Komunisme, G30S/PKI dan teori konspirasi

Irma Susanti Irsyadi
Karya Irma Susanti Irsyadi Kategori Politik
dipublikasikan 01 Oktober 2017
Komunisme, G30S/PKI dan teori konspirasi

Picture is taken from https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/8d/DN_Aidit_speaking_at_PKI_election_meeting_1955.jpg


1. MENGENAI KOMUNISME (dan ateisme)

Banyak orang salah paham meletakkan komunisme sebagai dogma sejajar dengan agama. Padahal, komunisme merupakan sistem komunitas yang merujuk pada tatanan stabilitas ekonomi.

Tahun 1848, Seorang jurnalis (yang juga ahli sosiologi dan filosofi) bernama Karl Marx menulis buku berjudul "The Communist Manifesto". Buku yang sampai berabad-abad kemudian menjadi hantu di kalangan banyak orang, sebab ia menjadi landasan bagi paham komunisme.

Dasar paham komunisme menyatakan bahwa, setidaknya ada dua jenis golongan manusia. Kaum proletar dan kapitalis (atau borjuis pada masa tersebut). Kaum proletar adalah mereka yang harus bekerja untuk bisa survive. Sementara, kapitalis kerjanya hanya menikmati hasil kekayaan yang diusahakan oleh proletar. Istilah lainnya; kaum pekerja dan tuan tanah.

Kedua pihak ini pada satu titik akan bersinggungan dan menciptakan perubahan. Dalam bahasa komunisme, perubahan tersebut disebut sebagai "revolusi".

Dalam perjalanannya kemudian, komunisme yang berkembang tidak hanya bersumber dari Karl Marx (yang kemudian disebut Marxisme) namun juga dari Lenin, Stalin dan Mau Ze Dong.

Vladimir Lenin, adalah pendiri USSR atau Uni Soviet. Tahun 1917, melalui peristiwa "February Revolution", ia menggulingkan kekuasaan Tsar Rusia. Sebagai seorang yang menganut Marxism, ia percaya bahwa kapitalisme harus didepak dan diubah menjadi sosialis.

Mao Zedong atau Mao-tse Tsung adalah pemimpin Republik Rakyat Cina (RRC) dari tahun 1949 - 1976. Di masa kekuasaannya, Mao memimpin reformasi negerinya sendiri, mengubah tatanan perekonomian RRC dari negara agraris menjadi industri.

Perubahan yang dilakukan Mao menyeluruh hingga ke budaya dan agama. Selama kepemimpinannya, diyakini, 70 juta orang menjadi korban atas keinginannya untuk "memurnikan revolusi kaum buruh". Diantaranya dengan menghancurkan situs sejarah, menghapuskan dan melarang agama dan ritual.

Jika Anda mau membaca banyak perihal komunisme ini, ada banyak bahan bacaan di internet yang akan dengan gamblang menjelaskan panjang lebar mengenai apa itu komunisme.

Komunisme adalah sistem ekonomi yang ingin menghapuskan kelas-kelas manusia secara ekonomi. Sistem perekonomian diserahkan pada rakyat dan dikelola bersama dan dinikmati bersama secara merata.

Kesalahpahaman banyak orang adalah menghubungkan komunisme dan ateisme. Padahal ini jelas dua hal yang berbeda.

Atheism/ateisme adalah pandangan yang menolak prinsip ketuhanan. Sementara komunisme adalah soal paham sosial ekonomi.

Agaknya yang membuat banyak orang terkecoh adalah kenyataan bahwa Karl Marx, sang Bapak komunis adalah seorang atheis dan pernah mengatakan bahwa "agama adalah candu" semata-mata karena Marx melihat agama hanya dijadikan alat untuk menghibur diri dari kesulitan ekonomi.

Jadi, sekali lagi. Komunisme dan ateisme itu BERBEDA.

Apakah mungkin seorang komunis beragama?

Sangat mungkin.

