Labuhan Hati

Itsam Samrotul F
Karya Itsam Samrotul F Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Maret 2016
Labuhan Hati

Aku hampir tergoyah. Waktu, situasi, kondisi, semuanya semakin memaksaku untuk melepaskan genggaman ini. Sesuatu yang kuciptakan dengan membuang keraguan. ?Ka, Bang Eza beneran mau pulang minggu ini loh?. Aku tak begitu menghiraukan apa yang diucapkan Zahra, adikku. Dia terlalu senang hati dengan dengan sosok yang bertahun lalu menyimpan hatinya untukku. Aku terlalu lelah dengan seribu kebaikan tentang dia. Sepasang telinga ini hampir jemu mendengar hal-hal baik darinya. Semuanya hanya membuatku semakin benci. Aku acap kali hampir melepaskan genggaman ini. ?Sudahlah ra, tidur kamu. Bang Eza pulang bukan untuk kamu, untuk kakak juga tidak?. Aku menutup jendela-jendela kamar. Bulan diatas sana tersenyum sangat indah. Seperti membawa kabar rindu seseorang. Ah. Aku kembali menutupnya. Aku tak mau jika rasa itu benar-benar hadir kembali. Semburat mentari terpancar indah pagi ini. Hangat sekali. Pun awan-awan yang terlukis lebih rapi dari biasanya, membuat pagi ini semakin terasa hidup. Nafas yang kuterima dari tuhan tak berhenti berhembus, begitu dengan darah yang mengalir antara jantung dan paru-paruku. Mengundang degup yang selalu ku hindari. Sesekali kudekati kotak kecil di kamarku. Tepat dibawah ranjang ini, kusimpan lembaran pesan sejak lima tahun lalu. Kertas usang yang menyimpan kenangan dan harapan. Dan semuanya selalu kuhindari, lagi. Aku buka, kututup lagi. Tak berani mencoba menyentuhnya. Walau sekali. Aku takut, rasa itu hadir lagi. ?Ka, Bang Eza baru saja mengabari. Dia benar-benar sudah di Bandara? unghap Zahra antusias. ?Kakak tahu?, aku menjawab datar. ?Ayo siap-siap lah ka, beberapa jam lagi Bang Eza pasti sampai rumah kita. Bukankah kau jauh lebih merindukannya dari pada kami??. Aku tak berkomentar. Aku mengenal Bang Eza tak sesingkat matahari mengenal siang, bulan mengenal malam. Enam tahun yang penuh kenangan. Sejak dia menyimpan hati padaku, gadis dua tahun leibh muda darinya. Bang Eza adalah sosok yang penuh keindahan. Dia bijak dalam bertindak, baik budi pekertinya, pemuda yang cerdas. Semua orang senang bersahabat dengannya. Aku mengaguminya. Dulu, saat ia hendak meneruskan pendidikan di Madinah, dia tak sempat berkata banyak. Hanya berpesan, jadilah selalu muslimah yang dirindukan syurga. Semua yang ia lalukan tak pernah menyisakan rasa ragu dihatiku. Dia seperti tercipta untukku, begitupun sebaliknya. Ia seperti malaikat yang membuatku lebih cinta pada sang pencipta. Menuntunku untuk lebih dekat dengannya. Itu dulu, sebelum langkahnya berpijak di Madinah. Lima tahun kurasa tak begitu lama. Aku tak ingin dikatakan seperti dalam penantian. Aku dan Bang Eza justeru sedang sama-sama mencari dan menemukan. ?Assalamu?alaikum?. Suara yang akrab ditelingaku. Ini menggangguku. Degup itu seperti orchestra cantik si pelantun lubuk. Debar yang kian lama tak pernah benari datang. ?Sudah kuduga kau akan cepat sampai Bang? Zahra menyapanya dari jauh. Bang Eza sudah sampai di pintu rumah. Sorban yang semapai rapi di pundaknya, kopiah putih yang tak pernah berubah di kepalanya, lengkap dengan jubah putih yang ia kenakan. Semuanya sama. Dia masih seperti lima tahun lalu. Dibalik tirai kamar, aku diam-diam memperhatikannya. Sesekali mencoba memastikan kedatangannya. Aku belum mau menginjak ruang depan, apalagi harus berpapasan wajah dan menyapanya. Aku lupa bagaimana mengawalinya. Umi, Abi, Zahra sepertinya sudah berkumpul menyambut sosok yang dirindukan banyak orang itu. Aku mulai melangkah mendekat, berharap takan pernah ada rasa yang datang. ?Masya Allah, dik Salsa??. Langkahku terlenti. Aku masih merunduk. ?Kemana saja kau sejak tadi? Mari mergabung?, Abi berucap pelan. Aku berjalan. Masih merunduk. ?Kaifa haluki dik??. Sapaan yang kurindukan sejak lama. Aku tak mungkin menjawabnya dengan kepala tertunduk seperti ini. Sudah kubilang, aku tak mau melihat Bang Eza. Aku takut. ?Alhamdulillah, saya baik Bang. Abang bagaimana?? Bismillah, aku melihatnya terduduk didepan sana. Aku tak mengerti mengapa ia membawa rasa nyaman yang teramat. ?Syukurlah. Abang Alhamdulillah dik?, dia tersenyum. Rasa ini datang lagi. ?Oya, Umi, Abi, saya tak bisa berlama-lama, saya senang kalian semua dalam keadaan baik. Ada hal lain yang harus saya kerjakan. Besok lusa saya kembali ke Madinah?. Ruangan hening. Bukankah Bang Eza sudah menyelesaikan pendidikannya? ?Bagaimana, dik Salsa masih bersedia menunggu abang??. Aku tersendak. Apa yang Bang Eza tanyakan? Aku diam tanpa bahasa. Umi dan Zahra menyikutku. ?Haha, saya bercanda dik? ia tersenyum, menggaruk kepala yang tak gatal. ?Jangan pikirkan abang yang jauh. Abang sendiri tidak bisa menjanjikan apapun pada dik Salsa. Dari kejauhan, abang selalu mencintai dik Salsa, namun abang rasa dik Salsa boleh memiliki kehendak lain?. Lagi-lagi aku hilang kata. ?Baiklah. Abang senang sudah melihat dik Salsa. Allah sungguh menjagamu dengan indahnya. Kamu pasti sudah belajar banyak selama abang tak ada. Abang yakin, kamu faham baik maksud abang?. Ia mulai beranjak. Inilah yang membuatku tak berhenti mengaguminya. Ia selalu hadir sebagai sosok yang bijaksana. Apa ada pria lain yang seperti dia? ?Abang bawakan sesuatu untukmu dik. Namun, akan abang simpan sampai Allah benar-benar membawa kita pada takdir yang sama. Sekarang, fokuslah untuk selalu jadi muslimah yang dirindukan syurga. Abang tidak tahu apa dik Salsa menyimpan rasa yang sama pada abang?. Mengapa Abi dan Umi ikut terdiam? Ruangan jadi terasa lebih hening. ?Ah, jangan terlalu memikirkan apa yang baru saja abang katakan. Labuhkanlah hatimu pada sang pemilik hati, jika Dia berkenan, abang akan mengambilnya?. Senyumnya pecah. Bang Eza benar. Allahlah labuhan hati yang sebenarnya. Aku tak perlu mencemaskan bang Eza, atau malah berusaha membuang jauh rasa ini. Cukup aku simpan rapi, dan melabuhkannya pada sang pemilik hati. Karena syurga akan sangat merindukan muslimah yang mampu melabuhkan hatinya di tempat yang tepat. []