Kepedean

Iis Y. Mutia
Karya Iis Y. Mutia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 April 2018
Kepedean

Kepedean

 

Bagiku, Lia adalah gadis terkonyol di muka bumi ini. Bagaimana, tidak? Dia selalu merasa wajahnya itu yang paling cantik sejagad raya. Ya, dia memang cantik, sih. Tapi, masih dalam kategori standar. Biasa saja. Setiap hari, kemana pun dia pergi pasti membawa kaca. Sebelum keluar rumah, pasti ngaca. Ketemu gebetannya, dia juga pasti ngaca, benerin dulu muka dan merancang senyuman sedemikian rupa. Sampai-sampai, kalau dia lihat kaca di jalan, di spion, atau dimana pun yang ada kaca, dia juga pasti ngaca.

Yang bikin ketawa, kalau dia ngaca itu kadang suka merasa mirip Nikita Willy, kadang merasa mirip Ralline Shah, kadang juga merasa mirip Song Hye Kyo. Padahal, ketiga aktris cantik itu sama sekali tidak ada miripnya. Rasanya gak mungkin banget jika ketiga orang itu digabung menjadi satu kemudian wajahnya berubah menjadi Lia. Kan, absurd total pemikirannya. Kadang aku greget ingin nanya, rasionalisasinya apa bilang dia mirip si ini-mirip si itu. Hidung beda, mata beda, bibir beda, bentuk muka juga beda. Terus mirip dari segi apanya? Cuma jenis kelaminnya doang yang sama, perempuan.

Dia juga seneng banget selfie. Kemana-mana bawa tongsis. Nemu tempat bagus dikit, pasti selfie. Ketemu kucing yang kehilangan keluarga dan saudara-saudaranya, pasti diajak selfie. Nemu tugu atau kafe keren, selfie juga. Sampai dia juga suka pura-pura candid gitu, minta difotoin. Media sosialnya benar-benar aktif. Apalagi Instagram. Setiap hari pasti posting foto, setiap waktu pasti update Snapgram. Gak pernah tuh, dia kehabisan kuota. Mending gak makan, daripada gak punya kuota. Begitu ujarnya. Hmm, kalau aku sih pasti mentingin perut dulu. Karena hidup tak sekedar untuk kuota.

Pernah suatu pagi, di kampus dia heboh banget gara-gara gak bawa cermin miliknya. Entah apa yang mau dia lihat. Padahal, meskipun dia ngaca sampai seribu kali pun, mukanya tuh gak bakal berubah jadi Luna Maya. Tetap aja begitu. “Aduh, Win, kaca gue ketinggalan. Bedak gue juga sama. Ih, gue pengen ngaca, mumpung belum ada dosen. Lu bawa gak?” Wajahnya benar-benar terlihat cemas. Seakan-akan mau bertemu seorang pangeran atau mau menerima penghargaan dari Presiden sebagai wanita tercantik di dunia. Rempong.

“Please, deh, Lia. Muka lu itu baik-baik aja. Masih sama kayak kemaren. Di idung lo gak ada upil, ujung mata lo juga bersih, gak belekan. Percaya sama gue.”

Wajahnya terlihat kesal. Segera ia buka tasnya, mengambil handphone dan... ngaca di kamera depan. Akhirnya, selfie deh. Udah gitu, posting di Snapgram. It‟s too always!

“Lu bener, Win. Gue memang udah cantik, thanks, ya.”

Hhhhh. Capek, deh.

Tidak hanya itu, yang menyebalkan lagi dari Lia, dia tuh suka kepedean jika ada orang yang love postingannya di Instagram. “Duh, si Beni nge-loves terus kalau gue posting di I-ge. Apa jangan-jangan dia admirer gue ya...” “Duh, si Riko juga.” “Muka gue emang cantik, jadi wajar kalau foto gue banyak yang nge-likes, ya, „kan?” “Gue bingung banget seandainya cowok-cowok itu nembak gue, siapa yang bakal gue pilih.”

Ya Tuhan, please beri hidayah sekarung goni buat sahabatku ini.

 

Kesel, „kan? 

Darimana coba dia bisa membuat hipotesa kalau cowok-cowok keren yang nge-loves postingan dia itu pasti nge-love juga di kehidupan nyata. Asumsinya darimana? Bisa saja „kan mereka cuma iseng nge-love setiap postingan yang muncul di beranda. Atau bisa juga mereka itu cuma gak sengaja nge-love postingan dia. Kalaupun mereka seneng sama foto yang diunggah Lia, bukan berarti juga mereka semua jatuh cinta sedalam-dalamnya sama Lia.

“Lu, tuh. Gak bisa liat orang lain seneng. Lagian, gue bisa bedain kok mana yang beneran suka sama gue, mana yang biasa-biasa aja,” ujar Lia cuek. Pfff, entahlah aku benar-benar udah capek nasihatin dia.

