APLIKASI POLIGAMI YANG BIKIN ANTIPATI

Irma Susanti Irsyadi
Karya Irma Susanti Irsyadi Kategori Teknologi
dipublikasikan 30 Agustus 2017
APLIKASI POLIGAMI YANG BIKIN ANTIPATI

Picture is taken from http://ayopoligami.com/_files/tmpl/lindu_main_page_image_120.jpg


Beberapa hari yang lalu saya membaca pengalaman seorang perempuan yang mencoba masuk ke sebuah aplikasi yang akhir-akhir ini ngetren dan membuat khawatir banyak kaum perempuan. Aplikasi poligami di android.


Yap, Anda tak salah dengar.
Tulisan di bawah ini sempat diposting oleh salah satu teman di media sosial dan disalin beramai-ramai oleh orang-orang lainnya.

Saya berkesempatan menampilkan kembali hasil reportase sang penulis asli, yang tidak mau disebutkan namanya tersebut.


Setelah tulisan ini, selanjutnya adalah tulisan asli si penjelajah aplikasi. Saya akan memberikan tanda petik * untuk menandai batas tulisannya dan tulisan saya. Juga, tulisan saya akan tercetak miring.


terima kasih untuk Deni Kuswandi yang sudah membagikan kisah dari si penulis.

 


*



Poligami buat saya adalah praktek berat yang seharusnya dipahami oleh laki-laki sebagai sesuatu yang juga berat, sebab ia berkaitan dengan tanggungjawab tambahan. Bukan sekedar mengulangi ijab kabul dengan pasangan yang berbeda.
 Dan semua itu buyar saat sebuah tulisan mampir ke dinding sosmed saya.


Seorang perempuan menuliskan petualangannya menelusuri sebuah app selama dua hari.

Aplikasi ayo poligami.


APAAAAAA???

Poligami ada aplikasinya??!??


Yes, that was my first reaction.

Seandainya saya Kajol di film Bollywood, pastilah teriakan saya sudah disertai hujan badai.


Iseng saya cari aplikasinya. Eh ada! Tapi tentu saja saya tidak bisa masuk tanpa akun.


Akhirnya, saya buat email palsu dan akun palsu. Saya ingin tahu mengenai aplikasi ini. Mengapa banyak yang menjadi anggotanya. Ada sekitar 1500 an anggota (yang mengaku) laki-laki dan seratusan anggota (yang mengaku) perempuan.



Saya butuh skenario. Setelah menimbang-nimbang, saya mengaku berusia 22 tahun, janda, asal Bandung. Pekerjaan saya sales kosmetik produk halal di salah satu mall di Bandung.


Mengapa 22 tahun dan janda? Sebab (katanya) biasanya janda (dan masih muda) lebih banyak disukai.


Mengapa sales kosmetik?
Sebab saya ingin menciptakan imej yang cantik tapi lugu.


Please don't try this at home, boys and girls.


Beres bikin profil, saya menunggu. Sambil menunggu, saya lihat menu nya (lupa tidak difoto).

Selain pengaturan akun, ada fitur message, friends, meet (semacam "like" di FB).


Oh ya, kalau Anda mau masuk sebagai laki-laki, ada pilihan seperti ; apakah Anda sudah punya istri, apakah punya surat nikah di KUA, dsb.



Lama tak jua terjadi apa-apa, saya coba memasang foto profile picture. Tentu foto palsu juga. Saya comot sembarangan dari model hijab yang berseliweran di google.


Saya pilih foto yang cantik, tentu saja.


Dan, voila!


Mendadak ada 9 laki-laki beruntun ingin chat dengan saya.


Dari sembilan laki-laki tersebut, tidak semua ingin mengobrol. Ada yang sekedar memberikan jempol (mungkin karena si foto palsu yang cantik tenan itu) atau cuma mengirimkan gambar semacam "gift" berupa cincin pertunangan.


Laki-laki pertama yang memberikan jempol, saya klik profilnya, dan yang terpampang adalah "saya mencari istri simpanan".




Glegh!


I am Speechless.


"Assalamualaikum, ukhti."


Sebuah pesan muncul.

Deg-deg an saya balas salamnya.


"Tinggal dimana?"
"Bandung, akhi."


Dan tiba-tiba saya merasa amat pilu karena ingat banyak teman-teman saya yang soleh dan solehah yang menggunakan panggilan akhi dan ukhti ini.


"Kerjamu apa?"


"Sales kosmetik" (sesuai skenario)


"Siap jadi istri kedua?"


Saya hampir terjungkal dari tempat duduk.


Oh tunggu. Ini kan boongan ya, astaghfirullah.


