Anak tidak suka baca, jangan salahkan sekolah

Irma Susanti Irsyadi
Karya Irma Susanti Irsyadi Kategori Budaya
dipublikasikan 20 Agustus 2017
Anak tidak  suka baca, jangan salahkan sekolah

Sebuah tulisan mampir ke dinding media sosial saya malam ini. Isinya cukup menggelitik. Penulis memertanyakan kiprah sekolah dalam menumbuhkembangkan budaya membaca (dan menulis) di kalangan anak-anak (murid).

Silakan dibaca sendiri, jika penasaran dalam tautan di bawah ini.

https://beritagar.id/artikel/telatah/pertanyaan-untuk-bapak-presiden


Saya tercengang dengan tulisan di atas sebab bagi saya apa yang disampaikan penulis seperti fantasi awang-awang. Penulis total menyalahkan sekolah sebagai institusi yang ia nilai GAGAL dalam mendidik harapan terendahnya, yaitu menjadikan murid gemar membaca dan menulis.

Bapak Ibu yang budiman, minat baca orang Indonesia tercinta kita ini ada di urutan 60 dari 61 negara di dunia. UNESCO bahkan dengan lebih kezamnya lagi mengatakan minat baca kita hanya 0.0001 persen saja.

Siapa yang salah?
Mari, kita runut asal muasalnya. Sambil ngopi boleh.

BUDAYA -

Bangsa kita ini budayanya sosialisasi bukan penyendiri. Orang Indonesia dari jaman polisinya masih berseragam oranye, sudah suka nongkrong di warung kopi sambil bahas politik dan kekinian. Duduk anteng di taman atau perpustakaan sambil memegang buku bukan kebiasaan kita.

EKONOMI -
Harus dipahami, sebanyak apapun Jaguar dan Ferrari yang pernah Anda lihat melintasi jalan raya, tetap saja sebagian besar masyarakat Indonesia adalah kaum menengah ke bawah. Membaca seringkali diartikan sebagai aktivitas MAHAL, yang hanya terjangkau oleh mereka yang berduit.

Pemahaman masyarakat pun adakalanya memandang buku sebagai benda yang percuma. Sebab nasi dan lauk pauk lebih penting. Mendingan perut kenyang ketimbang menghabiskan waktu membaca.

HARGA BUKU -
Harga buku di Indonesia ini menurut saya mahal, tidak terjangkau oleh semua kalangan. Saya yakin masih banyak sekali orang yang saking kepinginnya membaca mesti menabung berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk dapat membeli buku. Jika pun tidak, menyewa buku ke taman bacaan menjadi solusi.

FUNGSI PERPUSTAKAAN

Semua sekolah pasti punya ini. Semua kota, kabarnya juga punya ini. Sayangnya,menurut pengalaman saya, dua-duanya  tidak difungsikan dengan baik.

Perpustakaan sekolah? Isinya hanya deretan buku pelajaran pelbagai tahun yang tidak menarik. Tak ada novel atau biografi. Beruntunglah Anda jika perpustakan sekolah Anda jauh lebih baik dari zaman saya dulu.

Ada begitu banyak alasan yang tergali jika ingin paham apa sebenarnya yang membuat kita malas sekali membaca.

Kita ini masyarakat penonton, bukan pembaca. Masyarakat kita gemar menonton sinetron dan membicarakannya sambil arisan atau memilih terong di pedagang sayuran. Masyarakat kita tidak paham apa itu bedah buku. Sebab buat sebagian besar orang, buku adalah kebutuhan sekunder, atau bahkan tersier.

Lalu, siapa yang salah??
(Kembali ke pertanyaan semula)

Apakah pemerintah?
Pemerintah masalahnya berjibun bukan hanya sekedar menaikkan minat baca namun ribuan hal lainnya. Kemendikbud mungkin bisa ditanyai mengenai ini. Dan saya yakin mereka akan mengatakan sudah ada program untuk ini. Minimal "diselipkan" dalam kurikulum diknas.

Apakah sekolah, seperti tuduhan penulis di atas?

Bisa saja.
Namun untuk saya, menyalahkan pihak sekolah atas sesuatu yang adalah "kebiasaan" agak kurang tepat.

Silakan hitung:
Berapa jam anak kita di sekolah?
Ada berapa mata pelajaran yang mereka dapat?
Berapa jam yang mereka dapat untuk setiap mata pelajaran?
Berapa banyak pekerjaan rumah dan atau ulangan setiap minggu?
Ada berapa siswa dalam satu kelas?

