1.Pulang

1.Pulang 1.Pulang

Jalanan gang masih basah, akibat sisa hujan semalam. Genangan-genangan air tertitik di setiap ruas jalan. Seorang lelaki berjaket ­kulit dengan dalaman kaos putih dan celana yang dihiasi dengan sobekan-sobekan kecil, baru saja memasuki gang ini. Gayanya tak jauh beda dengan berandalan, rambut yang panjangnya sampai sebahu serta rentetan brewok yang semakin subur, membuatnya semakin terlihat seperti orang jahat.

 Namanya Azmi, manusia seperti kebanyakan yang berhasil menyandang gelar S3 (SD, SMP, SMA). Ya, setidaknya ia bangga dengan pendidikan yang terakhir kali ditempuhnya itu. Sambil menyalakan batang sigaretnya, ia berjalan menyusuri lorong-lorong rumah penduduk  yang  sudah empat tahun tak dilewatinya itu. Sebuah jalan pulang menuju titik kerinduan. Samar-samar aroma wangi malam (lilin) menyeruak dan menyusup ke dalam batang hidungnya. ia sedikit memperlambat tempo langkah untuk menikmati aroma masa kecilnya itu, serta menyaksikan para pembatik rumahan yang sedang serius meniup-niup sebuah benda kecil di tangannya (canting) yang berisi panasnya cairan malam (lilin) untuk kemudian melukiskannya pada sebidang kain mori atau jarik. Mereka yang tinggal di sepanjang gang sempit ini, umumnya memang berprofesi sebagai pembatik. Berkat kecintaan mereka terhadap warisan budaya leluhur, sampai saat ini seluruhnya masih sangat terjaga dengan apik. Bahkan mereka juga menjadikan rumahnya sebagai showroom batik-batik yang dihasilkan.

Kampung ini bernama Kampung Lawean. Meski disebut kampung, wilayah di sini sangat pekat dengan suasana klasik seperti wilayah-wilayah yang berada di eropa sana. Terlihat dari bangunan-bangunannya yang beraksitektur tradisional jawa, eropa, cina, dan islam. Banyaknya gang-gang sempit yang menghubungkan antar rumah dan jalan juga menambah kesan eksotis pada Kampung ini. Suasana di sini begitu hidup akan segala keindahannya, sehingga siapa saja yang mengunjungi tempat ini pasti akan langsung tertarik dan penasaran untuk menyusurinya.   

Tinggal hisapan terakhir, asap dihembuskannya dengan penuh semangat. Karena jajaran atap bewarna hitam, telah terlihat dari pelupuk matanya. Sepuluh detik lagi Azmi akan tiba di sebuah rumah yang telah menjadi saksi atas kedewasaannya, delapan belas tahun lamanya. Dari tempat ia melangkah, bau menyengat tumis kangkung sang makanan legenda menghantam penciumanya. Siapa lagi kalau bukan ibu yang memasak spesial untuk menyambut kepulangan anaknya dari negeri orang. Karena tiga hari sebelumya ia telah mengabari beliau lewat telepon.

Ia menarik nafas sampai ke ubun kepala, lalu ditahanya sejenak. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang membuyarkan ketenanganya. Udara pun tak mulus berhembus dari mulutnya. Karena bising suara mesin tua setengah memaksa mengacaukan konsentrasinya. Azmi menggeleng-gelengkan kepala, karena kendaraan super rongsokan ini masih saja mengganggunya. Ialah Pakde Eko, kakak kandung dari ibunya. Lelaki separuh baya itu tada henti menganggap kendaraan yang ditungganginya tersebut adalah  kendaraan terbaik sepanjang masa. Berbagai kenangan melekat pada mesinnya. 

 Beliau melesat dengan cepat kehadapan Azmi dengan motor bututnya itu, dandananya seperti baru saja membersihkan selokan-selokan gang. Mengenakan  sepatu boot yang tingginya sedengkul, baju partai yang di dapatinya sewaktu pemilu dan sebuah topi kusam diatas kepalanya.

“Alhamdulillah, akhire TKI ijek kelingan omah..! (akhirnya TKI masih ingat rumah) piye kabarmu le ? (gimana kabarmu le?)

“Alhamdulillah aku sehat pakde..” jawab Azmi setengah kesal, setengah senang.

