Kebaikan, Kekecewaan, dan Keikhlasan

istighfarni wikana
Karya istighfarni wikana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Juni 2016
Kebaikan, Kekecewaan, dan Keikhlasan

Berbuat baiklah kepada orang lain, maka orang lain akan berbuat baik kepadamu. Sekiranya itu yang tertanam dalam otakku sejak masih kecil. Seiring dengan berjalannya kehidupan, sepertinya ungkapan itu tidak sepenuhnya benar. Setidaknya itu menurutku.

Beruntunglah orang yang menebar kebaikan dan kemudian berbalas kebaikan juga. Namun dunia tidak selalu berjalan seperti itu. Ada kalanya kebaikan tidak berbalas. Atau berbalas, namun tidak seperti yang diinginkan. Ketika itu terjadi, yang muncul adalah amarah dan kecewa.

Ya, amarah. Marah karena orang tidak berbuat seperti yang kuinginkan. Padahal aku sudah berbuat baik padanya. Amarah yang berbaur dengan rasa kecewa. Karena secara tidak sadar, aku dididik untuk berbuat baik agar orang juga berbuat baik padaku. Aku menghargai orang agar orang juga menghargaiku. Sebuah hubungan yang transaksional. Sebuah tindakan yang penuh dengan pamrih.

Apakah itu salah? Ooh ... tidak sama sekali. Wajar. Sangat manusiawi. Manusia berhak berharap untuk diperlakukan dengan baik dan dihargai oleh yang lain. Namun jika pengharapan itu dipertahankan, maka bersiap-siaplah untuk kecewa. Berbuat baik kepada teman hidup (entah itu suami, istri, orang tua, anak, saudara, teman, dan lainnya) dan berharap mereka akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan, hanya akan berakhir dengan kekecewaan.

Lantas, apakah itu berarti aku tidak perlu berbuat baik pada orang lain agar tidak kecewa? Aah ... ternyata tidak juga seperti itu. Disinilah aku belajar arti sebuah kata ikhlas. Saat semua kebaikan tak berbalas, atau tak berbuah seperti yang kuinginkan, Rab-ku mengajarkan rasa ikhlas untuk menaklukkan amarah dan kecewa. Dia mengajarkan untuk menempatkan segala asa dan harapan hanya pada-Nya. Bukan pada yang lain. Dia yang akan membalas segala kebaikan. Karena Dia Maha Mengetahui dan Maha Adil.

Sepertinya mudah melakukannya, bukan begitu? Ho ho ho ... tidak teman. Harus berdarah-darah dahulu untuk bisa memahaminya. Pun ketika sudah paham, menghadirkan rasa ikhlas itu juga tidak otomatis. Karena ikhlas tidak melekat di diri manusia dalam penciptaannya.

Namun sesuatu yang sulit bukan berarti mustahil. Semua berproses. Bukankah sejatinya tidak ada yang mudah di dunia ini, kecuali telah dimudahkan oleh-Nya? Oleh karena itu, tetaplah berbuat baik seraya berdoa memohon agar hati ini hanya berharap pada-Nya. Bukan pada yang lain.

 

2016-06-18 / 14 Ramadhan 1437 H

Dilihat 204