Tiada Takdir Masa Depan Tanpa Takdir Masa Lalu

istighfarni wikana
Karya istighfarni wikana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Juli 2016
Antara Surabaya Makkah

Antara Surabaya Makkah


Terkadang, ada hal-hal yang hanya bisa diperoleh melalui sebuah perjalanan. Dan ini adalah perjalananku.

Kategori Acak

814 Hak Cipta Terlindungi
Tiada Takdir Masa Depan Tanpa Takdir Masa Lalu

Satu purnama telah berlalu. Perjalanan pun dimulai. Beribu-ribu kilometer harus ditempuh. Berjam-jam waktu harus dihabiskan. Lelah memang. Tapi semua itu bukan tentang itu. Bukan tentang kesenangan. Bukan pula tentang kenyamanan. Ini tentang ketenangan hati. 

Terkadang, hati ini sudah terlalu lelah membawa beban. Sampai-sampai dengan meletakkan kening di hamparan sajadah terasa belum cukup. Sebuah perjalanan diperlukan. Ya, ketenangan hati kadang didapat setelah melewati perjalanan panjang. Perjalanan menuju Rab pemilik jiwa. Bahkan bukan hanya sekali. Berkali-kali malah. Ketenangan hati yang harus kembali ditemukan, sekali lagi.

Begitu pun dengan perjalanan ini. Perjalanan yang kesekian kalinya. Meski menuju tempat yang sama, namun datang dengan alasan yang berbeda. Masa lalu membawaku pada perjalanan ini.

Masa lalu yang sering kali tak indah. Penuh kesakitan. Jika tidak ada masa lalu yang penuh salah dan khilaf, mungkin tidak ada azam yang kuat untuk memulai perjalanan pertama kalinya. Jika tidak ada masa lalu yang penuh pengharapan akan cinta, mungkin tidak ada perjalanan yang kedua. Jika tidak ada masa lalu yang penuh penolakan, mungkin tidak ada perjalanan yang ketiga. Jika tidak ada masa lalu yang penuh rasa sakit dan kecewa, mungkin tidak ada perjalanan yang keempat kalinya. Takdir masa lalu membawaku pada takdir masa depan. Takdir untuk melakukan perjalanan ini.

Ironis memang. Masa lalu yang penuh kesedihanlah yang membawaku pada perjalanan yang penuh keberkahan ini. Lantas, patutkah aku marah pada-Nya karena sudah memberiku kesedihan? Aku baru bisa melihatnya sekarang. Mungkin benar apa yang dikatakan Umar Bin Khattab Radhiyaallahu Anhu, salah seorang sahabat rasul. Beliau mengatakan, aku tidak tahu apakah kesedihan ataukah kesenangan yang lebih baik bagiku. Karena bisa jadi kesedihanlah yang menjadikan diri ini lebih dekat dengan Rab Sang Pemilik Jiwaku.

Kala masa kesedihan datang, sering kali semua menjadi gelap. Tak terlihat. Seperti tak ada jalan keluar. Namun bersabarlah dan tetap berdoa. Suatu saat akan terlihat, masa-masa kesedihan itu mungkin yang akan membawa pada masa depan yang lebih baik yang tidak pernah dibayangkan. Karena tiada takdir masa depan tanpa takdir masa lalu.

 

Jakarta, 16 Ramadhan 1437 H / 21 Juni 2016

  • view 239