Menggapai Cakrawala

Itsnaaufa
Karya Itsnaaufa  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 2 bulan lalu
Menggapai Cakrawala

Udara pagi harus kembali dihirupnya dengan susah payah. Membujuk raga dan sukmanya agar bangkit dari lelap yang panjang sudah merupakan langkah besar baginya. Ia selalu terlelap terlalu larut ketika simfoni redup itu turut mengalun menyertai bayangmu. 

Ia kemudian menyibak tirai jendela kamarnya dan langsung disambut oleh lembutnya pendar sang mentari. Mentari selalu teguh pada pendiriannya untuk terbit setiap pagi, tak seperti dirinya. Sudah berpuluh-puluh getirnya malam ia telan. Kini hidupnya bagai tidak bercakrawala, terkulai dengan kesuraman yang mengungkungnya. 

Ia sebenarnya tak pernah memiliki intensi besar untuk menghakimi makhluk bumi manapun atas setiap perkara buruk yang menimpanya, apalagi pada dirimu. Meskipun ribuan orang akan sependapat bahwa dirimulah asal muasal resesi dalam hidupnya. 

Semua kerelaan untuk membahagiakanmu mendiami kalbunya atas kausa murni yang ia yakini. Namun dirimu justru mengalpakan tiap perlakuannya dan lebih memilih berkelana ke antah berantah. Ia lalu sekali lagi dengan peliknya berusaha melapangkan hati. 

Ia akan membuatmu terbang, meski harus mengorbankan sayapnya yang sudah patah. Namun ternyata dirimu tak mau mengangkasa seorang diri. 

Setidaknya itulah yang terlukiskan dari isyarat sedu sedan pada binar matamu saat kembali menghampiri dirinya. 

Dilihat 49