Tiap-tiap Kita Sama Belaka

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Renungan
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Tiap-tiap Kita Sama Belaka

Saya pernah menghadiri satu event. Event tersebut menghadirkan beberapa tokoh inspiratif yang sukses merealisasikan mimpi-mimpi mereka. Sesuai konsep acara, mereka dihadirkan untuk berbagi tips juga cerita dibalik keberhasilan mereka. Ya, semua tentang passion, hasrat, gairah, dan semangat untuk mewujudkan sesuatu yang dicita-citakan.

Kalau tidak salah, ada sekitar enam pembicara. Dua diantaranya adalah mereka yang berhasil di bidang IT. Bahkan salah satu dari dua orang itu adalah seorang pria Mesir yang pernah bekerja di Google dan Microsoft. Dan satunya lagi adalah seorang Indonesia yang sudah jadi warga negara Amerika, bermukim di Houston, oleh karena mesti mengelola bisnis IT-nya yang sukses di sana. Ada pula seorang traveler, yang tiba-tiba dikenal sebagai penulis, karena catatan-catatan perjalanannya yang dibukukan laku diborong di toko-toko buku. Ada pula seorang Bapak yang menjalankan bisnis kopi tak biasa, yang berawal dari keprihatinannya pada kondisi para petani dan pemanen kopi, juga kenyataan pahit—sepahit kopi itu sendiri—bahwa harga beli kopi mentah sungguh terlalu murah bila dibandingkan dengan harga kopi yang akhirnya kita nikmati di warkop ataupun gerai-gerai yang lebih elite lainnya. Ya, semua tentang tengkulak.

Yang menarik, dan akan kuceritakan lebih banyak, adalah dua pembicara tersisa. Mereka adalah aktor utama dari terwujudnya satu proyek gila yang mereka namai ‘Perahu Pustaka’. Ide ini mereka panen dari benih keprihatinan akan nasib anak-anak di pulau-pulau kecil di sekitaran Sulawesi yang tidak bisa mengenyam pendidikan sekolah formal. Kalaupun bersekolah, tidak adanya buku-buku penunjang juga pendukung guna memupuk logika dan imajinasi anak-anak adalah kenyataan yang ingin digugurkan oleh proyek Perahu Pustaka tersebut.

Salah satu dari dua orang tersebut konon adalah seorang penulis, yang punya perhatian lebih pada aspek sejarah dan kebudayaan. Dia sebenarnya juga telah memulai program-program serupa, seperti ‘Kuda Pustaka’, dimana dia berkeliling keluar-masuk desa dengan kuda yang telah dilengkapi semacam rak buku di kiri dan kanannya. Kenyataan paling menyedihkan yang ia dapati selama menjalankan Kuda Pustaka adalah, seringnya ia dapati anak-anak yang jika ditanyai pertanyaan semacam, “Desa ini apa namanya, ya?” atau “Daerah ini apa namanya?” justru malah bingung, dan tak tahu mau jawab apa. Bahkan jika ditanyai, “Tahu gak siapa nama Presiden kita?” anak-anak itu pun tidak tahu, bahkan ada yang masih menjawab, “Soeharto!” Kenyataan ini terjadi, salah satu faktornya bisa jadi karena jumlah anak buta huruf dan buta aksara masih terhitung banyak di negeri ini.

Selain si penulis, seorang lagi yang bersama mewujudkan ide Perahu Pustaka itu adalah seorang jurnalis atau wartawan, yang dengan rela dan berani resign dari media tempatnya bekerja, untuk fokus mengerjakan proyek Perahu Pustaka tersebut. Si jurnalis ini, yang juga punya ketertarikan lebih pada sejarah dan budaya utamanya tentang kemaritiman, memang adalah seorang yang lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga nelayan dan pembuat kapal. Jadi dialah yang mengeksekusi proses pembuatan perahu, sementara si penulis sibuk mengumpulkan buku dan membangun jaringan untuk menyukseskan proyek ini.

