Jangan (Selalu) Percaya Dengan Apa Yang Terlihat

istighfarni wikana
Karya istighfarni wikana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Agustus 2017
Jangan (Selalu) Percaya Dengan Apa Yang Terlihat

Salah satu kebiasaan saat berhenti di lampu lalu lintas yang sedang menyala merah adalah memperhatikan para sesama pengendara motor yang juga sedang berhenti. Banyak pengendara sepeda motor, banyak juga pengendara mobil. Sesekali pejalan kaki melintas di penyeberangan. Sering kali bertanya dalam hati, orang-orang ini apa yang sedang mereka pikirkan saat ini? Apa yang sedang mereka rasakan? Kebahagiaankah? Kegundahan? Beban apa yang sedang dipikulnya? Sempat bertanya pada diri sendiri, bagaimana rasanya menjadi mereka? Seandainya menjadi dia yang mengendarai sepeda motor ataupun yang sedang berjalan kaki, bagaimana rasa hidupnya?

Terkadang ada perasaan ingin menjadi orang lain. “Enak ya kalau jadi si A. Tiap hari naik mobil.  Tidak kehujanan seperti aku yang cuma naik motor”. Atau “Bahagia sekali hidup si C, sudah punya karir bagus, suami tampan, kaya pula”. Dan kata-kata batin lainnya yang menginginkan kehidupan seperti yang dimiliki orang lain. Tidak jarang tergiur dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih mudah, lebih bahagia dari kehidupan sendiri. Tapi seringkali lupa bahwa itu semua hanya yang terlihat dari mereka. Masih ada bagian dari kehidupan mereka yang tidak diketahui oleh orang lain. Pasti ada satu bagian dari jalan hidup mereka yang hanya mereka yang tahu dan rasakan betapa sulitnya.

Seringkali hanya bagian-bagian mudah dan indah saja yang diinginkan. Padahal bagian indah dan sulit biasanya datang dalam satu paket. Bisa jadi seseorang merasakan kebahagiaannya sekarang setelah sebelumnya menjalani kepahitan yang tidak ada orang yang tahu kepahitan macam apa yang dialaminya.

Ya, sering kita menginginkan “sepatu” orang lain, menginginkan “baju” orang lain yang terlihat bagus sekali di mata kita. Padahal belum tentu ketika kita yang memakai “sepatu” dan “baju” itu akan terlihat cocok. Bisa jadi kebesaran, atau kekecilan, atau bahkan sekedar tidak cocok di badan kita. Pun sama ketika kita menginginkan kehidupan orang lain, bisa jadi kita tidak akan sanggup untuk bersabar menjalani kesulitan-kesulitannya. Tidak sanggup untuk bersyukur atas keindahan kehidupannya.

Yang terbaik adalah jalan kehidupan kita sendiri. Entah itu suka maupun dukanya. Karena jalan itu sudah didesain oleh Allah Subhaanahu Wata’aalaa untuk mampu kita lalui dengan kaki kita masing-masing. Allah tahu kita mampu bersabar atas kesulitan dan kesedihan yang terjadi. Allah tahu kita mampu bersyukur atas kebahagiaan yang diberikan. Karenanya kepedihan dan kebahagiaan itu diberikan kepada kita, bukan kepada orang lain. It’s designed by The Almighty special for us.

Berdoalah agar diberi kemudahan untuk menerima apapun yang terjadi dalam hidup kita. Diberi kemudahan untuk mensyukuri apapun, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, karena itu semua terjadi dengan kehendak-Nya. Dan ketika melihat kehidupan orang lain tampak lebih baik dan lebih bahagia, bersikaplah biasa dan tidak terpana olehnya. Karena bisa jadi apa yang tampak tidak selalu seperti yang terlihat.

 

  • view 56