Merindukan Senja

Istajib Sulton Hakim
Karya Istajib Sulton Hakim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Februari 2016
DIA(M)

DIA(M)


Kategori Acak

1 K Hak Cipta Terlindungi
Merindukan Senja

Aku senang sekali ketika menikmati senja, hampir setiap senja adalah momen yang spesial, entah kenapa dari dulu aku selalu mengagumi senja, senja selalu menawarkan sesuatu yang baru setiap datangnya, senja selalu saja menjadi alasan untuk berkumpunya setiap insan, senja selalu menawarkan kita untuk "pulang" untuk pulang kerja, pulang kuliah, pulang bermain, ataupun pulang pulang yang lain.

Senja selalu saja menyajikan sesuatu yang spesial, goresan warna yang indah tatkala kita lelah dalam berkatifitas seharian seolah menjadi obat penawar yang sangat mujarab, bagai obat segala penyakit utamanya peyakit malarindu "rumah" rumah disini bisa berarti rumah biasa, kos-kosan, kontrakan, kampung halaman, keluarga, teman, sahabat, ataupun kekasih itulah yang dimaksud dengan "rumah".

Jika aku mengingat senja aku selalu mengingatmu, entah kenapa ya kau seperti senja, selalu aku rindukan, aku bukannya cengeng, namun aku selalu merindukan senja karena senja selalu menawarkan hal yang luar biasa seperti kamu, apakah kau tahu bahwa kau adalah senja? apakah kau merasa? ah.. pasti tidak, kau pasti tak sempat memikirkan itu.

Senja itu singkat tapi berkesan, seperti pertemuanku denganmu selalu singkat namun berkesan, aku tak pernah menghabiskan waktu denganmu terlalu lama, jaraknya tak selama antara waktu dua sholat yang pendek, waktunya selalu terbatas tapi ak tak pernah lupa, atau mungkin aku tak mau melupakan.

Tidak begitu menyakitkan ketika kita hanya bertemu sebentar, toh obat juga tak bisa kita minum terlalu sering namun nyatanya tetap saja berkhasiat, aku tak membandingkanmu dengan obat, tidak sama sekali hanya saja alasan sederhanaku untuk menjaga pastinya kau sudah tau, kau sudah paham.

Aku hanya memiliki tiga cara ketika merindukanmu, yakni yang pertama adalah berdoa kepada Allah, yang kedua adalah menikmati senja dan yang ketiga adalah dengan menulis tantang senja, sesimpel itu, dan cukup itu.

Semoga kau masih mengingatku senja, aku tak memaksamu selalu mengingatku tapi aku hanya berharap jika kita bertemu di tengah jalan kamu masih mengenaliku, tak perlu kau menyapaku tak apa cukup kau masih mengenalku itu sudah membuatku senang, tetaplah menjadi senja.

?

DIA(M)

*sumber gambar Hipwee

  • view 364