Belum sempat Azmi meneruskan pembicaraan bersama Pakdenya,  ayahnya  keluar dan memanggil-manggilnya, menyuruh untuk segera masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, rupanya ibu dan zahra telah menunggu putranya itu, wajah-wajah bahagia terpasang sedemikian rupa. Azmi   segera menyalami tangan ibundanya dan memeluk Zahra. Zahra adalah adik kandungnya yang baru saja naik ke kelas satu SMA. Ia perempuan yang cerdas, cerewet, tapi pemalu. Jika  berada di sekolahan, sifatnya sangat cuek dan pendiam, hampir seluruh teman laki-lakinya sungkan untuk mengajaknya berbicara. Itulah Zahra, seorang adik yang sering sekali memberi semangat Azmi namun sedikit menjengkelkan.

“Walah nang, nang.., pangling ibuk nak. Gayamu sudah kayak preman saja.”

“He’eh, bener yang dikatakan ibukmu, gayamu awur-awuran.” Ayahnya terlihat tidak suka.

“Iya mas, kamunya serem banget.” Tambah Zahra lagi.

Tapi azmi hanya tersenyum tipis dan mencoba mengikat rambut gondrongnya. “Nggak papa buk, pak, zahra, aku ini preman berahklak kok, hehe..”  jawab Azmi meringis.

“Alah! Ada-ada saja kamu ini.” Tegas bapak

“yowes, mending kamu ceritaken pengalaman setahunmu di negara singawur itu” 

“Singapore buk’e…,!” sahut Zahra.

“Oiya ding, lali aku.” Beliau  tertawa kecil, begitu juga dengan Azmi. Sementara ayahnya hanya menggeleng-gelengkan kepala.    

Azmi pun menceritakan pengalamanya sejak berada di negeri seribu satu tangan itu. Tetapi, baru saja ia mengeluarkan beberapa patah kata,  mereka langsung memotongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak ada habisnya. Ia seperti buronan yang baru saja tertangkap polisi dan seketika itu di introgasi.  Mereka tak ingin putranya berhenti mendongeng, tampaknya mereka memaksa azmi untuk menceritakan semua pengalamannya sampai pada akar-akarnya. Ceritapun terus berlanjut hingga petang, dan pada akhirnya suara adzan maghriblah yang menghentikan segala cerita, meski tak seluruhnya.

***

Perlahan  matahari keluar dari rahim bumi, cahayanya menyusup ke dalam kamar lewat celah-celah jendela. Mengintip seorang lelaki yang masih sibuk melunasi mimpi. Tiga detik lagi Jarum jam akan melintang ke angka Sembilan. Dan dengan hitungan mundur, tiga, dua, satu! Suara besi terpukul, membentak sepasang telinga Azmi. Ia pun bangun, tapi masih dalam keadaan terduduk, antara setengah sadar dan tidak. Agaknya sukmanya belum terkumpul, matanya masih terkatup-katup, belum mampu membuka sepenuhnya.

Ia mengucek-ngucek matanya, dan beranjak menuju jendela, lalu membuka selebar-lebarnya. Derit suara gesekan kayu  membuatnya ngilu. Dahinya mengerut dan gerahamnya juga ikut berceletuk. Mulutnya  berkecap-kecap sesekali menguap. Kantuk belum tuntas, karena tadi malam dirinya baru bisa tidur sekitar jam tiga.

 “Serangggg…!!!” Tiba-tiba dua orang manusia dari bawah jendela menyerangnya dengan semprotan air.

“Eh, eh, eh.“ Ia gelagapan.

“Habisi musuh…!!! Crot.., crot.., crot..!” seru Deni.

“Udah, udah, udah!” azmi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tanganya.

“Hahahahaha, makanya mandi” 

“Stoooop..!” teriaknya.

Keduanya hanya nyengar-nyengir.

Azmi mengusap wajahnya yang sudah setengah basah. “Oalah, ternyata kalian toh”

“Hehe, apa kabar kamu?” tanya Deni.

Azmi menjabat tangan Deni, seperti calon presiden dan wakilnya. “Alhamdulillah, aku sehat-sehat saja Den, kamu gimana? kumismu makin subur saja”  

“Hus, ngawur kamu, ini baru kupotong seminggu yang lalu.” Deni mengelus-ngelus dagunya.

“Itu, si Rani?” tanya Azmi lagi.

“Dia kemaren habis kena sakit cacar.” Deni setengah berbisik.

