Because She's There!

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 September 2016
Because She's There!

Baru saja menuntaskan HKT Zenkoku Tour ~Zenkoku Toitsu Owatoranken~ [2015.06.27] untuk yang ketiga kalinya.

“Hei, kau menontonnya sampai tiga kali? Buat apa?”

Bahkan detik ini, saat deretan huruf-huruf ini saya ketikkan, saya sudah merencanakan menontonnya untuk kali keempat nantinya, mungkin juga kali kelima setelahnya, kali keenam, hingga mungkin puluhan kali. Tak cukup sekali untuk bisa benar-benar meresapi kegilaan makhluk-makhluk lucu dari Hakata, Fukuoka, itu. Tak cukup sekali, ya, serupa dengan berkali-kalinya saya berpikir,

“Apa anak-anak ini benar-benar ada?”

Serupa pula dengan tak percayanya orang kebanyakan saat melihat gadis-gadis member girlband Korea, yang memang secara terang-terangan mengakui bahwa mereka menjalani plastic-surgery, naik ke meja bedah, untuk menegaskan kesempurnaan mereka, sekaligus di sisi lain menegaskan ketaksempurnaannya pula. Ya, ketaksempurnaan. Semakin sempurna, tentu semakin tak percayalah kita bahwa mereka benar-benar eksis. Keberadaan yang mengada-ada, seperti diada-adakan. Ah, ada-ada saja.

Wooohh.. jangan buru-buru menjudge apa yang kubilang di atas sebagai upaya mendiskreditkan produk Korea dan menjunjung tinggi produk Jepang. Saya juga kadang-kadang menikmati produk-produk Korea. Misalnya saja single Taeyeon yang dirilis setahun lalu berjudul ‘I’ itu, itu lagu luar biasa juga. Kyu Hyun pun masih sesekali kusetel lagunya, meski cuma yang itu-itu saja, yang jadi soundtrack Bread, Love, and Dreams, ya cuma satu itu lagunya kupunya. G-Dragon dan Big Bang juga pernah. Jujur untuk yang terakhir ini saya agak malu mengakui.

“Buset, seleramu jadul amat! Memangnya orang-orang itu masih ada, ya?”

Yaelah, jangan bilang kalian sudah berhenti mendengar lagu-lagu The Beatles, Pink Floyd, Panbers, D’lloyd, Pance, dan musisi-musisi lawas lainnya. Terkhusus untuk musisi Korea, andalan saya tentu saja Younha. Saya masih rutin mengunduh album-albumnya sampai hari ini.

Agak susah memang menolak tendensi sentimen negatif untuk orang-orang Korea itu. Faktor ‘meja operasi’ itu bisa jadi single-shot untuk mencibir mereka. Tapi janganlah mencibir sesuatu yang sebenarnya kita tak pahami benar. Olehnya itu kadang-kadang saya lahap juga lagu-lagu Korea itu. Walau memang harus kuakui secara fair, lebih banyak yang mengecewakan. Tapi mereka unggul di packaging dan presentasi. Lebih bright begitu.

Apa pun itu, makhluk-makhluk yang hampir tak nyata itu, yang bahkan belum pernah ada melintas di imajinasi manusia mana pun, baik mereka yang dari Korea, atau juga yang dari Jepang, mereka benar-benar eksis, nyata adanya. Benar-benar mengada sejak kulit, daging, tulang, hingga jiwanya.

Kembali ke HKT48 Zenkoku Tour ~Zenkoku Toitsu Owatoranken~. Tulisan ini bukan hendak membahas atau membedah komplit dan detail helatan 27 Juni setahun silam itu. Saya tentu tak akan capek-capek membahas tiap lagu, semisal duet tak-tahu-diri-tak-sadar-umur Sasshi-Lovetan menyanyikan Namaiki Lips; betapa lebih populernya Vivian dibandingkan Mio-Meru sekalipun saat disoraki lebih keras di lagu Wimbledon e Tsureteitte; tentang dimangsanya Tomiyoshi oleh T-Rex gadungan itu; ataupun cara aneh mengakhiri konser dengan bikini Sashihara itu; tulisan ini bukan untuk membahas perihal itu. Lagipula, apalah saya ini hendak membedah detail tentang konser 48-Family. Saya yang kerjanya hanya download gratis MV-MVnya sejak enam-tujuh tahun lalu ini, tentu tak bisa dibilang wota sepuh atau wota teladan yang terkenal ‘fundamentalisme-copyright-garis-keras’ itu. Apalah saya ini. Tapi, ada semacam keterkejutan, keinsyafan, bahkan mungkin sedikit penyesalan begitu selesai menontonnya. Saya sadar, bahwa memang, ingatan kita (saya) sungguh pendek, benar-benar pendek.

Saya sampai pada kesimpulan itu, sebenarnya, bukan tepat di akhir video berdurasi 2 jam 25 menit 15 detik itu. Bahkan belum sampai setengahnya, belum sejam, kesimpulan itu sudah ada. Ada dua alasan kenapa simpulan itu sampai muncul.

