Kuso-Marimo dan Anarkisme-nya

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Renungan
dipublikasikan 01 September 2016
Kuso-Marimo dan Anarkisme-nya

Everyone should do what they can with their lives on the line, and then say to the next guy: “I did what I could. Now it’s your turn. If you don’t finish it, I’ll come kick your ass!”

Isn’t that how TEAMWORK first come about?

*

Dulu sekali, seseorang pernah bilang ke saya, “Manifestasi paling riil dari anarkisme adalah bajak laut.”

Karena sudah sering membaca beberapa literatur anarkisme, jelas saya percaya saja. Tapi tentu, faktor pendukung kepercayaan saya pada hal itu bukan karena nenek moyang saya dulunya adalah bajak laut, misalnya. Tidak juga karena saya sudah menamatkan semua serial film Pirates of Carribean itu. Semua ya karena One Piece, manga/anime paling epic sepanjang masa.

Tidak perlu jeli-jeli amat untuk bisa menemukan praktik anarkisme dalam One Piece.

Oh, tunggu dulu. Praktik anarkisme yang dimaksud bukan pengrusakan fasilitas publik atau hal-hal semacamnya ya. Karena pemahaman macam itu adalah menifestasi paling rill dari ketidaktahuan Anda akan anarkisme. Kalau pemahaman Anda tentang anarkisme hanya sebatas itu, ya mending Anda masuk perpustakaan lagi. Untung-untung kalau ada literatur anarkisme di perpus-perpus.

Secara sederhana, konsep anarkisme menyandarkan pemahamannya pada keengganan akan kekuasaan absolut atau terpusat, apalagi yang tiranik-despotik-demonik-fasistik. Terlihat dari akar kata di mana ia ditarik (Latin): ‘an’ yang berarti tanpa, dan ‘arkhos’ yang berati kepala atau pemimpin. Secara sepintas, atau bagi pembaca anarkisme pemula, paham ini mengkehendaki tak adanya pemimpin atau dengan kata lain memaki dan mencibir Pemerintah—atau bahkan sistem pemerintahan dan Negara. Padahal, jika dicermati, dalam kondisi anarki yang dicita-citakan anarkisme sebenarnya terdapat sistem pemerintahan. Bedanya ada dalam karakter dan proses pengambilan keputusan. Sistem yang dicita-citakan adalah sistem yang tidak merasa paling berhak menentukan apa yang paling baik bagi yang lain, dan menyerahkan pengambilan keputusan pada kesepakatan tiap-tiap perwakilan kelompok dalam satu kumpulan besar.

Coba bayangkan saja Anda berada dalam satu ekosistem dimana ada sekian komunitas. Setiap komunitas menunjuk satu perwakilannya untuk didorong ikut serta berembuk dalam proses pengambilan keputusan terkait kepentingan keseluruhan ekosistem. Apa-apa yang dibawa oleh utusan ini ke forum ekosistem adalah bawaan dari kesepakatan internal komunitasnya. Lalu, keputusan yang telah disepakati di forum ekosistem kemudian dilempar balik lagi ke internal komunitasnya untuk disepakati. Ada banyak partisipasi dan keikutsertaan di sini.

Kalau mau lebih menukik, seperti juga ideologi-ideologi lain yang sebenarnya punya banyak spektrum di dalamnya, anarkisme secara garis besar bisa dibagi dua: anarkisme individual, juga anarkisme komunal. Anarkisme individu atau personal ini, pola pikirnya kerap diidentikkan dengan produk pikir dari pemikir eksistensial Friedrich Nietzsche, dimana kehendak bebas dan keinginan mengaktualisasi diri tiap person menjadi sesuatu yang penting dan mesti didahulukan.

Sedang anarkisme komunal, menyandarkan diri pada ide-ide Karl Marx. Kalau dicermati, memang akan ada friksi bila merasa Nietzsche bisa dikawinkan dengan Marx. Yang satu menghendaki kebebasan total, sementara yang satu menganjurkan perebutan kekuasaan dari kelompok yang satu atas kelompok yang lain. Namun, cita-cita gerakan keduanya sebenarnya mirip saja: pembebasan bagi mereka yang terbelenggu.

Kebebasan individu hanya bisa halal bila kita mengerti kebebasan individu lain. Sekilas, ini tak mungkin bisa kawin dengan perjuangan kelompok (ala Marx), dimana kehendak individu kadang terpaksa direlakan demi kehendak kelompok. Tapi anarkisme tak bicara soal kehendak-kehendak pragmatis dan praktis semacam itu. Ada cita-cita besar di sana.

Terkesan utopis memang. Terlalu ideal. Tapi bukankah yang ideal dan utopislah yang kita impikan untuk mewujud?

