CINTA : Meski tak muda lagi

Itsam Samrotul F
Karya Itsam Samrotul F Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Maret 2016
CINTA : Meski tak muda lagi

Tentang pria disampingku. Aku tak tahu sampai kapan akan terus mencintainya. menerima sebesar apapun kekurangannya, terlebih kebaikannya yang tak sempat terhitung.?

Rahman,, dia suamiku. ditengah malam seperti ini aku mengaku kalah. aku tak bisa memaafkan kemarahanku yang selalu termaafkannya. aku tak bisa membayangkan luka apa yang bersembunyi dalam garis senyum pria ini.?

Aku menyentuhnya. merasakan kasih sayang disetiap jemarinya. Aku tahu, pria ini tak mungkin meninggalkanku setelah 30 tahun merajut banyak kisah. Membina perbedaan yang berbuah kesempurnaan.

***

"Terimakasih untuk sarapan paginya istriku". Aku tersenyum. Ini yang selalu Rahman lakukan setiap pagi disepanjang 30 tahun ini. Entahlah, walaupun hanya goresan tinta yang tergeletak rapi di meja makan, rasanya selalu berarti. Sejujurnya ada sedikit sesal. Sedari tadi aku belum berani menyapanya. Aku bergegas mendekati jendela depan. Aku hanya melihat punggungnya melambai, cepat.?

"semoga tuhan menjagamu" harapku penuh.?

Apa kesalahpahaman selalu hadir dalam pernikahan? ah ya, aku menyebut semua ini hanya kesalahpahaman. Bukan musibah, bukan masalah. Karena sesaat setelah kemarahannya, atau setelah keeegoisanku, aku selalu kembali mencintainya. Dia juga. Ini jelas salah paham. Ya, hanya sama-sama sedikit salah mengartikan kemarahan itu. Bahwa marah adalah ekspektasi kasih sayang -mungkin.?

Hari-hariku tak sesibuk 30 tahun lalu. Dua anakku juga sudah sama-sama berumah tangga. Ini membuatku semakin mudah mengamati semua hal tentang suamiku. Orang yang kukenal hingga usia setengah abad ini. Sekecil apapun, aku tahu.?

***

"Ma, sudah tidur?". Dia pelan-pelan menyentuhku, memastikan aku ketiduranku.?

"Kenapa pa?" aku beranjak duduk didepannya.?

"Masih marah?"

Aku menggeleng. Sebenarnya ingin lepas tersenyum, melihat wajah pria tua ini yang rambutnya tak hitam lagi bertingkah muda.

"Papa bukan patung loh...", dia mencoba merayuku bicara.?

"Tidak Pa, lupakan saja".

Ah, apa yang kukatakan? selalu saja berlaku egois.?

"Baiklah, Papa tidak perduli bagaimana perasaan Mama ke Papa. Papa hanya meminta izin untuk tetap mencintai Mama, istriku. Tak perduli kau marah, sebal, acuh atau sama sekali tak mau membuka mulut".?

Aku malah terdiam.

"Jadi, mari kembali beristirahat".

Aku masih terdiam.

"Terimakasih sudah memberi maaf". Rahman perlahan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Entahlah, seperti ingin cepat-cepat memejamkan mata. Aku juga.?

Detik berjalan.?

Aku tentu tak tenang hati. aku tak bisa egois lagi. Aku ingin memeluk erat Ia, kemudian mengucapkan terimakasih yang belum juga terucapkan.?

"Pa bangun". Aku berusaha membangunkannya, bermaksud mengungkapkan rasa maafku juga.?

Rahman malah balas membiarkanku terjaga, sendiri. Dan, aku hanya bisa berurai tangis kala tak tertahan memeluknya. Membisikan kata maaf dan rasa cinta yang tak musnah hingga kini. Rahman, sosok yang mulai ringkih, namun tetap penuh kasih -suamiku.?

***

Aku yakin semua ini ulah Rahman. Entah sepagi apa ia bangun dari tidur, menyiapkan hidangan pagi sederhana lengkap dengan kertas yang (sudah pasti) tergeletak ini. Sedang batang hidungnya saja belum juga kulihat.?

"Terimakasih atas cinta disepanjang perjalanan ini. Aku selalu mencintaimu, meski kita tak muda lagi"

Indah sekali. Aku hanya bergetar. Mengusap mata yang mulai berbulir. Menunggu sosok penuh cinta itu. Ah ya, aku mencintaimu meski tak muda lagi, suamiku. []