Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 22 April 2018   09:31 WIB
Namanya Qomaria

Namanya Qomaria

Love! Scroll down.

“Orang yang kuat hatinya bukan mereka yang tidak pernah menangis. Melainkan, orang yang tetap tegar dan bertahan saat banyak orang yang menyakitinya.”

Love! Scroll down.

“Seberapapun masalah yang kamu hadapi, kuatlah! Bersama kesulitan ada kemudahan. Ingatlah Allah tidak pernah membebankan sesuatu melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Allah ingin mengajarkan kita sesuatu. Kuatlah!”

Love! Scroll down.

“Aku memanglah bukan orang yang sempurna. Tapi jika seseorang yang berdakwah itu harus sempurna.. maka tidak akan pernah ada yang berdakwah di jalan Allah!”

Qomaria. Dia adalah gadis cantik yang tak pernah terlihat wajahnya.

“Di zaman sekarang tentu susah mendapatkan gadis sepertimu,” pikir Badrul dalam hatinya. Pikiran Badrul sudah tidak bisa rasional lagi. Badrul sepertinya sudah kecanduan virus merah jambu. Ia benar-benar terpesona dengan gadis yang tak pernah ia lihat wajahnya itu.

“Aku tidak tahu siapa kamu, Qomaria. Tapi, aku yakin kamu berada di sekitarku. Kita satu kampus. Aku benar-benar tidak tahu kamu yang mana. Semoga kita berjodoh, Mar. Semoga Allah mempertemukan kita.”

Begitulah yang dialami oleh orang yang sedang jatuh cinta. Pikirannya benar-benar telah terhipnotis. Dia mabuk karena cinta. Dia mencintai seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Hanya tahu dari instagram.

Meskipun perasaan Badrul sudah terbilang cukup akut. Cintanya tidak melulu berakibat buruk. Melalui Qomaria, gadis yang tidak diketahui itu, Badrul mulai bertaubat dan berhijrah ke jalan yang benar. Badrul, mahasiswa semester 8 yang diketahui sering gonta-ganti pacar kini telah bertaubat. Dia sekarang lebih sering mendekatkan dirinya ke mesjid dan majelis ta’lim, dengan harapan, “Semoga ketemu Qomaria.”

“Drul! Badrul! Oy!” kesekian kalinya seorang pemuda berambut ikal itu menegur Badrul. Yang ditegur malah tengah asyik dengan smartphone-nya. Sudah hampir sejam Badrul asyik berselancar di sosial media. Dia begitu kesyikan sampai-sampai dipanggil kawannya pun harus berulang kali. “Badrul!” panggilnya sekali lagi sambil memukul bahu kawannya itu.

“Eh, elu, Wan. Bikin kaget aja. Bilang Assalamu’alaikum dulu, ngapa?” protes Badrul sambil melihat lagi smartphone-nya.

“Widih-widih, kesambet malaikat apaan lo siang bolong kayak gini?”

Badrul tersenyum tak menanggapi. Dia kembali berselancar dengan smartphone-nya.

“Lagi apa, sih? Dari tadi perasaan mainan hp mulu. Dapet cewek baru, ya?” tebak Iwan ngasal.

“Bukan! Gue udah anti pacaran yah, sorry!” jawab Badrul pasti.

Iwan berdiri dan bertepuk tangan, “Wih, gue salut sama elu! Sejak kapan lo jadi LGBT?”

“Astagfirullah. Gue normal, Wan.”

“Maksud gue, Lelaki Ganteng, Bertanggung jawab, dan rajin Tilawah. Hahaha,” terang Iwan tertawa. “Wih, elu lagi suka sama akhwat bercadar, yaa! Pantesan...” Iwan yang tak sengaja melihat smartphone Badrul, langsung dibungkam Badrul.

“Bukan gitu, Wan. Gue itu lagi belajar Islam,” jawab Badrul gelagapan.

“Heleeh, belajar Islam kok stalking IG orang.”

