Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 22 April 2018   09:37 WIB
Selamat Tinggal

Selamat Tinggal

Fikri masih duduk di atas motor ninjanya, menunggu Jamila selesai kuliah.

“Naiklah,” kata Fikri saat melihat Jamila.

“Tidak, kita bukan muhrim,” ucap Jamila.

“Sekali ini saja, please! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” Fikri memohon.

“Aku tunggu di beranda rumah. Assalamu’alaikum,” pamit Jamila meninggalkan Fikri.

Fikri tak habis pikir dengan Jamila. Mengapa kekasihnya menjadi seperti ini. Pada awalnya dia senang dengan perubahan Jamila. Pacarnya itu pertama memberitahukan bahwa dia akan belajar berhijab. Kemudian pacarnya juga sering mengingatkannya sholat dan berpuasa. Fikri bahagia dengan itu semua. Hingga pada suatu hari kebahagiaan itu sirna. Jamila sudah mulai tidak ingin dibonceng lagi olehnya, tidak mau lagi diajak jalan berdua, dan seminggu kemarin dia meminta putus. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Apa yang terjadi pada Jamila? Apakah ada orang ketiga?

“Kayaknya, Jamila ikut aliran sesat, Fik!” tuduh Johan. Mendengar itu, Fikri hanya diam. “Masa sih? nggak mungkin banget Jamila sesat!” pikirnya dalam hati.

“Hush! Jangan sembarangan ngomong, lu!” timpal Lingga. “Kalau sepengamatan gue, Jamila itu sekarang udah mulai tobat. Dia mau hijrah dari tadinya banyak maksiat ke jalan nyang bener. Lu juga mestinya ngikutin Jamila, Fik!” saran Lingga.

“Maksud lu?” tanya Fikri.

“Ya, ‘kan sekarang Jamila udah tobat. Jadi, elu juga harus tobat. Mulai dari yang keliatan aja dulu, misalkan penampilan. Lu lihat ‘kan si Jamila sekarang kerudungnya panjang bener. Nah, buat dapetin hati Jamila lagi elu harus ganti penampilan juga. Biasanya cewek-cewek model kayak gitu sukanya sama cowok yang pake baju koko atau baju gamis, celana bahan yang cingkrang, terus ada jenggotnya. Hahahaha. Nah, elu pake itu!” saran Lingga sambil menertawakan temannya. Johan pun ikut tertawa.

“Gile lu! Masak gue harus jadi abah-abah mesjid gitu? No way!” tolak Fikri.

“Kenapa no way, Fik? Kalau itu yang diperintahin sama agama lu, kenapa elu nolak?” tanya Johan.

“Emang lu mau gitu kalau kemana-mana pake baju kayak pastur elu yang di gereja-gereja?” tanya Fikri.

“Kagak juga sih,” jawab Johan nyengir.

“Tapi...” lanjutnya agak serius.

“Kalau di agama lu emang diajarin nggak boleh pacaran, nggak boleh pegangan, dan  kalau memang si Jamila itu nggak sesat...” ucap Johan terhenti.

Fikri dan Lingga serius mendengarkan.

“Berarti elu berdua dong yang sesat!” sambungnya sambil menunjuk dua sahabatnya itu.

Fikri dan Lingga akhirnya garuk-garuk kepala, malas menanggapi. “Kirain mau ngomong apa, huh!” Tapi kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga sih omongannya si Johan.

*******

Fikri memarkirkan motornya di depan rumah Jamila, di samping pohon jambu batu.

“Assalamu’alaikum,” ucap Fikri sambil mengetuk pintu.

“Wa’alaikumussalaam, eh Den Fikri,” sapa Bi Murni. “Mau ketemu Neng Mila, Den?”

“Hehe. Iya, Bi. Jamilanya ada?” tanya Fikri memastikan.

“Ada, tuh sedang ngaji di atas. Bibi panggilkan dulu, ya. Aden silakan masuk,” kata Bi Murni mempersilakan.

“Iya makasih Bi, saya tunggu di sini saja,” jawab Fikri.

Tidak lama kemudian, Jamila turun menemui Fikri yang sedang menunggu di beranda rumahnya. Dia membawa mushaf kecil berwarna hijau tosca, warna favoritnya.