Malah ada istilah "religious communism"

Silakan di baca di sini https://en.m.wikipedia.org/wiki/Religious_communism

Meskipun begitu, sejarah mencatat rata-rata, penganut paham komunisme biasanya tidak beragama, sebab sistem yang mereka yakini bertabrakan dengan dogma keagamaan.

Walentina Waluyanti de Jonge, penulis yang pernah membuat buku tentang Soekarno menyebutkan bahwa seorang atheis belum tentu komunis. Namun seorang komunis hampir bisa dipastikan ia seorang atheis.

Bisa dibaca di sini http://walentina.waluyanti.com/history-politics/302-penyebab-mengapa-komunis-harus-atheis

2. G30S/PKI ;antara Soekarno, Soeharto, CIA dan Freeport

Jika ada film Indonesia yang tercatat memiliki rekor penonton terbanyak, saya yakin film garapan Arifin C. Noer "Penumpasan G30S/PKI" adalah juaranya.

Diputar setiap tanggal 30 September setiap tahunnya, film ini sukses menjadi mimpi buruk bagi anak-anak generasi 70-90 an.

Pasca reformasi 1998, anak-anak Indonesia bisa bernapas lega, sebab film fenomenal ini tak lagi tayang sebab mulut yang asalnya diberangus tiba-tiba dapat bersuara. Banyak pihak memertanyakan keabsahan fakta-fakta yang tertuang dalam film tersebut. Sampai hari ini, fakta tersebut sebetulnya tak juga muncul (yang sebenarnya).

Setelah ketenangan selama kurang lebih 19 tahun tanpa film horor tersebut, tahun ini masyarakat Indonesia dibuat tercengang sebab Panglima TNI, Gatot Nurmantyo mewajibkan seluruh korps militer menonton ulang film ini.

Selama seminggu terakhir ini pula dinding media sosial saya ramai dengan pelbagai pembahasan PKI.

Saya pun ikut banyak membaca. Topik komunisme dari dulu selalu menjadi daya tarik tersendiri, sebab revolusi tahun 1965 barangkali adalah peristiwa terbesar kedua setelah kemerdekaan kita pada tahun 1945.

Almarhumah Nenek saya, dulu sering bercerita mengenai kekejaman PKI. Kakek yang adalah guru agama, menjadi musuh PKI, yang kabarnya membenci kaum beragama.

Dari nenek pula, saya tahu banyak sekali orang Indonesia (termasuk tetangga) yang pasca G30S/PKI tidak tahu menahu, tiba-tiba dituduh antek-antek PKI dan ditangkap tentara.

Selebihnya, saya yakin Anda sudah tahu. Kita semua sudah dicekoki sejarah yang sama selama bertahun-tahun.

Beberapa hari terakhir ini, saya banyak berdiskusi dengan sahabat saya di rumah. Kami banyak membaca pelbagai referensi (baik lama maupun baru) mengenai peristiwa ini. Mungkin saja kami salah, namun inilah pemahaman yang kami dapat.

Komunisme di Indonesia

Indonesia mungkin salah satu negara yang terkena imbas paham kiri yang berkembang pesat pada tahun 1960-an.

Partai Komunis Indonesia (PKI) didirikan pada tahun 1914 dan tercatat sebagai partai ketiga terbesar di tahun 1965. Dengan jumlah pengikut diperkirakan mencapai tiga juta orang, Indonesia menjadi negara yang menerima paham komunisme terbesar setelah Rusia dan Cina.

Soekarno, pemimpin kemerdekaan sekaligus presiden Indonesia adalah alasan mengapa komunisme diterima. Ajaran Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis) adalah ide Soekarno yang menginginkan ketiga paham ini hidup damai harmoni.

Pada bulan Februari 1965, Soekarno membuat sebuah gagasan yang disebut "demokrasi terpimpin". Soekarno menginginkan kabinet Menteri diisi dengan jumlah orang-orang seimbang dari ketiga kelompok tersebut (Nasionalis, religius, komunis).