“Abis, nggak ada yang ngajarin gue, sih. Temen-temen gue juga kelakuannya model elu semua, Wan!” Badrul beralasan.

“Lu serius mau tobat? Oke, gue punya saran, nih. Kalau lu mau belajar Islam lebih banyak, sama sepupu gue aja. Bulan depan dia pulang dari Mesir. Namanya Kang Jiddan. Nanti kita mentoring bareng sama dia,” tawar Iwan.

“Sepupu lu? Elu aja kayak gini kelakuannya,” jawab Badrul ragu. Sebenarnya Iwan itu pemuda yang cukup islami, tapi kelakuannya kadang bener kadang juga eror. Hal itu membuat Badrul tak yakin kalau Iwan punya sepupu lulusan Mesir.

“Jangan Su’udhon, lu! Gini-gini juga gue hafal juz 30!”

“Serius? Lu hafal semua surat di juz 30?”

“Ada yang udah lupa, sih,” Iwan nyengir. Badrul malas menatap gigi iwan yang kelinci itu. Rasanya memang sedikit unbelievable seorang Iwan hafal Al-Qur’an.

“Emang dia mau gitu ngajarin gue?” tanya Badrul.

“Dia itu orangnya baik banget, Drul!”

“Oke, deh, gue mau. Tapi anyway, lu punya daftar nama akhwat bercadar di kampus ini nggak?”

*******

Nekat! Entah bagaimana caranya Badrul bisa mendapatkan aplikasi data mahasiswa kampus. Sekarang Badrul sedang sibuk dengan program data mahasiswa itu di laptopnya, mencari Qomaria. Namun sayang seribu sayang, hasilnya nihil! Tidak ada yang bernama Qomaria. Ia kembali membaca daftar nama akhwat bercadar yang diberikan Iwan. “Masa sih, Qomaria nggak ada?”

“Drul, lu itu jangan terlalu terobsesi. Lu kenal dia juga kagak. Media sosial itu bisa aja menyesatkan!” nasihat Iwan. Badrul sama sekali tidak peduli.

“Bisa aja dia cuman iseng nulis kalau dia mahasiswa universitas kita, padahal kenyataannya bukan,” ucap Iwan lagi, dan Badrul sama sekali tidak menanggapi.

Badrul yakin, Qomaria ada di sekitarnya. Entah darimana ia mendapat keyakinan itu, tapi ia sangat yakin sekali Qomaria adalah bagian dari dirinya.

Badrul tidak putus asa, ia tetap berusaha mencari Qomaria.

“Drul, elu tuh udah 3 minggu kayak gini. Gue capek liatnya. Daripada elu usaha terus tapi nggak hasil apa-apa, mending sekarang lu evaluasi diri aja, deh. Gue prihatin tahu nggak!” kata Iwan suatu siang.

“Maksud lu gimana, Wan?”

“Dengerin gue baik-baik ya! Kang Jiddan pernah bilang ke gue kalau wanita yang baik itu hanya untuk laki-laki yang baik. Begitupun sebaliknya. Kalau lu cuma mau dapetin Qomaria yang kata elu sholehah itu, tapi elunya nggak berusaha jadi orang yang bener, ya, Allah nggak bakal ridho kalau si Qomaria jadi jodohnya elu. Lu nya mesti bener dulu, Drul!”

Badrul terdiam, ada benarnya juga sih omongannya si Iwan. Selama ini dia ke mesjid hanya buat bertemu Qomaria, bukan buat ibadah. Doa-doanya setiap hari juga tentang Qomaria, bukan tobat minta ampunan dari dosa.

“Lu bener, Wan. Bener banget. Terus, sekarang gue harus gimana?” tanyanya pada Iwan.

“Istighfar dulu, Bro! Tundukin kepala lu, inget semua dosa, inget semua kebaikan Allah yang pernah Dia kasih sama elu. Minta ampunan sama Allah, terus minta agar hati lu dibukain buat dikasih penerang!”

