Sejak Kapan Kau Suka Mengamati Pohon-pohon?

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2016
Sejak Kapan Kau Suka Mengamati Pohon-pohon?

“Sejak kapan kau suka mengamati pohon-pohon?”

Itu pertanyaan yang diberikan diriku yang satu ke diriku yang lain. Memang, saya selalu merasa ada begitu banyak saya dalam saya. Saking banyaknya, saya sampai bingung yang mana yang sebenarnya saya. Apa yang kadang-kadang jijik terhadap mereka yang gay, ataukah yang justru berempati pada mereka? Apa yang kadang-kadang berpikir untuk mendominasi perempuan dan penuh pikiran sexist juga patriarkis, ataukah yang sangat ngotot melawan prasangka macam itu? Apakah yang tiap hari menyempatkan membaca kitab suci, ataukah yang sesekali terjebak dalam dosa masturbasi? Apakah yang selalu mencium tangan pada yang tua, ataukah yang sangat anti dengan budaya feodal menjilat-jilat macam itu? Kau sebenarnya kiri, ataukah kanan? Bahkan yang bercerita sekarang ini pun saya masih bingung, saya yang mana sebenarnya.

Tapi mungkin itu tak lebih penting daripada kecemasanku mengamati pohon-pohon tua akhir-akhir ini. Toh semua orang memang punya banyak dimensi dalam dirinya. Seperti kata pepatah kuno Jepang: setiap orang, setidaknya punya tiga topeng—berarti bisa lebih. Topeng pertama, yang dipakainya saat bertemu orang lain. Topeng kedua, yang dipakainya saat bertemu yang bukan orang lain, yakni keluarga. Dan topeng ketiga, yang dipakainya untuk dirinya sendiri. Topeng yang tak pernah orang lain lihat, yang hanya nampak di cermin dalam bilik privasinya sendiri.

Jika harus menjawab pertanyaan tentang pohon itu, saya punya dua jawaban. Sebenarnya tak hanya akhir-akhir ini, dari dulu saya memang suka melihat pohon-pohon. Tak hanya yang besar saja, yang kecil pun. Ayunan daun-daunnya, helaian yang gugur, batang-batang yang sehat maupun sakit, getah yang keluar dari bagian yang tersabet, akar yang menonjol, dan bagian-bagian lainnya. Terkhusus untuk pohon yang besar, yang batang-batangnya kokoh dan meliuk-liuk, saya melihatnya sudah mirip betis kokoh paman-paman tukang becak, atau lengan berotot para pemanggul barang di pelabuhan. Saya tak pernah serius mengamatinya dari sisi biologis—perspektif yang semestinya dipakai saat melihat organisme; seperti orang kebanyakan yang bertarung dengan slogan ‘Stop Pakui Pohon’. Satu hal yang masih segar di ingatanku tentang pohon-pohon ini hanyalah tentang ketiadaan kambium yang menyebabkan pohon-pohon seperti kelapa atau beberapa spesies palem bisa tumbuh begitu tinggi tanpa bercabang banyak. Dan iya, satu lagi, tentang lingkaran berlapis-lapis yang biasa ada di penampang batang—yang dipotong mendatar—beberapa pohon yang katanya bisa digunakan untuk mengira umur pohon. Soal detail monokotil dan dikotil saya tak ingat lagi.

Laku menatap-natap daun yang berayun ini saya mulai bertahun-tahun lalu sejak mendengar cerita seorang kawan. Kawanku itu memang sedikit aneh. Saat anak-anak muda seusianya menghabiskan masa-masa awal kuliah dengan buku, aktivitas kepanitiaan kiri-kanan, debat dalam diskusi, pesta, juga wanita; ia malah sibuk keliling ke kampung-kampung.

Aktivitas tak lazimnya ini—menurut ceritanya—berangkat dari obrolan tak selesai dengan Neneknya. Ia memang tertarik dengan cerita-cerita nenek moyang, kearifan-kearifan orang-orang tua dulu. Ia khatam betul tentang kisah-kisah manusia pertama yang konon muncul dari batu terbelah atau juga rekahan bambu. Cerita yang kukira hanya punya Putri Kaguya dari Jepang.

