Jangan Tersinggung, Boruto

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 September 2016
Jangan Tersinggung, Boruto

'Naruto the Movie: Boruto' itu sukses buat saya mual-mual. Lihat saja alat ninja yang dibuat agar Genin tak perlu lagi susah-susah latihan itu. Atau bagaimana Chou-Oodama Rasengan di akhir, yang cara pembuatannya mengingatkan cara bikin Genkidama (bola semangat) nya Goku.

Sebenarnya tak perlu menukik sampai ke sana untuk sekedar hendak mual-mual. Cukup dengan melihat model rambut Boruto itu; atau bagaimana janggalnya rambut kuning Inojin yang adalah kombinasi rambut ayah-ibunya, Sai dan Ino; juga kagetnya saya setelah memperhatikan mata Shikadai, anak dari Shikamaru dan Temari, yang ternyata dibentuk jadi lebih mirip mata ibunya.

Dengan melihat model rambut dan mata Genin-Genin itu saja sudah cukup bikin perut saya tidak enak.

Tapi seperti biasa, seperti Naruto yang saya kenal sejak bertahun-tahun lalu, ia tak pernah lupa menyisipkan renungan filosofis. Walau jelas saya kecewa berat bagaimana sang mangaka mengakhiri serial ini, yang terkesan seperti buru-buru, sehingga seperti kehilangan nilai-nilai filosofisnya. Yang kemudian saya taburi dengan olok-olok bahwa itu bukan Masashi Kishimoto yang selesaikan. Sama seperti bedanya ‘Z’ dengan ‘GT’, oleh karena bukan Akira Toriyama yang garap.

Untuk keren-kerenan, dan membuat tulisan ini jadi lebih masuk akal, saya kutiplah ini salah satu resolusi yang dihasilkan Kongres Pemuda ke-2 di Yogyakarta dulu sekali:

“Tugas para pemuda ialah memperbarui semua kekuatan, agar mereka dapat bertindak sesuai dengan tuntutan Revolusi. Dalam masa sekarang ini sikap korektif-konstruktif merupakan sikap yang paling sesuai dengan semangat pemuda. Korektif berarti berani mengubah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Konstruktif oleh karena kita perlu membangun dan menempatkan kekuatan-kekuatan yang menegakkan dan mempertahankan Negara.”

Yang kemudian dalam tulisannya, Leclerc bilang: “Yang sukar ialah bagaimana menemukan cara yang bisa mempertemukan antara Negara dan Revolusi, antara stabilitas dan perubahan, dan antara yang lama dan yang baru.”

Meski tak bisa disamakan persis-persis, gambaran-gambaran semacam itu muncul di Movie Boruto itu. Lihat bagaimana Boruto dkk dikatai mereka-yang-pakaiannya-selalu-rapi-dan-bersih sebagai pertanda jarang latihan dan mau yang instan-instan saja. Sementara mereka yang muda juga melepas kritik-kritik yang tak kalah pedis untuk orang-orang tua.

Semuanya berhenti begitu Sasuke datang. Ia ditokohkan menjadi semacam Wali begitu. Ya, ia tumbuh jadi shinobi luar biasa, mirip kakaknya, Itachi. Lihat saja bagaimana ia bilang ke Naruto bahwa jiwa shinobi tak pernah berubah, walaupun waktu dan zaman seakan menyeruduk menggerus nilai. Ia juga bilang ke Boruto, bahwa orang-orang tua itu jangan hanya dilihat ‘hilir’-nya, tapi coba pahami ‘hulu’ dan ‘alir’-nya.

Yang kemudian ia (Sasuke) dipuji Boruto sebagai seorang yang berdiri sendiri, yang menemukan tujuannya sendiri, tidak bercampur dengan yang lain. Seorang invidualis, tapi tidak anti-sosial.

Ya, itu yang paling luar biasa dari anime ini (Naruto) sebenarnya, yang jarang dipunyai anime lain. Banyak sekali yang bisa dipelajari. Ia sangat, bahkan terlalu kaya. Kau bisa belajar banyak dari Asuma, yang berkorban demi ‘raja’-nya; dari Itachi, dari Shisui, dari Hashirama, dari Obito, dari Gai dan Lee, dan masih banyak lagi.

Sukses kedua dari film itu, selain berhasil membuat saya mual-mual sepanjang menonton, adalah bagaimana ia mengakhirinya. Mual-mual saya dari awal, akhirnya ditutup dengan muntah kuning di akhir. Begini.

Sejak tokoh Mitsuki diperkenalkan, berikut Naruto the Movie ~The Last~ selesai, saya tentu berpikir Mitsuki ini pasti anak dari Toneri. Terlihat dari penampakan rambutnya yang mirip. Tapi di ujung Movie Boruto itu, Mitsuki mengaku bahwa Orochimarulah orang tuanya.

Apa saking luar biasanya penelitian Orochimaru ini hingga bisa membuat pertemuan antar sperma dan sperma bisa berbuah zigot? Jadi yang mana perempuan sebenarnya: Toneri, ataukah Orochimaru? Atau Mitsuki itu cuma semacam 'makhluk hibrid'?

Menulis ini jujur saya hampir muntah lagi.

*Tulisan ini dibuat sebelum akhirnya dijelaskan dalam manga bahwa Mitsuki adalah makhluk buah eksperimen Orochimaru

  • view 173