A Star Wars Story

Isro Hariadi
Karya Isro Hariadi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Desember 2016
A Star Wars Story

“ Rasa percaya seharusnya dua arah”  dimaksudkan Jyn kepada cassian, cassian akhirnya mengurungkan niat mengambil pistol laser yang ada pada Jyn. Cuplikan adegan ini mulai membangkitkan janjiku akan  menonton seri film Star Wars sebelum sebelumnya dan yang akan rilis tahun tahun berikutnya.

Sabtu malam pertengahan desember, aku sebenarnya ingin menonton timnas yang akan berlaga pada final AFF Suzuki. Niatku, selepas maghrib melaju keseputaran kota lama, mencari tempat nonton (dirumah tidak punya tv), sangkaku pasti ada beberapa bengkel bernamakan perusahan otomotif jepang tersebut yang  mengadakan nobar (nonton bareng), mungkin semacam promosi terselubung atau bisa jadi juga rasa cinta akan tanah air yang  tiba tiba berapiapi.

tapi niat hanya akan menjadi niat kosong belaka jika muncul niatan lain, niatan mendadak yang lebih menarik.

Siang menjelang sore, aku masih berwajah kusut. Sisa dari tidur semalam yang terganggu. Perut pun ikut ikutan begitu, mengkerut tidak diisi karena sedari pagi rasa malas menjadi-jadi. Handphone yang baru kusentuh pun ikut melenguh, tut tut...tut tut minta diisi listrik. Notif pesan yang ingin dibaca begitu banyak, tapi kuabaikan begitu saja karena nama pengirim yang kunantikan tak kunjung ada.

Hari hariku makin kusut dibuatnya.

Bunyi perut yang meraung raung menyentil sisi sentimenku menjadi mode sisi logika, aku lalu membalas salah satu pesan masuk dari seorang teman dan berlanjut janji hangout bareng.

“kak bbm nah klw kaka udah mau otw d tamkot, soalnya kita lagi d tamkot”

Setelah makan tertuntaskan, aku melaju ke taman kota menghampiri manusia manusia yang katanya geng termahal didunia (versi mereka) hahahaha. Guyonan, kelakar dan percikan percikan rasa persahabatan yang terjadi memang begitu menenangkan, terlebih masing masing kami mengerti dunia menjadi sedemikian tega jika kita sedang bertarung sendiri.

Gangguan tidur yang kualami semalam terlupakan bersama mereka hingga menjelang maghrib, selepas berpamitan pulang kerumah masing masing, aku memilih menunggu adzan disebuah masjid dekat dengan bioskop kota.

“Rogue One ; A star wars story” terpampang jelas digelar.

Sholat maghrib usai, aku memberikan senyuman terbaikku kepada sang penjaga loket ketika sudah tiba dipintu masuk bioskop.

“D8 Rogue One” sergahku

Wanita yang sudah hapal dengan wajahku membalas dengan seringainya yang khas, pertanda kursi langgananku itu sudah diambil orang. Dia lantas memberikan tiket dengan nomor kursi persis didepan yang kuminta.

“ndak apaapa ji, sesekali ganti kursi ko” 

Aku memang aneh soal menonton film dibioskop, karena memang tergilagila dengan film. Jadi aku usahakan menikmatinya dengan presisi yang bagus pula. Jarak pandang kelayar yang mampu membuatku nyaman untuk mengikuti alur cerita. Nomor kursi itulah nomor terbaik yang aku sangka.

Rogue One, sebuah film spin off dari series star wars menurut kacamataku yang berbingkai tebal ini masuk kategori “harus nonton”. Ya bagaimana tidak, dramanya dapat, Aksinya memukau, pemeran pemeranya bermain bagus dan yang paling penting naskahnya bagiku awesome. (imdb mengganjar fim ini dengan rating 8,3 tertanggal 18 desember 2016).

Rogue one bercerita tentang Jyn Erso dan Cassian Andor beserta komplotannya yang berniat mendamaikan jagat perangkasaan/galaksi dengan cara ingin menghancurkan Death Star. Inti ceritanya hampir sama dengan inti cerita film star wars yang telah aku nonton sebelumnya, yakni Star wars episode VII, The Force Awakens. Eh, bukan hanya episode VII sih, sepertinya inti cerita film star wars yang lain ya memang sama, ya memang berkaitan dengan perdamaian. Hanya saja alur nya berbeda, caranya berbeda dan aku tidak bisa menjelaskannya secara detail karena demi keselamatan namaku dari teriakan spoiler oleh penikmat film yang lain.