Pertama: Minazou. Nickname itu tentu tidak familiar untuk para penikmat awam 48-Family. Dia Imada Mina, gadis yang masuk HKT bersamaan dengan frontliner-frontlinernya hari ini (Miyawaki Sakura, Kodama Haruka, Moriyasu Madoka, Matsuoka Natsumi), ya, ia generasi pertama. Tak banyak yang bisa kuingat dari dia, selain dua tahi lalat yang masing-masing di sebelah kiri atas dan bawah bibirnya. Di momen-momen awal HKT, yang kebetulan hampir bersamaan dengan JKT itu, ia kuingat hanya sebatas gadis yang selalu berdiri di tepi paling kanan belakang, mungkin karena ia sedikit lebih tinggi dari yang lainnya, kala itu ia bahkan terlihat lebih tinggi daripada Tanaka Natsumi.

Seiring waktu, dengan tibanya deretan member-member yang lebih kawaii yang datang dari generasi-generasi setelahnya, yang tentunya tak hanya datang dari HKT saja, tapi juga AKB-SKE-NMB-JKT-SNH-NGT—bisa juga tambahkan Nogizaka46 di situ; juga pengumuman graduate dari sekian banyak member favorit, tentu membuat kita lupa pada keberadaan Minazou.

Persis karena dua faktor itu: bertumpuk-tumpuknya member yang lebih ‘fresh’ datang, juga graduatenya member-member lainnya, membuat saya sadar, bahwa memang ingatan kita (saya) sungguh sangat pendek. Mungkin hanya fans HKT paling militan saja yang tak mungkin lupa pada Minazou.

Di 1st gen HKT saja, ia tentu sudah tertutupi kemilau Haruppi dan Sakuratan. Sebelum 2nd gen tiba, Sasshi dan Lovetan terlebih dulu merapat. Begitu 2nd gen datang, orang-orang kaget dengan Mio-Meru. Di 3rd gen, siapa lagi pelakunya kalau bukan Nako-Miku. Draft member generasi pertama ada Yamamoto Mao, disusul Hana-Vivian-Maria tak sampai satu tahun setelah Mao merapat. Belum lagi semakin terpolesnya member-member lainnya, sebut saja Kojina Yui, Motomura Aoi, juga Kurihara Sae. Oh iya, jangan lupa juga sempat singgahnya Kimoto Kanon.

Dengan deretan member-member lain yang datang silih berganti serupa itu, sekali lagi kubilang, mungkin hanya fans HKT paling militan saja yang tak lupa pada Minazou. Saya bahkan tak menangkap hawa keberadaannya di dua MV HKT yang lumayan sering saya nonton—saat lagi bosan saja—dulu: Ima ga Ichiban dan Natsu no Mae. Bahkan di Rock da yo, Jinsei wa... dan Hawaii e Ikou pun sama.

Awalnya kupikir ia sudah graduate bersama member-member 1st gen HKT lainnya semisal Sugamoto Yuko, Abe Kyoka, Taniguchi Airi, dll. Ternyata saya salah. Ia masih ada, dan menurut saya, tampak sangat luar biasa sekarang. Bisalah disandingkan dengan Moripo dan Natsu ('gak sampe segitunya kali). Ia tak populer mungkin karena kepribadiannya, yang konon pemarah dan kurang ramah.

Kedua: Nakeru Basho. Lagu yang ditampilkan dengan sangat cantik oleh Sasshi-Haruppi-Mio-Meru-Sakuratan. Setelah sebelumnya duet Dear J dari Jiina dan Moripo dipadu dengan video-mapping mengagumkan yang ditembakkan ke tirai di belakang duo J itu, yang tentunya dibuat berkorelasi dengan koreografi keduanya, maka Nakeru Basho pun dipresentasikan sedemikian. Diawali dengan masuknya Sasshi sendirian, lalu disusul Haruppi, kemudian kemunculan sekaligus Mio-Meru-Sakuratan setelahnya.

Ishou-nya? Cantik juga sih, hanya saja... Ishou itu kan yang dipakai Sasshi waktu AKB Kouhaku Uta Gassen 2014? Ya, membawakan ‘Nandome no Aozora ka?’, Sashizaka46. Setelah di AKB Kouhaku Uta Gassen 2013 kita dilambungkan bukan main oleh duet Ikuta Erika-Watanabe Mayu, maka setahun setelahnya, kombinasi AKB-NGZK jelas tak berhasil. Jika tahun sebelumnya Kimi no Na wa Kibou jadi sangat memukau, tidak demikian saat ‘Nandome no Aozora ka?’. Kita mungkin bisa sedikit terhibur disuguhi member-member NGZK46 yang pembawaannya kalem-kalem dan ayu-ayu itu, sebut saja Hori Miona dan Sasaki Kotoko. Tapi kita tahu, siapa center ‘Nandome no Aozora ka?’ itu. Ya, nama yang sudah kusebut di atas: Ikuta Erika. Tak mungkin kan membandingkan Ikuta Erika dan Sashihara Rino? Unggul Ikuchan ke mana-mana lah. Terlebih lagi lagu itu menurut saya lagu yang sungguh sangat bagus—mungkin pengaruh pesona centernya. Tak pantaslah ia dijadikan lelucon semacam itu. Tepat di detik itu, saat melihat Sashizaka46 tampil itu, betapa ingin kuludahi saja Sasshi itu.