Di luar pemerintahan, PKI sudah menyelusup ke pelbagai lapisan masyarakat. Dengan jargonnya "sama rata sama rasa", PKI berhasil meraih simpati masyarakat yang merasa hidup tertindas sistem kapitalis. PKI menggeliat dan merangkul banyak simpatisan, sadar atau tidak sadar (yang betulan ikut atau cuma ikut-ikutan).

Para petinggi militer sendiri, merasa gerah dengan kondisi ini. Jendral Ahmad Yani dan Jendral Nasution dikabarkan tidak berkenan dengan susunan kabinet yang "penuh dengan orang-orang kiri".

Intrik di dalam pemerintahan juga dirasakan oleh mereka yang tergabung dalam PKI. Tak lama kemudian, tercium kabar bahwa para petinggi militer telah membentuk sebuah kelompok yang disebut dengan "Dewan Jendral". Pihak PKI percaya bahwa kelompok ini bermaksud melakukan makar untuk melakukan reshuffle kabinet dan (kemudian) menggulingkan kepemimpinan Soekarno. Isu yang entah benar atau tidak.

Tak mau ketinggalan start, PKI kemudian melakukan tindakan penculikan terhadap ketujuh petinggi militer di subuh hari tanggal 30 September 1965 atau menjelang 1 Oktober 1965.

Keenam jenderal dan satu ajudan (Lt. Pierre Tendean) berhasil mereka eksekusi dan buang ke Lubang Buaya. Sedangkan Jendral Nasution berhasil kabur ke rumah tetangganya, kediaman Dubes Irak. Meski begitu, Nasution harus rela kehilangan anak bungsunya, Ade Irma yang tertembak senjata pasukan Tjakrabirawa yang datang ke rumahnya.

Keberadaan pasukan Tjakrabirawa ini merupakan plothole yang ada dalam skenario coup-d'état ini. Sebab Tjakrabirawa adalah pasukan khusus pengawal Presiden (hari ini kita mengenalnya sebagai Paspampres).

Pihak yang punya akses tehadap pasukan Tjakrabirawa tentulah Presiden (atau orang yang dekat). Sehingga ada kalangan yang menduga bahwa Soekarno sendiri lah yang memerintahkan pasukan Tjakrabirawa untuk "membawa" para jendral untuk diajak "bicara" mengenai situasi negara yang sedang dianggap penting.

Kalangan lain berspekulasi, bahwa Soekarno hanya ingin bertemu dengan para Jendral (dalam film diperlihatkan bagaimana pasukan tentara mengatakan pada Jendral Ahmad Yani bahwa ia ditunggu oleh Bapak Presiden). Namun pemanggilan para jendral ini kemudian disusupi kepentingan PKI yang menyabotase pasukan Tjakrabirawa hingga melaksanakan apa yang sudah mereka rencanakan.

Plothole lainnya adalah sosok Soeharto, yang disebut anak emas Soekarno. Soeharto adalah perwira Pangkostrad dengan jabatan Mayor Jendral. Soeharto diyakini memiliki persamaan sikap dengan Yani dan Nasution, yaitu berseberangan dengan PKI. Mengapa Soeharto tidak ikut diculik? Itu menjadi salah satu pertanyaan banyak orang. Sumber tertentu menyebut Soeharto sempat melakukan pertemuan dengan Kolonel Untung yang adalah komandan Tjakrabirawa. Pertemuan apa dan bahasan apa masih menjadi misteri.

Soeharto sendiri sempat menuturkan bahwa pada malam 30 September, ia mendampingi Bu Tien di RS karena Tommy Soeharto mengalami kecelakaan berupa tersiram kuah panas sup kaldu ayam yang dimasak Bu Tien.

Apapun itu, peristiwa berdarah penculikan tujuh jenderal terjadi. Enam jenderal berhasil diciduk dan dibunuh, berikut ajudan Nasution bernama Pierre Tendean.