“Duh kayaknya aku salah kostum deh, harusnya aku pakai kemeja tosca juga, biar dipeluk sama kamu,” gombal Fikri saat melihat Jamila.

“Mau bicara apa?” tanya Jamila dengan nada datar.

Fikri terdiam, dia berpikir cukup keras. Kalau bilang dia kangen pada Jamila, pasti Jamila langsung menutup pintu. Huh, Fikri benar-benar lupa menyiapkan kata-kata untuk meluluhkan Jamila.

“Mawarnya kok udah coklat kayak gini?” tanya Fikri mengalihkan pembicaraan.

“Itu mawar yang terakhir kamu kasih ke aku,” jawab Jamila.

“Dan kamu masih simpen? Padahal kamu bisa bilang sama aku kalau kamu mau yang baru.”

“Memangnya, apapun yang aku minta bakal kamu kasih gitu?” tanya Jamila. Fikri bersemangat mendengarnya.

“Iya dong, sayang. Kamu kayak nggak kenal aku aja,” ucap Fikri mengiyakan.

“Kalau gitu kapan kamu ijab aku depan penghulu?” tanya Jamila mantap. Fikri tercengang.

“Maksudnya nikahin kamu?”

“Emang menurut kamu apa?” sahut Jamila.

“Sayang, nikah itu nggak sesimpel itu. Kalau cuma ijab depan penghulu, sekarang juga aku bisa,” kata Fikri, lanjutnya “...tapi, nikah itu butuh banyak kesiapan. Aku belum bekerja, aku masih terlalu muda. Aku juga masih butuh waktu buat semua itu.”

“Kamu nggak konsisten. Hari sudah sore, langit juga sebentar lagi gelap. Rumahku jauh dari rumahmu. Kamu cepet pulang sana, nanti kemalaman,” sindir Jamila menyuruh Fikri pulang.

“Kenapa sih kita mesti terburu-buru? Kenapa kita nggak kayak dulu aja? Pacaran, happy-happy?”

“Kamu berubah, Mil. Sebenarnya, kamu masih sayang nggak sih sama aku?” tanya Fikri.

“Kamu sayang nggak sama aku?” tanya Jamila balik.

“Kalau aku nggak sayang sama kamu, aku nggak bakal bela-belain setiap hari datang ke sini,” ucap Fikri meyakinkan.

“Kalau aku nggak sayang sama kamu, aku nggak bakal nyuruh kamu buat nikahin aku,” balas Jamila dahsyat.

Fikri terdiam mendengarnya. Sesekali dia menoleh pada Jamila yang sedang asyik menatap langit, dinding, dan lantai. Bahkan, Jamila tidak menoleh ke arahnya sekalipun, batin Fikri kecewa. Setelah beberapa saat akhirnya Fikri berbicara, “Kamu benar, Mila. Hari sudah sore. Langit juga sudah gelap. Rumahku jauh dari rumahmu. Aku pamit. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalaam,” jawab Jamila sambil menutup pintu.

Fikri menoleh melihat gadis yang dicintainya itu, ia terlihat begitu dingin kepadanya. Jamila telah berubah. Dia bertingkah seolah tidak merasakan keperihan hati Fikri. Padahal Jamila pun teramat kecewa dengan sikap Fikri. Dalam hati, Jamila bergumam sendu,

aku memang hanya butir puisi yang tercecer

di antara bait-bait pilu

yang tak pernah sekalipun kau baca,

sedangkan kamu,

bahagia yang kurindu

*******

 “Gimana apel lu kemaren, Fik? Sukses?” tanya Lingga sambil menyeruput es duren.

“Mila nyuruh gue nikahin dia, Bro!” jawabnya sambil menyeruput es duren juga.

“Wih, terus lu jadi mau nikahin dia kapan?” tanya Johan semangat.

“Nikah? Nikah pala lu! Gue masih terlalu muda, belum punya penghasilan, tabungan gue juga masih dikit buat nyiapin pernikahan. Mau dikasih apa bini gue nanti? Emang nikah cuman sekedar ijab qabul aja apa?” kesal Fikri.

“Tapi, kalau sepengamatan gue, Jamila itu kayaknya nggak peduli prospek hidup elu sama dia itu kayak gimana. Dia maunya halal sama elu. Udah gitu aja, Fik,” pendapat Lingga.

