Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Sejarah 13 Desember 2017   08:36 WIB
Enrique dan Rempah-Rempah

Rempah-rempah telah membawa perubahan dalam peradaban dunia. Berkat rempah-rempah pula berdatanglah bangsa-bangsa asing di Nusantara dengan Maluku dengan cengkeh, pala sebagai daya pikat, kedatangan dengan tujuan untuk menjajah dan menggaruk hasil (rempah-rempah) tentunya. "Cita rasa hanyalah salah satu dari sekian banyak daya tarik rempah-rempah yang menyajikan jauh lebih banyak nuansa eksotis ke atas meja makan daripada yang pernah kita bayangkan," tulis Jack Turner dalam bukunya Sejarah Rempah dari Erotisme sampai Imperialisme (2011). Selain penyedap makanan yang menjadi pertarungan gengsi bangsawan di meja makan, rempah menurut Turner punya manfaat yang lebih variatif di Eropa sana. Beberapa di antaranya mungkin dianggap tak biasa di masa kini.

 Kedatangan bangsa-bangsa Eropa yang menimbulkan peradaban baru dengan penjajahan mereka, ternyata bukanlah yang pertama  untuk bangsa-bangsa asing, bahkan sebelum itu di Maluku dan kawasan Nusantara lainnya, para pedagang Cina sudah mencapai Kepulauan Rempah di Maluku. Mereka datang untuk membeli cengkeh sejak sekitar abad ke-3 SM, bahkan jauh sebelumnya yang menurut sebuah sumber, penemuan arkeologi peradaban Sumeria (peradaban purba di selatan Mesopotamia, tenggara Irak) diketahui cengkeh sangat popular di Syria pada 2400 SM. Ini bukti yang sangat kuat bahwa perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Maluku adalah benar-benar purba jauh sebelum bangsa-bangsa Eropa dengan semangat kolonialismenya.

Pendapat tentang bangsa-bangsa lain sebelum bangsa Eropa juga diperkuat oleh teori Hamka Menurut Buya Hamka, Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari Makkah (Arab Saudi) pada abad ke-7 Masehi atau permulaan Hijriah, yang kemudian diikuti oleh pedagang Gujarat (India) abad ke-13 M, maupun Cina pada abad ke-10 M. Mereka (Arab, Gujarat, Persia, maupun pedagang Cina).

Bercerita tentang rempha-rempah tak luput dari kisah penjelajah-penjalah pengeliling dunia  ulung saat itu. Semangat kolonialisme itu ternyata menciptakan munculnya nama penjelajah kampiun, pedagang masyhur, seperti Magellan, Colombus, Marco Polo, Ibn Batutah.

Kita mungkin masih menganggap pengeliling dunia pertama di dunia adalah Magellan yang ternyata terbantahkan lewat Buku Helmi Yahya & Reinhard R Tawas dengan judul :“Pengeliling Bumi Pertama adalah Orang Indonesia, Enrique Maluku,. Kaitan dengan penjelajah menurut buku itu, diketahui berdasarkan kesaksian wakil Tahta Suci Vatikan Maximillianus Transylvanus yang mewawancarai 18 orang sisa anak buah kapal dari ekspedisi armada laut Spanyol pimpinan Ferdinand Magellan untuk mencari Kepulauan Rempah-rempah. Kesaksian Maximilianus ini sekaligus menepis perspektif orang-orang selama ini tentang pengeliling dunia pertama di Dunia, dimana ternyata Enrique Maluku alias Enrique el Negro (Spanyol) adalah pelaut asal Indonesia pertama yang mengelilingi bumi. Karena pria asal Ambon, Maluku ini pada 7 April 1521 telah melengkapi petualangannya mengelilingi dunia bersama sisa armada laut Spanyol di Kapal Victoria saat tiba di Cebu Filipina (Disini Enrique sudah melengkapi putaran 360 derajat) Sementara pemimpin armada Spanyol Ferdinand Magellan pada 27 April 1521 telah terbunuh di Mactan, Filipina. Sehingga Magellan belum melengkapi putaran 360 derajat mengelilingi bumi. Enrique dan Rempah- rempah bukanlah suatu keniscayaan belaka, bahwa  masyarakat Maluku ternyata bagian dari suatu peradaban sejarah, menjadi suatu bagian dari sejarah kolonialisme  akibat daya pikat yang luar biasa dengan alamnya, yang secara tidak langsung berperan penting dalam peradaban dunia.

Karya : is pelupessy