Tinta Kehidupan

istighfarni wikana
Karya istighfarni wikana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Juni 2016
Tinta Kehidupan

Tinta kehidupan tak selamanya indah. Terkadang warnanya kelam. Terkadang tak sengaja tercoret. Bahkan tumpah merusak semuanya. Namun apapun itu, tak dapat dicegah. Tak dapat dihapus. Dan mungkin memang seharusnya terjadi seperti itu. Patutkah kita menyesal?

Mungkin awalnya ada penyesalan. Rasa sakit yang menyesakkan. Namun bisa jadi suatu saat nanti, bagian kelam dari hidup kita menjadi kekuatan terbesar dalam diri. 

Kuceritakan padamu sebuah kisah nyata. Kisah dari seorang sahabat. Perjuangan seorang wanita dan seorang ibu. Layaknya seorang wanita mendambakan kehadiran buah hati. Harapan dan doa pun dipanjatkan. Namun Rab pemilik hidup berkehendak lain. Dokter memvonisnya tak bisa memiliki seorang anak. Dengan membawa harapan bahwa dokter pun bisa melakukan kesalahan, segala upaya dilakukan. Namun jawaban yang sama kembali harus diterima. Tidak bisa. Tidak mungkin.

Bukan sebuah kesedihan yang ringan bagi seorang wanita. Bukan pula kepahitan yang bisa hilang dalam satu dua hari. Sebuah kenyataan yang harus ditanggung seumur hidup. Namun apa yang bisa dilakukannya? Pada akhirnya hanya ikhlas menerima takdir-Nya.

Jika Sang Pemilik Ruh mengatakan 'jadi', maka jadilah. Di kala kepasrahan mampun menguasai hati, Allah memberikan keajaiban. Sebuah janin hidup dalam rahimnya. Menunjukkan kuasa ilahi. Dia menjadi seorang wanita yang sempurna. Seorang ibu. Kini, keluarganya lengkap sudah. Seorang suami penyayang, seorang anak perempuan yang cantik, dan seorang anak laki-laki yang kuat. Berkah yang luar biasa.

Namun ini bukan sebuah film yang bisa dihentikan pada bagian yang bahagia. Dan menuliskan 'happily ever after'. Tinta kehidupan masih ditorehkan selama manusia bernafas. Kekuatannya sebagai seorang ibu kembali diuji. Buah hatinya didiagnosa sebagai anak spesial. Anak berkebutuhan khusus. Tidak hanya satu. Namun kedua anaknya. Seorang mengalami dislexia dan seorang lagi mengalami autisme. 

Sebagai manusia biasa, kesedihan, kebingungan, dan pengingkaran tak dapat dihindari. Namun dia memutuskan untuk menerima takdir-Nya dan bangkit. Demi anak-anaknya, dia memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus pada perkembangan buah hatinya. Bukan sebuah keputusan yang mudah. Namun itu harus dilakukan. Dan perjuangannya sebagai seorang ibu masih terus dijalani hingga kini.

Terbersit pertanyaan dalam benakku, pernahkah dia menyesal? Pernahkah terbersit pikiran 'ternyata kehidupan akan lebih baik tanpa anak'? Tidak. Tidak ada penyesalan sama sekali. Baginya, anak-anaknya adalah berkah yang luar biasa. Anak-anak yang dia perjuangkan kehadirannya dulu menjadi kekuatannya. Kekuatannya sebagai seorang ibu. 

Sahabatku memiliki kisahnya sendiri. Begitu pun aku dan kamu. Memiliki torehan tinta kehidupan masing-masing. Yang seringkali tidak bisa kita pilih. Tapi harus dijalani meskipun pahit. 

Saat masa-masa itu datang, bertahanlah. Lakukan yang terbaik untuk bertahan. Hati-hati dengan pikiran kita. Jangan biarkan kata-kata 'seandainya aku begini' atau 'seandainya aku melakukan itu' menguasai pikiran. Jangan bertindak konyol. Jangan mengambil keputusan yang buruk dalam kondisi yang buruk. Karena kita tidak pernah tahu, bahwa masa kelam itu akan menjadi kekuatan terbesar kita kelak.

 

2016-06-02  

  • view 348