SAYAP-SAYAP PATAH

Isti Arbaniah
Karya Isti Arbaniah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Mei 2016
SAYAP-SAYAP PATAH

SAYAP-SAYAP PATAH

Sayap-sayap patah, kenapa engkau pergi;

Meninggalkanku dalam dekapan.

Sayap-sayap patah, bagaimana aku akan menjadi;

Denganmu aku punyai harapan.

Sayap-sayap patah, bisakah kau kembali;

Di hatiku meraung suara kerinduan.

Jiwamu dan jiwaku menjadi jati diriku;

Tanpamu aku hanya jasad;

Tak ada lagi ruh yang menggerakkan.

Nurhaya duduk termenung di atas tanah kuning yang dilapisi kertas koran. Di sampingnya, ada sebuah pohon belimbing buluh ceking yang tak kunjung berbuah. Maksud hati ingin berteduh di bawah pohon itu, tapi daunnya yang sedikit, tak cukup untuk menangui dari teriknya mentari. Nurhaya membetulkan kerudungnya yang sedikit miring, meniup semut yang berjalan di atas tangannya, mengipas-ngipas sedikit peluh, dan melanjutkan dengan khusyuk membaca qur’an. Dia tak beranjak dari situ sedari pagi, sendirian saja. Sampai dekat waktu zuhur, ia baru beranjak dan memberi salam kepada penghuni-penghuni rumah di dekatnya, “Assalammualaikum ya ahli kubur!”

Begitulah aktifitas Nurhaya setiap sabtu pagi, berhubung hari sabtu ia tidak pergi ke kantor. Ia mengunjungi makam kedua orangtuanya sambil berbekal minuman dan al-qur’an. Terkadang ia membaca qur’an sambil menangis, kadang juga sambil tersenyum. Bukan karena ia mengerti ayat mana yang mengandung azab api neraka atau ayat mana yang mengandung nikmat surga, tak ada satupun kata yang ia paham, tapi karena apa yang terlintas dikepalanya saat membaca. Mengerti atau tidak, sambil menghayal hal lain atau tidak, ada satu hal yang ia selalu dapatkan saat membaca qur’an: ketenangan. Al-quran selalu bisa meredakan emosinya apakah itu sedang sedih, marah, kecewa, sangat ingin sesuatu, terlalu bahagia, terburu-buru, dan perasaan lainnya agar tak menjadi terlalu. Pagi itu  ada perasaan yang terlalu di hatinya: terlalu rindu.

Hari itu hari yang sangat emosional bagi Nurhaya. Siang harinya, ia membelikan ibunya baju baru yang sudah dipesan ibunya sejak minggu lalu tapi baru sempat ia belikan siang itu. Saat ia pulang ke rumah sakit -ibunya memang seringkali masuk rumah sakit sehingga terasa rumah kedua- ia mengira ibunya akan senang dengan baju baru, tapi malah biasa saja tidak merespon. Jika memang si ibu tidak suka ia biasanya akan merespon dan jika ia kesal karena terlalu lama, ia juga akan merespon. Ibunya seperti tak terlalu merisaukan baju lagi, ia meminta Nurhaya membersihkan badannya. Merasa tugasnya sudah selesai, Nurhaya beranjak untuk mengambil obat di apotek di dalam rumah sakit. Ibunya seperti tidak suka melihatnya beranjak, tapi karena melihat ada ayahnya menemani ibunya di dalam kamar dan ada perawat yang sedang memperbaiki selang infus, Nurhaya bergegas mengambil obat.

Saat sedang asyik-asyik ngobrol dengan sesama pengantri obat. Ada seorang office girl rumah sakit yang menghampiri sambil bicara tersengal-sengal,  “Kak..., Ibu...nya ka...kak!” Nurhaya berjalan tenang agak cepat. Situasi gawat orangtuanya sudah sering ia hadapi. Dengan tenang pula, Nurhaya membuka pintu kamar, tampak beberapa perawat dan seoarang dokter jaga sedang mengelilingi ibunya. Alat-alat pertolongan dibawa ke kamar pasien ibunya, dan tim medis tersebut sedang tampak mengusahakan pacu jantung. Hati Nurhaya berdesir kuat, ia mengambil al-quran dan membacanya. Tampak ayah Nurhaya yang juga sakit-sakitan hanya bisa duduk di tempat tidur penjaga pasien. Ia tampak kebingungan dan ikut berzikir dan berdoa. Sudah beberapa kali dipacu, ibu Nurhaya tak memberi respon, sampai beberapa kali, sampai akhirnya dokter mengambil kesimpulan, ibu Nurhaya telah tiada.

Nurhaya telah siap dengan itu, sedari masuk ruangan ibunya tak  bergerak. Penjaga-penjaga pasien dari kamar lain berdatangan sekedar kepo dengan berita terbaru. Nurhaya tak menangis dan berusaha menenangkan reaksi saudara-saudara yang ia telfon untuk diberi kabar. Iapun telah memasrahkan bahwa setiap hal ada ajalnya. Suasana rumah Nurhaya penuh dengan handai-taulan dan tetangga yang datang untuk membaca doa bersama. Masih menjadi tradisi membaca doa bersama sampai tujuh hari setelah meninggal dunia. Tamu-tamu yang datang tak terlalu dihiraukan Nurhaya, ia fokus merawat ayahnya. Ayah Nurhaya sudah tidak kuat berjalan, di dalam rumahpun ia berjalan dengan kursi roda. Memandikan, memberi makan, dan memenuhi permintaan ayahnya adalah tugas utama Nurhaya. Setelah ibunya meninggal, ayah Nurhaya selalu ingin ditemankan.

Hari ke lima setelah kepergian ibu Nurhaya, Nurhaya bersama kakaknya membawa ayahnya berobat jalan ke dokter sebagai rutinitas bulanan. Melihat rekam medis ayah yang gawat dan kakinya yang bengkak, dokter menyuruh Nurhaya membawa ayahnya ke rumah sakit. Di rumah sakit, ayah Nurhaya di bawa ke UGD, lalu tak lama dibawa ke ruang ronsen yang agak jauh dari ruang UGD. Nurhaya mengikuti ayahnya kemana perawat membawa si ayah pergi. Sesampainya di UGD, ayah Nurhaya tiba-tiba kejang-kejang. Perawat lalu memberikan tindakan medis dan memasukkan selang yang panjang ke dalam mulutnya. Reaksi yang kuat karena kejang membuat gigi ayah Nurhaya sampai patah. Syukurnya, ayah Nurhaya dapat diselamatkan dan dokter menyarankan untuk pindah ke rumah sakit yang masih kosong ICCUnya. Hari itu Nurhaya menarik napas lega karena masa kritis ayahnya telah terlewati. Ia pulang dan beristirahat di rumah. Keesokan paginya, kakak laki-laki Nuryaha yang sedang menjaga ayahnya menelpon, “Ayah sudah berpulang ke rahmatullah”.

  • view 128