Berhenti menyalahkan dan Mulailah perubahan

Istajib Sulton Hakim
Karya Istajib Sulton Hakim Kategori Lainnya
dipublikasikan 12 Maret 2016
Berhenti menyalahkan dan Mulailah perubahan

ehm..ehm... saya awali tulisan ini dengan mengingatkan kita semua bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, hidup di dunia ini hanya satu kali kalau tak menikmati apalah arti sebuah kehidupan ini, apa lagi hidup hanya berkutat masalah menyalahkan, salng serang, tebar isu, dan saling mencacimaki tanpa memberikan solusi.

mungkin tulisan ini agak gak nyambung sama gambarnya tapi mungkin juga sedikit nyambung karena gambarnya sedikit mewakili apa yang saya alami di tulisan ini, bhakan mungkin kawan-kawan yang akan membaca ini juga di masa lampau sering melihat tokoh diatas dan membayangkan seandainya menjadi salah satu tokoh di serial anime yang populer dikalangan manusia yang katanya generasi 90an, ya anime ini berjudul digimon adventure, tapi tulisan kali ini bukanlah tentang digimon adventure, tapi tentang apa yang sedang kita hadapi sekarang ini.

baiklah mari kita mulai, sedih dan miris mungkin sedikit dari sekian banyak kata yang mewakili atau menggambarkan generasi muda sekarang terutama kalangan remaja dan anak-anak, beragam tingkah mereka yang seringkali membuat kita terkaget-kaget dengan ulah mereka baru-baru ini, banyak tersebar gambar-gambar yang seharusnya diusia mereka belum memikirkan demikian, berbagai status media sosialnyapun tak kalah dengan yang dewasa malah hampir mengalahkan para jomblo-jomblo yang sudah dewasa, mereka tak lagi malu mengumbar kemesraan didepan umum ataupun media sosial yang dulu saat saya sendiri SD saja merasa sangat tabu bahkan tak mengerti, entah saya kuper atau bagaimana saya mengetahui hal negetif semacam itu ya saat kelas 3 SMP itupun karena teman, ya sudahlah, oke kita lanjut lagi dan tak jarang ketika mereka memposting di media sosial banyak orang dewasa yang mescreenshoot lalu menyebarkan hal ini kepada teman-tamannya, dari teman-temannya menyebarkan lagi, dari temannya lagi menyebarkan lagi sampai hampir mirip dengan piramida MLM yang terus berkembang sampai seluruh pelosok negeri tau, jika kurang heboh tinggal masukan saja ke berita-berita nasional atau bahkan ikut ke acara gosip.

berbagai komentarpun bermunculan ada yang mencacimaki sampai menyumpahi, ada yang merasa iba, kasihan, ada yang mendoakan semoga cepat sadar, tapi tentu yang paling banyak adalah yang menyalahkan dan mencaci maki namun semuanya kompak dan mengaimini untuk menyebarkan "aib" itu ke seluruh penjuru negeri ini. apakah dengan memposting hal demikian piramida kesesatan ini akan berhenti? sepertinya hanya Allah dan malaikatNya saja yang tahu, yang jelas orang-orang lebih menyukai hal demikian karena lagi "tren" seperti itu.

apakah hal ini akan terus berlanjut? ya saya pikir juga demikian, dan yang paling saya soroti adalah keberadaan para orang dewasa untuk kasus semacam ini, secara tak sadar pelakunya yang akan melestarikan hal ini adalah orang dewasa, ya kami orang dewasa *sambil bicara kepada anak-anak dan remaja, kadang kita terlalu bangga dengan masa lalu kita yang menurut versi kita pribadi adalah masa kecil yang paling bahagia, selain kita bukan bagian dari masa kecil orang yang terjajah, kita bukan bagian masa kecil jaman kemerdekaan yang apa-apanya susah, kita bukan bagian dari anak kecil dai jaman orde baru yang katanya semua orang ditekan untuk bungkam, ataupun bukan anak produk era globalisasi yang teknologi sudah seperti jamur, dimana mana ada, kita adalah anak-anak lahir di jaman akhir orde baru, jaman krisis moneter, dan jaman keran demokrasi dan kebebasan dibuka selebar-lebarnya sehingga apapun informasi apapun pendapat kita dibebeskan menguap diudara kemudian dipancarkan melalui stasiun radio ataupun stasiun tv, jaman kita adalah jaman yang internet itu adalah hal yang masih mahal hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu, jaman kita sering sekali bermain di lapangan, bertemu secara nyata dengan teman adalah hal yang lumrah, bermain dari sepulang sekolah hingga adzan magrib berkumandang adalah rutinitas yang setiap hari kita lakukan.

