Untukmu Lelakiku

Itank
Karya Itank  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 September 2016
Untukmu Lelakiku

Sampai detik ini, aku masih suka menulis apapun tentangmu, tentang kita. Tentang apa yang pernah kita lalui bersama, tentang impian kita, dan apapun yang pernah dan akan kita perjuangkan berdua.

 

Aku tak pernah bosan meminta pada-Nya, untuk segera menghalalkan kita, jika memang adanya aku disini adalah untukmu, dan adamu disini adalah untukku. Seperti apa yang selalu kamu katakan padaku, berdoalah, karena kekuatan doa bisa mengalahkan segalanya. Aku ingin menjadi pengisi separuh hatimu yang masih kosong. Aku ingin menjadi menyempurna dien-mu, aku ingin menjadi pelengkap ibadahmu, aku ingin menjadi istri dan ibu yang shalihah untukmu dan anak-anak nanti. Aku ingin, menjadi istrimu di dunia dan akhirat. Menulis ini, ada air yang mengalir dari pelupuk mataku. Ini doa yang setiap hari kupanjatkan dalam sujudku. Yang tak pernah aku ucapkan di depanmu, tapi selalu kukatakan langsung kepada pemilikmu, saat aku berdialog dengan-Nya setiap hari, bahkan di sepertiga malamku. Di depanmu, aku bahkan tak pernah berani memandangmu, aku lebih sering menunduk atau melempar pandanganku ke tempat lain. Tapi, aku selalu meminta pada-Nya, untuk menitipkanmu padaku, jika sudah tiba waktunya nanti.

 

Aku percaya, pertemuan kita waktu itu,bukan suatu kebetulan. Bukan suatu hal yang tidak disengaja. Ada campur tangan Allah disana. Allah sudah merancangnya begitu rapi, jauh sebelum kita dilahirkan di dunia ini. Kamu, mungkin adalah jawaban dari doa-doaku beberapa tahun yang lalu. Ketika itu aku merasa terjebak dalam hidup yang salah, dan kemudian aku meminta pada Allah untuk memberiku jodoh kedua yang hampir sama sifatnya seperti aku. Yang karakternya seperti aku, yang setiap kali aku melihatnya, aku seperti sedang berkaca pada diriku sendiri. Kemudian Allah hadirkan kamu bahkan tanpa aku harus mencari. Kamu datang sendiri, mengajakku masuk dalam hidupmu, dan keluargamu. Kamu bilang, kamu sudah berhenti mencari, kamu capek mencari kesana kemari dan ujung-ujungnya semua sama, tak ada yang sesuai dengan apa yang kamu butuhkan.

 

Kamu tahu, aku pernah kecewa, aku pernah disakiti, aku pernah dihianati. Dan itu menimbulkan trauma dalam diriku. Tapi kamu tak pernah mempermasalahkan itu, kamu mau menemaniku melewati semua traumaku, mengusir ketakutanku, menghadapi hari-hari yang terasa berat bagiku. Kamu menemaniku melewati semua itu. Kamu menerimaku apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Kamu menerima anak-anakku dan menyayangi mereka tanpa syarat. Kamu mengajakku bermimpi lagi. Kamu selalu menyemangatiku, kamu selalu menganggapku hebat. Kamu lupa, bahwa sebenarnya kamu yang hebat. Kamu lebih hebat dariku. Jauh lebih hebat.

 

Untuk kamu yang begitu sabar menghadapiku, aku bilang pada Allah bahwa aku siap mendampingimu dimanapun, kapanpun, dalam kondisi seperti apapun. Bahkan saat kamu jatuh dan terpuruk sekalipun, aku bersedia menemanimu, membantumu untuk bangkit dan berlari lagi, mengejar impian-impianmu yang sempat terhenti. Aku janjikan pendampingan yang tak ada habisnya. Aku bilang pada Allah bahwa aku akan menerima semua kekurangan dan kelemahanmu, apapun itu. Aku tak akan menuntut apapun darimu. Bagiku, kehadiran dan supportmu untukku sudah lebih dari cukup. Kasih sayangmu, kesabaranmu, tanggung jawabmu, sudah membuatku yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Ketika kamu mau mencintai dan merawat anak-anakku, saat itu pulalah aku berjanji untuk juga mencintai dan merawat kedua orangtuamu. Karena kamu tahu, kedua orangtuaku sudah diambil oleh-Nya.

 

Entah, mungkin Allah menunjukkan pintu surgaku lewat jalan ini. Berkelok dan berliku awalnya, tapi aku yakin, jalan tak akan selamanya begitu. Suatu saat, akan terlihat jalan yang lurus dan tak terbatas, yang bisa kita lalui berdua, bersama, mewujudkan semua  impian kita, menebar cinta, dan bermanfaat bagi sesama. Seperti apa yang selalu kamu bilang padaku selama ini.

 

Ini bukan harapan muluk, ini bukan sebatas janjiku padamu, ini adalah apa yang kurasakan dan ingin kulakukan jika kelak Allah benar-benar menyatukan kita. Aku tak akan menjanjikan kebahagiaan bersamamu, karena sedih, suka, tangis, dan tawa itu pasti akan selalu ada mewarnai kehidupan kita. Karena di setiap pernikahan dan rumah tangga pasti ada konflik di dalamnya. Karena, hanya niat komitmen kita yang pada akhirnya bisa membuat kita tetap bertahan dan bersama, saling menumbuhkan cinta.

 

Semoga, benar denganmu aku akan menghabiskan sisa waktuku. Semoga, dengan bersamamu, surga akan menjadi semakin dekat denganku. Semoga.

  • view 301