Santri Untuk Bangsa dan Agama

Itsam Samrotul F
Karya Itsam Samrotul F Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Oktober 2016
Santri Untuk Bangsa dan Agama

“Aku sungguh akan pergi?”.

Pertanyaan yang membuat dadaku sesak sedari tadi, sejak kulihat ibu melambai pelan sesaat setelah aku mencium tangannya. Linangan air di bola matanya tetap saja bisa kulihat. Aku tahu ibu menahannya. Aku benci hal ini. Meski kucoba tutup rapat-rapat telingaku, aku tetap mendengarnya mengucapkan ‘selamat jalan’. Ku tutup matapun aku tetap sadar, bahwa aku memang benar-benar melangkah meninggalkan mereka. Ibu, ayah, desa, semuanya.

“Fit?”. Suara Ayah membuyarkan lamunanku. Aku hanya menoleh pelan. Membalasnya dengan senyum tipis yang –sebenarnya kupaksa muncul.

“Tidurlah. Perjalanan kita masih sangat panjang. Jaraknya masih jauh. Biar Ayah bangunkan sekiranya kita sudah dekat”.

Aku tidak terlalu menghiraukan apa yang dikatakan Ayah. Bagaimana aku bisa tidur tenang? Deru rel kereta sangat menggangguku. Aku tidak habis fikir, ditengah gencar tekhnologi di Ibu Kota, dipelosok desa malah terkaku-kaku karena tekhnologi yang ‘berkembang’ saja, tidak. Huh. Belum lagi deretan sawah dan pohon-pohon disepanjang jalan mengingatkanku banyak hal tentang desa. Tentang tiga belas tahun hidup dalam kebersamaan, keceriaan, kesederhanaan, dan keramahan desa. Dan hari ini, untuk pertama kalinya aku meninggalkan semuanya. Menjemput sesuatu yang baru ditempat baru. Ayah bilang, tempat yang penuh berkah, yang bisa membuatku dewasa, berwawasan luas, berkawan banyak, dan tak lagi berfikiran sederhana. Pondok Pesantren, begitu aku menyebutnya.

“Huuuh”. Aku menghela napas panjang. Semoga kehidupan pesantren tak membuatku ingin cepat pulang. Aku tertidur.

 

***

Satu bulan sudah semuanya berlalu. Hingga saat ini aku masih perlu banyak belajar. Banyak hal baru yang aku temukan. Aku mengiyakan semua yang pernah ayah dan ibu katakan. Bahkan aku masih sangat ingat, hari itu, kali pertama kami mendapat pengarahan. Kami berkumpul di Aula pondok. Ruangan yang besarnya bukan main. Yang jelas lapangan jerami di Desa tak sebesar itu.

Ada beberapa mesin pendingin ruangan disisi kanan-kiri Aula. Kami tak perlu lagi berkeringat ria meski berdesak-desakan.

Banyak sekali orang disana. Kami hampir tidak saling mengenal. Ragam bahasa terdengar samar-samar di telinga. Sudah barang tentu kutemukan orang-orang dengan cara bicara yang tak biasa. Bicara mereka seperti orang-orang yang sering kami lihat di layar TV dulu –didesa, gumamku.

“Ahlan wa sahlan fii ma’hadinaa”. Tepukan tangan ramai memenuhi isi ruang. Aku belum paham dengan apa yang ia katakan. Sosok cantik, rapi dengan kerudung yang terurai menutupi dada dan bagian belakang, baju langsungan yang menyembunyikan lekuk tubuh. Berbicara dengan bahasa yang tertata rapi. Ramah dan supel sekali.

“Selamat datang adik-adik semua. Selamat datang di rumah baru kalian. Tempat yang insyaallah mengantarkan kalian pada mimpi dan cita-cita kalian. Tempat yang mengajarkan kalian bagaimana cara hidup seorang muslim dalam berbangsa dan beragama. Bla... bla.. bla..”. Penjelasan yang membuat ruangan besar ini kembali ramai oleh tepuk tangan.

Perkumpulan malam itu ditutup dengan sedikit kutipan yang sampai saat ini masih kuingat jelas. ‘Sebelumnya, kalian semua berbeda. Disini, kita semua sama. Kita semua satu. Mari bersama-sama mengejar asa. Mengejar ridhoNya untuk menggenggam dunia’. Ah, entahlah. Kata bijak yang keluar begitu saja, namun sarat dengan makna yang besar –bagiku.

Malam-malam kulalui seperti biasanya. Bahkan biasa-biasa saja. Saat tangis teman kamar tiba-tiba saja memecah hening malam, aku lebih memilih berdamai dengan hati. Dengan bulan, bintang dan langit malam. Dengan banyak pertanyaan yang masih berkecamuk dalam benakku. Aku menarik pelan selimut hingga benar-benar menutupi tubuh. Mencoba memejamkan mata. Hingga kemudian tertidur. Begitu setiap malamnya. Sejauh ini aku baik-baik saja.

