KurinduITD-Inkonsistensi Kita Terhadap Satu Indonesia

Istiani -
Karya Istiani - Kategori Renungan
dipublikasikan 21 November 2016
KurinduITD-Inkonsistensi Kita Terhadap Satu Indonesia

Mengutip berita yang diposkan oleh Humas Sekretariat Kabinet Republik Indonesia tanggal 20 April 2016[1], Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di depan Parlemen Inggris (London, 19 April 2016) menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai universal, pluralisme, toleransi, dan mengedepankan demokrasi serta menghormati hak asasi manusia. Lebih lanjut, Presiden juga meyakinkan bahwa “Islam dan Demokrasi” yang dimiliki oleh Indonesia akan mampu menjadi rahmat atau blessing bagi dunia. Indonesia dengan Islamnya memiliki peran penting dalam mengkonsolidasikan demokrasi, bertindak sebagai penjaga kemajemukan dan toleransi, menyerukan moderasi dalam masyarakat, menentang radikalisme, segala bentuk terorisme, dan ekstrimisme kekerasan, dan dapat menjadi inspirasi bagi dunia. Apalagi status sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setidaknya cukup membuat Indonesia “penting dan berharga” di mata dunia.

Sebagai warga negara Indonesia sudah sepatutnya kita bangga : lahir, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah bangsa yang dianugrahi Tuhan Yang Maha Esa dengan keberagaman dan warna-warni budaya. Indonesia adalah bangsa yang kaya, terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau lebih tepatnya 1.340 suku bangsa[2], ditopang dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah-ruah. Bayangkan, ketika kita hidup berdampingan dan mampu mengelola keberagaman dan kekayaan tersebut, menjadikan Indonesia  sebagai bangsa kokoh dan tak tertandingi adalah sebuah keniscayaan. Peluang itu selalu ada, begitu pula tantangannya.. Indonesia adalah negara berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ditambah dengan latar belakang beragam (suku bangsa, agama, ras, kebudayaan, nilai), memberikan peluang untuk menjadi negara besar dan maju di masa depan, namun bukan tanpa tantangan ketika negara kita sampai saat ini masih berkutat dengan berbagai persoalan nasional (kemiskinan, pengangguran, stagnansi ekonomi, kemerataan pembangunan, ditambah isu rasidalisme dan terorisme) membuat kita cukup tertatih-tatih berdiri di kaki sendiri, apalagi untuk beranjak untuk menyejajarkan langkah dengan negara tetangga masih butuh usaha dan semangat pantang menyerah.

Dalam buku “Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi” milik Denny JA, telah dijelaskan secara panjang lebar mengenai isu dan perkembangan diskriminasi di Indonesia dan negara-negara di belahan dunia lain. Penulis cukup runtut menautkan data, teori, dan solusi, yang kesemuanya dikaji berdasarkan olah data survei dari sejumlah lembaga survei. Secara garis besar, pembaca akan mampu melihat bagaimana diskriminasi termanifestasi dalam berbagai bentuk (diskriminasi agama : antara pengaanut agama berbeda; diskriminasi agama : antara sesama penganut agama; diskriminasi etnis; diskriminasi perempuan; dan diskriminasi LGBT) dan konflik yang mengikutinya – rentan meletup kapan saja dan dimana saja (besar atau kecil skala konflik tergantung pada tingkat sensitivitas diskriminasi, contohnya di Indonesia sampai saat ini seputar isu LGBT dan pernikahan sejenis atau sedang hangat seputar isu SARA yang dihembuskan dekat-dekat pemilukada dan pilpres). Hanya satu kekurangan yang perlu digarisbawahi dalam buku Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi adalah penulis tidak membahas mengenai potensi dan kerawanan provokasi terhadap isu-isu diskriminasi. Ini penting untuk dibahas secara dalam, mengingat “potensi dan kerawananan provokasi” terhadap isu-isu diskriminasi (SARA) memiliki andil cukup kuat dalam melahirkan konflik yang dibarengi dengan kekerasan/tindak anarki.

Dari kesemua survei yang dilakukan oleh lembaga survei pada dasarnya menunjukkan hasil sama yaitu diskriminasi yang terjadi di Indonesia dan konfliknya secara konsisten naik tiap tahun. Dalam buku “Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi” penulis turut membandingkan pula isu-isu diskriminasi yang terjadi di dunia, tapi lagi-lagi Indonesia masih termasuk di atas rata-rata. Kemudian menjadi pertanyaan adalah masihkah kita konsisten memegang toleransi, cinta damai, kasih mengasihi, dan menerima setiap bentuk perbedaan? Kita (Indonesia) ini inkonsiten – satu sisi kita mengharap mendapat pengakuan sebagai negara demokratis yang menjunjung tinggi toleransi, penghormatan tinggi terhadap hak asasi manusia, dan kita bangga atas predikat “negara muslim terbesar di dunia dengan keberhasilan atas demokrasi dan toleransi tinggi” (sehingga patut untuk dicontoh atau panutan negara lain). Di sisi lain, kita melekatkan stigma dan pelabelan “aku dan kamu atau kami dan kalian BEDA” hingga menjurus kepada penolakan, dan pembiaran pada berbagai bentuk intimidasi dan kekerasan (contoh kasus : konflik Muslim-Kristen di Maluku, konflik Etnis Dayak-Madura di Sampit, konflik Etnis Tionghoa di Jakarta Tahun 1998, konflik Penganut Ahmadiyah di Mataram, dan konflik Penganut Hindu di Lampung). Siapakah kita hingga kita punya kuasa untuk menghapus keberagaman di Indonesia? Dan apa pula yang akan kita dapatkan dari keseragaman? Bukankah keberagaman akan menawarkan kekayaan dan warna-warni? Kita terkadang antara sadar atau tidak sadar mengamini tindakan diskriminasi atau melakukan pembiaran terhadap aksi-aksi kekerasan yang ditujukan bagi kaum-kaum minoritas di tanah air. Dengan demikian, apa bedanya kita dengan para penjajah – merasa pongah menjadi penjajah di tanah sendiri, memerangi mereka-mereka yang beda, merampas kemerdekaan dan kekebasan, menebarkan kebencian dan permusuhan. Seolah kita satu-satunya yang berhak hidup di tanah Indonesia,  maka dengan seenaknya mengusir mereka-mereka yang beda dari tanah kelahirannya. Terlalu mahal ketika kita harus mempertaruhkan keberlangsungan negara dan bangsa ini, hanya dengan terus dan terus mempertentangkan perbedaan ini dan perbedaa itu, karena sejarah pun telah mencatat bahwasanya negara dan bangsa ini berhasil berdiri atas pondasi keberagaman dan semangat persatuan dan kesatuan untuk bertanah air satu INDONESIA.

Biodata Penulis: 

Istiani, lulusan FH UGM 2015 dan kini sedang menyibukkan diri dan menggeluti dunia tulis menulis

[1] http://setkab.go.id/punya-islam-dan-demokrasi-presiden-jokowi-indonesia-akan-menjadi-rahmat-dunia/, diakses pada 20 April 2016

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_bangsa_di_Indonesia, diakses pada 20 April 2016

 

  • view 132