23 Tahun Kemudian

Iskandar Zulkarnain
Karya Iskandar Zulkarnain Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Maret 2016
23 Tahun  Kemudian

Mobil Inova hitam pekat tua, yang ditumpangi Selamat untuk lamaran itu, membelah kota Medan, posisinya di Jalan Iskandar Muda, sebentar berhenti di lampu merah jalan Gajah Mada. Begitu lampu hijau kembali menyala, kendaraan mereka kembali berjalan dengan kecepatan sedang, tak perlu ngebut, tokh, keluarga wanita, tentunya, ?pasti akan menunggu.

Di ujung jalan Iskandar Muda, kembali kendaraan mereka berbelok ke kiri, masuk jalan Gatot Subroto. Tujuan mereka kota Binjai. Di kota yang berjarak 20 km dari Medan itu, Selamat akan melamarkan Hadi Nugraha, untuk wanita pujaannya, ?Lastri.

Jika saja, sampai Binjai nanti, kondisi jalan di hari minggu ini, tetap saja sesepi sekarang, maka empat puluh menit lagi, kendaraan mereka akan tiba di rumah Lastri. Itu artinya, masih pagi. Jadi untuk apa ngebut. Resiko yang didapat, tak sebanding dengan hemat waktu yang mereka kejar.

Tiba di perapatan lampu merah Jalan Gatot Subroto ? Jalan Darusalaam, mobil mereka kembali tertahan. Lampu merah baru saja menyala. Di ujung? matanya, Selamat melihat ke kiri. Ke jalan Darusalaam. Jalan itu sudah banyak berubah. Tak sekecil yang dulu lagi, ketika dia meninggalkan Medan 23 tahun lalu. Di sini, tempatnya tertahan, ketika itu, tak ada lampu merah. Sehingga, kendaraan akan tetap melaju.

Belum sempat Selamat, bernostalgia dengan Jalan Darusalaam itu, lampu hijau kembali menyala. Mobil Inova itupun kembali berjalan. Masih dengan kecepatan yang sama. Tak ada yang perlu di kejar. Santai saja.

?Pak Selamat, masih hapal jalan-jalan di Medan?? tanya Hadi

?Masih lah Pak Hadi? jawab Selamat.

Bahkan, jalan yang baru saja kita lewati tadi, jalan Darusalaam, sangat hapal. Di sana saya hapal dengan seluruh detailnya, senti demi senti, dengan seluruh kenangan yang melekat di sana. Bathin Selamat.

?Sudah lama meninggalkan Medan pak?? tanya Hadi lagi.

?Sudah 23 tahun lalu? jawab Slamet lagi.

?Dulu tinggal dimana pak??

?Di sekitar sini? jawa Slamet lagi ringkas.

Bah, kok makin nyinyir aja, nih pak Hadi bertanya. Selamat berdo?a, semoga Hadi tidak bertanya lagi. Selamat bukan tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan Hadi. Tapi, harus dengan apa dia jawab pertanyaan itu. Selamat tak ingin berbohong.

Mobil Inova hitam pekat, yang membawa Selamat dan Hadi itu, terus juga melaju. Kini, momumen TD Pardede telah mereka lalui, itu artinya, jarak untuk tiba di Binjai, sudah semakin dekat.

Setelah menyebarangi jembatan, sebelum masuk kota Binjai, supir bertanya pada Hadi, kemana arah yang dituju. Sebelum Hadi menjawab, Selamat telah lebih dulu menjawab. ?Tujuan kita,? Tanah Seribu?. Sejenak setelah melewati kota tua Binjai, supir mengambil arah ke kiri. Tujuannya jelas.? Tanah seribu.

*****

Hari minggu pagi itu, jam baru saja menunjukkan pukul sepuluh pagi. Di ruang tamu, telah berkumpul anggota keluarga Lastri. Ada Ibunya yang mengenakan cadar, hingga hanya terlihat kedua matanya saja. Ada Adik dari Ayah Lastri, ada ustad Alamsyah, sedang ayah Lastri tak ada, beliau sudah dua tahun yang lalu meninggal.