Kurang dari 24 jam kemudian, aksi PKI yang dipercaya sebagai upaya kudeta ini berhasil digagalkan oleh militer. Tercatat Soeharto sebagai panglima pangkostrad dibantu Sarwo Edhi Wibowo (ayah Ibu Ani Yudhoyono) berhasil memimpin militer untuk menumpas PKI. Aidit, Nyoto, Syam dan Kolonel Untung berhasil dieksekusi.

Bola tidak berhenti bergulir. Setelah situasi ibukota dinilai aman, militer mulai bergerak untuk menghabisi PKI hingga ke akar-akarnya. Semua orang yang "dinilai" terlibat langsung maupun tidak langsung dihabisi saat itu juga.

Sejarah mencatat sekitar satu juta rakyat Indonesia mengalami genosida, pembersihan masal disebabkan mereka dicurigai sebagai bagian dari PKI atau simpatisan. Sungai-sungai di Jawa, Sumatera dan Bali disebut-sebut berubah warna menjadi merah karena banyak korban penembakan yang dibuang ke sana.

Tak cukup sampai situ, semua keturunan PKI dan simpatisannya kemudian diberikan kutukan seumr hidup. Gelar "eks tapol" mereka dapatkan bahkan sejak lahir. Kesulitan mendapat pekerjaan dan dipandang rendah oleh masyarakat adalah harga mahal yang harus mereka terima, hanya karena leluhur mereka dianggap bersimpati dan atau terlibat dengan PKI.

Pasca September 1965 sendiri, Soeharto berhasil naik menjadi Presiden melalui Supersemar. Polemik Supersemar sempat mencuat sebab ada kalangan yang menganggap Soeharto melakukan "modifikasi" terhadap surat Supersemar yang asli.

Wallahu'alam.

Teori konspirasi

Yang sempat mengejutkan dunia adalah (lagi-lagi) kebocoran informasi CIA yang menyebutkan peristiwa G30S/PKI disutradarai oleh Amerika Serikat.

Kata kuncinya : Freeport.

Forbes Wilson adalah direktur perusahaan Freeport Sulphur, perusahaan tambang Amerika yang awalnya melakukan ekspansi ke Kuba.

Tahun 1959, perusahaan ini terancam gulung tikar karena Fidel Castro naik menjadi Pemimpin Kuba. Kebijakan Castro menasionalisasikan seluruh perusahaan di seantero Kuba membuat perusahaan Wilson sulit berkembang. Berkali-kali Castro mengalami percobaan pembunuhan, namun semuanya gagal.

Tahun 1960, Forbes Wilson bertemu dengan Jan Van Gruisen, direktur perusahaan East Borneo Company. Gruisen mengungkapkan adanya dokumen mengenai kekayaan gunung Ersberg (gunung tembaga) di Irian Barat. Dokumen ini tersimpan selama bertahun-tahun di perpustakaan pemerintah Belanda tanpa ada yang melirik.

Tertarik dengan hal ini, Wilson melakukan penjelajahan ke Irian Barat pada tahun yang sama. Bersama beberapa anak buahnya, Wilson menjelajahi Irian Barat selama 17 hari untuk membuktikan kebenaran kisah mengenai gunung tembaga. Di sana, ia tercengang karena menemukan bahwa; bukan hanya tembaga yang tersimpan sebagai kekayaan Gunung Estberg melainkan juga bijih emas dan permata. Petualangannya kelak ia tuliskan dalam bukunya berjudul "The Conquest of Copper Mountain" (diterbitkan tahun 1981).

Dengan temuan sepenting ini, Freeport Sulphur merasa mendapatkan peluang untuk kembali melakukan ekspansi. Sayangnya, seperti di Kuba, hal ini tidak dimungkinkan terjadi di Indonesia. Pada tahun tersebut, Soekarno sudah berkuasa dan sedang gencar berusaha merebut Irian Barat dari Belanda.