********

 

 

Siang itu, wajah Lia kusut seperti belum disetrika. Bibirnya ditekuk dan gak rempong seperti biasa. Aku tanya, kenapa? Kok tumben mirip curut keselek duren. Ternyata dia memang sedang bete. Tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok, di gunting-gunting sama adiknya. Dia murka sebesar-besarnya. Kebayang deh, adiknya pasti nangis kenceng banget karena jadi korban keganasan kakaknya yang mirip Kurama, dan ibunya pasti ngomel tiada henti karena Lia sudah menyiksa adiknya dengan sentak dan bentak yang tidak sewajarnya.

“Oke, deh. Gue bantuin lo bikin project itu lagi.”

“Beneran, Win?” Wajahnya kembali berbinar. Seolah menemukan setitik cahaya harapan dalam sumur kegelapan.

 “Bener. Kapan, sih, gue pe-ha-pe? Lu dateng aja ke kosan gue entar malem. Tetangga kosan gue ada anak sipil yang pinter banget ngegambar. Kalau gue minta, dia pasti bantuin.”

“Oke, deh. Thank‟s banget, Win. Lu emang sahabat gue yang paling baik,” ucapnya seraya memelukku dengan kencang dan erat. Hmm, sesama teman „kan harus saling membantu.

Setelah selesai berpelukan, ia lupa satu hal. Sejak tadi pagi dia belum dandan. Semua gara-gara project buat besok yang digunting-gunting adiknya. Dan.. ya begitulah, dia sudah sembuh dari waras, lalu kumat lagi pada penyakit lamanya. “Sorry, ya, Win. Tadi gue dibedak asal-asalan. Gue juga belum pake lipstik. Gue kan harus tampil cantik, jangan kusut kayak curut keselek duren seperti yang tadi elo bilang.”

********

 

 

Sesampainya malam, Lia pun datang ke kosan dengan membawa baju ganti dan peralatan mandi untuk besok. Dia mau menginap. Wajar, kosanku terletak di ujung Ledeng, sedangkan rumahnya terletak di daerah paling ujung dari Ujung Berung. Awalnya kami pergi dulu berbelanja alat dan kebutuhan yang diperlukan untuk menggambar. Setelah itu balik lagi ke kosan untuk memulai aksi kebut semalam merancang gambar bangunan yang harus dikumpulkan esok pagi. Kuketuk pintu kosan temanku yang anak sipil untuk meminta bala bantuan. Dan seperti biasa, dia selalu mau ngerjain semua yang aku minta.

“Nah, Lia. Ini temen gue, dia anak sipil. Namanya Jun,” ucapku mengenalkan Jun pada Lia. “Nah, Jun. Ini temen gue, namanya Lia yang tadi gue ceritain. Apes banget dia, project-nya dihancurleburkan sama adiknya,” kataku mengejek.

Jun hanya tertawa, sedangkan Lia tersipu dan tersenyum malu-malu. Setelah project itu selesai, sekitar jam 11 malam, Jun pun kembali pulang ke kosannya, dan kita cewek-cewek kembali membereskan kosan yang sudah seperti titanic pecah.

“Gue gak nyangka, ternyata temen lu itu cowok ganteng. Gue kira, yang mau bantuin tuh, cewek,” ungkapnya sebelum tidur.

“Jun itu temen gue sejak kecil. Dia emang baik ke siapa aja,” jawabku yang mulai terpejam.

“Lu, suka gak sama Jun?” tanya Lia membuatku kaget. Gue, ya, suka, lah. Tapi, gengsi. “Apaan, sih, lu. Gue, ya, nganggep dia temen aja.”

“Bagus, deh. Kalau gitu, Jun buat gue, ya. Gue yakin dia gak mungkin nolak gue.”

Oh my God, sakit hati banget dengernya, sumpah!

“Terserah, lu, aja deh,” ucapku akhirnya. Aku yakin, Jun cuma suka sama aku. Dia mau bantu Lia karena aku yang minta. Coba saja kamu dekatin Jun. Aku yakin, Jun setia sama aku. Ya, meskipun kami tidak ada hubungan apa-apa.

*********

Esoknya, Lia heboh lagi. Alasannya ternyata hanya satu. Jun followed back akun Instagram dia. Yah, kalau begitu mah aku juga sudah di follback duluan sama dia jauh-jauh hari sebelum Lia.

“Kayaknya, Jun tertarik deh sama gue. Dia followed back gue cepet banget.”

“Ya, elah. Gue juga di followed back kali, sama dia. Udah deh, lu jangan kepedean sama Jun,” kesalku yang sedang dihantam ombak cemburu.

