Fajar Mulai Berpendar

Itsnaaufa
Karya Itsnaaufa  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 November 2016
Fajar Mulai Berpendar

 

Suara bising dan percakapan sehari-hari tentang naiknya bahan pokok membumbung tinggi di langit-langit stasiun kota. Semua orang di sana larut dalam kegiatannya masing-masing, termasuk gadis itu. Di ujung peron kedua dari timur, ia masih duduk pada posisi yang sama sejak pertama kali datang beberapa jam yang lalu. Tatapan kosong menghiasi wajah sendunya. Bunyi suara tanda kereta api datang tidak cukup kuat untuk menghentikan aksi gadis itu. Dengan langkah tergopoh-gopoh, turunlah Arfan dengan gaya khasnya dari kereta api. Ekor matanya langsung bergerak menyusuri penjuru stasiun dan berhenti ketika bayangan yang diinginkannya sudah terlihat. Gadis itu.

“Hai, Kayra! Bagaimana harimu seminggu terakhir ini?” tanya Arfan antusias sambil menyerahkan sesuatu kepada Kayra.

Jawaban yang diperoleh dari gadis yang dipanggil Kayra itu nyatanya masih sama. Hening dengan tatapan mata kosongnya. Akan tetapi, Arfan sudah terbiasa dengan hal itu. Ketika dengan susah payah meyakinkan diri bahwa ia memang seharusnya bertemu dengan Kayra, tidak pernah selintas pun terpikirkan tentang pilihan bahwa ia bisa memutuskan untuk pergi. Tidak lagi setelah ia tahu detail dari kejadian dua tahun lalu.

“Memperhatikan suasana dari kesibukan orang-orang di stasiun kota selalu menyenangkan. Bukan begitu, Kay?”

“Kau seharusnya tahu. Aku tidak akan pernah bisa menikmati pemandangan ini, Arfan.”

Dulu tiga bulan setelah pertemuan pertama mereka, Arfan akhirnya mulai mengerti hal-hal sederhana tentang Kayra. Bagaimana ia menjalani hari-harinya, kapan ia berangkat ke stasiun, hingga akhirnya mengerti alasan ia selalu duduk termenung di peron stasiun kota. Alasan milik Kayra yang sempat membuat hari-hari Arfan berputar begitu lambatnya. Arfan kali itu akhirnya mengerti, bahwa ia memang ditakdirkan untuk terhubung pada segala sesuatu tentang Kayra.

“Kau tahu, Arfan. Aku tidak pernah memintamu untuk terus menemaniku yang bahkan melihat keindahan dunia ini pun tidak mampu. Jadi, aku  juga tidak akan memaksamu untuk tinggal di sisiku jika kau akhirnya memutuskan pergi. Pergilah selagi kau masih bisa.”ujar Kayra masih dengan tatapan kosongnya.

Perkataan itu terlontar dan menguap seiring kian teriknya sinar matahari yang menelusup ke stasiun kota. Lorong-lorong stasiun semakin dipadati manusia yang ingin segera sampai ke tujuan. Kesibukan yang kian bertambah membuat Kayra terbang menuju kenangannya dua tahun lalu. Kejadian yang kini membuatnya terpuruk dalam masa lalu yang membelenggu. Di stasiun kota inilah, ia terakhir kali bersua dan mengucapkan salam perpisahan yang tak disangka menjadi pertemuan terakhir bagi Kayra.

“Walaupun tidak kentara, tetapi aku selalu memegang teguh harapanku bahwa kelak laki-laki itu akan menjemputku kembali, bersama merajut semua mimpi yang pernah kami buat. Hanya setitik kemungkinan aku akan memberikan tempat untukmu, Arfan.” Kayra masih mempertahankan tatapan kosong yang dimilikinya.

“Laki-laki itu sudah pergi, Kay. Sangat jauh hingga tidak mungkin sanggup kaukejar  jika belum saatnya.  Aku akan menjadikan kemungkinan yang kaurapalkan  sebagai doa yang akan Tuhan pertimbangkan untuk dikabulkan. Laki-laki itu akan mengerti. Pasti.”

Dari tatapannya pada Kayra dari sisi samping gadis itu, siapapun pasti tahu bahwa Arfan sedang berusaha keras menahan gejolak hatinya. Jika dunia ini mau mengerti pada mereka,sebenarnya sungguh berat hari-hari yang harus dilewati ketika akal selalu bertumpu pada semua kenangan tentang laki-laki itu. Kenyataan yang harus dihadapi Arfan kini semakin berat. Ia harus menguatkan hatinya melihat Kayra belum bisa melepas laki-laki yang sudah berbeda alam dengannya. 

Ia harus menelan kenyataan pahit ketika mengetahui bahwa gadis yang kini sangat berarti untuknya itu, di masa lalu adalah kekasih laki-laki itu. Laki-laki yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Akan tetapi, ia juga tidak mampu menahan egonya dan terus menemani Kayra apapun risikonya, termasuk perasaan bersalah yang menghinggapinya. 

Jauh dari lubuk hatinya, diam-diam Arfan mengakui bahwa ia bersalah. Kejadian paling memilukan dua tahun lalu yang merenggut kebahagiaan Kayra berkaitan dengannya. Laki-laki itu memilih mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Arfan dan Kayra, mengikhlaskan janji-janji indah yang akan diwujudkan laki-laki itu. Ia juga membuat Kayra kehilangan hal yang paling berharga sehingga kini Kayra tidak bisa melihat keindahan dunia dari matanya yang jernih. Sekarang Arfan harus mengakui kesalahannya yang lain. Ia tidak sanggup mendustai hatinya sehingga kini ia masih duduk dan menemani Kayra di peron stasiun kota.

“Kaki ini sudah terlalu jauh terlangkah, aku tidak bisa kembali pada masa-masa sebelum mengenalmu.” Arfan menghembuskan napasnya perlahan. Dilihatnya Kayra yang menatap kosong rel kereta api di depannya. “Kita akan bersama-sama melewatinya, Kay. Akan aku pastikan hal itu selalu terwujud. Bersamamu, semua hal akan terasa lebih mudah.”  

“Aku tidak bisa melihat dunia dengan cara yang sama lagi. Akan sulit bagimu untuk menghadapiku."

Stasiun kota kini sejenak terasa lengang. Hanya dua insan itu yang asyik bertahan pada jalan pikirannya masing-masing. Tanpa ada yang menduga, kini Kayra menegakkan wajahnya untuk pertama kali sejak dua tahun telah berlalu. Sorot mata yang biasanya menatap kosong dunia itu perlahan bergerak. Kayra menoleh ke kiri, mendapati Arfan yang menatap pias gadis di depannya. Sudut bibir Kayra tertarik ke atas, samar-samar mencoba untuk tersenyum, mengiyakan hatinya.

“Bunga mawar merah ini warnanya cantik sekali. Terima kasih untuk segalanya, Arfan.”

Kini Arfan untuk pertama kalinya pula mengetahui sisi lain gadis itu. 

  • view 190