"Siap ke surga saya mah." Jawab saya. (Dan ini jawaban jujur, ya Alloh)


"Ukhti mencari yang seperti apa?"
"Saya pengennya cari yang dewasa dan kebapakan"


Begitulah tuntunan skenario dadakan yang saya tuliskan.
Hadeuh.


Total ada sekitar 6 laki-laki yang "mengobrol" dengan (akun palsu) saya.

Setiap kali mereka bertanya mengenai kesiapan akun saya menjadi istri kedua, saya selalu balas dengan pertanyaan, "kenapa masih mau cari istri lagi? Kan sudah ada."


Lima diantaranya menjawab dengan pede, "sudah diijinkan sama istri pertama".


Dan ketika akun saya mengatakan, "saya takut ah sama istri pertama kamu" mereka mencoba meyakinkan saya bahwa istri pertama mereka amat sangat tidak akan keberatan.


Salah satu akun malah mengatakan, "kalo ga percaya coba nanti ukhti ngobrol sama istri saya."


Sedihnya,
 Ada satu akun yang malah curhat. Istrinya meninggal tiga bulan yang lalu. Meninggalkan dia dengan dua anak di bawah umur 5 tahun. Setelah itu, saya stop percakapan dengannya. Padahal mungkin saja ia berbohong, sama dengan saya.


Ada sebuah akun "A" yang keukeuh minta foto saya yang asli sebab saya bilang foto saya yang pertama itu bukan asli, soalnya saya malu.


"Kenapa malu?"


"Saya ga punya foto bagus"


"Sebentar saja ukhti, nanti saya kasih foto saya juga."


Setelah itu ia ganti foto (yang entah beneran atau tidak)


Dan karena akun ini "paling menarik" diantara yang lain. Artinya, obrolan dengannya bisa dipancing ke sana sini, saya akhirnya menampilkan foto palsu kedua, yang lebih santai dan kelihatan "sederhana" dibanding foto luar biasa cantik yang sebelumnya.


Dan si akun ini langsung merespon,
"Ukhti cantik, khas wanita sunda yang putih dan manis"


Oke, saya mual.


"Istrinya kemana? Biasanya jam segini kan sama istri?"

Saat itu sudah sekitar pukul 10 malam.


"Sudah tidur," jawabnya.


Oke, jadi kau buat akun di sini dan cari perempuan untuk kau peristri saat istri kamu sudah tidur.


Kepala saya mulai pusing.


"Ukhti kalo kerja di mall gitu ada liburnya?"


"Kalau saya main ke Bandung, boleh mampir ga?"
(Dan ini ditanyakan oleh lebih dari dua akun)


I know it was time for me to stop.
Saya hapus akun.
Hapus email palsu.


Tangan saya masih dingin. Jantung masih berdetak kencang.
Ternyata seperti itu.


Kenyataan menghentak saya seperti gempa. Mungkin saya terlalu naif, membayangkan poligami itu artinya si laki-laki memohon ijin dari istri pertama. Atau mengajukan ke ustadz untuk dicarikan madu buat istri pertamanya.


Tidak, tidak.


Aplikasi ini murni dibuat oleh sekumpulan laki-laki yang terlalu pengecut untuk sekedar menampilkan foto aslinya.

Ini aplikasi sakit jiwa yang isinya tak beda dengan aplikasi "mencari teman kencan" lainnya.


Sebutan "akhi" dan "ukhti" yang bertaburan di sepanjang percakapan hanyalah sekedar apologi yang mereka sematkan supaya bisa terdengar lebih syar'i.


Sisanya, murni mencari perempuan untuk diajak ena-ena.


Pancingan saya dengan foto profil berhijab cantik dan kata-kata yang berkesan lugu sukses menjaring para lelaki yang mungkin seharusnya sedang bercengkerama dengan istri-istri mereka ketimbang "Ngobrol" dengan perempuan yang baru mereka lihat di aplikasi.
 
*


Mengerikan.


Ini seperti film horor yang terjadi di depan mata.


Senang sekali saya melihat tulisan yang diposting seorang teman ini kemudian dibagikan oleh banyak orang.

Meskipun beberapa orang mengatakan bahwa mungkin saja tulisan ini akan disalahgunakan oleh sebagian orang, namun saya sepakat dengan penulis bahwa aplikasi sakit jiwa ini harus diketahui supaya semua orang waspada.


Tindakan tak senonoh atas nama agama itu memuakkan.


- untuk foto-foto percakapan yang diunggah penulis dapat dilihat di link berikut ini 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212594188162235&id=1610304575&ref=bookmarks

  • view 155