Kalau Aku Mati Esok

istighfarni wikana
Karya istighfarni wikana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Oktober 2016
Kalau Aku Mati Esok

Hidup itu ibarat sebuah count down. Sebuah hitung mundur yang mulai diaktifkan Bbgitu jantung berdetak untuk pertama. Jam pasir kehidupan pun mulai dibalik. Waktu mulai berjalan.

Waktu ... hal yang seringkali manusia abaikan. Seolah-olah itu tak berharga. Seperti sudah menjadi hak milik manusia. Padahal tidak ada yang tahu berapa waktu yang diberikan oleh sejatinya Sang Pemilik Waktu. Berapa lama lagi jantung ini akan berdetak? 

Umumnya, manusia baru menyadari sesuatu itu berharga ketika sudah tak ada lagi dalam genggaman. Saat usia mulai memasuki angka lima puluh, saat tubuh melemah, uban merata, saat dokter memvonis berbagai macam penyakit kronis, saat itulah baru merasa usia sudah mendekati akhir. Padahal tidak selalu seperti itu. Bayi yang baru lahir bisa saja meninggal. Orang yang kita lihat sehat bisa saja besok sudah dikabarkan meninggal. Berakhirnya usia tidak selalu diawali dengan proses menua, sakit, dan sebab-sebab lainnya. Tidak selalu.

Aahh ... kehidupan manusia sangatlah rentan. Tak ada satu pun makhluk yang tahu kapan berakhirnya kehidupan. Beberapa minggu lagi? Beberapa bulan lagi? Atau bertahun-tahun lagi? Entahlah, tak ada yang tahu. 

Terbersit dalam benak, bagaimana kalau aku mati besok? Apa yang kusesali? Apa yang akan kulakukan? 

Sekali lagi waktu, penyesalan terbesarku. Betapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk bekerja. Mengabaikan hak orang-orang di sekitarku atas waktuku, dengan dalih itupun untuk mereka. Betapa banyak waktu dan energi terkuras habis untuk memikirkan orang-orang yang bahkan mereka tidak memikirkanku barang sedetik pun. Betapa sedikitnya waktu untuk Sang Penggenggam Jiwa padahal Dia yang memberikan segalanya. Dan yang kupersembahkan hanya sisa-sisa dari waktu dan energiku. Aahh ... betapa meruginya diri ini. 

Penyesalan memang menyesakkan. Tapi aku tidak akan mengatakan "seandainya aku berbuat ini, seandainya aku melakukan itu". Karena itu tidaklah berguna. Ironi kehidupan memang, karena masa lalu-lah yang menjadikan adanya diriku seperti sekarang ini. 

Manusia terbaik bukanlah manusia yang tak pernah salah, karena manusia seperti itu tidak ada di dunia ini. Setiap anak adam senantiasa berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang senantiasa bertaubat. Tidak pernah ada kata terlambat, selama nafas masih dihembuskan.

Setiap orang baik pasti punya masa lalu. Pun setiap orang yang berbuat dosa dan kesalahan masih punya masa depan. Jangan berputus asa meski waktu semakin menipis, karena Rab manusia Maha Rahmaan dan Rahiim. Dia Maha Kuasa untuk mengubah segala sesuatu. Siang dan malam mampu Dia pergilirkan, apalagi sekedar alur hidup manusia. Sangat mudah bagi-Nya.

Manusia ditentukan oleh akhirnya. Ironisnya, tak pernah ada yang tahu kapan akhir dari segala sesuatu itu terjadi. Manusia harus senantiasa siap kapan pun ajal menjemput, karena tidak ada yang mampu menunda dan menghalangi.

Nikmati setiap detak jantung yang terasa di pagi hari. Syukuri, karena itu berarti masih diberi satu kali kesempatan lagi untuk bertaubat dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dan selalu berdoalah untuk diberi akhir yang baik, di waktu dan tempat yang baik. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan dan di mana kita akan berakhir.

  • view 218