Singkat cerita, Rogue One memang punya banyak kejutan untuk penikmat film, terutama yang ngefans berat akan franchise Star wars. Congratulation Gareth Edwards!! 

Satu setengah jam tak terasa, kursiku menjadi hangat karena pantatku sama sekali tak bergerak selama menonton. Jadi, radiasi panas yang berasal dari bawah tubuhku itu terperangkap total, mungkin juga sebagian uap yang tidak sedap (hahaha). Fokus menonton film membuat waktu berjalan begitu cepat, begitu juga dengan langkah kakiku yang bergegas cepat cepat keluar gedung bioskop. aku fokus menghindari tatapan wanita penjaga loket, karena takut wanita penjaga loket itu melihatku dan meneriakan teriakan sadis, seperti yang dilakukannya dulu dulu.

“maap hadirin sekalian, tolong perhatikan sekitar kalian. Awas!, ada jones lewat”

Sial, imajinasiku memang liar. aku melirik kearah loket, seringai wanita penjaga loket itu yang juga memang temanku seakan akan menyuguhkan keinginan meneriakkan hal tersebut, seolah olah dia mampu membaca kecemasanku. Aku balas seringai wajahnya dengan gerakan jari telunjuknya memotong leherku. Kami berdua tertawa dari kejauhan. Hahaha

Aku melaju pulang didalam keramaian malam, kenapa bisa ramai? Yaiyalah. Malam minggu memang budaya yang aku tidak tau kapan punahnya. Aku mengecek bensin ternyata sedang berada pada jarum merah. aku Langsung memutar berbalik arah, mencari arah lain jalan pulang yang kemungkinan besar menemukan penjaja bensin eceran.

“mas, thailand juara. Abdu lestaluhu kartu merah” tidak ada angin maupun hujan, penjaja bensin itu nyeletuk.

"yaaaaah" aku melenguh tak bersemangat

Seketika, aku ingat kembali gangguan tidurku kemarin malam akibat ocehan bapak penjaja bensin eceran tersebut. Perjalanan pulangku menjadi drama india tontonan emak emak yang ga kelar kelar. (ah lebay).

“ Rasa percaya seharusnya dua arah”  benakku mengingat kembali ucapan Jyn kepada Cassian. Ini tidak ada kaitannya timnas yang gagal meraih juara. Hanya faktanya semakin kuat, satu kesedihan mampu membangkitkan kesedihan kesedihan yang lain.

Gangguan tidurku semalam itu tentang sebuah teori rasa percaya. Aku percaya padanya dan siap dengan sungguh menghadapi apapun resiko hidup bersamanya, apapun. Bagiku misteri ya biarkan menjadi misteri yang dengan senang hati siap aku ungkap bersamanya, aku percaya kehidupan yang lebih baiklah yang  akan aku jelang bersamanya. Tetapi, aku belum melihat dia menunjukan hal yang sama ataupun semacam ucapan tegas yang menggugah jiwa.

seperti ini :

“aku percaya padamu, dan aku ikuti kemanapun kau mau. aku ambil resiko hidup bersamamu sebab aku percaya kehidupan baiklah yang akan aku jelang nantinya bersamamu”

Bagaimana tidak terganggu tidurmu kawan, jika sebulan lagi kau akan menikah dengannya?

kembali ke Jyn dan Cassian. sebelum memasuki pesawat Jyn menemukan pistol laser dibagian luar pesawat, lalu sang robot milik cassian ngoceh, mengapa Jyn diizinkan memegang pistol sedangkan dia tidak. lalu cassian meminta jyn untuk memberikan pistol itu kepadanya, jyn berujar " bukankah seharusnya rasa percaya itu dua arah?" . cassian memilih percaya dan hasilnya film ini ratingnya delapan koma tiga, eh bukan itu deng, hasilnya mereka.....mereka (takut spoiler). tonton saja ya, keren pokoknya!

aku memilih percaya padamu, bagaimana denganmu? 

bukankah seharusnya rasa percaya itu dua arah?

 

Kendari, 18 Desember 2016

  • view 186