“Astagfirullahal’adzim...” Badrul menundukkan kepalanya. Satu per satu dosa-dosa yang pernah dia lakukan tergambar jelas dalam otaknya. Matanya hendak mengucurkan air mata. Tapi, ia langsung sadar, ini di kantin. Banyak orang. Ia langsung mengangkat kepalanya. “Kita ke mesjid aja, yuk!”

Badrul dan Iwan akhirnya pergi ke mesjid bersama. Iwan, sahabatnya itu memberikan semangat dan kata-kata yang membuat Badrul menangis, mengingat dosa. Badrul tidak menyangka kawan baiknya bisa membuat dia seperti itu.

“Gak ada orang ‘kan, Wan?” tanya Badrul sambil tersedu.

“Kagak ada, lu lanjutin aja nangisnya. Tahu nggak, air mata orang yang berdosa itu bisa jadi perisai api neraka. Lu nangis aja terus, biar Allah mengampuni dosa-dosa elu,” terang Iwan.

“Jangan bilang-bilang kalau gue nangis, ya,” pinta Badrul.

“Iya, kagak bakalan,” kata Iwan menenangkan. Langsung sambungnya, “Eh, Drul, lu mau nggak ikut mentoring sama sepupu gue yang dari Mesir itu? Dia udah ada di Indonesia sekarang. Tiap sore lu main ke rumah gue, soalnya dia nginep di rumah gue selama sebulan.”

“Iya, gue mau. Emang dia aslinya orang mana, Bro? Kok dia nginep di elu, sih?”

“Dia orang Bandung, Cuy!”

*******

Semenjak diajak mentoring, Badrul setiap sore berangkat ke rumah Iwan. Dia dan Iwan ikut mentoring bersama Kang Jiddan. Kang Jiddan orangnya baik, Badrul menyukainya. Bahasa yang dipakai mudah dimengerti dan membuat Badrul lebih dekat dengan Allah. Lama-kelamaan Badrul lupa dengan Qomaria. Ia sudah terbebas dari virus kasmaran ala-ala A-Be-Ge. Ia ingin terus belajar Islam dengan baik dan terarah. Ia sekarang jadi teringat ucapan Iwan, mungkin Qomaria hanya ada di sosial media saja. Tidak nyata.

Hari ini hari terakhir Kang Jiddan berada di Jakarta. Besok dia akan pulang ke Bandung. Tapi, sebelumnya Kang Jiddan ingin menawarkan sesuatu kepada kedua adik mentornya itu.

“Besok Akang mau pulang ke Bandung. Kebetulan Akang punya adik perempuan, usianya sama dengan kalian. Tapi, lebih tua dia 2 tahun sepertinya. Soalnya dia sudah lulus 2 tahun yang lalu. Iwan mungkin udah tahu, ya?”

“Teh Lathifah, bukan, Kang?”

“Iya, benar. Nah, karena Akang sudah tahu bagaimana akhlak kalian, Akang mau menawarkan Lathifah sama kalian. Mau enggak kalau salah seorang dari kalian ta’aruf sama adik Akang?”

“Kang, Teh Lathifah ‘kan saudara Iwan. Masa iya, sih, Iwan nikah sama saudara sendiri?” tanya Iwan.

“Iwan, kalau dalam Islam saudara sepupu itu boleh nikah, loh!”

“Kayaknya Iwan masih belum siap, Kang. Iwan belum kerja.”

“Kalau Badrul, gimana?”

Badrul terdiam. Otaknya berpikir, menikah itu adalah ibadah. Menyempurnakan separuh dari agama. Badrul ragu karena usia adiknya Kang Jiddan lebih tua darinya. Tapi, toh Khadijah juga usianya berbeda jauh dengan Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wassalam. Tabungannya juga sepertinya sudah cukup untuk melangsungkan pernikahan, dan kalau pekerjaan.. Badrul bisa magang di perusahaan papanya. Lalu Qomaria..., dia sudah lupa pada Qomaria. Akun instagram Qomaria pun sudah di-unfollow-nya

“Badrul..?” tegur Kang Jiddan.