Pusing? Ribet? Ya, hampir kita semua mewarisi karakter Naruto. Teori-teori yang Kakashi paparkan mental semua. Lebih mudah dicontohkan atau praktik langsung. Ok, saya coba sebutkan beberapa contoh saja dari sekian banyak praktik anarkisme yang tersebar dalam semesta One Piece yang, tentu, dilakukan kru Bajak Laut Topi Jerami.

Pertama, yang dilakoni Franky di Dressrosa. Masih ingat scene saat mereka telpon-telponan paralel—pakai denden mushi tentunya—? Luffy-Zoro di Colloseum, Sanji-Nami-Brook-Chopper di Thousand Sunny, dan Usopp-Robin-Franky bersama para Tontatta; itu saat Law hancur-hancuran dikeroyok Fujitora dan Doflamingo. Misi utama mereka di Dressrosa, setidaknya yang mereka sepakati bersama Law sebelum merapat di pulau tersebut, adalah sekedar menghancurkan pabrik SMILE demi tertariknya Kaido, salah satu Yonkou, ke lingkaran konflik.

Tapi seperti yang kita tahu, misi ini bergeser luar biasa jauh. Franky memutuskan untuk bergabung ke misi lain. Ia menjadi iba begitu mendengar sejarah Dressrosa yang ternyata direbut paksa dulu sekali. Ia pun memutuskan untuk bergabung bersama pasukan gerilyawan Tontatta guna menjatuhkan kekuasaan tiranik Doflamingo cs.

Di percakapan itu Franky jelas seperti membelot dari misi awal. Bahkan ia berani bilang untuk mangkir dari misi sekali pun Luffy tidak merestui. Dan akhirnya dengan santai Luffy pun bilang, “Ok, mengamuklah sesukamu!”

Terlihat jelas ini manifestasi anarkisme. Di atas Thousand Sunny—bahkan di Going Merry sebelumnya sekali pun, meski Luffy kaptennya, hampir tak ada komando tunggal. Semua independen. Tak ada kekuasaan yang totaliter dan sentralistik.

Contoh kedua, itu saat Luffy ditawari menjadi Boss oleh enam kelompok Bajak Laut plus sepasukan kurcaci gila—siapa lagi kalau bukan Tontatta. Prosesi yang biasanya dilakukan dengan ritual minum sake itu jadi tidak berjalan sebagaimana direncanakan. Luffy menolak. Alasan sebenarnya, yang tak bisa ia sebut secara persis benar, adalah karena ia tak suka dengan hierarki struktural macam begitu, hubungan seperti yang dipraktikkan oleh Shirohige dan para subordinatnya.

Dengan menerima tawaran itu, ia akan jadi boss dari tujuh armada itu. Dengan demikian, akan ada komando sentralistik yang berpusat padanya. Ini sama sekali tidak sejalan dengan prinsip yang dipegangnya. "Kalau kami kesulitan, kalian bantu kami. Kalau kalian kesulitan, kami bantu kalian. Cukup begitu saja relasi kita." Tak usah berepot-repot mengangkat pemimpin tunggal.

Ini jelas prinsip anarkisme.

Meski dua contoh itu sudah menunjukkan praktik anarkisme secara terang, saya punya referensi satu lagi. Yaitu kata-kata Zoro pada Chopper saat mereka tengah berjalan—bertiga bersama Luffy—di padang pasir saat sedang menuju Alubarna, Alabasta. Di situ, sebagai member baru, Chopper bertanya penuh keheranan pada Zoro—berhubung Zoro adalah kru pertama, jadi mungkin paham benar prinsip-prinsip yang dianut para kru Topi Jerami—tentang kenapa para kru seperti begitu bebas dan independen. Seperti tak ada kesatuan tujuan. Padahal mereka tergabung dalam satu panji bajak laut yang sama.

Seperti yang kalian bisa lihat di video itu, jawaban Zoro untuk Chopper itu, adalah penjelasan paling rinci, presisi, sekaligus paling jelas tentang nilai-nilai anarkisme. Di dalamnya ada kebebasan, kemandirian individu khas anarkis individualis, yang alas tolak berpikirnya mirip-mirip filsafat Nietzsche. Sedang yang tentang ‘teamwork’ yang disinggung Zoro itu, jelas adalah prinsip anarki komunis, yang siapa lagi founding-fathernya kalau bukan Marx.

Meski kita tahu Marx berdebat sengit dengan Bakunin (seorang anarkis), secara prinsip, juga logika yang dipakai untuk membedah atau menentukan musuh-musuh yang mesti dilawan, mereka sebenarnya mirip belaka. Bedanya, para anarkis tak punya kehendak untuk duduk di atas sebagai pemegang kekuasaan penuh, tak seperti para komunis yang tembakannya adalah pemerintahan proletariat. Cita-cita yang kerap diolok-olok para anarkis sebagai Birokrasi Merah.