Sedang ?keluarga? yang datang dari Medan untuk melamar Lastri, ada Hadi, ada Selamat dan Supir,? pak Khoirudin.

Acaranya, lamaran. Hadi akan melamar Lastri.? Perkenalan mereka yang telah berjalan enam bulan, hendak dilanjutkan dalam ikatan rumah tangga. Tak perlu berlama-lama pacaran, tokh usia mereka sudah cukup, juga untuk menghindari dosa. Demikian ucapan Lastri pada Hadi. Ucapan yang sebenarnya, pesan dari Ibunya. Sebagai isyarat bahwa keluarga wanita sudah welcome, jika saja Hadi berniat untuk melamarnya.

Semua bawaan yang disarankan Lastri, untuk dibawa ketika lamaran, sudah diletakkan seluruhnya di atas meja. Rasanya, cukup semua syarat yang diminta.

Demikian juga syarat keluarga. Hadi telah membawa Selamat, sebagai pengganti orang tua, untuk melamarkan Lastri, pada keluarganya. Rasanya. Tak ada lagi alasan untuk menolak lamaran yang akan mereka ajukan.

?Demikianlah, maksud kami Bu, untuk melamar putri Ibu? Selamat menyudahi semua kalimat-kalimat pembuka, ketika melamar lastri.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Ibu Lastri, bahkan muka teduh itu, kini nampak tertunduk. Tak ada suara. Hening. Suasana yang berlangsung sesaat itu, cukup mencekam. Ada apa ini? Apakah lamaran mereka akan tertolak? Tapi, apa iya. Bukankah semua saran yang Lastri kemukakan pada Hadi, telah mereka penuhi semua.? ?

Selamat menatap pada Hadi, Hadi menatap lama pada Selamat. Seakan bertanya, apa arti semua yang terjadi ini. Tatapan Selamat, seakan menjawab, bahwa Selamat, juga tidak tahu, artinya semua itu.

?Baiklah Pak Selamat, sebelum kami menjawab iya atau tidak, ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal kami? kata Ustadz Alamsyah mewakili keluarga Lastri.

?Silahkan tanya? pak, hal-hal yang belum jelas? kata Selamat pula.

?Saya ingin jawaban yang jujur pak Selamat? kata Ustadz Alamsyah lagi.

?Tentu pak, saya akan jawab dengan jujur? Jawab Selamat.

Ada apa ini? bathin Selamat. Apakah tampangnya, menggambarkan seorang yang tidak jujur? Atau karena dialek Medannya yang masih kental, sedang Hadi, dialek Jawanya masih medok, sehingga menimbulkan kecurigaan, ketika dia melamarkan Hadi untuk Lastri.

?Baiklah..? kata Kata Ustadz Alamsyah lagi.

?Apakah pak Selamat masih keluarga nak Hadi?? tanya ustadz Alamsyah mulai bertanya.

?Tidak pak?? jawab Hadi singkat.

?Mungkin, orang tua nak Hadi, masih ada hubungan darah dengan pak Selamat??

?Juga tidak Pak?

?Juga Ibu nak Hadi masih punya hubungan darah dengan pak Selamat??

?Juga tidak Pak? jawab Selamat singkat.

?Lalu, apa hubungan Pak Selamat dengan nak Hadi??

?Saya dengan Pak Hadi satu proyek Pak. Saya kepala Logistik, sedangkan pak Hadi Project Manager. Karena, orang tuanya tak dapat datang dari Jawa untuk melamar Lastri, maka saya, sebagai orang yang tua usianya di Proyek, diminta tolong sama pak Hadi untuk melamar Lastri.? Urai Selamat.?

?Pak Selamat asalnya dari mana?? tanya ustadz Alamsyah lagi.

Wah? brengsek nih, ustadz Alamsyah, pake tanya asal usul segala. Bathin Selamat. Tapi, karna sudah berjanji akan menjawab dengan jujur, maka Selamatpun bercerita tentang asal usulnya.