“Eh, iya, Kang?”

“Kalau Badrul gimana? Mau ta’aruf sama adik Akang nggak?”

“Maharnya apa, Kang?” tanya Badrul polos. Seketika Iwan dan Kang Jiddan mentertawakan Badrul. Ta’aruf juga belum. Badrul.. Badrul..

“Insya Allah, kalau Lathifah merasa cocok sama kamu dia tidak akan meminta mahar yang berat, Akhi,” kata Kang Jiddan sambil tersenyum.

*******

Badrul dan Mama-Papanya berangkat ke Bandung bersama Kang Jiddan. Mama dan papa Badrul sangat senang dengan perubahan Badrul. Mereka banyak bersyukur kepada Allah dan mengucapkan terima kasih kepada Iwan dan Kang Jiddan yang telah membantu Badrul berhijrah.

“Badrul ini dulu susaah banget di kasih tahu. Pulang sering malem, pacarnya ganti-ganti terus!” kata Mama pada Kang Jiddan.

“Mama, itu aib Badrul. Jangan dibongkar di depan Kakak Ipar dong, ‘kan malu,” ucap Badrul polos.

Kang Jiddan tertawa mendengarnya. Papa juga yang sedang menyetir mobil tertawa dan membenarkan ucapan Mama.

“Iya bener, De Jiddan. Badrul itu dulu kelakuannya, duh, nggak bisa diatur. Eh, akhir-akhir ini tiba-tiba dia berubah total, ya, Ma? Badrul jadi penurut, rajin sholat, rajin puasa, sering beres-beres rumah bantuin Bi Sumi.”

Badrul garuk-garuk kepala mendengarkan cerita Papanya. Selama perjalanan, Badrul jadi subjek bully-an orang-orang yang ada di mobil. Semuanya memojokkan dirinya dan menertawakannya. Badrul hanya bisa bilang, “Sabaar.. sabar,” meskipun dirinya sendiri pun ikut tertawa dengan candaan keluarganya itu.

Tidak terasa akhirnya rombongan pun sampai di rumah Kang Jiddan. Keluarga Kang Jiddan menyambut dengan ramah dan sangat hangat. Mereka mempersilakan keluarga Badrul untuk masuk ke dalam.

Pertama, keluarga Badrul memperkenalkan Badrul terlebih dahulu. Papa yang berbicara pada saat itu. Tiba-tiba seorang gadis bercadar bergamis pink masuk membawa nampan yang berisi beberapa gelas teh manis. Dalam hati Badrul berkata, “Itukah Lathifah? Calon istriku?” hatinya degdegan tidak karuan, kepalanya tertunduk malu.

“Mohon maaf, ya, Pak, Ibu. Badrul ini anak kami satu-satunya. Kami juga tidak tahu proses ta’aruf itu seperti apa, maklum kami masih awam,” papar Papa sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa, Pak. Kita saling belajar saja satu sama lain,” ucap Ayah Lathifah tersenyum pula.

“Jadi, ini anak saya namanya Faisal Akbar Muhammad. Tapi, karena dulunya dia nakaaal sekali, teman-temannya sering memanggilnya Badrul. Soalnya mirip pemain Badrul di film... Film apa sih, Ma?” tanyanya pada Mama. Semua orang di sana tertawa mendengarnya, mereka tidak menyangka nama aslinya berbeda jauh dengan nama panggilannya. Begitupun dengan Kang Jiddan, dia juga baru tahu nama asli adik mentornya itu.

“Film Tendangan Badrul, Pa,” jawab Mama sambil tertawa.