Dari cerita Neneknya itu pula didapatnya nama-nama Guru atau orang-orang tua arif lainnya yang bisa didatanginya jika memang ingin belajar. Dari situlah dimulai perjalanannya keluar masuk kampung-kampung. Dengan berbekal nama Neneknya, beberapa orang-orang tua itu bersedia saja menerimanya. Menampungnya berhari-hari di gubuk mereka, memaksanya mengerjakan pekerjaan yang sebelumnya tak pernah sekali pun ia coba, hingga menawarkan beberapa pantangan untuk tidak dilakukannya—yang tentu saja diterimanya jika tidak melewati batas toleransi, mengingat ia masih punya kehidupan lain di kota. Tapi semua itu dilaluinya dengan kesungguhan yang susah diceritakan. Beberapa pantangan yang ditawarkan tentu bukan sembarang pantangan. Saya saja yang mendengar cerita itu merasa tak sanggup. Dari sekian pantangan, ada satu yang bahkan sampai mengharuskannya membuang dan membakar beberapa barang berharganya yang selama bertahun-tahun tak pernah dilepasnya. Tapi demi mengantongi dan membawa pulang kebijaksanaan Guru-guru itu, semuanya rela ia lakukan.

Dari sekian Guru yang diceritakannya, setidaknya ada dua cerita yang bikin saya merinding.

Seperti juga kisah-kisah berguru lainnya yang pernah kudengar, tentu tak semua berjalan mulus. Pernah, setelah mengantongi nama seorang Guru dari Guru lainnya yang sudah ditempatinya belajar selama berhari-hari, ia segera meluncur ke kampung selanjutnya. Seperti biasa, alamat-alamat yang diberikan oleh orang-orang semacam ini tentu bukan alamat presisi seperti yang sering dikasih orang-orang kota. Petunjuk yang diberikan seringnya hanya nama kampung, dan rumah yang dituju berhadapan atau bersampingan dengan objek tertentu, semisal pohon besar yang di atasnya digantungi kain gombal, bangsal kayu, atau kadang kuburan, juga tak jarang cuma tipe pagarnya saja yang diberitahu. Untung baik kalau nama si Guru diberikan, kadang juga tidak. Jadilah saat masuk kampung baru ia mesti bertanya kiri-kanan atau juga menengok lamat-lamat di tiap pohon. Karena pola gerak ini, tak jarang ia mesti memohon maaf pada beberapa warga yang dibuatnya berkerut alis.

Pernah di satu kampung, ketika baru bersinggungan dengan semacam gerbang desa—saat itu sudah hampir malam, tiba-tiba lampu sekampung padam. Karena bensin motornya mesti dihemat, ditambah baterai senternya yang habis, ia mesti singgah untuk bertanya, bahkan mungkin menginap sekalian. Kebetulan rumah yang didapatinya berempu ramah bukan main.

Maka dihabiskanlah malam itu mengobrol dengan ditemani lampu minyak saja. Kepada si Bapak Tuan Rumah ia mengaku tujuannya ke kampung tersebut. Tanpa diduga, si Bapak langsung memotong, “Oh, pantas lampu sekampung ini padam. Menginaplah di sini dan pulanglah besok. Kau belum diterima belajar di sini.”

Jawaban ini sontak membuatnya kaget. Kaget bukan tak percaya, tapi justru karena sangat yakin percaya. Belum selesai fase keterkejutannya si Bapak menyambung lagi, “Padam lampu atau bermasalah genset macam begini jarang terjadi. Ini baru lagi, dan biasanya kejadian bukan karena hal-hal teknis. Lebih sering karena yang begini-begini. Kembalilah ke sini beberapa minggu lagi, mungkin kali ini belum berjodoh dengan Kakek di atas.”

Cara menyebut ‘Kakek di atas’ menunjukkan keakraban yang tak biasa dari si Bapak. Terma ‘di atas’ tentu menunjukkan rumah si Kakek Guru yang masih mesti mendaki lagi untuk sampai. Jadilah niat berguru diurungkan. Ia pun ingat dengan salah satu pesan Nenek sebelum perjalanannya dimulai, “Perbaiki niat, itu yang paling penting.” Ia sadar, di bagian itulah masalahnya.

Beberapa minggu setelahnya ia kembali lagi ke kampung tersebut. Kali ini lebih parah sambutannya, bukan lagi listrik padam, tapi angin kencang dan hujan keras. Bahkan ada batang pohon tumbang memalang jalan yang jadi satu-satunya akses memasuki desa.

“Sudahi saja. Saya belum pantas berguru ke sini,” batinnya dengan perasaan kalah.

Itu cerita pertama yang bikin saya merinding. Cerita kedua bukan lagi tentang penolakan, tapi justru penerimaan. Malam itu, di bawah berkarung-karung gabah yang disimpan di langit-langit rumah, si Guru yang lain menggenggam tangannya dengan maksud mentransfer sedikit energi. Energi yang dimaksudkan si Guru untuk lebih menjadikan si Murid manusia. Sebenarnya bukan ilmu semacam ini yang dicarinya. Hal-hal mistis serupa itu bukan tujuan utamanya berkeliling kampung-kampung. Tapi itu ia sanggupi hanya karena tak enaknya saja pada si Guru.

