Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 20 April 2016   00:07 WIB
MENCARI JODOH SEPERTI MENCARI TEMPAT PARKIR

            Sampai saat ini, setelah hampir empat puluh tahun menikah, aku masih saja belajar mengenalnya. Perangainya yang buruk membuatku hanya bisa melihat sisi buruknya saja. Aku dapat mengingat kebaikan-kebaikannya hanya pada saat dia tidur. Tidurnya yang sangat pulas dan mendengkur pertanda ia sosok pekerja keras, dan mudahnya dia terbangun pertanda kesigapannya dalam menjaga keluarganya. Dan saat-saat dia tidur pulas itulah aku menginsafi diriku yang sering mengomelinya.

            Aku teringat masa dimana kami bertemu pertama kali di kampung tempat dia tinggal. Aku menaiki sebuah motor klotok milik seorang bujang tua. Di sana dia tersenyum berwibawa dan sangat menjaga adab. Aku menyukai caranya bersikap santun terhadap orang yang lebih tua dan sikapnya yang tegas terhadap karyawannya.

            Tak lama setelah itu, kami menikah dan kemudian memiliki empat orang anak. Dia seorang pendengar dan aku yang senang berbicara. Dia yang tempramental dan aku bisa dikatakan lebih sabar. Sikapnya yang buru-buru dan aku yang terlalu banyak pertimbangan. Dia yang punya visi besar ke depan, dan aku yang bertujuan menyelesaikan tugas harian. Dia yang mengambil sisi tegas dalam mendidik anak dan aku yang mengambil sisi penyayang. Begitulah kami berbeda untuk melaksanakan peran masing-masing. Tapi kami memiliki satu hal yang sama: tujuan. Tujuan untuk membesarkan anak dalam lingkungan yang islami dan berpendidikan yang lebih dari orang tuanya. Tujuan untuk membantu keluarga dan kerabat kami yang miskin agar bisa sekolah, bekerja, dan memiliki tempat tinggal. Serta tujuan untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.

            Kamipun menua bersama, sama-sama sakit, dan sama-sama sering masuk rumah sakit. Dalam keadaan setua inipun aku terkadang masih belum mengetahui apa maunya, apa yang bisa membuatnya sadar kalau melakukan kesalahan, atau bagaimana ia ingin dicintai. Aku sampai akhir hayatku masih belajar dalam mengenalnya dan keputusanku waktu itu untuk memilihnya sebagai pasanganku insyaallah adalah keputusan terbaik untuk dunia dan akhiratku. Maka ingin kusampaikan, mencari jodoh itu seperti mencari tempat parkir; kita menyesukaikan tempat yang diinginkan dengan peluang yang ada, jika terus mencari yang sempurna maka kita tidak akan menemukannya karena sosok sempurna itu tidak ada kecuali Allah SWT.

Karya : Isti Arbaniah