“Nah itu! Akhirnya jadilah nama panggilannya Badrul. Dia adalah anak kami satu-satunya. Alhamdulillah sekarang sudah semester akhir di UNJ jurusan Arsitektur. Kebetulan perusahaan saya juga bergerak di bidang Arsitektur. Jadi, ya, lumayan Badrul ini bisa bantu-bantu di kantor,” Papa menjelaskan.

Setelah Papa memperkenalkan Badrul dan menyampaikan maksud dan tujuan mereka kepada keluarga Lathifah, kini giliran ayah Lathifah yang memperkenalkan anaknya.

“Nah, kalau putri saya ini, Pak. Duh, anaknya itu sangat pemalu. Beda jauh dengan Nak Badrul. Eh, Nak Faisal,” terang Ayah Lathifah sambil tertawa. Lanjutnya, “Anak saya ini adalah anak kedua dari tiga bersaudara, adiknya sekarang masih di pesantren. Jadi, tidak bisa hadir saat ini. Nama lengkap putri saya ini, Qomaria Nurul Lathifah. Panggilannya Lathifah.”

“Qomaria? Namanya Qomaria,” desis Badrul dalam hati. Hati dan pikirannya sudah jungkat jungkit tidak jelas rasanya.

“Dulu juga dia kuliah di UNJ dan sekarang melanjutkan S2 di UPI jurusan Psikologi,” lanjut Ayah Lathifah tersenyum.

“Maaf, Pak,”  potong Badrul. “Ini Qomaria yang instagramnya @qomaria99 bukan?” tanyanya polos karena saking penasarannya.

Ayah Lathifah bingung maksud Badrul apa. Mama dan Papa segera menyiku Badrul, tidak sopan Badrul. Badrul pun menunduk.

“Duh, maafkan putra saya, ya, Pak. Maklum belum lulus,” ucap Papa.

“Emm, benar, Kang,” Lathifah akhirnya bersuara. Hatinya juga degdegan, kok dia bisa tahu akun instagramnya.

“Wah, ini sepertinya sudah jodoh!” Ayah Lathifah tertawa, seluruh orang di ruang tamu itu pun tertawa bahagia.  Badrul pun sangat tidak terkira bahagianya. Dia benar-benar berharap Lathifah mau menerimanya. Hingga pada saat Lathifah membuka cadarnya, Badrul sangat berdebar-debar. Tidak menyangka dan bahagia.

Selama ini dia mencari Qomaria di kampus, tapi tidak pernah bertemu. Tentu saja tidak akan pernah bertemu, sebab orang yang sedang dia cari sudah lulus. Dan kini, Allah mempertemukannya. Badrul begitu bahagia. Dia tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan Qomaria dan dipertemukan dengan pertemuan yang seindah ini. Ketika Lathifah akan membuka cadarnya, Badrul memasang matanya baik-baik. Dia begitu penasaran. Ketika cadar itu sudah terbuka, Badrul pingsan seketika, tak sadarkan diri. Karena saking bahagianya. Dasar Badrul! Mama, Papa, Ayah, Ibu, Iwan, Kang Jiddan dan Qomaria kaget dengan pingsannya Badrul. Mereka semua berusaha menyadarkan Badrul.

“Drul, Badrul! Badrul bangun!”

“Drul, Badrul! Badrul bangun!”

“Drul, Badrul! Badrul bangun!”

“Drul, Badrul! Badrul bangun!”

 “Drul, Badrul! Badrul bangun!” suara Iwan membangunkan Badrul. Badrul membuka matanya, hari sudah sore. Dia ketiduran di mesjid kampus.

“Eh, Wan? Mana Qomaria?”

“Lu tuh, ya! Dibangunin susah banget! Noh, Qomaria lu ada di Instagram. Bangun woy, tidur mulu!”

Jadi ini semua mimpi? Padahal tinggal selangkah lagi. Padahal tinggal sedikit lagi. Tapi semua itu ternyata hanya mimpi. Tuhaaan, Badrul ingin kembali pada mimpinya.

Karya : Iis Yoni Mutiasih