BERPIKIRLAH UNTUK SEBUAH KEBENARAN

Ismail Raji Al Faruqi
Karya Ismail Raji Al Faruqi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 November 2016
BERPIKIRLAH UNTUK SEBUAH KEBENARAN

“Cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada)”. – Rene Descartes

Manusia adalah makhluk yang berpikir. Berpikir merupakan fitrah yang dimiliki manusia, yang membuatnya menjadi makhluk yang berbeda dari binatang. Namun, pikiran yang dikeluarkan manusia terkadang akan berbeda satu sama lain. Di mana hal ini dapat menciptakan satu konflik bahkan mungkin akhirnya akan menciptakan suatu ketidak-harmonisan sosial.

Pikiran yang berbeda adalah suatu kewajaran jika terjadi. Kesalahan dalam bersikaplah yang akan membuat pemikiran yang berbeda menjadi suatu pemicu untuk terjadinya sebuah konflik.

Dahulu dikisahkan ada seorang guru yang diutus untuk mendidik seorang murid secara khusus. Sang guru pun sudah menda-patkan data lengkap sang murid dan mengetahui bahwa sang murid membutuhkan ilmu tentang sabar.

Dalam pertemuannya sang guru menyampaikan: “Jika kau mengikutiku, kau tak akan sanggup sabar bersamaku”.

Sang murid pun sedikit kesal dengan perkataannya dan dengan yakin mengatakan “engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar”.

Sang guru kemudian berpesan sebelum perjalanannya dimulai “Jika kau mengikutiku, jangan tanyakan sesuatu-pun, sampai aku menerangkannya”.

Dalam perjalanannya bersama, sang guru melakukan beberapa hal yang membuat sang murid ini kesal dan kaget luar biasa. Tapi sang guru tersebut hanya berkata “aku sudah menjelaskan padamu bahwa kau tidak diperkenankan bertanya terkait apapun yang ku lakukan, dan aku sudah mengatakan bahwa kau tidak akan pernah sabar jika mengikutiku”.

Akhirnya sang murid ini pun kesal yang sangat luar biasa dan kesabarannya pun runtuh. Sang guru akhirnya mengakhiri perjalanannya dan mengatakan "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

Sang murid akhirnya mendapat kan penjelasan terkait hal yang dilakukan oleh gurunya tersebut selama perjalanannya. Dan sang guru mengakhiri ucapannya “sudah ku katakan bahwa kau tidak akan pernah sabar jika kau mengikutiku. Apa yang aku perbuat bukanlah menurut kemauanku sendiri”.

Kisah ini menunjukan bahwa pemikiran terbuka diperlukan. Memahami terlebih dahulu apa yang orang lain pikirkan adalah suatu hal yang menjadi dasar untuk dapat berpikir terbuka. Ketidaksepahaman tersebut harus dicermati secara mendalam, di mana letak kesalahannya. Bukan kesalahan yang dibandingkan dengan kebenararan yang relatif, tetapi kesalahan yang dibandingkan dengan kebenaran yang absolut, yaitu kebenaran yang didasarkan pada nilai-nilai dan norma-norma yang luhur, yang berasal dari kesucian hati dan pikiran manusia.

Seperti Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidr a.s. yang telah dijelaskan di atas. Bayangkan jika Nabi Musa a.s. lebih berpikir terbuka terhadap apa yang dilakukan oleh gurunya Nabi Khidr a.s. Dan meyakini bahwa Nabi Khidr adalah seorang utusan Allah swt., di mana apa yang dilakukannya tentu saja merupakan sesutau yang diperintahkan oleh Allah swt.

Demikianlah manusia dengan pikirannya akan mengalami perbedaan satu sama lain. Keterbukaan pikiranlah yang akan membuat sesuatu bisa diterima dan ditolak. Pikiran yang terbaik adalah ketika pikiran tersebut dapat mengandung nilai-nilai kebenaran absolut, yang dapat memberikan kebaikan untuk dirinya serta orang-orang di sekelilingnya.

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. – Q.S. Al Baqarah (2) : 147

  • view 185