Cinta Nablus Nona Ambon

is pelupessy
Karya is pelupessy Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Februari 2018
Cinta Nablus Nona Ambon

 

Malam itu gerimis, awan di Jakarta masih terus menangis dengusku!! sambil sesekali mata ini melihat chanel-chanel tivi dengan pemberitaan di Palestina, tak terasa tiba-tiba air mata ini berderai menghujami bumi, yang lambat laun terus menetes membasahi daster kumal ini. Pikiran ini terus melayang menerawang!!,  siapa yang yang tidak tegang dan risau lirihku??, sesekali mengintip daster kumal spesial pemberian almarhum sang suami, kulihat lekuk-lekuk bahannya yang mulai rapuh dan kusam, ah!! cepat-cepat kutepis rasa galau itu. Insya Allah Husnul Khotimah bang (do’a ku lirih).

Sebagai seorang ibu keluh ku, naluri itu begitu  kuat dan perasa apalagi buat seorang anak gadis di jam 12 yang  belum  juga pulang,  saat tengah malam begini, tuk sekedar menelpon mengabari dimana dia saja enggak!!, duh gusti cobaan apa yang kau berikan ini keluhku.  Teringat sikap keras mu yang keukeh  saat meminta izin pergi memang membuatku kesal!!,  seruanku untuk tidak boleh keluar supaya memenemani adekmu  di rumah, karena mama yang hendak pergi ke maulidan tak kau gubris, kesal bercampur marah kurasa saat itu, tapi bagaimana lagi kau anakku rasa ini tak mungkin menipu sekalipun sakit!!, pahit kan kutelan dan hanya senyum manis buatmu anakkku!!.. lirihku dalam sepi sambil sesekali menatap jam dinding??.

Dinda Rabiyah Al Adawiyah Pelupessy, begitu nama lengkapmu, dua bulan sebelum dikau lahir kedunia dan saat itu rentetan cobaan-cobaan datang mendera, Rabiah Al Adawiyah sosok sufi  wanita yang termasyhur pada zamannya yang memiliki keistimewaan daya ingat yang luar biasa  idola ayahmu. Waktu itu akhir 1998 kami ke Ambon dengan tujuan untuk melahirkan disana, sebagai calon cucu pertama di keluarga abang, tak salah jika kami  ingin memberikan kejutan spesial, tapi apaalah daya konflik 99 saat januari itu, di saat kehamilanku mencapai tujuh  bulan dikota manise itu, seketika perang saudara antara sesama anak bangsa meledak serentak di kota negeri seribu pulau itu, konflik yang seketika menghilangkan niat tulus kami. Beragam rencana-rencana yang sudah kami susun di Jakarta akhirnya menjadi pepesan kosong!!, hancur berantakan??. Segumpal pikiran di benakku duhai caca apa mungkin bawaan konflik Ambon hingga membentuk  sikapmu??..., pribadimu sedemikian keras berprinsip, ataukah karena salah pergaulan, dinda atau caca demikian panggilan akrab kami padamu, rinduku padamu!!  pulanglah nak desahku membatin!!!.

Dan akupun teringat delapan belas tahun lalu saat melahirkan kamu caca, betapa bahagianya seisi rumah stelah lolos dari konflik, berdesak-desakan dengan ribuan pengungsi yang menyelamatkan diri dari konflik, begitupun kami yang harus kembali pulang ke Jakarta dengan perasaan sesal. Subuh itu kau lahir kedunia, saat itu ayahmu hingga kakek dan nenek dari keduabelah pihak begitu gembira  menanti anak dan cucu pertama buah hati mereka. “Caca ??, cepat besar ya kamu nak, tete su rindu”  melihatmu besar, tak berapa lama direbutnya caca  dekapan sang kakek oleh nenek, ah sini sambil berguman pelan-pelan nenek pada sang kakek, mari sini cucuku, nene gendong!! cepat besar kau caca, biar kita pulang ke Ambon. Nikmati pantai nan indah berbibisik caca, disana kan kau temukan biru laut yang bening teduh meneduhkan, bersantap ikan bakar dan colo-colo, nikmati sagu biar kau keras dan tegap menghadapi hidup ini, sambil bersantap papeda yang kan membentukmu lembut laksana seorang perempuan sebagaimana mestinya kodratmu timpal sang kakek berfilosofi disamping nenek

Kulihat waktu berjalan 12.15 menit berturut turut hingga pukul 02.00 dini hari dan kau belum juga pulang, ponsel ini terus ku kutak-katik menelpon, sms dan segala layanan panggilan yang kau pakai namun ponselmu sedikitpun tidak tampak tanda-tanda kehidupan, tak ada sahutan atau pun salam seperti biasanya,apa yang terjadi dengan dirimu sayang.

