Segitiga Kekuatan

Itsam Samrotul F
Karya Itsam Samrotul F Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Oktober 2016
Segitiga Kekuatan

Pagi yang masih sama. Semburat mentari membuat mataku sedikit mengerut, hangatnya bukan main. Seperti menghujam hingga lapisan tulang terdalam, segar. Juga, bukan lagi bising-bising lalu lintas yang menguasai pagi ini, lantunan Ayat suci terdengar sahut-menyahut dari setiap sudut Asrama. Sesekali, suara gemuruh pesawat terbang terdengar jelas dari sini. Jarak kami seperti sangat dekat. Kufikir karena disini dekat sekali dengan kawasan penerbangan, bukan masalah. Ah lagi pula, siapa yang tak nyaman dengan suasana seperti ini?

Ada banyak sosok-sosok luar biasa disini. Siapapun mereka, semuanya membuatku semakin jatuh hati dengan tempat ini. Entahlah, aku yakin kalianpun demikian. 

Perhatianku terarah pada satu gadis yang sering kutemukan dibarisan depan mushola, tepat dipojoknya. Aku tak bisa bayangkan apa yang sebenarnya ia pikirkan. Ditengah harap-harap dan doa semua orang, wajahnya penuh dengan ketakutan dan kepiluan. Aku kerap kali memperhatikan setiap geraknya. Walau, sebenarnya aku tak sedikitpun mengenalnya. Aku bahkan tak tahu, apakah dia sadar bahwa sejak malam itu aku memperhatikannya. 

"Neng, monggo taawudz dulu." Intruksi pertama dari instruktur kami saat pembelajaran Tahsin selalu begitu. 

Adalah hal yang sangat utama, belajar membenarkan bacaan Al-Quran kami yang sejak dulu ternyata salah dan kurang sempurna. Maka, malam ini adalah malam pertama kami mendapatkan pelajaran itu. Aku benar-benar dibuat menganga dengan semua hal baru ini, apalagi dengan kefasihan bacaan Al-Quran para Instruktur. Subhanalloh, gumamku.

Hey, ada hal lain yang menyita perhatianku. Gadis yang sering kuperhatikan di mushola itu ada disini. Dia juga masih sama. Terdiam dan penuh ketakutan, aku bisa tau dari sorot matanya. Kosong, sesekali berkaca-kaca malah. Kalau saja aku duduk tepat didekatnya, batinku kembali bergumam. 

  Aku mulai mengikuti pelajaran pertamaku ini. Terdengar beberapa diantara kami malah terbata, aku juga beberapa kali salah mengucap.

Dan, waktu berjam-jam pun berlalu sangat cepat. Pelajaran malam ini berakhir menyisakan banyak sesak dan petanyaan. Yah, mengapa tidak sejak dulu berbenah seperti ini?. 

"Gimana nak? Apa yang kalian rasakan setelah pertemuan awal ini?." Kami terdiam dan tertunduk saja.

"Sudahlah, tidak usah berkecil hati. Semuanya sedang dan masih terus belajar kan?". Ibu  instruktur mencoba menenangkan. Beliau tersenyum saja melihat kami. 

"Disini, semuanya akan bersahabat dengan Al-Quran. Bacaan dan lantuan Ayat suci akan jadi teman dimana dan kapunpun itu. Saya tak tahu seperti apa kesan pertama kalian seusai pembelajaran pertama ini. Mungkin ada yang semakin tergunggah semangatnya, ada juga yang malah merasa takut atau bahkan ingin mundur. Benar begitu?, " beliau bertutur lembut. 

Kami diam berbahasa. Tertunduk. Oya, gadis yang sejak tadi kuperhatikan malah sepertinya sudah sayu. Entahlah.

"Baiklah, boleh saya tanyakan satu hal?. "

Kami mengangguk. Tentu saja.

"Adakah diantara kalian yang sudah hilang semangat? Hilang kemauan, bahkan keberanian?. " Kami menggeleng.

"Benar. Saya pesan satu hal nak. Saya tahu, tentu kalian punya alasan dan tujuan masing-masing  memilih berjuang ditempat ini. Ingat, jangan merasa dipaksa atau terpaksa. Jangan merasa kecil atau besar. Bisa atau tidak bisa. Semuanya sama. Kalian cukup miliki semangat, keberanian dan kemauan. Segitiga kekuatan yang tak boleh kalian lepaskan. Segitiga yang bermuara pada Tuhan kita, Allah. Disini kita belajar memahami IlmuNya, menjaga KalamNya, mencari ridhoNya. Dan semuanya tak bisa tanpa segitiga tadi. Apa jadinya jika kalian tidak punya satu sudut saja dari segi tiga itu? Kalian akan sangat lemah. Semangat, kemauan, keberanian. Yakinlah, insyaallah akan dimudahkan, akan dilancarkan nantinya. Kalian akan menjadi lebih kuat dari yang kalian bayangkan, Insyaallah."

Suntikan semangat yang luar bisa, sangat luar biasa. Kami tercengang dengan apa yang beliau katakan. Dan tentu saja mengiyakan semuanya. 

Benakku cepat-cepat merekam semuanya, menerjemahkan dan kemudian memahami setiap katanya. Beliau benar. Tidak seharusnya aku diam-diam saja. Melirik teman-teman dikanan kiri juga sepertinya begitu. Kami harus semangat, mau dan berani. Tempat ini bukan lagi untuk tempat bermain. Belajar, berlatih dan beraplikasi seharusnya. 

  Pertemuan kami ditutup dengan doa khatmil quran, tentunya. Dilanjut dengan mencium tangan ibu instruktur, setelah ia mengucapkan salam penutupnya. Beberapa dari kami langsung berhamburan keluar majelis. Beberapa lagi saling bercengkrama, menanggapi apa yang ibu intruktur sampaikan tadi. 

Untuk kesekalian kalinya, gadis yang sering kuperhatikan terduduk saja disudut ruangan. Aku mendekatinya. Dia seperti tersendu-sendu, aku tidak bisa memastikannya. Aku  hanya bisa melihat punggungnya yang bergetar dari belakang. Aku mendekatinya. Menepuk pelan pundaknya. 

Dia berbalik cepat, memelukku. Kenapa?, gumamku.

“Kaka, aku takut. Aku tidak punya keberanian untuk mengumpulkan semangatku. Apa jadinya aku ka? Aku.. aku." Dia berucap terbata-bata. Dia menangis.

"Hey, kenapa takut? Kenapa menangis?" aku mengelus lembut punggungnya. Dia masih menangis memelukku. 

"Kamu bisa, pasti bisa. Aku tak akan banyak bertutur. Ingat apa yang disampaikan instruktur tadi? Pahami. Setelah kamu mau memahaminya, semangat dan keberanian pasti datang."

Gadis itu mengangguk pelan, dan kembali menangis. Semoga semangat, kemauan dan keberanian tak kunjung lepas dari dada ini. []

Pamulang, 02 September 2016

#RepostIIQ

#institutilmuquranjakarta

#UkhtiSamsam

  • view 233