Jika kebaikan

Irvan Cendickya
Karya Irvan Cendickya Kategori Motivasi
dipublikasikan 21 Maret 2016
Jika kebaikan

Jika kebaikan yang aku lakukan menjadikan diri mu lebih baik, aku tidak akan menampiknya. Toh aku bersyukur, kebaikan ku berbuah manis.
Namun jika lebih baik menurutmu hanya di mata manusia, aku menyangsikannya bahwa kebaikanmu tidak bernilai apa-apa di mata dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Jika kebaikan yang aku lakukan menyalahi niat awalku dalam mengajakmu pada kebaikan, ingatkan aku, ingatkan bahwa aku manusia yang jauh dari kata baik. Kehendak-Nya lah yang bisa menuntunku dalam mengajakmu pada kebaikan. Sungguh Dia sebaik-baiknya pemberi dan perencana,

Jika kebaikan yang aku lakukan membuatmu sinis pada ku, maafkan aku, aku tidak bermaksud ingin menimbulkan dengki di hatimu. Sungguh, inginku hanya agar aku, kamu, kita dan mereka bersama-sama menuju jalan yang lurus. Lebih-lebih ke Surga. Bukankah menuju tempat itu adalah tujuan setiap insan manusia?

Hanya saja kadang kita, aku, kamu dan mereka perlu diingatkan tentang tujuan ke tempat itu. Mungkin kali ini aku yang memperingatkanmu agar tak salah dalam menuju tempat itu. Tapi lain kali bisa saja engkau yang memperingatkan ku untuk kembali menuju tempat itu.

Hanya saja tidak semua aku, tidak semua kamu, tidak semua kita, apalagi mereka sadar bahwa menuju tempat tersebut ada sebuah peta yang harus kita bawa. Karena peta itu menjaminkan kita dari kesesatan. Peta itu begitu penting. Karena nyawa kita dipertaruhkan oleh peta itu.

Kau mungkin menebak peta apa yang aku maksudkan? Peta yang aku maksud adalah agama, dengannya aku yakin kita tidak akan tersesat. Namun benarkah peta itu sudah benar? Jangan-jangan kita membawa peta yang salah. Namun sebelumnya, peta itu ternyata mempunyai seorang guide utk bisa membantu kita menuju tempat itu. Guide itu bernama Muhammad SAW. Setahuku, peta lain sudah tidak mempunyai guide nya lagi. Malah guide nya dianggap sebagai orang yang menciptakan tempat itu.

Anehnya, ternyata peta itu menyuruh kita membawa senter agar kita tidak kegelapan menelusuri tempat itu, siapa tahu saat kita berjalan kita tidak melihat lobang di depan. Senter itu disebut keimanan. Dengannya kita bisa selamat.

Tapi tidak sampai disitu, peta itu menyuruh kita membawa senjata dan tameng. Siapa tahu kita diserang binatang buas. Setahuku, tempat yg kita tuju itu memang berat dan jauh. Tapi tak apalah, bukankah tempat itu adalah tujuan akhir kita? Perlu bekal yang banyak untuk mengarunginya. Oh ya senjata dan tameng itu diberi nama Alquran dan As-sunnah.

Wah ternyata masih belum cukup, kau tentu tidak ingin kesana sendirian kan? Bukankah perjalannya jauh dan berat. Tentu kau butuh orang untuk menemani bukan? Nah karena itulah aku hadir untuk menemanimu, bukankah tujuan kita sama? Bukankah lebih baik jika aku bersamamu? Aku ketakutan mengarungi jalan menuju tempat itu. Siapa tahu aku diserang binatang buas, kau datang untuk membantuku. Aku memintamu untuk bersama-sama, membangun sebuah koloni dan mengajak yang lain juga. Bukankah semakin banyak semakin bagus? Bukankah ga ada kamu ga asik?

Itulah yang ingin aku sampaikan, mungkin saat ini engkau meremehkan ajakanku ke sana, sejujurnya bukan karena aku sudah merasa benar, tapi justru aku takut merasa benar dan sempurna. Bukankah hanya Dia, Dzat Yang Maha Benar?

Jika kebaikan ku kau anggap omong kosong belaka, maka ketahuilah, setidaknya kau memperhatikanku, setidaknya kau bisa berkata begitu karena memang begitu bukan?

Jika kebaikan ku membuatmu berbuat baik, maka berterima kasihlah kepada-Nya dan.......

Doakan aku.

  • view 152