Layar tivi masih sibuk memberitakan perkembangan peristiwa-peristiwa di Palestina, dari demo di seluruh dunia menentang agresi Israel dengan pernyataan Trump yang menohok seisi dunia, hingga di kota-kota di seluruh Indonesia, pekik  takbir dan Sholawat terus berkumandang, menggema dari setiap gerak para mujahid/mujahidah itu disetiap aksi itu. Ya Allah ya rabb batinku kesal melihat  prajurit IDF itu menggenggam bedil dengan bayonet terhunus ke arah kerumunan sisiwi-siswi sebuah sekolah di Nablus. Siswi-siswi itu ku yakin pasti seumuran dengan anakku caca, anganku pun melayang membandingkan seorang siswi yang gagah berani maju membentak prajurit itu

Ya Allah Ya rahim aku tersentak  pukul 11 siang dibangunkan risky adiknya caca, dan aku kesiangan setelah semalam begadang menunggu caca, ya aku baru bisa tidur setelah subuh saat mata ini lelah menunggumu semaaam anakku. Ya risky !! sahutku ada apakah wahai anakku, kulihat matanya memerah menahan tangis, sambil memelukku ditariknya tanganku keruangan keluarga untuk melihat siaran tivi, sambil menunnjukan running text salah satu stasiun tivi yang berbunyi : telah tewas seorang relawan kemanusiaan dari Indonesia atas nama Dinda Rabiah Al Adawiyah Pelupessy di Nablus Palestina. Ya Allah caca!!! Seru ku histeris sambil dipeluk risky yang terus menenangkanku agar tabah, dia seakan takut kalau sesuatu juga terjadi pada diriku. Caca !!! kau menjemput ajal mengikuti pujaanmu Rachel Alience Corrie yang meningggal dihantam buldozer IDF di Raffah, dan kini kau bernasib sama di Nablus dihantam peluru IDF saat melindungi ibu-ibu yang  akan melindungi anaknya dari hantaman popor senapan IDF durjana.

Mama mama  panggilan nyaring itu seperti lazim ku dengar??, ya itu suara dinda … itu caca, Dinda Rabiyah Al Adawiyah anakku, kubuka mata ini perlahan… Alhamdulillah caca masih hidup, aku terhenyak sambil berharap yang memanggilku ini caca, ya!! ternyata suara caca disampingku, sambil menyubit lenganku bahwa sososk caca didepanku ini bukan mimpi. Mama ini caca ma, mama terlalu capek saat aksi di Monas tadi, mama pingsan sejam lamanya, bukankah caca dan ade sudah menyuruh mama tidak usah ikut ujar caca sambil mengusap rambutku kulihat risky terus memijit kakiku dengan minyak kayu putih. Kupeluk, kucium dia dan risky, kuraba dadanya seperti berita tivi saat mimpi ku tentang seorang relawan Indonesia yang tertembak di dada. Alhamdulillah sehat Walafiat anak-anakku.

Allahu Ya Karim cerita Rachel Alience Corrie yang kubaca ternyata terbawa dalam mimpi pingsanku, mungkinkah ini teguran atas diriku yang  sibuk bekerja dan seakan mulai lupa bahwa caca beranjak dewasa, risky mulai memasuki masa remaja, mereka masih butuh pengawasanku, belaianku dengan rengekan dan segala aktivitas mereka.  

Corrie demikian biasa dipanggil adalah aktivis muda  asal Olympia Washington itu mati muda saat berusia 23 tahun, meninggal demi membela rakyat palestina  yang dia lihat ditindas Israel. Dia bukan Hammas bukan pula Fattah, tapi dia korbankan nyawanya demi rakyat Palestina.  Caca dan risky sahutku sambil kupeluk mereka erat-erat kedua mutiara ku, mari kita pulang nak kan kubuat roti ayam dan bubengka kesukaan kalian ujarku dengan penuh manja, sambil menerawang mengingat caca dalam mimpi dan kepahlawanan Corrie, dengan gembiranya mereka bersorak sambil menanyakan apakah gerangan yang terjadi dengan perubahan sikapku. Sambil tersenyum lirih mengingat mimpiku dan pengorbanan Corrie, zikir dan do”a terus kupanjatkan buat mujahid-mujahid Palestina disana.

 

 

 

*NB;

Caca:  Panggilan anak perempuan Ambon/Maluku (khususnya Ambon Muslim)

Tete : panggilan Kakek

Nene : Panggilan Nenek

Colo-colo : Sambal khas Ambon/Maluku

Roti Ayam : Masakan khas Ambon dengan kuah mirip kari

Bubengka: Kue khas Ambon

Papeda : Makanan khas Ambon dari sagu

 

                                                                                   

Is Pelupessy   

                                   

Ambon, 17 desember 2017

  • view 126