Kongko-kongko Demi Plagiarisme

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 September 2016
Kongko-kongko Demi Plagiarisme

#12 Februari 2016

"Ketidakjujuran terakhir para fundamentalis plagiarisme adalah mendorong kita berpura-pura menganggap rangkaian sumber dan evolusi gagasan itu tidak ada, dan bahwa kata-kata seorang penulis terlahir dari ketiadaan dan hidup abadi.”

*Malcolm Gladwell - Sesuatu yang Dipinjam ~haruskah tuduhan plagiarisme merusak hidup anda?~ (22 November 2004)

*

Sore kemarin berbincang soal plagiarisme, di acara kongko-kongko sederhana perayaan tiga tahun komunitas Literasi Makassar. Obrol-obrol bersama..... ah mungkin sebaiknya tak usah saya sebutkan narasumbernya. Tak usah saya sebutkan, ini karena dua hal. Pertama, bukankah sebelum datang ke forum diskusi, pikiran yang kita bawa seharusnya adalah bahwa kita semua setara? Tak ada yang boleh merasa lebih pintar atau juga merasa lebih bodoh. Karena sejatinya adalah soal berbagi. Bukan begitu?

Sedang alasan kedua, yang memang adalah alasan sesungguhnya, dari tiga yang didaulat duduk di depan dan diberikan porsi bicara lebih banyak, saya hanya kenali seorang saja. Ya, si Paman berkumis lebat itu. Sementara dua yang lain, saya belum pernah ketemu sebelumnya. Mungkin saya akan dicap aneh karena datang di forum yang saya tak ketahui benar pembicaranya. Atau bisa juga dicap kurang gaul karena tak kenal mereka. Tapi tak apalah. Itu resiko yang sudah saya putuskan untuk saya tanggung, di samping risiko lain bahwa akan sedikit terganggunya bincang-bincang kami berhubung tempat yang sedikit terbuka dan ramai. Risiko yang tentunya kawan-kawan Literasi Makassar redam demi kesederhanaan dan kekeluargaan. Ini mungkin lho ya.

Jadi mari sepakati untuk tidak menyebut nama-nama mereka yang hadir kemarin, demi keadilan.

Begitu melihat pamflet undangan yang disebar di linimasa facebook yang mengangkat tema plagiarisme, tentu saja yang pertama melintas di kepala saya adalah: Surat dari Praha. Meski tak menanyakan langsung ke kawan-kawan Literasi Makassar apa memang benar dugaan saya tersebut, bahwa alasan memilih tema plagiarisme adalah karena polemik Surat dari Praha kemarin, bahasan seputar itu memang muncul. Tapi tidak jadi pembahasan dominan.

Dibuka dengan pembacaan puisi, kemudian para pembicara pun mulai berbagi cerita mereka tentang plagiarisme. Pembicara pembuka, yang saya ketahui belakangan ternyata adalah seorang seniman, berbicara tentang seorang kawannya yang pernah dituding sebagai plagiator dulu sekali. Kawannya yang sampai sekarang masih produktif menulis itu, sempat drop saat tudingan itu menderanya. Yang hendak disampaikan Bapak pembicara pembuka ini adalah adanya kemungkinan laku ‘pembunuhan’, yang mungkin tidak sengaja kita lakukan saat kita menuding seseorang sebagai plagiator. Bayangkan, tanpa pemahaman penuh tentang batasan plagiarisme, juga aturan-aturan yang membatasinya, dan pembedahan yang utuh atas karya yang dimaksud, tuduhan plagiarisme bisa jadi pisau penikam yang akan membunuh semangat berkarya seseorang.

Sebagai narasi awal, pembicara pembuka mengakhiri paparannya sampai di situ. Kemudian dilempar ke pembicara kedua, seorang sipit berkacamata yang dari tampangnya membuat saya berpikir mungkin ia seorang Tionghoa, yang—lagi-lagi—belakangan saya ketahui adalah seorang akademisi--setidaknya dari caranya berbicara dan fokus bahasannya. Ia memaparkan bagaimana soal-soal plagiarisme memang menjadi semacam momok yang cukup bisa bikin ngeri di dunia pendidikan. Ia juga mengkritik bagaimana format penulisan skripsi di kampus-kampus kita yang masih terlalu tradisional. Masih banyak yang tergila-gila pada ketebalan, yang justru berpotensi besar menuju plagiarisme, yang juga bisa mengurangi tingkat orisinalitasnya.