“Kalau Sarah nyuruh elu nikahin dia sekarang juga, lu mau nggak?” tanya Fikri balik pada Lingga.

“Kalau gue sih mau, tapi Sarahnya kanggak mau. Gimana dong?”

“Terserah lu, deh!” kepala Fikri sudah pusing dengan Jamila. Dia jadi teringat kejadian di suatu sore di beranda rumah Jamila.

“Mil, kenapa kamu mau nikah sama aku?” tanya Fikri

“Kenapa kamu mau pacaran sama aku?” tanya Jamila balik.

“Kenapa kalau aku nanya, kamu selalu nanya balik?”

“Karena jawabanku ada di jawaban kamu.”

“Aku ingin dengar kamu lebih dulu sebelum aku sebutkan jawaban aku,” pinta Fikri. Jamila menghela nafas sambil memperhatikan semut hitam di batang pohon jambu.

“Karena aku ingin membangun surga bersamamu. Aku ingin hubungan kita halal, Fik.”

Fikri terharu mendengar jawaban Jamila. Tapi, dia benar-benar belum siap jika harus menikah saat ini.

“Aku yakin kamu masih sayang ‘kan sama aku. Karena itu kamu mau hidup denganku. Tapi, bisa nggak kamu nunggu aku? Tunggu sampai aku siap melamar kamu?”

“Nunggu? Sampai kapan?” tanya Jamila.

“Sampai aku siap.”

“Kapan kamu siap?”

Lidah Fikri kelu, entah apa yang harus dia katakan. Dan sekarang otaknya membatu, entah apa yang harus dia pikirkan.

“Ya, udah deh, Fik,” ucap Johan. “Kalau lu bosen sama Jamila dan pusing sama dia yang minta elu nikahin dia mulu, cari aja cewek lain! Masih banyak yang lebih cakep ketimbang Jamila,” sarannya sambil menyeruput es duren. Kepala Fikri semakin pusing dibuatnya.

*******

Fikri benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi pada Jamila. Lama-kelamaan dia mulai kesal dengan ceramah-ceramah Jamila. Fikri sudah sangat hafal apa yang akan dikatakan Jamila.

“Kita itu bukan muhrim, Fikri. Kepala seorang laki-laki itu lebih baik jika ditusuk dengan jarum besi panas daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.”

“Kapan kamu halalin aku?”

“Apa sih untungnya pacaran? Investasi dosa doang, Fik. Mending nikah. Kamu nggak mau gitu nikah sama aku?”

Terus, kalau Fikri mengalihkan pembicaraan menceritakan kejadian lucu yang dialami oleh teman-temannya, Jamila pasti bilang, “Astagfirullah Fikri, ghibah itu dosa! Sama kayak kamu makan daging saudara kamu sendiri! Istighfar!”

“Fikri, kamu mau nggak kalau orang lain nyebut-nyebutin keburukan kamu?”

Dan akhir-akhirnya, Jamila pasti akan mengusir Fikri untuk pergi dari rumahnya.

“Kamu cepet pulang deh, tidak baik seorang laki-laki dan seorang perempuan berduaan lama-lama yang ketiganya setan, tahu!”

Akhirnya Fikri pun mengurangi intensitas bertemu Jamila. Kali ini dia hanya sebulan sekali bertemu dengan kekasih yang tak menganggapnya lagi itu. Bagaimana pun, Fikri tidak mau kehilangan Jamila. Sulit jika harus mendapatkan wanita yang seperti Jamila. Dia tiada duanya.

Namun, hari itu Fikri sudah terlampau kesal pada Jamila. Benar kata Johan, masih banyak yang lebih baik dari Jamila. Saat itu Jamila terus mendesak Fikri menikahinya kalau tidak, maka Jamila akan menikah dengan yang lain. Ya, sudahlah menikah saja dengan yang lain!

“Entah apa yang harus aku katakan lagi sama kamu, Fik. Aku sudah terlanjur malu. Apa kamu pernah menemukan perempuan yang terang-terangan meminta dinikahi sesering aku? Aku malu sama kamu, Fik. Sekali lagi aku meminta sama kamu. Kalau kamu masih nggak mau menikah denganku, maka aku tidak akan memintanya lagi.”