Seminggu setelah pelepasan energi itu, kawan saya mengaku hampir jadi gila. Apa-apa yang dilihat matanya tak lagi sama. Di saat-saat tertentu kulitnya seperti kehilangan kemampuan sensorik, seakan melebur dengan udara. Daun-daun yang ditatapnya seakan melambai memanggil-mengajaknya terbang. Batang-batang pohon seperti berayun luwes tak lagi kaku. Telinganya sering menangkap nyanyian-nyanyian yang jika dikejar sampai ke hulu bunyi justru milik kawanan semut. Orang-orang yang ditemuinya jadi tak lebih hidup ketimbang batang-batang pohon atau rombongan sapi dan ayam.

Tak tahan dengan siksaan itu, ia kembali lagi ke Guru tersebut. Baru saja bersitatap saat si Guru sedang menyapu daun-daun gugur di halamannya, si Guru langsung tertawa keras sekali lalu berucap, “Sudah kuduga, kau tak kuat ternyata.”

Dan ditariklah kembali energi itu. Proses penarikan yang kali ini tidak seintim saat energi tersebut dialirkan pertama kali. Kali ini cukup dengan hanya menggosok dahi kawan saya tersebut dan menyodorkannya segelas air yang sudah ditiupi doa. Selesai, dunianya kembali normal.

Asal tahu saja, itu bukan Guru terakhir yang ia datangi. Ia tak tobat didera pengalaman ngeri begitu. Selepas itu ia keluar masuk berpuluh-puluh kampung lagi. Kalau tak salah kira, perjalanannya berburu kearifan itu hampir dua tahun lebih. Ia memutuskan berhenti karena semua sudah dirasanya cukup. Cukup untuk bisa bilang begini, “Di desa, atau di kampung-kampung, jika beruntung, kau bisa ketemu dengan orang-orang yang kebijaksanaannya bisa bikin kecakapan intelektual orang-orang kota jadi tidak ada artinya. Jadi seperti tahi kucing kering tak berguna di pasir-pasir. Kearifan orang-orang desa, yang bisa bikin teori-teori di buku-buku seakan tidak bermakna apa-apa lagi. Jadi seperti puntung rokok yang diinjak tak acuh.”

Sejak mendengar cerita-ceritanya itu, terutama bagian yang membuatnya hampir gila, saya jadi suka mengamati pohon-pohon. Membayangkan bagaimana pohon-pohon itu juga berpikir seperti kita manusia, daun-daunnya tak hanya melambai tanpa arti karena angin, dan masih banyak khayalan tidak-tidak lainnya.

*

Sedang jawaban kedua, tentu karena keprihatinanku melihat pohon-pohon tua yang tumbang berurutan minggu-minggu terakhir ini. Pemandangan macam ini sudah sejak bertahun-tahun lalu saya lihat. Entah sudah berapa sepeda motor atau mobil yang ringsek karena tertimpa. Tak hanya itu saja, pernah juga lapak-lapak makan yang jadi korban.

Yang disesalkan sebenarnya adalah tidak adanya semacam maintenance, pengamatan, atau perawatan rutin untuk pohon-pohon tua ini. Misal, jika umur pohon sudah terhitung tua—atau bisa juga tanpa pertimbangan usia pohon, cukup dengan melihat condongnya batang atau ranting pohon yang sudah mengkhawatirkan—, akar yang sudah timbul ke permukaan seakan tercerabut, ranting yang menjorok ke ruang-ruang publik sehingga membahayakan orang-orang; kondisi-kondisi mencemaskan macam itu sudah cukup jadi alasan untuk melakukan pemangkasan atau penebangan.

Pernah terpikir, “Masih adakah Dinas Pertamanan?” Mungkin tak ada lagi ya.

Awalnya saya tak terlalu cemas dengan ini. Sampai akhirnya hari itu datang. Hari yang tak terlalu panas. Angin datang jarang-jarang. Seperti biasa, angin bisa jadi sebab ranting-ranting bunyi berayun, atau daun-daun berkibar-kibar. Tapi ada momen sekian detik, saat angin tak sedang langgar, ada derak kudengar. Ini tak normal, hanya angin yang bisa bikin tetumbuhan bersuara. Mungkin karena sedang mencemaskan pohon yang tumbang beberapa hari lalu yang sampai saat itu belum dibereskan, saya pikir bunyi derak itu bisa jadi dari pohon tua yang ada sekira empat meter di depanku. Dan benar, saat kutengok pohon itu, sudah ada belahan cukup besar—mungkin sejengkal—di satu sisinya, yang memang jadi sumber bunyi derak itu.

