Memperbaiki Perangai

Itsnaaufa
Karya Itsnaaufa  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 November 2016
Memperbaiki Perangai

Kemarau yang masih harus dinantinya hingga beberapa bulan lagi terus mengusik hatinya. Ia sudah tidak ingin lagi bersimpul menjadi satu bersama sepaket kenangan itu. Namun, hujan yang tiap hari turun justru kian membanjiri hatinya dengan kenangan tentang masa lalunya. 

Banyak kejadian lahir tatkala musim hujan. Bagaimana mereka dengan malu-malu berkenalan dan membalas sapa, mengisi waktu senggang berdua bersenandung bersama rinai hujan, serta bagaimana akhirnya kisah mereka berakhir di bawah rintikan hujan. 

Kemarau kemudian mengikrarkan kehidupan yang lebih menenangkan bagi dirinya. Berbanding terbalik dengan teriknya mentari di pusat kota tempat tinggalnya, kemarau justru menyirami hatinya dengan kesejukan. Kesejukan yang nyatanya tak ia peroleh saat hujan turun. Sebab hujan selalu turun membawa serta senyum milik masa lalunya, yang hingga kini tak mampu ia lenyapkan dalam benak dan relung hatinya. 

Sebenarnya ia ingin bangkit, tak mau bergantung dan menunggu kemarau menghampiri sambil meratapi hujan. Ia sudah cukup merasakan getirnya menunggu hujan seorang diri, dibayangi canda tawa masa lalunya. Akan tetapi, ia tidak pernah secara konkret melenyapkan masa lalunya, menganggap kenangan itu terlalu berharga. Meskipun ada sebersit perasaan benci di kalbunya. 

Lantas, bagaimana akan membuka lembaran baru kehidupan yang lebih baik, jika melepaskan lembaran usang yang tak lagi berguna itu saja tidak berkenan? 

Sebab ia harus ingat untuk meyakinkan diri bahwa perangainya harus bermuara pada sebaik-baiknya hidup.

 

  • view 173