Ia bersama beberapa kawan-kawan akademisi lainnya yang merasa terganggu dengan itu kemudian mengusulkan sedikit perombakan, atau juga mencoba merumuskan format baru penulisan karya ilmiah. Namun seperti juga ide-ide baru lainnya, usulan tersebut bertemu tembok resistensi. Usulan mereka mendapat banyak penolakan.

Selain soal itu, ia juga membahas tentang fenomena jurnal abal-abal yang menjamur karena tak adanya profesionalisme, juga sistem ‘kekeluargaan’ (istilah yang diberikan oleh pembicara) yang mereduksi kritisisme sekaligus pemakluman atas nepotisme kecil-kecilan.

Ia juga tak lupa menerangkan betapa pentingnya melakukan parafrase dalam proses pengutipan.

Selepas itu hak bicara dialihkan ke pembicara ke-3. Ialah si Paman berkumis lebat itu. Sebelum berbagi pandangannya, ia mempersilakan siapapun yang rela untuk membacakan esai dari satu buku, yang mungkin tulisannya sendiri. Tak ada yang menyatakan kesanggupan membacanya. Dan posisi itu pun diberikan kembali pada si pembaca puisi di awal. Mungkin karena terlalu terbiasa membaca puisi, jadilah esai itu dibacakan serupa puisi. Tak cocok sebenarnya. Untungnya tidak mengurangi pesan yang disampaikan teks esai tersebut.

Esai yang tentu berkaitan dengan tema plagiarisme. Bercerita tentang bahasa sebagai identitas. Proses menyadur dan mengutip dalam proses kebahasaan juga kepenulisan kita bisa juga berimbas buruk, karena ia bisa melahirkan kedangkalan orisinalitas, dan tentunya bias identitas. Dengan mengutip, sebenarnya kita tengah menyalin pemikiran orang-orang. Jika ini tidak dilakukan dengan kesadaran penuh juga nalar yang terus direfresh, ia hanya akan serupa meniru.

Setelah membuka dengan penjelasan atas esai itu, si Paman pun mulai ngelantur kesana kemari seperti yang sudah biasa dilakukannya. Lanturan pertama adalah tentang tradisi pengutipan yang lumayan ketat yang dipraktikkan para perawi dalam Islam. Menurut si Paman, mungkin ini yang jadi inspirasi dari bagaimana aturan terkait mengutip atau menyadur ditetapkan.

Ia kemudian bercerita tentang kecemasannya pada apa yang kampus-kampus modern lakukan hari ini, yang sudah mendekati upaya mengkapitalisasi pengetahuan. Semakin membatasi dan mempersempit akses publik mendapat pengetahuan. Pengetahuan juga kekayaan intelektual hanya dikunci di ruang-ruang tertentu dimana hanya mereka yang mampu membeli yang diizinkan mengaksesnya.

Tak sampai di situ saja kritiknya. Ia juga mulai menukik ke isu-isu feminisme. Sebagaimana kita tahu, salah satu gerakan para feminis adalah mencoba membongkar bahasa populer hari ini menjadi bahasa yang lebih membebaskan para perempuan. Ini berangkat dari begitu dominannya bahasa-bahasa yang diproduksi para lelaki. Pembicara mengambil sampel tentang bagaimana melesetnya pemaknaan orang-orang terhadap istilah ‘bahasa ibu’.

