Pesan Jahitan Mama

Itsam Samrotul F
Karya Itsam Samrotul F Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Februari 2016
Pesan Jahitan Mama

?

?Baik pa, secepatnya saya kabari?. Aku menutup telpon itu. Kembali dengan banyak kesibukanku. Bisnis, organisasi, pendidikan, karir. Semua kugenggam erat. Namaku Risa. Masih diumur belia, aku sudah berperan ganda. Mungkin lebih. Langkahku seperti sangat lebar. Sama sekali tanpa keterbatasan. Dengan malam yang mau bersahabat, menenggelamkan rasa lelah bersama lautan bintang diatas sana.

Aku harus segera menemui mama, gumamku.

Satu-dua hari saja mungkin cukup untuk melepas rindu yang dimakan kesibukan. Kesibukan yang terus sambung menyambung, tak memberiku ruang untuk mama dan keluarga. Untuk sekedar mendengar kabar mereka di telpon saja, waktu tak mau berkorban. Semua jadi terasa sangat padat. Disamping skripsi, aku juga disibukan dengan pelbagai persiapan untuk lanjut di strata dua. Mengajukan beasiswa pun kurasa tak masalah.

Ah ya, bagiku pendidikan itu segalanya. Mama, sebatas tukang jahit saja tahu benar bahwa pendidikan lebih dari penting bagiku ?kita semua.

?Ijazah SD memang belum sempat mama kantongi nak, tapi kehidupan mendidik Mama segalanya?. Entahlah, apa makna lebih dalam apa yang dulu Mama katakan. Aku hanya menyimpulkannya singkat: Bagaimana aku bisa sesuper Mama tanpa pendidikan?

Raja siang hari ini tak sempat berucap salam. Tiba-tiba saja langit sudah melukis jingga. Semakin pekat. Dan malam datang dengan dinginnya.

Pukul 20.00 WIB.

Aku bergegas menuju rumah. Waktu berbulan milikku tidak lebih penting dari dua jam perjalanan ini. Merindu deru mesin jahit tua milik Mama.

Sesampainya, kuciumi tangan dan pipi kanan-kirinya. Kebetulan Bapa sudah tertidur pulas, ia pasti sangat lelah. Pukul setengah sebelas malam, Mama masih saja terjaga. Bersibuk dengan mesin jahit dan kacamata tebalnya. Aku beristirahat disamping Mama. Dari jarak sedekat ini, sungguh nampak jelas apa yang selama ini ditutupi jilbab panjangnya. Berpuluh helai ramput yang mulai memutih. Lengkap dengan riut-riut kulit yang mulai menyamarkan lesung di pipi kanannya.

Apa yang telah aku lakukan pada orang tua ini?

Aku ikut tersibuk dengan lembaran-lembaran tugas yang sengaja ku bawa.

?Mama senang kamu pulang? Mama membuka pembicaraan. Aku tersenyum.

?Kapan kamu lulus nak?? ia masih sibuk dnegan jahitannya.

?Do?akan saja Ma?, aku berucap pelan. Hampir dua jam berlalu sejak kedatanganku. Mama masih terjaga dengan wajah penuh lelah dan kantuk yang teramat.

?Ma, sudah Ma. Tidur? ungkapku kaku. Aku bingung apa yang harus aku katakan.

?Kamu duluan. Kamu terlalu lelah dengan kesibukanmu. Jangan lupa tugas dan kewajibanmu nak?. Mama sedikit menoleh.

?Bersyukur kamu segera lulus jadi Sarjana. Mudah-mudahan borongan jahit ini bisa cukup biaya wisuda?. Mama kembali dengan mesin jahitnya.

?Mama tidak bekerja untuk bisnis dan karirmu. Ini untuk pendidikanmu?. Suara sang mesin masih memecah malam.

Aku membenahi semua tugas dan kertas-kertas di ruangan kecil ini. ingin beranjak, Mama mendekatiku.

?Tidurlah. Bukankah kamu ingin mengubah kehidupan dan dunia? Perjuangkahlah apa yang Mama perjuangkan. Mama dan Bapa selalu mendo?akan?. Wanita tua ini mengelus pundak dan kepalaku. Tangannya tak lagi sehalus dulu, kasar dan penuh luka sana sini. Tentu banyak hal yang ia lakukan untukku.

Mama tahu, sejak kecil aku selalu mendoktrin diriku sendiri untuk menjadi seorang pengubah. Terlebih mengubah kehidupanku ?kehidupan kami. Mama tak pernah menyuruhku melakukan apapun selain belajar dan belajar. Mama bahkan tak begitu senang dengan bisnisku yang mulai menggurita.

?Tidurlah?. Mama beranjak kembali pada mesin jahitnya. Aku melangkah pelan.

?Mama baik-baik saja. Mesin jahit juga masih bagus. Berjuanglah dengan apa yang Mama perjuangkan. Esok lusa mama baru bisa tidur lelap?.

Mama benar. Aku tak bisa menjadi seorang pengubah tanpa melihat mereka bahagia. Mengubah dunia, mengubah kehidupan, mengubah apalah itu. Mengubah perjuangan menjadi kebahagiaan jauh lebih utama.

Aku segera beranjak. Menutup seluruh badan dengan selimbut tipis milik Mama. Perlahan pejamkan mata. Aku teringat ungkapan mama terakhir: Setidaknya, jadilah seperti mesin jahit tua ini. Ia selalu mau bekerja saat ada yang mendorognya menjahit. Tetaplah berjuang. Mama mendorongmu dengan do?a dan dukungan.

Aku tertidur. []

Oleh : Itsam Sf

#paradelombainspirasi #tulisan

Gambar diambil dari sini >>?https://novelyzius.com/2011/09/26/dendang-mesin-jahit-ibu/

  • view 165