“Ooh, pantesan. Tuh! Bekasnya masih ada hitam-hitam, hahaha”                     

Rani menundukkan kepala karena  malu.

“Ah, sudah, sudah, ayo masuk!” tegas Azmi.

Azmi tak menduga, kalau kepulanganya telah diketahui oleh dua orang teman dekatnya itu. Padahal di sepanjang jalan menuju ke rumahnya, tak ada siapa-siapa yang dilihatnya. Betapa ia merasa istimewa, karena seharusnya dirinyalah yang terlebih dahulu menjamu kedua teman dekatnya itu.

Deni dan Rani adalah anak dari Pak Subroto, pemilik toko pakaian di seberang jalan sana. Mereka adalah sepasang adik-kakak yang  memiliki hobi dan kebiasaan saling bertolak belakang. Deni sangat menyukai hal-hal yang berbau politik, ditambah dengan diskusi-diskusi berat. Bahkan ia telah hafal seluruh pasal-pasal yang ada di buku UUD 1945 meskipun berada di jurusan Ekonomi. Tapi setidaknya bisa ia gunakan sebagai bahan baku untuk beragumen. Selain itu, ada kebiasaan unik yang dilakoninya setiap waktu, yaitu menguyah. Ia sangat suka dengan kacang telur, setiap waktu saku celananya pasti berisi camilan itu. Sesekali  pernah Rani mencoba mengambilnya dari saku celana kakaknya itu secara diam-diam, di saat ia lengah. Alhasil, Deni marah besar kepada adiknya itu, karena sejam saja ia tak makan kacang, lidahnya sudah terasa sangat gatal. Itulah deni.

Jika Masnya itu sangat senang berdiskusi berat, maka seorang Rani adalah penentangnya lewat seni bermusik yang tengah digelutinya. Tak percuma bapaknya mendatangkan guru les biola setiap dua kali seminggu, hingga beberapa kejuaraan di sekolah berhasil digandengnya. Namun sayang, ia tak sesempurna manusia lainya. Keterbatasan fisik dialaminya sejak lahir, ia bisu. Wajah secantiknya, harus menerima cobaan yang tidak seharusnya terjadi padanya. Tapi apa boleh buat, semua adalah kehendak yang maha kuasa, di balik keterbatasan pasti tersimpan segudang kemampuan. Buktinya ia sangat mahir memainkan biolanya, bahkan sudah sangat pantas jika dikatakan ahli dalam memainkan biola. Dari hobinya itulah, ia menjadikan keterbatasannya suatu hal yang luar biasa.

Di dalam kamar, Azmi dan Deni bercerita cukup lama. Keduanya saling membahas masa-masa SMA, sedangkan Rani hanya tertawa terpingkal-pingkal menyimak cerita masa lalu Azmi dan Masnya itu. Nantinya  mereka berencana untuk jalan-jalan keluar, berangkat selepas dzuhur, agar jalanan tidak terlalu ramai, meski di siang bolong  udara panas serasa menjilat-jilat. Tapi ini adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat tersebut, karena pada waktu siang bangunan akan tampak terlihat lebih jelas dan terang.

 Deni menunggu di luar, lima bungkus kacang tewas dibuatnya, mulutnya tiada henti menguyah seperti sapi. Jam di tanganya telah menunjukkan pukul setengah dua siang, tampaknya ada sedikit keterlambatan.

“Azmiii..! cepettt!” teriak Deni.

“Yo!” padahal, dirinya baru mau menunaikan sholat dzuhur.

“Mau kemana toh, nak Deni?” dari ambang pintu muncul ibunda Azmi.

“dolanan buk’e.”

“Hmmm, mbok ya di rumah saja, siang-siang bolong gini kok mau pergi.”        “Deket kok buk” azmi nyelonong dari belakang. “aku pergi dulu buk, assalamu’alaikum” ia menyalami ibundanya.

“Kamu pakai si vape kan? “Tegur deni.

“Mesti to yo, it be perfect!” kemudian Azmi mendatangi Pakde Eko yang sedang memperbaiki kendaraan kesayangannya. “de, makasih yo, udah ngerawat si vape”

“Bereees !”

“berangkattt…!” seru Azmi.