Karena saat itu siang, saya pikir, “Wah, sebentar sore tumbang dia ini.” Maka mulailah saya mengarahkan orang-orang di sekitar situ untuk pindah. Merapikan apa yang bisa dirapikan. Menggeser apa-apa yang bisa digeser. Selama itu, derak tak juga berhenti. Malah lebih parah. Urat-urat pohon yang tarik-menarik dan akhirnya putus satu-satu itu berbunyi kian horor. Mengingat pentingnya tempat yang akan tertimpa, ada saja yang berpikir untuk menyangga, menahannya untuk tumbang. Saya geleng-geleng. Kita tak punya cukup alat untuk itu. Kita hanya bisa pasrah, dan melihatnya menimpa spot penting itu.

Dan seperti biasa, sekhawatir-khawatirnya kami anak-anak muda, kabel utama yang mungkin akan putus jika pohon itu tumbang, kami tetap merayakannya dengan tawa. Begitu rubuh pun kami hanya meneriakinya seperti teriakan penonton merayakan gol di liga antar kampung.

Ternyata efeknya tak semengerikan yang kami duga. Tak semengerikan ketakutan mereka yang buru-buru memindahkan sepeda motornya, yang sebenarnya bahkan tak segaris dengan arah tumbang pohon. Kabel tak putus, batang yang tumbang pun tak sampai ke tanah. Meski perkiraan awal bahwa cuma satu pohon yang akan tumbang meleset kerena ternyata pohon di sebelahnya pun turut tumbang karena ranting yang berkelindan saling tarik, ada yang bisa disyukuri. Oleh karena tingginya yang melampaui gedung, maka dua batang super besar dan super tua itu hanya tertahan di atap.

Dan lagi-lagi, kami anak-anak muda hanya bisa merayakannya dengan tawa yang tanggung, meringis sedikit. Beberapa dari kami pun sibuk memanjatinya untuk sekedar mencari sarang burung. Ada juga yang begitu pedulinya, langsung merapikan posisi kabel yang kami kira bakal putus tadi. Tak ketinggalan mereka yang sok-sok-an menganalisis sebab tumbangnya pohon dengan teori biologi pas-pasan. Yang mengelupasi kulit-kulit pohon hanya untuk mengagumi kerapuhannya pun juga ada. Yang lebih parah, bahkan ada yang langsung mengikatkan tambang untuk ayunan.

Demikianlah. Jika saja bukan karena dua hal itu, saya tak mungkin jadi makhluk aneh yang suka mengamati pohon-pohon. Agak menyedihkan juga sebenarnya, karena sebab-sebabnya justru bukan hal-hal biologis. Satu tentang mistisisme, satunya lagi soal empati, dan laku-tak-bertanggung-jawab dari birokrat dan institusi terkait. Jika saja kalian tahu, pohon-pohon yang tumbang itu, kini, hanya dibiarkan begitu saja. Tak ada yang coba menghubungi tukang kayu untuk membereskannya. Bahkan saat dikonfirmasi ke pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab, jawabannya hanya pengakuan keengganan.

Sudahlah. Orang-orang tua itu memang selalu seperti itu. Toh anak-anak muda yang keberatan itu pun tak kehilangan dan kehabisan cara menikmati hari-harinya. Meski harus diakui, berkegiatan di bawah bayang-bayang pohon tumbang kadang-kadang ngeri juga.

Bicara tentang pohon tua, tentang yang tua-tua, bikin saya ingat Bapak, terutama gelasnya yang dulu itu. Kami menyebutnya canteng. Gelas bermotif loreng dari bahan yang tak tahu apa tapi berbunyi seperti seng. Tak hanya bunyinya yang mirip seng, ia pun mewarisi sifat seng, mudah berkarat. Yah, saya menyebutnya saja begitu, karat, karena penampakannya yang mirip. Bahkan bagian dalamnya yang gelap itu juga mungkin adalah karat. Saking gelapnya bagian dalamnya, kalian bahkan tak akan tahu ia sedang berisi apa kecuali kalian cicip sendiri. Ia bisa jadi berisi teh, kopi, atau bisa saja hanya air putih. Bahkan bila kau isi sirup, ia akan kelihatan sama saja.

Mungkin seperti itu kiranya kita saat tua: berkarat dan gelap. Untuk pohon, bisa rapuh dan mencemaskan.

Dilihat 127