Pun jika guru Bahasa Indonesia mewajibkan setiap anak untuk membaca setiap hari, bacaan seperti apa yang harus mereka baca? Apakah gurunya hanya meminta anak membaca (saja)? Apakah guru mengajarkan keterampilan membaca pada anak? Apakah gurunya JUGA SUKA MEMBACA?

Bisa dilihat bahwa soal gemar membaca ini rumit dan membingungkan. Sebab tak semua sekolah, maaf saya ganti kalimatnya:
Hanya sedikit saja sekolah yang mampu menyediakan buku bacaan yang banyak dan beragam (serta cocok untuk usia murid).

Program membaca ini membutuhkan sosialisasi yang lama dan kerjasama semua pihak. Ingat, di sebagian besar sekolah, jumlah murid bisa mencapai 50 orang dalam satu kelas.

50 orang anak ini memiliki daya baca yang berbeda. Kecepatan membaca yang berbeda. Pengetahuan yang berbeda.
Mengapa pengetahuan?
Sebab membaca juga butuh common ground; butuh latar belakang pengetahuan.

Contoh:
Saat anak membaca kisah segerombolan anak muda yang nongkrong di Starbuck sambil menyesap cappucino.
Apa itu starbuck? Apa itu Cappucino?
Apakah anak-anak yang tinggal di desa terpencil akan langsung paham?

Mengenai keterampilan membaca.

Membaca juga membutuhkan keterampilan. Sebab ada yang disebut intensive reading, dan extensive reading. Membaca untuk menemukan informasi detail atau membaca secara global. Yang mana?

Apakah membaca untuk kesenangan (reading for pleasure) atau membaca untuk mencari informasi umum (reading for gist)?

Seorang guru yang akan mengajarkan ini, pertama ia harus paham dulu. Kedua, ia harus SUKA MEMBACA. Sebab tak mungkin Anda mengatakan bahwa mendaki gunung itu menyenangkan kalau pergi ke kaki gunung saja Anda belum pernah.

Dan dengan sedih saya bisa katakan, banyak guru-guru yang saya temui, tidak suka membaca.

Sekarang,
Anda menyekolahkan anak dengan harapan begitu tinggi terhadap sekolah. Harus bisa ini dan itu. Harus terampil ini itu.

Singkatnya, Anda menyodorkan "produk mentah" ke sekolah, dengan harapan saat produk tersebut lulus quality control, Anda bisa mengambil kembali produk tersebut, kali ini sudah jadi, dan Anda tinggal membanggakannya pada semua orang.

Hey Bung,
Sekolah itu bukan pencetak laminating instan!

Membaca itu dimulai secara personal. Dan harus dimulai dari lingkungan terdekat.

Siapa lingkungan terdekat anakmu? Ya kamu!

Sekarang saya tanya:
Situ pengen anaknya seneng baca, situ suka baca nggak?
Suka beli buku nggak?
Suka mengajak anak ke toko buku nggak?

Kita boleh saja menyalahkan sekolah yang kita anggap tidak kompeten dalam mendidik anak kita, tapi kita selalu lupa satu hal;

Yang wajib mendidik itu orangtuanya.

Yang wajib mendidik itu orangtuanya.

Yang wajib mendidik itu orangtuanya.

Saya ulang sampai tiga kali biar Anda tahu betapa gemasnya saya dengan orangtua yang sukanya menyalahkan terus.

Sekolah itu fungsinya merangsang kemampuan anak supaya muncul. Setelah muncul, diajarkan banyak hal, dikenalkan dengan teman sebaya supaya bersosialisasi. Diberikan ujian supaya kemampuannya terukur.

Anda harus paham bahwa guru pekerjaannya banyak. Administrasinya numpuk, dengan tuntutan kurikulum yang bolak balik berubah macam tren hijab. Mending jika ada perubahan sumber daya gurunya cepat tanggap. Lah, yang gagap, kumaha?

Kita boleh dan harus menggantungkan harapan kepada sekolah (dan guru). Namun bersikap adil lah. Lihat lah dari pelbagai sisi sebelum mengacungkan jari.

Dan sebagai orangtua, oh sungguh sangat berat tugas kita.

Tapi mau bagaimana lagi.

Makanya pikirkan dulu sebelum punya anak. Niatkan dulu. Supaya, ketika "produknya" keluar, kita tidak gagap dan gugup.

Katanya ingin sukses mendidik anak hingga ke surga. Masak mau enteng jalannya?
Yang bener aja.



  • view 108