 Vape adalah nama julukan dari kendaraan Vespa PXnya. Kendaraan ini merupakan salah satu dari sekian banyak tipe vespa yang diproduksi piagggio Italia. Vespa PX pertama kali diproduksi pada tahun 1977, dengan kapasitas 125cc. lalu dipasarkan ke seluruh bagian Negara, termasuk Indonesia. Kendaraan kuno ini sudah tak berumur lagi, ia sudah kehilangan peminatnya, seiring berkembangnya zaman. Tapi sekarang, mulai bermunculan kembali pecinta kendaraan kuno, hal ini membuat sang legenda banyak dicari-cari peminat yang benar-benar menyukainya. Bahkan beberapa komunitas telah menjadikan vespa sebagai identitas perkumpulan mereka.

Dengan memencet kopling dan mengongkang gigi yang berada di sebelah kiri, Azmi melesat di sepanjang jalan raya, membabat setiap tikungan yang yang dilewatinya. Sementara Deni membonceng adiknya Rani, dan lebih dulu melesat jauh di depan azmi.

***

 

 

Bangunan tua itu, adalah sebuah Benteng peninggalan Belanda yang terletak di Gladak. Namanya Benteng Vastenburg, dibangun pada tahun 1745 dibawah pemerintahan Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff. Tempat ini juga merupakan bagian ruh bagi sejarah berdirinya Kota Solo atau Surakarta.

Bentuk tembok ini seperti bujur sangkar yang pada ujungnya terdapat penonjolan ruang yang disebut dengan : Selaka (Bastion).  Namun sayang, kini bangunan ini semakin terlantar tanpa adanya perawatan sama sekali. Tubuh  benteng ini tampak rapuh dan lusuh, terlihat dari dinding-dindingnya yang telah dipenuhi dengan tambalan-tambalan juga lumut, rumput dan ilalang liar yang menggerogoti benteng ini.

Pada bagian pinggir-pinggirnya juga seperti menebarkan aura kemuraman dalam perkembangannya, serta ditambah dengan tembok yang sudah mulai mengalami keretakan pada strukturnya. Jika dilihat dari jauh, bangunan ini seperti telah kehilangan nyawa dalam sejarahnya. Banyaknya bangunan-bangunan yang lebih modern membuatnya semakin tersingkir dan terlupakan dalam catatan sejarah.

Dibawah teduhnya pohon beringin, Azmi mengeluarkan buku sketsa dari dalam tas selempangnya, dicarinya lembaran yang masih kosong dan ia mulai menggerakkan tangan kanannya membentuk lekuk-lekuk garis yang mirip dengan benteng dihadapannya. Sebenarnya ia senang menggambar ilustrasi. Tapi berhubung kepalanya sedang  kekurangan ide, ia mengunjungi tempat ini guna mencari bahan untuk di rumah nanti—ia hanya menggambar sekedarnya saja, sebuah sketsa hitam putih yang nantinya akan dikembangkan olehnya di rumah.

Hobinya ini, baru dijalaninya ketika berada di kelas satu SMA. Perpaduan antara realisme dan abstrak menjadi karakternya dalam menciptakan berbagai karya ilustrasinya. Ide yang ia kembangkan begitu aneh dan seperti tidak masuk akal, hampir seluruh gambaranya sulit dipahami. Namun, sangat rapi.

Deni duduk  di atas motornya sambil melemparkan kacang ke dalam mulutnya. Tak lama, rasa kejahilan Rani pun timbul, ia merampas dari tangan Masnya, lalu membawa lari bungkusan kacang itu. Canda keduanya sesekali dilirik oleh azmi, dan ia hanya tersenyum geli.

“Hmmm, kamu mau usil lagi sama Mas ya? Oke, nanti nggak tak ajak pulang kamu, biar dimakan setan disini.” Deni terkekeh.

Tapi rani malah menjulurkan lidahnya, seperti anak kecil yang mengejek, lalu mengelak dari Deni.

“Awas kamu ya… Jangan lari!” Deni mencoba menangkap, tapi selalu lolos.

Tawa rani bukan main girangnya.