Sepanjang acara, memang sesi pembahasan Perahu Pustaka inilah yang paling menarik perhatian hadirin, termasuk saya. Kami disajikan bagaimana proses pembuatan perahu, yang diwarnai ritual tradisional, mulai sejak penebangan pohon hingga pemasangan tiap pasak dalam perahu; betapa susahnya pelayaran dari Mandar hingga sampai pesisir Makassar, yang selain karena faktor alam, juga karena kurangnya teknologi yang dipakai dalam pelayaran; hingga momen mengharukan saat anak-anak desa ikut membantu mendorong perahu ketika hendak menuju lepas pantai, yang saat itu cuaca sedang buruk, belum lagi karang yang terlampau banyak sehingga sering membentur dasar perahu. Cerita-cerita itu dituturkan hingga si jurnalis menitikkan air mata. Memang, dalam kepercayaan daerah mereka, perahu buatan sendiri itu sudah seperti anak sendiri. Itu yang membuat ia mengisahkan pengalamannya secara lebih emosional.

Kendala utama dalam menyukseskan proyek Perahu Pustaka ini—selain bagaimana mengemudikan perahu bertubrukan dengan faktor alam—adalah bagaimana mengumpulkan buku-buku yang hendak dibawa. Banyak di antara beberapa donatur buku yang gagal paham dalam menafsirkan buku-buku jenis apa saja yang selayaknya disumbangkan. Mungkin karena proyek ini ditujukan untuk anak-anak, maka banyak donatur yang menyumbangkan buku-buku pelajaran sekolah pada umumnya, seperti matematika, bahasa indonesia, IPA juga IPS. Padahal, menurut pengalaman menjalankan proyek-proyek serupa sebelumnya, buku-buku seperti itu justru tidak banyak dilirik oleh anak-anak yang biasa ia jumpai. Buku-buku—matematika, bahasa indonesia, IPA, IPS—itu, yang disebutnya sebagai ‘buku-buku-yang-tak-menginspirasi’, kalah saing dengan komik dan buku cerita bergambar lainnya. Oleh karenanya ia menghimbau bagi orang-orang yang hendak menyumbang buku, donasikanlah buku-buku yang menginspirasi semisal komik Kung-Fu Boy, cersil Kho Ping Hoo, dan buku-buku sejenisnya.

Setelah setiap pembicara selesai berbagi cerita tentang passion mereka, akhirnya tiba pula di sesi saat hadirin dipersilakan bertanya. Ini tentu saja dengan tujuan menggali lebih dalam, karena tidak dapat dipungkiri, beberapa hadirin pasti merasa paparan si pembicara belumlah cukup. Dan tertebak, yang banyak disasar pertanyaan adalah mereka si penggiat Perahu Pustaka.

Dari sekian banyak pertanyaan, ada satu yang menarik. Pertanyaan itu datang dari seorang pemuda, yang mungkin sedikit lebih muda dari saya. Pertanyaannya kurang lebih seperti ini, “Mendengar cerita Anda, yang mesti resign dari pekerjaan, kemudian pulang kampung untuk terlibat langsung dalam pembuatan perahu, jujur agak tak bisa saya mengerti. Apa yang Anda peroleh—kepuasan macam apa, dari tindakan yang, menurut saya, tidak logis dan rasional itu? Kedua, mengapa mesti bersusah-susah mengeksekusi sendiri proyek ini? Mengapa tidak mengajukan semacam proposal ke Pemerintah, sehingga ide Anda ini bisa jadi program tetap Pemerintah, dan Anda tak perlu keluar biaya sendiri, karena akan dibiayai langsung oleh Pemerintah dengan anggaran negara atau daerah?”

Demikianlah kurang lebih pertanyaannya. Selama mendengar si pemuda memaparkan pertanyaannya, kedua orang yang ditanyai hanya senyum-senyum dan manggut-manggut. Yang terlebih dahulu menjawab adalah si mantan jurnalis. Begini kurang lebih jawabannya, “Jika ditanya kepuasan macam apa yang saya dapati, saya kira itu hampir tak bisa dijelaskan. Passion saya memang di sana: keinginan berbagi bacaan dengan anak-anak, juga menghayati perahu. Ini seperti kembali ke dalam diri saya sendiri. Seperti yang saya telah jelaskan, dalam keyakinan di daerah kami, bagi si pembuat perahu, perahu yang nantinya jadi sudah selayak anak sendiri (diucapkan dengan terisak-isak). Kalau soal ke Pemerintah, saya pikir sia-sia, lambat. Belum izin penebangan pohon, belum lagi tunggu proposal disetujui. Mending seperti ini, kayu untuk perahu ditebang langsung di kebun. Tak perlu berlama-lama.”