Saya kadang tak bisa mengerti humor yang coba mereka tawarkan. Selain Sashizaka46 itu, kita tentu masih ingat Kojika46 di Janken Taikai 2014. Dan tentunya di Janken Taikai setahun lalu, bagaimana pertaruhan nama ‘Kojima’ antar Mako, Natsuki, dan Haruna. Ckckck.

“Di mana poin ‘ingatan kita (saya) sungguh pendek’-nya?”

Sabar sabar. Ok sekarang saya tanya, tahu tidak Nakeru Basho itu lagu yang ada di album mana? Couple single yang mana? Ingat tidak?

Nakeru Basho ini, awalnya saya tak ingat lagu siapa sebenarnya. Seperti biasa, yang dinyanyikan di konser HKT, juga sistergrup-sistergrup lainnya, tak selamanya lagu original dari masing-masing mereka. Di konser kali ini, yang kalau tak salah hitung ada sekitar 30 lagu termasuk encore, tentu tak semuanya lagu HKT. Seberapa pun kerasnya coba kuingat, tak ada hasil, kecuali keyakinan bahwa ini bukan lagu original HKT.

Akhirnya saya search-lah judul lagu itu di folder kumpulan lagu 48-Family yang saya punya. Betapa terkejutnya saya mendapati ternyata lagu itu ada di folder Beginner. Ya, Beginner, single yang dirilis 2010 silam itu. Lagu itu, dinyanyikan oleh unit (bukan sub-unit) yang dinamai DIVA. DIVA yang ini jelas berbeda dengan DiVA (yang nantinya berubah kapital juga semua hurufnya itu, dan akhirnya bubar akhir tahun 2014 lalu).

DIVA, yang bukan sub unit itu, terdiri dari member-member yang kala itu tidak masuk senbatsu, undergirls, ataupun MINT (unit lainnya). Member-member itu, sebut saja Akimoto Sayaka, Kuramochi Asuka, Masuda Yuka, Sato Amina, dan bahkan ada Oya Masana (SKE) di situ.

Tak kusangka lagu secantik dan semanis itu ternyata lagu yang muncul dari single yang dirilis tepat enam tahun lalu. Sungguh begitu pendek ingatan kita (saya). Dan akhirnya, seperti Minazou yang menurutku hari ini bisa disandingkan dengan Natsu dan Moripo ('gak sampe segitunya juga kali), lagu Nakeru Basho itu pun bisa kusandingkan dengan Kesshou dan Hoshizora no Caravan kepunyaan NMB; masterpiece AKB, Sakura no Ki ni Narou dan Sakura no Shiori; dan tentu saja lagu original HKT favorit saya, ‘Soko de Nani wo Kangaeru ka?’.

“Lha foto di thumbnail itu siapa? Apa member itu juga bikin kau sadar kalau ingatanmu (kita) sungguh pendek?”

Oh yang itu, bukan bukan. Itu spesial saja kupajang. Namanya Yamashita Emily, saat konser Zenkoku Tour ~Zenkoku Toitsu Owatoranken~ itu ia masih kenkyuusei, masuk sebagai generasi ketiga. Di periode awal selepas debut, ia terkesan tidak lebih istimewa dan menonjol dari teman seangkatannya di 3rd gen, Kurihara Sae. Tapi di konser itu, gadis blasteran Jepang-Filipina itu begitu menarik perhatian saya, entah kenapa. Bukan karena ia didaulat memainkan electric-guitar saat anak-anak HKT menyanyikan lagu Only You dan Rock da yo, Jinsei wa... Skill gitarnya tentu saja tidak sebaik Sayanee.

“Kalau ia tidak lebih istimewa, bahkan jika dibandingkan dengan Kurihara Sae, lha terus kenapa bisa menurutmu ia menarik?”

Jawabannya mungkin sama seperti jawaban George Mallory saat ditanyai mengapa mendaki Mount Everest di tahun 1923 silam, “Because It’s There!”

Jadi kalau ditanya kenapa Yamashita Emily menarik, yaaa... “Because She’s There!”

Post-Script: Sekarang Emily sudah menjabat kapten Tim TII, tim baru HKT yang resmi diumumkan 30 Maret lalu saat konser Sashiko du Soleil di Marine Messe, Fukuoka. Dia istimewa, bukan?

  • view 134