“Aku juga sudah bingung mau bicara apa lagi. Nikah itu bukan hal yang sederhana, Mil. Aku sudah lelah juga mendengarmu memintaku menikahimu. Bahkan aku sudah hafal apa yang akan kamu sampaikan. Aku sudah hafal ucapan-ucapan kamu, dan aku juga tidak mau lagi berdebat denganmu.”

Jamila menghela nafas panjang. Menahan rasa sakit yang tak terperi. Kekasihnya menolaknya. Fikri menolaknya. Dia pun pergi berlalu kencang dengan motor ninjanya meninggalkan Jamila.

*******

Jamila menangis tersedu mengadukan hatinya pada Teh Nabil. Dia adalah orang yang membantu Jamila berhijrah dan mengenal Islam lebih dekat. Dialah orang yang selalu mengerti Jamila, dibanding Mama dan Papa.

“Aku nggak tahu harus bagaimana lagi, Teh. Aku sudah mengabaikan harga diriku. Aku yang meminta Fikri menikahiku, Teh. Aku malu. Aku sudah sangat malu. Tapi, dia tetap saja nggak ngerti perasaanku. Fikri malah menolakku, Teh. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dia memilih putus denganku daripada menikahiku,” Jamila tersedu.

Teh Nabil mengusap punggung Jamila yang sedang menangis di pangkuannya. Tidak. Jamila tidak boleh menangis seperti ini.

“Tidak sayang, harga dirimu masih utuh. Tidak berkurang sedikit pun. Fikri mungkin memang belum siap. Jiwanya masih labil, sehingga ia tidak mengerti apa maksud Mila. Tapi ketahuilah, Mila tidak perlu malu dan merasa rendah dengan apa yang telah Mila lakukan. Justru itu mulia, sayang. Kau tahu siapa saja yang dulu melamar laki-laki duluan di zaman Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wassalam?” tanyanya pada Jamila. Jamila mengusap air matanya dan menggelengkan kepalanya. Teh Nabil pun menceritakan beberapa kisah tentang perempuan hebat yang melamar laki-laki yang diinginkannya terlebih dahulu. Jamila pun tidak merasa sedih lagi dan bertekad melupakan Fikri, mantan kekasihnya.

Sementara itu Fikri pun berusaha melupakan Jamila. Mulai dari Kika, Rina, Vivi, Laila, dan Firli tidak ada satupun yang cocok dengannya. Hubungannya dengan mereka hanya bertahan satu bulan atau dua bulan. Fikri tidak putus asa, masih banyak wanita cantik lainnya. Ia lalu berkencan dengan Seila tapi ternyata tidak lama juga. Hanya bertahan seminggu saja. Seila hanya memoroti uangnya, tidak seperti Jamila. Akhirnya Fikri mencoba mengencani Karin setelah tadi subuh memutuskan Seila.

“Bro, ternyata Karin udah punya anak!” kata Johan heboh.

“Yang bener lu?!” ucap Lingga.

“Bener! Nih, kata temen gue si Margareth. Jadi, si Karin itu emak tirinya dia,” seru Johan sambil menunjukkan bukti chatnya dengan Margareth.

“Wah, parah nih! Harus cepet-cepet dilaporin ke si Fikri ini!”

Fikri sudah menyerah dengan semua wanita. Baginya mereka sama saja. Kecuali Jamila, dia berbeda. Pernah suatu hari Jamila meneleponnya, tapi tidak ia angkat karena sedang bersama Seila. Padahal ia ingin sekali mengangkat telepon itu, namun egonya sudah menguasai dirinya. Dia sudah malas pada Jamila. Kini ia ingin sekali menelepon Jamila, tapi Fikri terlalu malu. Sudah dua tahun dia meninggalkan Jamila dan tidak pernah datang lagi kepadanya. Ia merindukan Jamila.

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar!”

Adzan. Ia ingat, dulu saat adzan berkumandang Jamila langsung memerintahkan untuk pergi ke mesjid atau terkadang Jamila yang meninggalkannya sendiri. Huh, setiap aktivitas kehidupan Fikri pasti ada hal yang berkaitan dengan Jamila. Dia tersenyum sendiri. Entah ada angin apa ia kini mulai sadar, “Kapan terakhir aku sholat?”