JFK yang saat itu menjabat sebagai presiden AS, banyak membantu Soekarno untuk merebut kembali Irian Barat. JFK mendesak Belanda untuk menarik mundur pasukannya dengan ancaman akan menghentikan bantuan ke pemerintah Belanda. Belanda yang saat itu porak poranda akibat kekalahan perang sedang sangat membutuhkan suntikan dana. Mundurlah Belanda dari Irian Barat.

Para petinggi Freeport Sulphur bersorak melihat hasil ini, namun tidak lama. Soekarno ternyata sangat tegas mempertahankan sumber daya alam yang Indonesia miliki. Soekarno menolak melepaskan sumber daya apapun kepada pihak asing dan mewajibkan sedikitnya 60 % keuntungan perusahaan asing untuk menjadi hak bangsa Indonesia. Kebijakan ini jelas membuat rugi perusahaan asing yang sebelumnya sudah mulai beroperasi, salah satunya Caltex.

JFK yang asalnya menjadi andalan untuk memuluskan jalan, ternyata malah mendukung penuh niat Soekarno dan kabarnya siap membantu memberikan dana hingga 11 Juta dollar untuk Indonesia.

Pada 22 November 1963, John F. Kennedy, tewas tertembak.

Presiden Johnson, pengganti JFK memiliki sikap berseberangan dengan pendahulunya. Bantuan pada Indonesia drastis dikurangi, kecuali untuk militer. Salah satu orang yang sebut berada di belakang Johnson adalah Augustus C. Long, salah satu direksi Freeport juga pemilik Texaco (yang membawahi perusahaan Caltex).

*Long disebut-sebut sebagai aktor intelektual di balik peristiwa G30s/PKI demi memuluskan jalan bisnis di Indonesia.*

Sejak tahun 1964, berkali-kali perusahaan asing dan para taipan berusaha mendekati Soekarno untuk menanam modal di Indonesia. Semuanya ditolak halus oleh Soekarno. Soekarno benar-benar ingin kekayaan alam Indonesia dikelola oleh anak bangsa. Oleh karenanya, periode 1960-an Soekarno banyak mengirim anak muda Indonesia untuk belajar ke luar negeri, dengan harapan mereka akan sanggup membangun Indonesia saat mereka kembali nanti. Salah satunya adalah Jenderal Sukendro, salah satu petinggi militer yang sering disebut sebagai "the best Indonesian spy" karena kemampuan intelijen nya yang mengagumkan. Kelak pada September 1965, Sukendro luput dari penculikan sebab ia sedang belajar di negeri Cina.

Kembali ke masalah Freeport.

Para petinggi Freeport Sulphur tidak tinggal diam dengan penolakan Soekarno yang terus menerus. Skenario perlu dibuat untuk menumbangkan kekuasaan Soekarno. PKI kemudian dijadikan kambing hitam yang akan menculik para jendral dan kemudian mendiskreditkan posisi Soekarno.

Di luar semua itu, Soekarno memang sudah dianggap berbahaya bagi Amerika Serikat. Tahun 1958 dikabarkan para petinggi CIA sudah sering gerah dengan manuver politik Soekarno yang anti Amerika dan condong ke Rusia dan Cina. Padahal Amerika jelas sedang dalam masa perang dingin dengan Rusia.

Lisa Peace, seorang penulis dan peneliti berkebangsaan Amerika Serikat, pernah menuliskan jejak keterlibatan CIA pada peristiwa 30 September 1965 di Indonesia.

Lisa menulis, pada bulan November 1965, hanya berselang sebulan dari peristiwa berdarah G30S/PKI, Forbes Wilson mendapat telepon dari Langbourne Williams, salah satu petinggi Freeport Sulphur lainnya.

Longbourne bertanya, "Is it now the right time to pursue our project in West Irian?"

(Apakah waktunya sudah tiba untuk memulai proyek kita di Irian Barat?)

Wilson saking kagetnya dikabarkan tidak bisa menjawab apa-apa.