Hari ini, bahasa ibu hanya dimaknai sebagai bahasa lokal, bahasa daerah. Ini pemaknaan yang sungguh sempit menurutnya. Istilah itu seharusnya juga termasuk bahasa ‘intim’ yang para ibu rapalkan dalam percakapannya bersama bayi di awal kelahiran bahkan sejak masih di rahim dalam bentuk janin. Bayi yang baru lahir, punya keintiman yang tak biasa bersama ibu mereka. Dalam proses itu, si bayi hanya bercakap dengan si ibu. Tak ada laki-laki yang masuk di ruang-ruang intim itu. Nanti, setelah si bayi sudah cukup bisa disusupi bahasa lain selain bahasa ibu ('bahasa ibu' secara harfiah), di sanalah sistem patriarki mulai berjalan. Bahasa ibu mulai disisihkan, diproduksi ulang. Jadilah laku pencurian bahasa ini.

Si Paman berkumis lebat mengakhiri bagiannya sampai di situ. Hak bersuara kemudian diberikan pada hadirin. Entah itu pertanyaan, tanggapan, atau juga sanggahan. Di sesi ini bermunculanlah varian lain dari bahasan yang sudah dipaparkan tiga pembicara. Ada yang memulai dengan mengingatkan kita kembali pada tuduhan plagiat yang dilayangkan Pramoedya Ananta Toer untuk Buya Hamka atas novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijk. Tuduhan plagiasi untuk cerpen Dodolitdodolitdodolibret Seno Gumira Ajidarma juga ikut dibahas. Polemik Surat dari Praha kemarin tak mungkin tak masuk pembahasan.

Ada pula yang mengungkapkan keresahan perihal laku plagiasi yang dilakukan di institusi-institusi pendidikan, yang sebenarnya tak hanya dilakukan mereka yang masih amatir—dalam hal ini mahasiswa, tapi juga dosen-dosen senior.

Sampai akhirnya ada yang bicara tentang, sebenarnya siapa yang dirugikan dan diuntungkan dengan polemik plagiarisme ini? Demi apa? Bukankah hampir tak ada lagi yang betul-betul asli hari ini? Hampir semua merupakan pengembangan dari yang sudah ada, atau juga hanya buah dari inspirasi yang ditarik dan diekstrak dari yang sebelumnya ada.

Pendapat macam itu mengingatkan saya pada tulisan Malcolm Gladwell yang saya baca dulu sekali. Saya tak kenal secara personal Malcolm Gladwell, tak pula banyak membaca profil-profilnya, tapi setelah membaca tulisannya itu, imej staf senior The New Yorker itu di mata saya, mungkin adalah seorang yang berhati besar.

Dalam tulisannya tersebut, Gladwell bercerita tentang seorang psikiater yang merasa telah diplagiasi tulisannya—tepatnya biografi juga profil dirinya sendiri—oleh seorang dramawan. Yang unik, kerena Malcolm Gladwell sendiri terlibat dalam kasus ini. Profil dari psikiater bernama Dorothy Lewis itu, yang juga dicurigai dijiplak oleh si dramawan, adalah tulisan Malcolm Gladwell. Ini seperti plagiasi lapis dua. Selain memplagiasi Lewis, si dramawan juga memplagiasi Gladwell.

Tepat di sinilah kesimpulan bahwa Gladwell adalah seorang yang berhati besar akhirnya saya tarik. Tercatat, ada 12 contoh kemiripan (675 kata) antara artikel Gladwell tentang Lewis dengan kalimat-kalimat dalam drama yang dinamai Frozen itu. Gladwell pun pernah mengirim faksimile pernyataan keberatan pada si penggubah drama, Bryony Lavery.

Tapi perlahan ia (Gladwell) sadari, bahwa sebenarnya ia tidak betul-betul marah atas itu. Ia malah menganggapnya seperti pengakuan atau pujian. Bahkan setelah membaca naskah Frozen secara utuh, ia malah merasa bahwa tulisannya malah menginspirasi dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Meski Gladwell tidak merasakan begitu banyak keberatan, Lewis tidak begitu. Hal yang paling memberatkannya tentu saja adalah karena drama itu seperti merepresentasikan dirinya. Dan celakanya, tidak sedikit orang-orang yang mengenalnya, yang juga menonton drama itu, betul-betul melihat Lewis menjelma dalam drama tersebut. Jika Agnetha, tokoh dalam drama tersebut, digambarkan berselingkuh, Lewis khawatir orang-orang juga akan berpikir ia benar-benar berselingkuh. Lewis merasa dilecehkan karena selain fakta hidupnya dibelokkan, ia juga diubah.