***

“Maaf ka, aku sungguh tidak akan mengulanginya lagi”. Satu anak terlihat sedang menghadap pengurus pondok. Meminta keringanan atau apalah itu. Aku pikir, karena ia melakukan pelanggaran –mungkin, dibelakangnya malah bergerombol tiga-empat orang lagi. Entahlah, kekacauan apa lagi yang mereka lakukan. Aku hanya mengamatinya dari jauh. Satu-dua orang bergantian meminta dispensasi, menghadap pengurus pondok. Namun seperti apa yang kutahu, peraturan teptaplah peraturan, dan pelanggaran juga tetaplah pelanggaran.

“Mohon dengan sangat ya adik-adik. Peraturan ada bukan untuk dilanggar. Kakak tahu adik semua orang baik. Namun tetap tidak ada pengecualian untuk aturan yang sudah kita sepakati bersama sejak awal. Masih ingat, Dari kita, oleh kita, untuk kita? Berani melanggar berarti berani menerima semua konsekuensi. Bukan begitu?”. Keputusan yang sangat bijak. Menghukum dengan cara yang halus. Untuk kesekian kalinya aku dibuat kagum olehnya.

“Hey Fitri, berhentilah berlagak seperti seorang pengamat. Rajin sekali kau hah”, temanku Bela menghampiri. Sedari tadi aku memang duduk rapi disamping dinding kantor, mulanya hanya sekedar bersandar dan istirahat sejenak sementara menunggu kegiatan lain berlanjut. Namun orang-orang dan perbincangan di kantor membuatku lebih lama diam disini. Malah terlanjur menyimak dengan seksama.

“Wush, apanya yang pengamat hey?” aku hanya mengelak.

“Ssssstt, duduk disini La”. Aku mengajaknya pelan-pelan duduk disampingku. Tidak berniat untuk lebih jauh menyimak perbincangan didalam sana, aku jadi tertarik untuk menanyakan beberapa hal pada temanku ini, Bela.

“Anak baru juga kan ya?”, anggaplah itu pertanyaan pembuka.

“Lah iya, kenapa memang Fit?”

“Sebelumnya sudah pernah mondok?”, pertanyaan kedua. Masih belum penting.

“Aku? Belum Fit. Ini aja masih betah gak betah”. Ah, wajahnya mulai kecut.

“Loh?”

“Gak kebayang aja beneran bisa mondok di pesantren. Dulu pengen banget belajar di sekolah umum kaya teman-teman lain. Jadi dokter, pramugari, dosen, bidan, polwan. Ah ya, biar berguna  buat bangsa dan negara. Eh sekarang malah mondok. Entahlah, apa bisa jadi orang hebat ya? Tiap harinya aja keseringan kita ngaji. Kapan jadi orangnya coba?” Bela menjelaskan panjang lebar. Sudah seperti radio lama yang tak berhenti bicara. Tanpa titik, tanpa koma.

Entah berapa alinea jawaban yang Bela beri untuk dua pertanyaan singkatku itu. Aku cenderung hanya mendengarkan. Tak ada kesempatan untuk berkomentar, sekalipun merespon singkat. Aku seperti membuka kelas bimbingan konseling dan sesi curhat. Bela.. Bela.. Ada benarnya juga, sesungguhnya aku juga berpikir demikian, gumamku.

 Penjelasan Bela tadi siang sedikitnya membuat pertanyaan baru dibenakku. Apa benar begitu? Ayah pernah melarangku berpikir begitu. Beliau bilang, setelah dipesantren nanti, aku akan menjadi manusia yang jauh lebih baik dari orang lain. Aku tidak lagi menjadi sekedar manusia dengan otak briliant, atau dengan pengalaman hebat. Ayah bilang, aku akan punya satu sisi yang tidak dimiliki orang lain. Ah, apa itu? Aku masih gadis remaja yang belum paham dengan maksud terselubung seperti itu. Tapi aku rasa, pemikiranku sudah tak sesederhana dulu. Setidaknya, sudah enam bulan lalu aku meninggalkan Ayah. Disini dijejali banyak ilmu dan wawasan baru. Banyaksekali.

***

“Sekian pelajaran kenegaraan untuk hari ini. Sebelum ditutup, ada yang ingin ditanyakan?”. Begitu Pak Nurdin mengakhiri jam pelajaran. Pendidikan Kewarganegaraan memang salah satu mata pelajaran yang diminati sebagian besar dari kami. Bagi kami, pelajaran ini tidak kalah penting dengan ilmu pasti lain seperti matematika dan fisika –misalnya. Cara pengajaran yang tak biasa membuat kami mudah memahami nilai-nilai penting dari setiap sub bab pelajaran. Terlebih, Pak Nurdin selalu saja menyelipkan nilai keagamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pantaslah beliau dinobatkan sebagai guru profesional dalam bidangnya di pondok pesantren kami.

