Rohingya dan Pemenang Nobel Perdamaian yang tak bergeming

Irma Susanti Irsyadi
Karya Irma Susanti Irsyadi Kategori Politik
dipublikasikan 02 September 2017
Rohingya dan Pemenang Nobel Perdamaian yang tak bergeming



Rohingya adalah etnis muslim yang menghuni wilayah Rakhine Utara (juga disebut "Arakan") Myanmar. Rohingya diyakini sebagai pengungsi dari Bangladesh yang datang ke Burma (nama sebelum Myanmar) di awal abad 16-18.

Pun begitu, ahli sejarah meyakini mereka adalah turunan dari orang Moor (dari barat Laut Afrika, keturunan Arab). Oleh sebab itulah agama mereka Islam.

Alih-alih diterima, Rohingya malah dianggap sebagai "penumpang gelap" yang menjadi beban ekonomi bagi Rakhine. Plus, pada saat pecah perang Inggris-Burma tahun 1942, Rohingya ada di pasukan Inggris, dan turut membantai ratusan ribu penduduk Rakhine. Saat itu Inggris mempersenjatai Rohingya muslim yang berhadapan dengan penduduk Rakhine, diantaranya Para pendeta Buddist. Peristiwa ini dikenal sebagai "Arakan Massacre" atau "pembantaian Arakan".

Dendam lama antara Muslim dan Buddhis kembali tersulut ketika di tahun 2012, seorang pemuda muslim dituduh memerkosa dan membunuh seorang perempuan Buddhis. Tak pelak, sejak itu wilayah Rakhine tak pernah benar-benar aman. Konflik diperburuk dengan adanya ajakan untuk "membersihkan kaum muslim dari tanah Burma" yang diserukan oleh Ashin Wirathu.

Siapakah Ashin Wirathu?

Wirathu pernah dipenjara tahun 2003 karena tergabung dalam gerakan anti muslim di Myanmar. Ia dihukum penjara 25 tahun sebagai tahanan politik, namun di tahun 2012 ia bebas.

Mulai tahun 2012, Wirathu aktif menyerukan gerakan boikot Muslim dari tanah Myanmar. Berkali-kali ia mengatakan pada wartawan betapa ia takut suatu hari muslim akan memimpin Myanmar.

Wirathu kemudian menjadi sangat terkenal, sampai dijadikan cover depan majalah TIME tahun 2013 dengan tajuk berita "The Face of Buddhist Terror". Lucunya, Wirathu menjuluki dirinya sendiri dengan nama "The Burmese Ben Laden".

Para biksu yang manut pada Wirathu berpendapat setiap manusia itu ada yang baik dan tidak, namun muslim itu jahat (dapat dilihat di video yang ada di tautan bawah).

Jelaslah bahwa kisruh yang awalnya terpicu dari sejarah kelam dan motif ekonomi berkembang menjadi sentimen antar penganut agama. Sesuatu yang sangat biasa terjadi saat sebuah konflik dipolitisasi.

Dari pelbagai artikel yang saya baca, cukup dipahami bahwa isu agama memang amat sangat seksi untuk digoreng dan diolah menjadi sebuah topik utama. Meskipun para buddhis pengikut Wirathu mungkin merasa tindakan yang mereka lakukan adalah sebuah perang suci, bisa jadi yang sebetulnya terjadi bukan seperti itu.

Sejarah dunia yang panjang telah banyak membuktikan ada banyak motif berbau (lagi-lagi) sosial ekonomi, bisnis dan politis yang mewarnai pelbagai perang dan konflik yang dianggap sebagai perang agama.

Keberadaan seorang Penganut Budha yang membuat ngeri semua orang, sebab dia kejam, menurut saya simpel saja, sebab dia manusia.

Dan kita tahu betul betapa manusia bisa lebih kejam daripada binatang.

Dulu, penganut Katolik selalu dikaitkan dengan perilaku cinta kasih dan mudah memaafkan. Kemudian Klux Klux Klan yang mengaku Katolik puritan melakukan kekejaman terhadap etnik kulit hitam di Amerika Selatan. Buyarlah citra Katolik yang santun.