Begitu kasus ini terekspos, Lavery mendatangi Gladwell. Lavery mengaku bahwa apa yang dibacanya hanya dikiranya sebagai berita, dan oleh karena itu tak apa-apa disadur tanpa izin. Gladwell, oleh karena kebesaran hatinya—yang hanya prediksi saya itu, sedikitpun tak merasa risih dengan jawaban malu-malu Lavery itu. Ia paham bahwa kasus ini bisa betul-betul meruntuhkan dunia Lavery.

Di tulisan itu juga—tulisan Gladwell tentang plagiarisme, bukan yang dijiplak Lavery—Gladwell mengutip pemaparan Stanford Lawrence Lessig, seorang Profesor Hukum. Profesor itu menyatakan bahwa dalam hal menarik garis antara kepentingan pribadi dan umum dalam kepemilikan intelektual, pengadilan dan Kongres akhir-akhir ini terlalu memihak kepentingan pribadi. Ia menyinggung tentang susahnya negara-negara miskin mengakses obat-obat murah yang dikembangkan Barat. Ia menulis, “Kita sebagai suatu budaya sudah kehilangan keseimbangan. Fundamentalisme hak milik, yang tak ada hubungannya dengan tradisi kita, sekarang berkuasa dalam budaya ini.”

Lessig, dalam bukunya, Free Culture, pernah mengutip kata-kata Thomas Jefferson, “Dia yang menerima gagasan dari saya, menerima petunjuk tanpa mengurangi apa yang ada pada saya; sebagaimana orang yang menyalakan lilinnya dengan lilin saya, menerima cahaya tanpa membuat saya menjadi gelap.”

Dalam tulisan itu Gladwell juga meneropong isu-isu plagiarisme dari sisi lain, semisal musik dan jurnalisme.

Tapi tak ada kalimat yang lebih mencerahkan daripada yang satu itu, yang dipakai Gladwell menjelang paragraf akhir tulisannya. Kalimat yang Gladwell tuliskan terinspirasi dari Lessig,

“Lessig mengingatkan kita bahwa hak kekayaan intelektual punya banyak kehidupan—koran datang di pintu kita, menjadi bagian arsip pengetahuan manusia, kemudian dipakai membungkus ikan. Dan ketika gagasan-gagasan telah menjalani kehidupan ketiga atau keempat, kita kehilangan jejak yang menunjukkan asal-usulnya, dan kehilangan kendali atas tujuan mereka. Ketidakjujuran terakhir para fundamentalis plagiarisme adalah mendorong kita berpura-pura menganggap rangkaian sumber dan evolusi gagasan itu tidak ada, dan bahwa kata-kata seorang penulis terlahir dari ketiadaan dan hidup abadi.”

*

Pada akhirnya diskusi kemarin tak berujung jawaban utuh. Hanya perjumpaan pada kepingan-kepingan, juga perspektif-perspektif baru bagi para hadirin. Itu saja sudah lebih dari cukup.

Keinsyafan lain yang tergugah, tentu saja adalah pentingnya para penulis ataupun pekarya-pekarya di bidang lainnya untuk selalu menyisipkan kesadaran, bahwa pengetahuan-pengetahuan kita sebenarnya tak lahir dari ketiadaan. Ia adalah kumpulan pengalaman hidup, juga apa-apa yang pernah kita cerna dengan indra kita. Pengakuan atas ini tentu butuh kebesaran hati yang bulat.

Saya merasa sangat beruntung ikut dalam kongko-kongko sederhana sore itu. Tapi kalau diizinkan menyesal sedikit saja, buku yang dibagi gratis sore itu, akh..... andai saja saya dapat. Mungkin belum beruntung.

  • view 264

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    tak pernah ada jawaban utuh dari hasil diskusi semacam itu memang. selalu tak pernah ada. dan biang kerok semua persoalan perihal plagiarisme adalah -the one and only- Sistem Kepemilikan.