Fikri segera menyalakan motornya untuk pergi ke mesjid. Saat dia memarkirkan motor di samping pohon kersen, anak-anak kecil usia 5 sampai 10 tahun berebut salam kepadanya. Hatinya begitu tersentuh. Tiba-tiba ada perasaan bahagia menyerebak di dalam jiwanya, padahal dia tidak menyukai anak-anak.

Fikri mengambil air wudhu dan ikut sholat berjamaah. Di mesjid itu kebetulan sedang ada pengajian rutin. Temanya adalah cinta. Entah mengapa dia ingin berada di rumah Allah itu. Hatinya merasa tentram berada di sana. Mungkin inilah yang dulu dirasakan oleh Jamila, sampai dia sangat menyukai masjid dan majelis ilmu.

“Bapak, Ibu, Adik-adik sekalian, kali ini saya ingin menyampaikan materi tentang CINTA. Apa itu cinta?” tanya Ustad yang sedang ceramah itu.

“Ibu? Ibu cinta sama Bapak?” tanyanya pada Ibu-ibu yang ada di belakang sana.

“Cintaaa!” teriak Ibu-ibu.

“Apa itu cinta, Bu?” tanyanya lagi. Ibu-ibu yang ditanya malah ketawa.

“Ditanya teh malah ketawa ibu mah. Ya, sudah. Sekarang Bapak, deh. Bapak? Bapak cinta tidak sama Ibu?”

“Cintaa,” jawab Bapak-bapak dengan suara kalem.

“Apa itu cinta, Pak?” tanyanya lagi. Bapak-bapak malah senyum-senyum sendiri.

“Ya, sudah, yang jomblo mana yang jomblo? Para fakir cinta mana?” ucap Ustad itu lagi. Saat itu, hati Fikri merasa terpanggil. “Iya saya jomblo, Ustad!” batinnya.

Ustad itu menyampaikan materi dengan ringan namun dalam. Tidak terlihat serius, tapi pembahasannya dalam. Banyak jamaah yang tertawa, namun di akhir ceramah tak ada satu pun jamaah yang tidak menangis menyesali dosa-dosa. Begitu juga dengan Fikri. Ia menyesal. Betapa banyak dosa yang ia lakukan. Banyak hal yang bisa dipetik dari ceramah tadi. Matanya seolah terbuka. Ia tidak ingin berbuat dosa lagi. Ia ingin berhijrah seperti Jamila. Ia butuh guru yang bisa membimbing dia. Jamila. Dia yakin Jamila pasti mau menuntunnya. Fikri ingin menikahi Jamila.

*******

Setelah pulang dari mesjid itu Fikri merasa benar-benar menyesal dengan keputusannya 2 tahun yang lalu. Mengabaikan permintaan Jamila untuk menikahinya. Benar kata Ustad di mesjid tadi, wanita seperti Jamila sulit ditemukan. Seharusnya dia segera melamar dan menikahinya. Karena wanita tentu butuh kepastian bukan janji semu belaka.

Fikri mennggakui bahwa dirinya salah. Semenjak diberi nasihat oleh Ustad yang di mesjid itu, dia langsung membuka tabungannya. Alhamdulillah, ada 90 juta. Insya Allah, cukup untuk melangsungkan pernikahan dengan Jamila. Segera ia kebut motornya untuk melamar Jamila. Ia ingin Jamila, gadis yang dicintainya sejak SMA segera halal untuknya.

“Assalamu’alaikum,” ucap Fikri sambil mengetuk pintu.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Bi Murni seperti biasa. “Eh, Den Fikri. Sudah lama tidak bertemu. Mau ke Neng Mila yah?” tebak Bi Murni.

“Iya, Bi. Jamilanya ada?” tanya Fikri memastikan.

“Neng Jamilanya sudah tidak ada, dua hari kemarin Neng Mila berangkat ke Turki,” jawaban Bi Murni langsung melemaskan hati Fikri.

“Ke Turki, Bi?”

“Iya, Aden tunggu dulu sebentar, ya. Neng Mila sebelum berangkat nitipin surat buat Aden ke Bibi. Neng Mila bilang, kalau Aden datang tolong diberikan. Sebentar, ya.”

Fikri masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jamila ke Turki? Ada apa? Sekolah lagi, kah? Fikri tak putus asa. Kemanapun Jamila pergi, ia akan tetap menyusulnya. Turki bukanlah sebuah masalah besar dibandingkan dengan harus kehilangan wanita shalehah, perhiasan terindah, seperti Jamila.