Dia yang asal Medan, tepatnya sekitar jalan Darussalaam, dulu menikah dengan Mariana,? lalu, karena kesulitan ekonomi, keluarga kecil yang baru dikarunia anak satu itu, sepakat, Selamat merantau ke Jakarta, jika sudah memungkinkan, akan menjemput Mariana dan anak semata wayangnya, untuk boyongan ke Jakarta.

?Apakah Pak Selamat, kembali untuk menjemput Mariana??

?Di Jakarta, saya hidup susah, saya kembali lagi setelah lima tahun. Tapi??

?Tapi, apa Pak?? kejar Ustad Alamsyah.

?Mariana dan anak semata wayang kami, sudah tak ada?

?Kemana mereka??

?Itulah yang saya tidak tahu, daerah itu, setelah kebakaran besar terjadi, dihuni orang yang sama sekali baru. Mereka tak kenal Mariana?

?Lalu??

?Lalu, setelah saya dua minggu di Medan tak berhasil menemukan mereka, saya kembali ke Jakarta, membina rumah tangga baru..?

?Berapa anak Pak Selamat dengan rumah tangga yang baru??

?Saya tak dikaruniai anak pak, bahkan isteri saya meninggal tiga tahun lalu?

?Terus?.?

?Tiga bulan lalu, perusahaan saya, mengirim saya ke Medan untuk mengerjakan Mall di Medan. Di Proyek saya kenal dengan pak Hadi?

?Masih suka mencari Mariana??

?Masih Pak. Jika hari libur, meskipun saya gak begitu yakin bakal ketemu?

Ruangan tamu itu, kembali sunyi. Selamat seakan ditelanjangi oleh Ustadz Alamsyah. Selamat tak mengerti, apa semua tujuan Ustadz Alamsyah menginterogasinya. Kalau saja, bukan karna Hadi, bukan karena terlanjur akan berkata jujur. Dia tak akan bercerita tentang dirinya. Tentang masa lalunya, yang sudah dia kubur dalam-dalam, yang tak perlu orang lain tahu.

?Baiklah, lamaran Pak Selamat kami terima, dengan satu syarat? kata Ustadz Alamsyah memecah keheningan ruang tamu.

?Katakan saja syaratnya Pak? jawab Selamat pula.

Kagok sudah datang, maju terus, pantang mundur. Anak Medan, manapula bisa ?ditantang-tantang. Kau jual tadz, aku beli cash, bathin Selamat lagi.

?Pak Selamat harus melamar Ibu Lastri juga? kata Ustadz Alamsyah pelan. Tapi ditelinga Selamat bagi petir yang menyambar. Hampir saja, dia memaki Ustadz Alamsyah sebagai ustadz gila. Kalau saja, Selamat tak mendengar tangisan yang pecah dari Ibu Lastri.

Cadar yang menutupi wajah Ibu Lastri, dia buka. Wajah itu kini berurai air mata, wajah itu, wajah yang sangat dia kenali, wajah yang selama ini dia cari, bahkan hingga tiga bulan terakhir Selamat di Medan. Wajah Mariana.

?Karena, sesungguhnya, Lastri adalah anak Pak Selamat, dan Ibu Lastri, Mariana, adalah mantan Isterinya? kata ustadz Alamsyah lagi.

Selamat sudah tak mendengarkan apa yang disebut ustadz Alamsyah yang terakhir ini, dia langsung berdiri, dengan sekali langkah, dia sudah menyebarangi meja tempat mereka duduk. Selamat bersimpuh pada kaki Mariana. Ungakapan penyesalan yang sangat. Belum lagi, kepala itu menyentuh kaki Mariana, Mariana telah mengangkat kepala Selamat. Mereka berdiri berhadapan.

Entah siapa yang memulai, mereka sudah berpelukan. Lastri, entah kapan serta, ketiga anak beranak itu sudah berpelukan. Tangisan tumpah pada ketiganya. Tangisan dengan sejuta makna. Tangisan penanda setelah 23 tahun kemudian.?

?

?

?

???

  • view 209