Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 2 Desember 2017   16:22 WIB
Cinta dalam sepotong sagu (ketika sagu menjadi mahal di lidah)

Judul ini mungkin menggelitk, “Cinta Dalam Sepotong Sagu”, sedikit terinspirasi dengan sebuah judul film era 90an “Cinta Dalam Sepotong Roti”. Saya (penulis) mungkin sedang berfilosofi atau pun sedang bersatire dengan kondisi kekinian masyarakat Maluku. Baru-baru ini masyarakat Maluku dihebohkan dengan keberhasilan Provinsi Riau dalam mengekspor Sagu, sekian lama dikenal sebagai makanan yang identik dengan Ambon/Maluku seketika itu pula serasa hak kesulungan (sagu) terampas. Sejatinya bukan hanya sagu makanan pokok Maluku karena rata-rata penduduk Maluku memiliki makanan pokok yang beranekaragam, mulai dari sagu, umbi, biji-bijian dan lainnya.

Tampak senyum-senyum kejut mendengar itu, ada yang marah dengan pemerintah daerah, atau saling tunjuk hidung antara sesama masyarakat. Padahal tahukah kamu, sadarkah kamu?? Seberapa sering kita menyajikann sagu dirumah dalam seminggu atau bahkan mengenalkan pada anak-anak kita guna mengurangi ketergantungan akan beras. Tak heran seketika budaya makan sagu dengan berbagai olahan lainya seperti papeda, sinoli hilang di meja kita dan sekejap hilangnya beberapa kawasan-kawasan perkebunan sagu. Lokasi-lokasi yang tumbuh alami itu seketika hilang dengan seiringnya waktu, seiring dengan keserakahan pembangunan. Padahal Nutrisi yang terkandung dalam sagu terbilang lengkap. Yang paling dominan adalah karbohidrat murni dalam jumlah yang banyak. Terkandung pula protein, mineral, dan vitamin. Dalam 100 gram sagu kering, karbohidrat yang terkandung didalamnya adalah 94 gram, protein 0,2 gram, serat makanan 0,5 gram, zat besi 1,2mg, dan kalsium sebanyak 10 mg. Dalam 100 gram sagu, terdapat 355 kalori.

 

Mungkin saya sengaja berfilosofi dengan analogi akan hilangnya sagu dengan segala kecintaan kita, sadarkah bukankah  kita yang merampas hak kesulungan (sagu) itu. Dalam peta sebaran sagu yang dilansir situs resmi Kementerian Pertanian (Kementan, 2016), disebutkan, pohon sagu yang hidup di hutan alam mencapai 1,25 juta ha dengan rincian 1,20 juta di Papua dan Papua Barat dan 50 ribu ha di Maluku. Sedangkan pohon sagu yang merupakan hasil semi budidaya (sengaja ditanam/semi cultivation) mencapai 158 ribu ha dengan rincian 34 ribu ha di Papua dan Papua Barat, di Maluku 10 ribu ha, di Sulawesi 30 ribu ha, di Kalimantan 20 ribu ha, di Sumatera 30ribu ha, di Kepulauan Rau 20 ribu ha, dan di Kepulauan Mentawai 10 ribu ha.

Angka-angka itu menjadi bukti kegagalan kita dalam menjaga keunggulan yang ada, tampaknya pameo sagu menjadi makanan pokok orang Maluku menjadi sesuatu yang tidak lagi mutlak, disertai kekagetan kita ketika masyarakat yang bukan penikmat sagu bisa memanfaatkan lebih karena produk ini salah satu kelebihannya yaitu bisa untuk memproduksi glukosa. Kini kita akan menyaksikan sebagian besar penduduk Maluku yang hidup diperkotaan mulai berkurang mengkonsumsi sagu, tak heran sagu pun menjadi barang mewah. Kemewahan sagu walaupun masih terjangkau  bukan pada nilai beli sagunya mulai beranjak naik, tapi pada keinginan untuk mengkonsumsi yang mulai berkurang dan  tergantikan oleh beras.

Karya : is pelupessy