 Dalam setengah jam, akhirnya gambaran Azmi pun rampung. Ia menyelonjorkan kedua kakinya dan membaringkan tubuhnya sebentar. Pandanganya lekat di selaput langit yang diselingi dengan dahan-dahan beringin.  Ingatanya berpendar dan tersangkut  pada seorang perempuan tua berkulit langsat. Ia adalah istri dari Pakde Eko. Azmi  memanggilnya Bude Rose,  karena penampilannya serba kebarat-baratan, tapi sangat jauh jika dipadukan antara lekuk wajahnya yang indo oriental. Sepatu yang dipakainya juga bisa dibilang mahal dan terkesan bagus, karena  sepatu model chunky yang dipakainya ini, didapati olehnya saat berada di tempat pelelangan. Demi sepatu itu, Bude Rose harus bertarung harga kepada pengincar-pengincar yang lain hingga akhirnya sepatu itu lekat di kakinya. Wajar saja jika menjadi sepatu kesayanganya, lagipula memang hanya satu-satunya sepatu yang ia miliki. Azmi dan Budenya itu sering duduk bersama dan berbagi cerita di tepi sungai. Kalau berbicara, pasti ia selalu membumbuinya dengan humor-humor kecil. Kalau bersamanya, Dirinya tak mungkin bisa menahan tawa, Budenya sangat pandai memplesetkan kata, mengarang yang aneh-aneh, dan mengkayalkan sesuatu yang tak mungkin pernah terjadi di dunia ini.

     Sebenarnya tanpa sosok Bude Rose, jejaknya  mungkin tak pernah ada di negeri yang mempunyai julukan  kota seribu satu tangan itu. Keinginannya untuk langsung bekerja setelah tamat SMA, malah membuatnya menganggur habis-habisan di rumah. Oleh karena itu bapaknya  menyuruh  untuk mencoba bekerja di Singapore. Kebetulan disana ada budenya, yang bisa mencarikan kerja serta memberi tempat tinggal untuknya.

 Semasa disana, ia tinggal di sebuah apartemen yang terletak di daerah East Region, sangat dekat dengan changi airport, bersama budenya. Dan kemudian beliau menempatkan Azmi sebagai pelayan di sebuah restoran yang bernama chock full of bean, berada di blok 4 changi village road, walaupun gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayan.

Pada suatu malam, saat mereka duduk bersama di sebuah Kafé, budenya pernah menyampaikan sesuatu hal yang amat berharga dalam sejarah hidupnya. Sebelumnya ia belum pernah seserius itu. Pertama-tama beliau menyeruput dalam-dalam secangkir cofe latte, lalu diletakkanya kedua tanganya ke atas meja, wajahnya tegas dan  tak main-main, matanya memanah, menatap tajam dan penuh makna—lalu ia berkata:

“Azmi, walaupun bapak dan ibumu belum sanggup menyekolahkan kamu sampai ke perguruan tinggi, setidaknya kamu patut bersyukur bisa mendapatkan ijazah SMA. Di negeri kita, tidak sedikit orang yang bisa seberuntung kamu, bahkan sebagian diantara mereka, sama sekali tidak bisa mencicipi bangku pendidikan. Lagipula, orang pintar di negeri kita sudah banyak, tapi orang yang berahklak dan bermoral sangat sulit dicari. Mereka yang pintar, terkadang malah membodohi kepintarannya sendiri.

“Maksud bude?” ia sedikit tak paham.

“Kamu perhatikan mereka yang korupsi, mereka pintarkan?

“Hmm, sangat!” jawabnya.

“Tapi kenapa mereka korupsi?”

“Oiyaya..”

“Nah, kamu ngerti kan? Oleh karena itu, jadilah orang yang berahklak dan bermoral, karena pintar saja tak cukup. Oiya, kamukan suka menggambar, kalau bisa kembangkan saja bakatmu itu, setidaknya berkarya memang lebih baik. Bude ingat sekali apa yang dikatakan oleh presiden pertama kita, yaitu bapak IR.Soekarno, bahwa sebenarnya politik itu mengotori, sedangkan seni yang membersihkannya. Lihat saja betapa susahnya para seniman, penulis, atletis, mengharumkan nama Negara di mata dunia, eh, malah dikotori dengan rentetan permasalahan politik yang tak kunjung membaik. Nah, kamu sadarkan? ”

Ia mengangguk mantap. Nasehat itu, selalu tertata rapi di ingatannya, kebijaksanaannya sungguh membuat semangat mudanya berkoar-koar.

 “Woi! Ngelamun wae..” pekik Deni membuyarka lamunannya. “ayo pulang, udah mau malam”

Ia berdiri sigap dan memasukkan buku sktsanya ke dalam tas, “yuk!” jawabnya.

