Salah Efek dan Islamfobia

Salah Efek dan Islamfobia

is pelupessy
Karya is pelupessy Kategori Lainnya
dipublikasikan 29 Mei 2018
Salah Efek dan Islamfobia

Final Champions sudah dua hari usai, namun efeknya  itu masih menjadi cerita yang terus menjadi perbincangan hangat di masyarakat, disamping superiornya Real Madrid yang menjadikan kemenangan yang tiga kali berturut-turut, publik pun dihadirkan tentang cerita cederanya Mohamed Salah, banyak penyesalan ataupun ratapan atas tindakan brutal Sergio Ramos. Dampak dari itu Ramos pun menjadi bulan-bulanan cemohan bahkan mendapat ancaman dari fans-fans Salah, tidak cuma sampai disitu peristiwa ini berujung petisi untuk mendukung sangsi atas Ramos.

Siapa Salah? Seperti dikutip dari Wikipedia, Mohamed Salah Ghaly nama lengkap Salah  (lahir 15 Juni 1992; umur 25 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Mesir yang bermain sebagai gelandang sayap untuk klub InggrisLiverpool F.C. dengan nilai transfer £39 juta dari A.S. Roma, dan Tim nasional Mesir. Ia juga pernah tampil mewakili Mesir pada Piala Dunia FIFA U-20 2011 dan Olimpiade 2012. Ia memenangkan Liga Super Swiss di musim pertamanya dengan Basel, dan dianugerahi Pemain Muda Afrika Terbaik tahun 2012.[3]

"Mo Sa-la-la-la-lah/Mo Sa-la-la-la-lah,” demikian bunyi chant terbaru para suporter Liverpool,  “If he's good enough for you/ he's good enough for me. If he scores another few/ then I'll be Muslim too. If he's good enough for you/ he's good enough for me. He's sitting in the mosque that's where I wanna be. Nyanyian “ingin menjadi seorang Muslim” dalam nyanyian tersebut, boleh jadi bukan sesuatu yang serius, atau bahkan mungkin cuma sebagai ekspresi rasa cinta pada sang idola. Lama sudah klub pelabuhan ini kehilangan icon idola sepeninggal Ian Rush, kalaupun Gerrad dipandang idola pasca Ian Rush nampaknya tidak seheboh pemuda Mesir ini, yang menurut penuturan seorang rekan saya dalam percakapan di facebook, Mohammad Salah ini memiliki ketenaran yang luar biasa di negerinya, namanya lebih populer dibanding presiden di negaranya sekalipun, ketenaran Salah ini menjadi menarik dalam konteks pandangan masyarakat Inggris terhadap orang-orang Muslim.

Kehadiran Salah ternyata bak oase baru cerita Islamofobia di Eropa bahkan Inggris khususnya. Islamofobia di belahan dunia Barat memang sedang menjadi gejala umum, termasuk di Inggris. Dimana dalam wajah teroris, sekumpulan oknum-oknum dengan mengusung nama Islam menebar terror diman-mana termasuk Inggris, meski sesungguhnya praktek itu  sangat jauh dari ajaran Islam, dimana sejatinya Islam bahkan agama apapun tidak ada yang mengajarkan bahkan menganjurkan berbuat terror. Dalam suatu unggahan media social KH, Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia, juga mengatakan bahwa, "Terorisme itu bukan produk agama apalagi termasuk ajarannya", lanjut kyai Cholil dalam tuit itu, terorisme adalah produk kebencian, kesesatan berpikirdan berkeyakinan serta pelampiasan dari kecongkakan orang sombong, sebab ajaran agama pasti menuntun pada kedamaian dan kebaikan umat manusia.

Sikap Salah dan Islamfobia ini menjadi babak baru di Inggris saat ini, seperti dikutip dari tirto.id di kalangan masyarakat Inggris, islamofobia dinilai masih sangat tinggi. Dilaporkan oleh Muslim Council of Britain, penduduk UK, misalnya, percaya jumlah populasi muslim di negaranya sebesar 17%, padahal kenyataannya hanya 5%, bahwa sebanyak 37% dari mereka mengakui akan cenderung mendukung kebijakan untuk mengurangi jumlah muslim di UK, dan sebanyak 62% setuju UK bakal kehilangan identitasnya jika lebih banyak Muslim tinggal di UK.

Apa yang dilakukan Mohamed Salah di Liverpool  seperti  menampilkan wajah Islam lain yang selama ini sering luput dari tangkapan media-media, yaitu Islam yang modern, dan berprestasi. Sikap Salah ini sedikitnya memberikan gambaran sesungguhnya tentang Islam sebagai agama yang Rahmatan lil Alamin yang membawa rahmat bagi seru sekalian alam. Keteladanan Salah pun tidak hanya ditunjukan di lapangan hijau, melainkan pula di luar lapangan. Kepada desa tempat ia dibesarkan, ia menggelontorkan dana untuk membangun badan amal, sekolah, dan rumah sakit dan seabrek ativitas social lainnya.

Sosok Salah tak ubahnya pribadi yang sempurna, dalam aktivitasnya diluar sepakbola, salah tak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang Muslim dengan sholat lima waktunya, bahkan publikpun sering dikejutkan dengan aksi salah yang selalu membawa-bawa Al Qur’an kemanapun dia pergi, bahkan untuk mengisi waktu di pesawat, pemuda mesir ini tak sungkan untuk melafalkan ayat-ayat suci itu. Semoga dikemudian hari kehadiran-kehadiran Salah baru yang menampilkan Islam yang modern, dan berprestasi dan berguna bagi banyak orang dan bukan menampilkan kekerasan.

  • view 198