Berhenti Sejenak Untuk Bahagia

istighfarni wikana
Karya istighfarni wikana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Maret 2016
Berhenti Sejenak Untuk Bahagia

Sering kali kita menjalani hidup dengan?taken for granted.?Hidup seperti sudah seharusnya seperti itu. Bangun tidur, mandi, makan, kerja, pulang, istirahat, tidur, bangun lagi. Siklus yang sama berulang kali. Setiap hari.

Kita terbiasa dengan ritme kehidupan yang cepat. Bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Berganti dari satu agenda ke agenda berikutnya. Tanpa terasa waktu 24 jam jatah kita habis. Sementara masih banyak yang masih harus diselesaikan.

Kita menua tanpa kita sadari. Kita lupa mengucapkan kata-kata cinta pada pasangan hidup kita. Tak sadar, bagaimana anak-anak beranjak dewasa begitu cepat. Kita lupa untuk bertanya pada diri kita, apakah kita bahagia?

Bahagia ... sebuah kata indah yang diimpikan setiap orang. Tak sadar bahwa bahagia itu bisa didapatkan oleh siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Hanya dengan berhenti sejenak.

Ya, berhenti sejenak. Berhenti sejenak dan mulai merasakan. Berhenti sejenak untuk merasakan segarnya air bersih mengguyur badan ketika mandi. Berhenti sejenak, merasakan nyamannya baju bersih menyentuh kulit. Berhenti sejenak dan merasakan hembusan angin menerpa wajah saat berkendaraan menuju kantor. Berhenti sejenak untuk memperhatikan gedung-gedung tua yang kita lewati setiap hari.

Mari kita memilih berhenti sejenak untuk bahagia. Ironisnya, sering kali kita berhenti sejenak hanya dikala ditimpa musibah dan kesedihan. Sehingga ketika kita memutar kembali rekaman kehidupan kita, seakan-akan hanya ada rekaman kesedihan. Padahal sejatinya kita lupa untuk merekam kebahagiaan.

Oleh karena itu mulai saat ini, mari kita sejenak menurunkan ritme kehidupan. Mulai merekam kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang terlewatkan. Mari berhenti sejenak untuk bahagia. ?

?

?

?

  • view 190