***

Esok harinya, Azmi menjalani kegiatan yang sangat senang dilakoninya sejak terjun ke dunia ilustrasi. Yaitu menyaksikan sebuah pameran lukisan. Kebetulan sekali hari ini ada sebuah pameran yang sudah berlangsung selama tiga hari sejak kepulangannya. Dan menurut informasi hari ini adalah hari terakhir.  Pameran diadakan di Balai Sudjatmoko yang terletak di jalan brigjend slamet riyadi. Untung saja jalanan pagi ini tidak terlalu macet, jadi ia bisa sampai sesuai jatah waktu yang diperkirakan.

Berada di dalam, rasanya seperti terkurung dalam ruang imajinasi, siapa saja pasti akan terpukau ketika menyaksikan karya-karya yang memikat hati ini. Sebanyak 40 karya dipamerkan yang merupakan hasil seleksi diantara 60 karya terbaik. Para perupa yang memamerkan karyanya tidak hanya berasal dari dalam kota saja, tetapi juga perupa dari luar kota, seperti : Wahyu Eko Nuroho, Ariefyanto, Hasan Gonang dan lain-lain. Azmi mengamati satu persatu lukisan, ia mencoba memaknai dengan pemikiran seadanya.

Hari semakin sore, jalanan macet marah, setelah puas menyaksikan pameran, ia langsung buru-buru pulang. Tapi apa daya, namanya juga kota, tak mungkin rasanya jika saban sore jalan selalu macet. Akhirnya ia tetap saja terjebak di sela-sela kerumunan. Suara klakson mobil saling sahut sana sini, ia terperangah, mengendus-ngendus, merasa terburu-buru ingin cepat sampai rumah. Karena langit hitam legam, kemungkinan sebentar lagi hujan akan turun.

“Woi! Jalan dong!” tiba-tiba orang di belakangya membentak.

“Iya sebentar!” Azmi kewalahan mengengkol si vape. “duh, pe…, kamu kok gini toh sama aku”

“Woi! Punya kuping nggak?

Azmi semakin panik, dan akhirnya ia menepi ke trotoar. “kamu kenapa toh nggak mau hidup pe?” lalu ia meminta bantuan kepada tukang sapu jalan untuk mendorongnya. “Mas, mas, nyuwun sewu, boleh minta tolong nggak?”

“kenapa mas? Motornya mogok?  Ya, wajar toh mas, namanya juga motor tua”

“Tolong dorongin dong mas?”

“yaudah, sini tak dorongin”

“siap ya mas? Ji, ro, lu! Terus mas, terus dorong seng kenceng!”

Sejauh 100 meter ditempuh tukang sapu untuk mendorong si vape, tapi tetap saja nggak mau nyala.

“Walah mas, mas, capek saya! Mesinnya nggak ngga mau nyala-nyala dari tadi.”

“Coba sekali lagi mas” Azmi memohon.

“Gah aku, cuuaapek banget lho mas, wong mesinnya udah rongsokan gini, masih tetep dipake.” Keluh tukang sapu sambil ngos-ngosan.

“Ayo mas, sekaliii lagiii, ya? Azmi mencoba memohon.

Si tukang sapu tak menjawab, ia malah meninggalkan azmi dengan wajah kesal. Sementara azmi tambah kebingungan, ia tak tahu letak penyebabnya di bagian mana. Andai pun tahu, ia pun juga tidak bisa memperbaikinya, karena semua peralatan kunci ada di rumah. Akhirnya, cara satu-satunya ialah menelpon Deni.

“Halo?”

“Halo Den, kamu bisa nggak bantu aku? Si vape kumat lagi.”

“Ooh, siap! Kebetulan aku baru selesai kuliah, lokasimu dimana?”

“Oke makasih den, nanti aku share location.”

“Siap!”

Deni pun mgebut di jalan, hanya dalam rentan waktu 15 menit, ia sampai ke tempat azmi.

“Kok tumben si vape kumat? Padahal baru dua hari diajak jalan.” Tanya deni.

“Aku juga nggak tahu Den.”

“Oke, gini aja…,, kamu tak anter pulang, terus nanti si vape biar dijemput sama temen kampusku.”

“Boleh deh Den, lagian juga mau hujan nih!”

 

 

 

Islahul Ibad

1.Pulang

Karya Islahul Ibad Kategori Project dipublikasikan 20 Februari 2017
Ringkasan
bagian pertama
Dilihat 20 Kali