Kemudian jawaban ditambahkan oleh si penggiat Perahu Pustaka yang satu, “Pemerintah, hanya memberi tahu apa yang ‘harus’ dilakukan—prosedur yang mesti dilalui, yang umumnya ribet dan lama, bukan apa yang ‘mesti’ dilakukan. Bukan sebagai katalis, tapi malah memperlambat. Kalau kami mengajukan proposal, kami harus menunggu proposal disetujui, disesuaikan dengan anggaran Pemerintah, wuih, itu bisa sangat-sangat lama. Untung bila tak sampai satu tahun, kalau lebih? Sementara proyek yang kami kerjakan ini, dua bulan pun sudah tuntas.”

Jawaban yang tertebak, begitu pikirku. Pengalaman mengajarkanku hal yang sama. Saya hampir ketawa besar sekali di akhir jawaban itu, tapi kuganti saja dengan senyum kecut. Dan dari atmosfer forum, tak bisa tidak, ada sejenis sinisme untuk si anak muda penanya.

Sinismeku, bukannya hendak memilah-pisahkan pribadi si penanya dengan saya dan mereka para penggiat Perahu Pustaka. Memasukkan si pemuda di kategori ‘kanan-konservatif’, dan saya di sisi ‘kiri-progresif’. Sembari membayangkan, bahwa si anak muda ini hanyalah anak orang kaya, seorang gamers, yang malas turba, dan hanya berharap perubahan dari Pemerintah sambil ongkang-ongkang kaki main game di rumah. Tidak ada pikiran semacam itu, sama sekali tidak ada. Karena saya sadar, bahwa kita manusia ini sama saja. Dia bisa A, saya bisa B. Dia tidak bisa B, saya tidak bisa A. Murakami menjelaskannya dengan sangat tepat dalam Dengarlah Nyanyian Angin, "Kondisi semua orang sama saja. Sama seperti ketika kita naik pesawat rusak. Tentu saja di situ ada orang bernasib baik dan bernasib buruk. Ada yang tangguh, ada juga yang lemah; ada yang kaya, ada pula yang miskin. Hanya saja, tidak ada orang yang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada orang lain. Semua orang sama. Orang yang memiliki sesuatu selalu khawatir, jangan-jangan apa yang dia miliki sekarang akan hilang, sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa selalu cemas, jangan-jangan selamanya aku akan tetap menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Semua orang sama! Karena itu, manusia yang menyadari hal itu lebih cepat harus berusaha menjadi sedikit lebih tangguh. Sekadar pura-pura pun tidak apa. Betul, kan? Di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.”

Pertanyaan si anak muda itu, mengingatkan saya pada pertanyaan seorang pemuda pada saya di suatu kesempatan. Pertanyaan itu ia ajukan saat mendengar saya bilang sesuatu tentang sengkarut politik dalam kampus. Begini pertanyaannya, “Apa coba hubungannya mahasiswa dengan politik? Saya pikir mahasiswa itu independen, netral, dan tidak memihak?”

Seperti pertanyaan si pemuda untuk para penggiat Perahu Pustaka, saya hendak tertawa mendengar pertanyaan demikian. Soekarno pernah bilang bahwa politik adalah seni mewujudkan sesuatu yang tak terwujudkan di masa lalu. Saya bukan Soekarno, tapi saya percaya bahwa manusia adalah makhluk politik. Pertanyaan itu, kemudian hanya kujawab dengan bilang, “Banyak-banyaklah saja membaca, dek, kau akan tahu sendiri nanti.”

Mungkin jika pertanyaan itu diajukan sekarang, akan kujawab seperti ini, "Bayangkan, jika politik kekuasaan dalam kampus bisa menyasar hingga dalam toilet publik, ya, toilet yang itu, tempat dimana tahi dan air kencing beradu hingga kita tak tahu lagi bau mana yang menimpa yang mana, mengapa kita tak bisa percaya kalau ia juga bisa menggiring lembaga kemahasiswaan beserta isi-isinya sebagai salah satu komoditas ke dalam arena?"

Mengingat-ingat pertanyaan-pertanyaan seperti itu, saya hanya berpikir, “Mereka ini hanyalah anak-anak muda yang masih ‘hijau’, belum banyak melihat realitas, mainnya kurang jauh, pulangnya pun kurang larut.”

Khayalanku yang lain, “Di masa depan, kau, kalian, juga saya, akan jadi apa kira-kira?” (lihat thumbnail, itu tulisan punya Soe Hok Gie)

  • view 314