“Lu? Lu naksir, ya, sebenarnya sama Jun?” tebaknya lagi. Mukaku merah seperti tomat. “Apaan, sih, lu?” ucapku melempar bantal.

“Ah, lu bilang aja kalau lu juga naksir. Sabar, ya, Win, kalau seandainya suatu saat elu bakal liat kenyataan kalau Jun itu sukanya sama gue."

Aku hanya diam. Malas menanggapi.

Apa iya sih, Jun suka sama Lia? Kepedean banget, „kan? Lalu, bagaimana denganku. Apa Jun menyukaiku? Meski sudah berteman sejak lama, Jun sekalipun tidak pernah mengajakku jalan berdua atau mengungkapkan perasaannya. Katanya, sih, Jun tidak akan pernah mau pacaran. Dia ingin jadi jomblo sampai halal. Tapi, apa dia yakin gak bakal pacaran? Langsung nikah gitu? Ah, mungkin itu alasan Jun saja. Mungkin, Jun memang tidak menyukaiku. Tapi, kenapa dia selalu baik kepadaku, ya? Dia tidak pernah sekalipun menolak apa permintaanku. Apa jangan-jangan, Jun ngerasa minder dan ngerasa dia gak pantes jadi pacarku? Eh, kenapa.. aku jadi kepedean begini? Ah, gara-gara Lia, nih. Aku ketularan penyakit over PD-nya.

“Lu nyerah aja, Win. Gue sama elu, „kan, cantikan gue. Daripada akhirnya lu patah hati, mending relain aja dia buat gue,” goda Lia. Ish, menyebalkan.

“Gue pergi ke warteg dulu, mau nitip gak?” kataku sambil mematutkan jilbab di depan kaca. Ah, masih cantik aku kemana-mana daripada Lia.

“Enggak, ah. Gue tadi chatting sama Jun. Dia habis pulang dari Richeese Factory, jadi gue nitip ayam keju aja sekalian.”

Sssssssshhhhh. Kesal!

 

“Eh, Win..” ujarnya lagi.

“Apalagi, sih?” jawabku yang sudah mulai sangat dan teramat sangat kesal pada Lia.

“Kalau dipikir-pikir, kayaknya gue sama Jun itu jodoh. Nama gue Lia, dan nama dia Jun. Kita itu sama-sama punya tiga huruf nama depan. Gue yakin, dia itu lebih berjodoh sama gue ketimbang sama elu."

Ini benar-benar...

Aku sudah naik pitam. Kesal tiada tara. Gemaaas!

“Lia, please, deh.” Kukeluarkan seluruh isi hati dan unek-unekku yang sudah terkubur sangat lama pada Lia, kalau selama ini dia itu tidak rasional. Mulai dari selalu merasa cantik dan mirip artis siapa saja, sampai kepedean dengan semua followers Instagramnya. Dan sekarang.. tentang Jun. “Bisa gak, sih, lu sedikit rasional? Jun baru kenal elu beberapa hari, terus kenapa elu berasumsi kalau dia jatuh cinta sedalam-dalamnya sama elu? „Kan gak logis, Lia. Gue ngomong kayak gini cuma mau elu itu sadar. Capek gue denger sikap lu yang kepedean setiap saat.”

Lia hanya cekikikan. Dia sama sekali tidak sakit hati dengan semua yang telah kukatakan. Duh, kayaknya gak mempan nasihatin dia kali ini. Padahal, seluruh isi hatiku sudah dikeluarkan semua-muanya.

 

“Ternyata bener, lu naksir „kan sama Jun? Ngaku aja, deh.”

Kesal. “Iya, gue ngaku, gue suka sama Jun sejak dulu. Dan gue kesel sama elu yang setiap saat ngerasa paling cantik sedunia dan merasa paling diinginkan seluruh kaum Adam di muka bumi. Gue kan jadi..”

“Cemburu?”

“Tenang aja, Win. Gue cuma bercanda, kok. Gue pengen tahu aja isi hati lo. Sebenarnya, lu itu suka gak sih sama cowok? Hahaha, sorry, ya..”

Saat itu, aku merasa.. malu, terhina, seolah aibku yang selama ini kututup-tutupi telah diketahui seluruh dunia. Lia, ah.. menyebalkan. Kalau lu bukan temen, udah gue telen lu bulet-bulet sama sambel terasi.

“Udah, ah. Gue laper. Pergi dulu, ya! Sorry, yang tadi. Jangan dimasukin dalem hati. Assalamu‟alaikum,” ujarku.

Kubuka pintu kosan, dan ternyata Jun sudah ada di luar. Duh, membuatku kaget saja. Dia hanya diam dan mematung. Jantungku berdetak seakan-akan mau copot. Sikapku jadi kikuk mirip jam beker. Kira-kira, Jun tadi dengar tidak, ya...

  • view 63