I was so startled that I didn't know what to say.

Darimana Longbourne bisa tahu bahwa Freeport akan disetujui, padahal saat itu Soekarno masih berkuasa? Dikabarkan bahwa para taipan bisnis sudah menunggu waktu hingga kekuasaan Soekarno berakhir.

Hingga pada 11 Maret 1966, keluarlah Supersemar yang menandai keruntuhan Soekarno dan dimulainya rezim Soeharto.

Pada tahun 1967, perjanjian Freeport pertamakali disetujui.

3. Mengenai Film Arifin C Noer dan polemik PKI dan anti PKI

Fakta sejarah sampai hari ini masih simpang siur. Jika Anda hobi membaca pelbagai teori konspirasi, peristiwa pemberontakan PKI di Indonesia adalah salah satu topik yang amat sering diperdebatkan dan diperbincangkan.

Orang bilang, "sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang", sehingga fakta-fakta yang tertuang dalam film Pemberontakan dan Penumpasan G30S/PKI besutan Arifin C Noer menjadi kabur.

Banyak pihak menilai Arifin membuat film berdasarkan pesanan saat itu, yang adalah pemerintah Orde Baru. Pendiskreditan atas PKI dan pengagungan tokoh Soeharto sebagai pahlawan dalam film itu membuat banyak orang menduga banyak hal yang disembunyikan.

Terlebih setelah pada tahun 2012, film dokumentary "The Act of Killing" dan pada tahun 2014 film "The Look of Silence" dibuat oleh sutradara Inggris kelahiran Amerika, Joshua Oppenheimer.

The Act of Killing (Jagal) adalah film dokumentary hasil wawancara Oppenheimer kepada salah seorang eksekutor yang ikut melakukan "pembersihan" masal terhadap Antek-antek PKI. Sementara The Look of Silence (Senyap) berfokus pada sisi korban yang mengunjungi orang-orang yang pernah melakukan pembunuhan pada anggota keluarganya.

Kedua film tersebut membuka mata banyak pihak selama ini yang sering menyayangkan dan mempertanyakan peristiwa genosida pasca tragedi 30 September. Satu juta nyawa manusia Indonesia harus dibayar karena sebuah paham yang diharamkan untuk berkembang.

Namun, secara pribadi; menurut saya kedua film Oppenheimer tidak bisa dibandingkan dengan film Arifin C Noer sebab implikasi mereka berbeda.

Arifin mencoba mendokumentasikan peristiwa penculikan para jenderal yang memang betulan terjadi, terlepas dari lebay tidaknya unsur-unsur yang dimasukkan di situ.

Belakangan beredar hasil otopsi para jendral yang tidak mengalami penyiksaan, melainkan hanya luka tembak. Berbeda dengan adegan di film yang memerlihatkan penyiksaan luar biasa yang dilakukan oleh PKI (dan Gerwani).

Karya Arifin C Noer, hanya berdasarkan pada sumber yang ada pada saat itu (tahun 1982 pada saat filmnya dibuat). Semua fakta yang dicoba dimasukkan adalah apa yang berhasil ia dapatkan. Apakah film ini sarat pesanan Orba atau tidak, mungkin hanya sang pemesan dan Arifin yang tahu. Namun untuk menilai bahwa film ini 100 % omong kosong adalah kesimpulan yang terburu-buru.

Tahun 1982, tidak ada akses terhadap arsip sejarah. Pemerintahan Orde Baru memberangus kesempatan siapapun yang ingin mengutak-atik atau sekedar ingin tahu mengenai masa lalu. Berbeda dengan Oppenheimer yang membuat kedua filmnya di era tahun 2000-an, dimana arus informasi mengalir deras dan keberadaan ia sebagai orang asing di Indonesia memungkinkannya untuk bebas mengeksplorasi film ini (kabarnya kemudian Oppenheimer dilarang datang ke Indonesia karena kedua filmnya ini).