lalu dengan nada ringan kita menyalahkan generasi sekarang yang katanya generasi modern ini dan mencapnya dengan generasi gagal, kita dengan sangat lancar menyalahkan mereka karena tingkah mereka yang diluar kewajaran yang kita lakukan dulu, hmmmm sepertinya kita harus banyak bercermin pada diri sendiri, coba masing-masing dari kita bercermin, sudah pantaskah kita menyalahkan orang lain? sudah? kalau masih menyalahkan mari kita merenung sejenak, sudahkah kita menjadi kakak yang baik atau orang tua yang baik bagi generasi anak dan remaja saat ini, sudahkah kita setidaknya memberikan apa yang dulu orang tua atau kakak kita dahulu kepada anak ataupun adik kita?, jangankan mengingatkan untuk sekedar menyapanyapun jangan-jangan masih enggan. coba kita tengok lagi masih adakah taman, lapangan, atau ruang bermain untuk anak-anak yang dahulu sering kita gunakan? jangankan ruang bermain, jalan saja sudah sangat ramai dan tak layak dilewati anak-anak, lapangan tempat kita bermain dahulu saja sekarang sudah menjadi gedung, sudah menjadi rumah atau bangunan lain. sudahkah kita menyediakan waktu bersama mereka, membimbing mereka, mengeja mereka seperti orang dewasa dahulu kita mengajari kita? jangan-jangan kita masih sibuk dengan gadget kita masing-masing dan memberi anak-anak gadget supaya tak menggagu aktifitas kita dengan gadget, coba ingat lagi kapan kita berinteraksi dengan adik atau anak kita secara kualitatif dan kuantitatif, atau bahkan kita selama ini tak pernah memikirkan hal ini? kita terlalu sibuk mengejar uang sampai lupa bagaimana mengurus generasi setelahnya, dengan alasan kan di rumah masih ada asisten rumah tangga ataupun baby sitter, dan di sekolah masih ada guru, lalu hilanglah tugas orang tua, apakah seperti itu??

hal yang tentunya paling miris yang perlu kita pahami bersama adalah saat ini sangat mudah bagi kita untuk mengolok-olok orang lain baik itu yang kita kenal atau tidak, tindakan ini lebih populer dengan kata bullying,?seakan budaya sungkan kita dan budaya sopan kita terkikis oleh perilaku jahat ini dengan dalil modernitas, jujur saja gambar porno mudah sekali kita akses misalnya saja beberapa akun instagram menawarkan humor dewasa dengan bebas, sedangkan terkadang pengguna instagram bukan hanya kalangan yang sudah dewasa, anak-anakpun banyak, tak ayal mereka sering dijejali dengan gambar demikian, ataupun gambar atau kata-kata yang menuju ke misal pacaran atau apalah itu secara tak sadar anak-anak ini mulai penasaran apa sih pacaran? apasih jomblo? kenapa jomblo begitu menyedihkan? nah ketika mereka sudah tahu beberapa dari mereka mulai mencoba-coba bisa jadi tanpa sepengetahuan orang dewasa yang seharusnya mengawasi.

Bedasarkan usia pengguna, mayoritas pengguna internet di Indonesia adalah berusia 18-25 tahun. Persentasenya mencapai 49,0 persen. Artinya, segmen pengguna internet terbesar di Indonesia adalah mereka yang termasuk kategori digital natives. dari? hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bekerja sama dengan Pusat Kajian dan Komunikasi Universitas Indonesia (Puskakom UI) di Indonesia, yang diumumkan Ketua Umum APJII di akhir 2014 sampai awal 2015, dan jumlah ini terus meningkat. dari survei ini kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa sebenarnya bukan hanya si anak yang salah tapi apakah kita pernah menyadari ketika kita banyak mengolok-olok banyak orang di media sosial sejatinya waktu berkualitas kita bersama adik ataupun anak kita menjadi berkurang, gunakankah internet sesuati kebutuhan kitalah yang mengendalikan teknologi bukan teknologi yang mengendalikan kita, teknologi bisa mendekatkan orang yang jauh namun teknologi juga bisa menjauhkan orang yang dekat jika kita tidak menggunakannya dengan bijak. ibarat pisau bermata dua teknologi jika orang yang baik menggunakannya akan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, tetapi jika orang yang tak paham menggunakannya maka bisa jadi bumerang dan membuat hal yang sia-sia merajalela dimuka bumi ini.

lalu kita harus bagaimana? mulailah dengan hal yang kecil, misalnya mulai kita melihat sekitar kita ataupun keluarga kita, mulailah berinteraksi selayaknya manusia berinteraksi, jika sedang berkumpul mulailah dengan mematikan atau menjauhkan segala bentuk gadget, mulailah menanyakan pada anak dan remaja apa saja kegiatannya seharian ini, mungkin jika mereka belum mau bercerita coba pancing dengan kita menceritakan kagiatan kita selama seharian kepada anak atau remaja itu, biasanya orang akan mudah terbuka kepada orang yang terbuka dengan kita. lalu yang kedua batasi penggunaan gadget pada anak, ini dengan tujuan bukan untuk menjauhkan mereka dengan teknologi tapi lebih ke penjagaan, dan gunakan pula aplikasi internet sehat sehingga menghindarkan anak-anak dan remaja dari konten yang belum layak mereka tonton. toh dulu kita belum mengenal teknologi ini saat kecil nyatanya sekarang lancar, sejatinya manusia akan belajar pada porsinya masing-masing. dan coba buat lingkungan tempat tinggal menjadi tempat yang aman dan asik untuk anak-anak bisa bermain. cari tayangan televisi yang layak tonton oleh remaja dan anak-anak, dan jangan mencontohkan menonton acara yang tak layak tonton. yang terakhir tentunya jadilah figur yang baik, jangan hanya berani mengomentari namun tak pernah mau berubah, berhentilah menjadi orang yang suka menyalahkan, lakukan apa yang kita bisa, beri masukan positif ketika orang lain salah, jangan suka menyebarkan aib orang lain lebih baik menegurnya diam-diam sampai dia sadar yang ia lakukan itu salah, ayo saling menyemangati dengan orang disekitarmu.

tak ada manusia yang sempurna yang ada hanya manusia yang mau atau tidak berubah demi kebaikan!

  • view 315