Dulu, Muslim selalu dinisbatkan pada perilaku damai, wong arti katanya saja "selamat". Kemudian terorisme di pelbagai belahan dunia yang mengatasnamakan jihad memporak-porandakan imej Islam yang teduh.

Itulah yang sekarang terjadi pada agama Budha. Maka, stop mengeneralisir perilaku sebagian kecil umat beragama sebagai representasi keseluruhan.

Konflik Rohingya sekarang mungkin memang telah berkembang menjadi konflik agama yang diperuncing oleh pelbagai berita sana sini, namun ada baiknya kita mulai memahami akar permasalahan dan tidak melulu berteriak keras menyalahkan satu agama tertentu.

Beberapa hari terakhir ini dinding media sosial saya dipenuhi kabar soal Rohingya, bahkan khotib di Sholat Iedul Adha pun meminta para jamaah untuk ikut mendoakan Rohingya.

Bagi saya, ungkapan simpati dari kita besar artinya, minimal untuk diri kita sendiri.

Mengapa? Sebab bersimpati itu butuh hati.

Di luar fakta bahwa Rohingya terpisah sekian ribu kilometer jaraknya dari kita. Di luar fakta bahwa kita mungkin memiliki perbedaan keyakinan dengan mereka. Di luar fakta bahwa di negeri kita sendiri banyak terjadi konflik horizontal yang masih butuh dibereskan.

Konflik tidak untuk dibandingkan, tak ada gunanya. Jikapun kita masih menganggap masalah di dalam negeri masih terlalu banyak hingga masalah luar negeri tak penting lagi, tidak apa. Namun jangan mengejek. Sebab kau tak pernah tau siapa diantara teman-temanmu yang doa dan keikhlasannya menyentuh langit dan Allah mendengarnya.

Saya mendukung penuh kecaman terhadap Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar secara de facto yang sampai detik ini tidak melakukan tindakan apapun untuk menyudahi konflik Rohingya.

Suu Kyi bahkan tidak mengijinkan perwakilan PBB dan media untuk meliput apa yang sebenarnya terjadi. Rohingya sedang mengalami genosida dan seorang peraih Nobel Perdamaian Dunia tahun 1991 tidak melakukan apapun untuk mengubahnya.

Lebih dari selusin pemenang nobel perdamaian lainnya dikabarkan menulis surat berisi kecaman dan kritikan terhadap Suu Kyi yang mereka kirimkan pada Dewan Keamanan PBB di tahun 2016. Juga tak ada tanggapan.

Suu Kyi bahkan menuduh media membesar-besarkan berita mengenai Rohingya, padahal fakta di lapangan menunjukkan bahwa Rohingya telah mengalami "etnic cleansing" sejak tahun 2012.

Pagi ini saya melihat banyak orang menandatangani petisi untuk meminta nobel perdamaian untuk Suu Kyi dicabut kembali. Entah apakah akan berhasil atau tidak, tapi setidaknya sebagai bangsa Indonesia yang pernah membaca pembukaan UUD 1945, kita sepenuhnya sadar:

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan"





Sumber:
https://youtu.be/GtAl9zJ3t-M

https://www.rappler.com/indonesia/data-dan-fakta/153228-siapa-rohingya-mengapa-termarjinalkan

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Arakan_massacres_in_1942

http://www.bbc.com/news/magazine-22356306

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ashin_Wirathu

http://www.smh.com.au/world/myanmar-crisis-a-human-catastrophe-that-betrays-suu-kyis-nobel-prize-20170902-gy9f5a.html

https://www.google.co.id/amp/www.independent.co.uk/voices/aung-san-suu-kyi-rohinga-muslims-not-the-liberal-made-herself-out-a7920296.html%3famp

http://theconversation.com/life-in-limbo-the-rohingya-refugees-trapped-between-myanmar-and-bangladesh-71957

  • view 127