Dari semua artikel, sumber yang saya baca (plus kisah-kisah yang nenek kakek ceritakan), saya berkesimpulan PKI benar adanya. Keberadaan partai komunis yang ingin menguasai Indonesia adalah nyata. Sebelum pecah peristiwa G30S/PKI sudah banyak terjadi peristiwa lainnya. PKI dan kaum beragama tidak pernah akur, itu betul. Para ulama dan pemuka agama selalu menjadi target PKI, karena dianggap bisa menghalangi cita-cita PKI yang ingin membuat Indonesia menjadi sama dengan Rusia dan Cina.

Pun begitu, peristiwa G30/S PKI juga meninggalkan kutukan yang tak pernah lekang oleh waktu. Negeri ini nyaris mengalami perang saudara karena seluruh rakyat yang ditenggarai berafiliasi secara langsung maupun tidak, dihabisi.

Tidak terbayangkan oleh saya, seandainya leluhur saya dulu termasuk orang yang ikut-ikutan "neken surat" (memberikan cap jempol) yang isi suratnya sendiri mereka tidak tahu, dan di kemudian hari diburu dan dibunuh.

Hari ini, berkembang polemik pro PKI dan anti PKI. Dinding media sosial saya dipenuhi pelbagai sikap yang ingin diambil oleh banyak orang. Di satu sisi, ini gejala yang bagus, sebab kita perlu kembali mengkaji sejarah. Tidak serta merta menerima begitu saja doktrin yang selama ini kita dapat.

Pun begitu, terselip kekhawatiran dalam diri saya, bahwa disintegrasi bangsa akan kembali terjadi.

Persoalan beda agama yang sebelumnya mencuat, kini digantikan dengan pancasilais dan tidak pancasilais. Komunis dan anti komunis.

Siapapun Anda, saran saya adalah: silakan pelajari sejarah. Jangan cepat mengambil kesimpulan. Di internet ada banyak artikel dan sumber yang bisa Anda baca dan Anda renungkan.

Kita mungkin belum juga tahu kebenarannya. Namun banyak membaca sumber dan mau kembali membaca runutan sejarah akan membuat kita mampu membuat keputusan yang lebih matang.

Bukan hanya sekedar, teriak "A!" Namun sebetulnya kita tak paham dan belum banyak tahu.

Film G30S/PKI karya Arifin C Noer hanyalah satu sumber. Dan di luar kontroversi fakta sejarah, sebagai penikmat film, saya harus objektif mengatakan bahwa film Arifin salah satu film Indonesia terbaik. Sinematografi, akting dan make up nya termasuk bagus sekali (apalagi jika diingat film ini dibuat tahun 80-an).

Sampai tanggal 29 September kemarin saat TvOne menyiarkan ulang film tersebut, saya masih merinding mendengar music scoring nya.


*ditulis setelah membaca pelbagai sumber*

Sumber bacaan:

https://www.cia.gov/library/readingroom/docs/esau-40.pdf

http://www.nybooks.com/daily/2015/11/02/indonesian-massacre-what-did-us-know/

http://www.tribunal1965.org/en/the-1965-mass-killings-in-indonesia-cia-blames-the-victims-for-being-murdered/

https://www.google.co.id/amp/s/indocropcircles.wordpress.com/2013/05/29/bongkar-konspirasi-antara-sukarno-suharto-dan-freeport/amp/


https://simple.m.wikipedia.org/wiki/Communism

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Vladimir_Lenin

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mao_Zedong

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Religious_communism

http://walentina.waluyanti.com/history-politics/302-penyebab-mengapa-komunis-harus-atheis

https://www.google.co.id/amp/medan.tribunnews.com/amp/2017/09/19/di-mana-soeharto-saat-penculikan-para-jenderal-tni-ad-pada-30-september-1965

http://www.miningfoundationsw.org/Forbes_Wilson

https://www.realhistoryarchives.com/collections/hidden/freeport-indonesia.htm
























  • view 18