“Ini, Den, suratnya,” ucap Bi Murni sambil menyerahkan secarik kertas dalam amplop tosca.

“Makasih, Bi. Fikri pamit dulu. Assalamu’alaikum,” pamitnya pergi. Segera ia kebut motornya menuju tempat sepi nan sunyi yang kini jadi tempat favoritnya, mesjid.

*******

Fikri masih duduk di atas sajadahnya, membaca berulang kali surat dari Jamila yang dititipkan pada Bi Murni. Matanya sesekali memejam. Hatinya sedikit tergores, tapi ia masih ingin membacanya.

Assalamu’alaikum, Akhi.. apa kabar?

Sejak kepergianmu hari itu dan engkau tak pernah datang lagi padaku. Kuanggap saat itu, “Mungkin, engkau tak lagi menginginkanku”. Maaf, aku sudah berusaha menghubungimu, tapi kau tak pernah mau mengangkat telepon dariku. Aku sudah berusaha mencarimu, tapi aku tak kunjung mendapatkan keberadaanmu. Mungkin inilah takdirku, dan juga takdirmu.

Maaf, aku tak pandai merangkai kata, tapi kurang lebih seperti inilah kata yang ingin kusampaikan..

Ingatkah, saat sore sebelum engkau pulang ke rumah?

Di beranda rumahku.

Sambil melihat bunga yang telah layu.

Kau selalu menatapku dengan tatapan itu.

Tapi, aku berpura tak melihat.

Dan kau merasa aku tak peduli padamu.

 

Tidak! Sungguh aku tak menyukai tatapan itu.

Karena itulah..

Tatapan yang membuat hatiku berdebar.

Seakan penuh tanya, “Ada apa dengan diriku?”

“Ada apa dengan hatimu?”

 

Menjauh lebih aku sukai daripada dekat denganmu.

Meskipun bersamamu adalah impianku.

Tidak! Aku akan berjuang membunuhmu.

Ketahuilah, aku akan membunuhmu dalam pikiranku.

 

Cinta adalah fithrah, katamu.

Iya, benar.

Lantas, mengapa mencintaiku?

Bila kau sendiri belum siap dengan cintamu.

 

Katamu,

Cinta butuh waktu, butuh pengorbanan,

butuh perjuangan, butuh kepastian,

butuh ini, butuh itu.

 

Katamu,

Aku itu terlalu jauh.

Kau hanya mencintaiku.

Sedangkan aku ingin halal bersamamu.

 

Katamu,

Kau sudah lelah mendengarku.

Kau sudah khatam ucapanku.

Kau tak mau lagi berdebat denganku.

Itulah kata terakhirmu,

yang selalu terngiang, dan terkadang

terasa menyakitkan.

 

Baiklah,

Karena itu katamu, maka kini itu kataku juga.

 

“Aku sudah lelah mendengarmu,

Aku sudah khatam ucapanmu,

Aku tak mau lagi berdebat denganmu.”

 

Selamat tinggal!

Aku akan menikah bulan depan.

Doakan aku, ya, Akhi. Bulan depan aku akan menikah di Turki dan menetap tinggal di sana. Semoga engkau mendapat penggantiku, dan janganlah lagi mencariku. Semoga jodohmu adalah seorang wanita yang jauh lebih shalehah dariku yang bisa mengerti dirimu.

Maafkan aku. Aku sudah cukup bersabar menunggumu. Tapi kau tak jua datang padaku. Maafkan aku, karena pernah jadi sumber dosa bagimu. Selamat tinggal, semoga engkau bahagia dengan hidupmu!

Wassalamu’alaikum warrohmatullah wabarokatuh.

Jamila De’ Pricilla

Fikri menghela nafasnya. Rasa sesak dan perih yang dirasakan Jamila begitu terasa oleh Fikri. Fikri tersadar, dia sudah banyak menyakiti Jamila. Dia sudah sangat egois, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, mengabaikan perasaan Jamila.

Semoga engkau juga bahagia, Mila. Air matanya menetes, membasahi sajadah tempatnya bersujud. Hatinya berkata, mengiba pada Rabb-nya dalam taubat yang panjang, “Ampuni aku, yaa Ghofur.”

Karya : Iis Yoni Mutiasih