

Selanjutnya, pemerintah AS, melalui CIA, juga terlibat langsung menyediakan logistik dan senjata kepada para pemberontak yang ditangani oleh Sumitro dan Simbolon. Karena keterlibatan para pemimpin mereka seperti Sumitro Djojohadikusumo dan Sjafruddin Prawiranegara dalam pemberontakan PRRI/Permesta, partai PSI dan Masyumi dilarang oleh Presiden Soekarno pada 1960. Saat para pemimpin terkemuka PSI lainnya seperti Sjahrir dan Soebadio Sastrosatomo dipenjarakan, Sumitro lari ke luar negeri dan berhasil membangun jaringan bawah tanah yang diberi nama GPI (Gerakan Pembaharuan Indonesia) untuk menjatuhkan pemerintahan Soekarno.”

*

Soekarno memenjarakan orang, Soeharto memenjarakan orang, jadi mereka sama saja. Inilah bahayanya membaca teks tanpa tahu konteks. Konteks dari teks itu penting. Lebih celaka lagi, kalau teks-teks Orba yang dibaca.

Atau coba baca wawancara bersama Pramoedya di link ini. Di situ Pram bilang:

“Sewaktu Mochtar Lubis ditahan, ada kebebasan bergerak. Ia mendapatkan makanan yang lebih baik dibandingkan di zaman Orde Baru. Sewaktu di Pulau Buru, untuk makan saja saya harus cari sendiri. Saya diharuskan kerja paksa. Kalau sakit, obat-obatan harus beli sendiri. Di masa Orde Lama kalau tahanan sakit, ia dirawat.”

  • view 133