Menuntaskan WAHIB

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 September 2016
Menuntaskan WAHIB

Beberapa hari ini saya lagi mengumpul niat juga mencoba menyisihkan waktu untuk membaca sampai selesai buku 'Me-WAHIB ~Memahami Toleransi, Identitas, dan Cinta di Tengah Keberagaman~'. Buku yang berisi esai-esai pilihan Ahmad Wahib Award 2012 dan 2014. Ya, lagi lagi dan lagi. Entah sudah berapa bulan saya gagal menyelesaikan buku ini. Serbuan deretan buku-buku bagus lain, praktis menyita niatan saya untuk menuntaskan buku ini.

Dari sembilan esai terpilih, baru dua yang selesai saya baca. Esai pertama yang saya tandaskan berjudul "‘Jogja Istimewa’, Wahib dan Mitos-mitos yang Tak Terbuktikan", tulisan Prima Sulistya Wardhani. Esai itu menceritakan tentang stereotip dan diskriminasi terhadap orang Indonesia Timur di Yogya. Sedang esai kedua ialah yang oleh penulisnya, Na'imatur Rofiqoh, dijuduli 'Pergolakan Asmara dalam Sengketa Keberagama(a)n'. Esai yang ditutup dengan sangat cantik berkat kutipan pemikir-absurd-penolak-hukuman-mati-tapi-sekilas menganjurkan-bunuh-diri, Albert Camus, yang berbunyi: 'Cinta adalah pemberontakan, atau tidak sama sekali'.

Meski esai Na'imatur itu membahas ihwal cinta, ia sama sekali tidak membikin saya berbunga. Esai itu murni menyebar banyak fakta getir. Saya justru lebih tergerak oleh esai Prima. Saya menggarisbawahi satu kalimat bagus di esai Prima itu: 'Tampaknya yang paling umum terjadi, hanya orang yang pernah mengalami diskriminasi sajalah yang tergerak untuk mengatasi dan menentangnya'.

Betul, yang paling umum terjadi memang begitu. Tapi ada juga kasus-kasus khusus. Semisal, bukannya saling berempati, eh malah ada korban diskriminasi yang justru membanding-bandingkan perlakuan diskriminasi yang dideranya. Seakan sampai ke kutub ekstrim komparasi dan bilang, “Kalau kalian yang terdiskriminasi tidak apa-apa, lha kami ini? Tidak usah sok-sok-an cengeng dan merengek lah kalian!”

Sedih betul saya dengar ekspresi begitu.

Beberapa hari lalu waktu pergi dan sepulang salat Jumat saya sempat makan hati saat melihat orang-orang yang berjalan sangat lambat di jalan umum yang sempit. Laku mereka ini seakan mereka saja yang punya jalan, tak sadar itu milik umum, dan mungkin mereka rasa tak akan ada pejalan lain di belakang mereka. Tapi diam-diam saya sadar, “Itu sudah nasibmu, Van. Siapa suruh jadi pejalan cepat.” Jadilah saya mengalah, sedikit melambat.

Ah iya, ini sama menjengkelkannya dengan pengalaman kawan saya. Pernah suatu ketika ia jalan di lorong becek. Karena becek, ia mesti memilah-pilih pijakannya, berjalan melompat-lompat menghindari bagian yang tergenang. Tiba-tiba dari belakang ada motor yang mengklakson dengan ngotot menuntut lewat. Bukannya tak mau menyilakan motor itu lewat, jalan becek memaksa teman saya berjalan lebih lambat dari biasanya. Ya karena itu, repot memilah pijakan yang tepat. Klakson tak berhenti, bahkan makin ngotot. Teman saya tak minggir-minggir juga, ia baru minggir begitu zona becek sudah beralih ke zona aman.

Tak diduga, begitu pengendara motor itu lewat di samping kawan saya, si pengendara ini menggerutu luar biasa sambil menyapukan pandangannya dari kepala sampai kaki kawan saya. Tahu apa respon kawan saya?

“We, bos. Kau saja yang naik motor tidak mau injak becek, apalagi kami yang jalan kaki ini.”

Silakan kalian simpulkan yang mana sikap yang seharusnya.

Kembali ke soal diskriminasi. Saya juga sering heran dengan orang-orang yang beranggapan bahwa kehidupan kaum minoritas dan terpinggirkan itu baik-baik saja. Padahal kita tahu, orang-orang Papua saja masih sering mendapat perlakuan rasis; perempuan-perempuan kita pun, masih sering dipandang dengan tendensi seksis-patriarkis. Tak usah saya jelaskan bagaimana tanggungan kelompok minoritas lainnya. Keadaan itu dibilang baik-baik saja?

Terkhusus untuk kasus rasisme, saya kira kita semua mesti baca buku Almarhumah Oma Harper Lee, To Kill a Mockingbird. Novel menggugah yang digelari 'Novel Terbaik Abad ke-20'.

Saya kira kampanye dan edukasi terkait hal-hal di atas—semangat egaliter, emansipasi, kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan—mesti terus digalakkan. Kembali saya kutip beberapa kata dalam esai Prima itu: ‘Intoleransi itu berbahaya. Tetapi diskriminasi jauh lebih mengancam. Di Yogya, intoleransi dan diskriminasi itu merentang dari persoalan kebijakan hingga penerimaan penduduk. Kadang ia memang tidak berwujud kekerasan fisik, namun menghalangi akses pada ruang hidup adalah kekerasan yang sama merusaknya, sama menakutkannya.... Ketika masih di sekitar pembicaraan, candaan, stereotip tidak tampak bermasalah. Tetapi saat sudah menjadi tindakan, bahkan kekerasan, stereotip tidak lagi selucu lawakan Cak Kartolo’.

  • view 161