“Ah kalian ini, diberikan kesempatan bertanya, semua terdiam. Giliran saya ajukan satu pertanyaan saja, tidak satupun telunjuk terlihat mengangkat”,

Pak Nurdin menggeleng. 

“Jadi sebenarnya, kalian paham apa tidak loh nak?”. Beliau terkekeh sendiri karena tingkah kami. Kami yang sejak tadi hanya diam dan senyum-seyum saja.

“Mohon maaf pak, saya izin bertanya”, aku memberanikan diri. Teringat suatu hal tentang apa yang pernah Ayah sampaikan tempo lalu.

Pak Nurdin memberi isyarat –silahkan.

“Dulu, Ayah saya pernah bilang, bahwa di pesantren, kita akan menemukan replika kehidupan berbangsa dan beragama yang nyata. Beliau juga bilang bahwa setelah kita belajar di pesantren, akan ada hal lebih pada diri kita yang tidak dimiliki orang lain. Jika berkenan, bisa Bapak jelaskan kira-kira apa maksud Ayah saya itu?”. Entahlah penting atau tidak pertanyaan itu. Berharap mendapatkan jawaban terbaik. Setidaknya tidak akan ada lagi pertanyaan yang menggumpal dalam benak.

“Pertanyaan bagus nak Fitri”. Beliau sudah mengenalku baik. Menghafal nama-nama anak se-pesantren bukan hal sulit dibanding menghafal deretan pasal dalam UUD 1945. Mungkin juga, karena sejak pertemuan pertama hingga sekarang, pertanyaan dariku tak pernah surut menghujani. Karena itu, nama dan rupaku dikenalnya jelas.

“Ayahmu benar nak. Benar sekali. Tidakkah selama ini kalian mengamati semua fenomena yang berlangsung disini? Coba ingat-ingat. Dari bangun, hingga tidur, lalu kemudian bangun kembali. Semua tidak lain berjalan sesuai aturan yang kita buat bersama. Hukuman bagi sang pelanggar aturan, penghargaan bagi dia yang mau taat pada aturan. Asas-asas kebersamaan yang sudah sejak lama kita jalin. Adakah diantara kalian yang memperdebatkan perbedaan kalian? Dari mana asal kalian? Suku, ras, bahasa bahkan tahta kalian masing-masing? Disini kita semua sama. Dari dan siapapun kalian sebelumnya, setelah dipesanten tujuan kita jadi satu. Dan hanya satu. Mengejar ridhoNya untuk menggenggam dunia”.

“Jangan pernah khawatir dengan masa depan kalian nak. Pesantren bukan tempat yang menyeramkan. Pesantren bukan tempat yang membuat kalian terasingkan. Kalian boleh dan bisa jadi apa saja. Dokter, dosen, polwan, pramugari, bidan, presiden, apalah itu. Yang membuat kalian berbeda nantinya adalah hati kalian. Hati kalian sudah penuh dengan kebaikan, hingga tidak akan ada celah sedikitpun untuk melakukan hal buruk. Setelah kalian pandai menata hati dan diri, jadi apapun kalian nanti, kalian pasti mampu memposisikan diri menjadi yang terbaik. Kalianlah generasi bangsa dan agama yang sebenarnya. Berbanggalah karena pernah berdiri tegak bersama-sama di pesantren. Ingat, lakukan yang terbaik untuk bangsa dan agama”. Jawaban yang luar biasa. Sudah kutebak, Pak Nurdin tidak mungkin memberikan penjelasan dan jawaban yang sealakadarnya. Selalu saja kata bijak dan penuh makna yang keluar dari mulutnya. Ucapan yang tidak pernah terbuang sia-sia.

Jam pelajaran ditutup dengan tepuk tangan meriah di sepanjang kelas. Kami saling menoleh satu sama lain. Mengiyakan semua yang disampaikan Pak Nurdin. Pesannya tidak ikut menghilang bersama beliau yang sudah lebih dulu meninggalkan kelas.

Aku lamat-lamat mencari sesuatu di sudut kelas. Semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sehelai pita putih yang bertuliskan kata penuh makna dan perjuangan. Semboyan negri kita tercinta. Aku baru sadar, semboyan yang kita miliki ini luar biasa maknanya. Berbeda namun tetap satu asa, begitu kurang lebihnya. Dan disini, di pesantren, kami sepenuhnya menjunjung tinggi semboyan itu. Mari bersama-sama mengejar asa. Mengejar ridhoNya untuk menggenggam dunia. []

#RePostLombaCerpenSantri2016

#InstitutIlmuQur'an

#Tarbiyah1.A

 

  • view 155