Zoro itu, di luar ketidakmampuannya membaca arah dan oleh karena itu jadi sering tersesat, memang kru yang paling paham tentang nilai-nilai. Meski sering juga disemprot Luffy karena kelakuannya, itu jarang-jarang saja. Zoro adalah perwujudan nyata dari apa yang pernah disebut Sakata Gintoki, “Kita hanyalah orang-orang bodoh, tapi ada hal-hal yang memang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang bodoh.”

Coba lihat apa yang ia bilang ke Luffy waktu Luffy selesai baku hantam dengan Usopp di Water Seven, “Jangan ragu. Kalau kau yang kapten saja ragu, kepada siapa lagi kami percaya, hah?”

Saat Luffy hendak mengajak Usopp balik lagi ke kapal mereka, ia tampil lagi dengan argumen gagah: "Mereka yang mengkhianati kaptennya mending mati saja. Jika seorang kapten mengizinkan seorang kru menginjak-injak wibawanya, mending saya juga keluar saja. Kau pikir meninggalkan kelompok adalah hal yang mudah dimaafkan? Kita tidak sedang bermain-main dengan laku bajak laut di sini. Kalau memang ia (Usopp) mau kembali lagi, ia mesti memohon dulu."

Ini memang tak bisa dipahami sebagai laku anarkisme. Aksi berontak Usopp lah sebenarnya yang lebih mirip. Soal sikap Zoro ini jelas potret nilai bushido, prinsip samurai, tentang loyalitas dan pengabdian.

Kita bisa evaluasi sikap-sikap Zoro ini selepas Water Seven. Lihat bagaimana reaksinya saat tahu Sanji memutuskan menerima undangan Big Mom. Dengan gampangnya ia bilang, “Tinggalkan saja si idiot itu. Bahkan pamit pun ia tidak. Mending kita cari koki baru.” Saat coba didebat kru yang lain, ia bilang, “Jangan beri ia toleransi, woi! Kita sedang punya misi yang sangat berat di sini.” Reaksi ini persis reaksinya saat Usopp pergi, kan?

Hormatku untuk samurai berambut lumut itu.

Kembali tentang anarkisme. Mereka para anarkis, sebagaimana juga mereka yang ditempatkan di sudut hina yang biasa disebut KIRI, adalah mereka yang tak henti-henti berlawan. Melawan tirani, melawan otoritas yang demonik, memperjuangkan kebebasan. Mereka yang berlawan ini, memang seperti orang-orang gila. Ingat bagaimana Pram waktu pertama kali dibui, ia menendang keluar semua makanan yang disajikan untuknya. Itu ia lakukan berhari-hari sampai akhirnya ia ketemu dengan harimau yang hendak menerkamnya dalam semedinya.

Penyair-penyair kiri yang dihukum mati, banyak yang diceritakan masih sempat membacakan satu puisi perlawanannya sebelum pelor menembus tubuh dan kepala mereka. Gila betul!

Luffy dkk pun, adalah mereka yang berlawan. Mereka yang mengejar kebebasan. Kawan-kawan mereka pun. Lihat bagaimana Nekomamushi dan Inuarashi merelakan tangan dan kaki mereka direnggut Jack hanya untuk melindungi teman-teman mereka. Kebodohan macam begitu itu.

Sebagaimana Marx memimpikan pemerintahan proletariat, kebebasan yang diperjuangkan oleh para anarkis jelas seperti utopia saja. Mimpi belaka. Tapi sebagaimana yang sering dibilang:

“Kalaupun sejarah hanya sebuah cerita acak-acakan, tak berarti ia sia-sia. Kalaupun akal budi tak kunjung menang, seperti dicitakan Hegel, tak berarti manusia takluk. Kalaupun kebebasan tak berhasil terbentang penuh di dunia, seperti diperhitungkan Marx, tak berarti ia tak layak diperjuangkan.”

Semoga One Piece tak hanya jadi tontonan biasa penghibur belaka untuk kita-kita. Ia semestinya jadi inspirasi untuk berlawan. Karena yang kalian puja-puja itu, mereka bajak laut topi jerami itu, adalah potret sah dari ANARKISME.

Dilihat 627

  • agus geisha
    agus geisha
    9 bulan yang lalu.
    Anarkisme menjadi begitu utopia bukan hanya karena ideal, tapi derajatnya susah dijangkau oleh logika masyarakat kita. terlebih karena dogma politik perwakilan persis seperti yang terlintas pada alinea yang diawali dengan "coba bayangkan saja anda...."

    Mengamini Pilkada sebagai otonomi sama begonya dengan pencibir rokok tapi diwaktu bersamaan mengkonsumsi minyak goreng.

    Nice try, anyway.

    • Lihat 4 Respon