Berbahasa yang nyaman, sebab ini masalah rasa

Irma Susanti Irsyadi
Karya Irma Susanti Irsyadi Kategori Budaya
dipublikasikan 20 Juli 2017
Berbahasa yang nyaman, sebab ini masalah rasa

Gambar di atas diambil dari https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/ed/7a/76/ed7a76adb672b8620be36a5b8aa89636.jpg



"Saya kadang ga ngerti ya, gimana nge-describe nya. Soalnya banyak parts yang njelimet sih. Overall, sebenarnya mah simpel, tapi ..."


Sedikit banyak kalimat di atas menggambarkan bagaimana orang-orang jaman sekarang berbicara.



Paparan terhadap bahasa asing telah sedemikian besarnya sehingga terkadang sulit untuk tidak menyelipkan satu atau dua kata dalam pembicaraan.



Beberapa orang mulai mengeluhkan ini. Beberapa teman malah menjadikannya sebagai tema penelitian. Fenomena "code-switching"* ini memang nyata dan bukan fatamorgana.

*beberapa orang menyebutnya code switching atau code mixing, silakan dicari saja maknanya*

Dulu saya termasuk yang sering sekali mencampuradukkan pelbagai bahasa dalam percakapan. Saya selalu beralasan bahwa berseliwerannya bahasa di kepala saya membuat saya tanpa sadar berbicara seperti itu.



Setelah saya coba, ternyata otak saya juga bisa dipaksa untuk disiplin menggunakan satu bahasa saja. Sangat bisa. Oleh karena itu, saya mulai belajar untuk menulis lengkap dalam bahasa Indonesia tanpa campuran bahasa lainnya. Jika ada kata yang sulit saya temukan, saya akan tulis dengan cetak miring atau saya kasih semacam catatan kaki.



Maka pernah seseorang berkomentar,

"Kamu bahasanya kayak sastrawan aja!"

Sebab pada saat saya mengobrol dengannya saya amat berhati-hati tidak mengobral pelbagai kata-kata yang sebetulnya ingin saya selipkan sebab rasanya lebih pas.



Apakah yang masih senang mencampuradukkan bahasa itu salah dan saya yang benar?



Oh, tidak.



Sebab bahasa itu masalah rasa.



Sebenci-bencinya saya dengan "Singlish" (bahasa Inggris yang dipakai oleh orang Singapura), harus saya akui bahwa di sana varietas bahasa itu lah yang jamak digunakan.



Kata teman saya, yang disebut bahasa Inggris jaman sekarang sudah bukan bahasa Inggris model "received pronunciation" nya Ratu Elizabeth II. Maksudnya, bukan satu-satunya. Bahasa berkembang begitu cepat dan menjadi "lingua franca"* yang diterima dan digunakan di lingkungan tertentu.



*Silakan cari apa itu "lingua franca". Asal katanya dari bahasa Latin.*



Tempo hari, saya berbincang dengan seorang teman lainnya dan kami sepakat bahwa bahasa, dengan cara dan varietas apapun itu, butuh disampaikan dengan cara yang benar.



Apa itu cara yang benar?



Tentukan dulu siapa orang yang kira-kira akan menjadi pendengar Anda. Atau pembaca Anda, jika ini bahasa tulisan.



Jika sudah, pesan apa yang ingin Anda sampaikan? Sebab itulah inti dari berbahasa. Pesan tersampaikan. Baik dalam dialog maupun monolog.



Bacalah karya-karya penulis dalam buku-buku mereka. Mereka menyelipkan pesan di situ. Apakah pesannya tersampaikan secara sempurna, bergantung pada cara mereka mengampaikan dan cara pembaca mencerna.



Contoh;

jika Anda ingin membuat status mengenai politik negeri ini, kira-kira siapa yang akan memberikan komentar? Teman-teman yang sepaham? Atau justru dari pihak yang berlawanan? Bergantung pada pesan Anda.



Ada orang-orang yang senang menuliskan status secara terbuka, dengan harapan akan mendapatkan komentar yang luas. Mungkin komentar-komentar yang lucu yang kemudian akan ditertawakan bersama-sama.



Ada orang yang maksud pesannya adalah menyerang atau menyindir orang/kelompok tertentu namun ia tak ingin menyampaikannya secara terbuka. Maka ia menyamarkannya dalam bahasa berbalut perumpamaan. Diakhiri dengan tagar #BuatYangNgerasaAja



Semua sah dilakukan. Toh, beranda laman akun kita adalah milik kita. Namun, kembali pada proses penyampaian pesan tadi, jangan heran ketika postingan Anda mendapatkan komentar yang tidak sesuai harapan Anda. Yang terjadi mungkin, pesan Anda tidak tersampaikan atau pembaca status Anda saking tidak memiliki aktivitas lainnya, memutuskan untuk menyumbang komentar. Berhubungan atau tidak komentarnya, itu urusan belakangan.



Dalam teori pragmatik, ada yang disebut hukum kerjasama Grice's Maxim. Ada empat aturan tertuang di dalamnya.



1. Maxim of Quantity;

ini mengenai seberapa banyaknya pesan yang ingin Anda sampaikan. Sebaiknya tidak terlalu berlebihan dan juga tidak terlalu sedikit. Kita berutang banyak pada Vetty Vera yang sudah memperkenalkan frasa "yang sedang-sedang saja".

Contoh:

jika saya mengatakan "A adalah siswa SMA 10 kota C" ini pas.

Beda jika saya mengatakan, "A yang adalah anak paling bandel di kelasnya adalah siswa SMA 10 kota C".

Pada kalimat pertama, tentu yang ingin saya garisbawahi adalah A yang merupakan siswa sekolah tertentu. Sedangkan pada kalimat kedua, yang saya maksudkan menjadi ditambah dengan pernyataan bahwa "A adalah siswa bandel".



Setelah mengatakan kalimat kedua, mungkin saya berharap Anda akan memberikan reaksi semacam mengerenyitkan kening atau menganggapi, "oh jadi si A bandel ya?"

2. Maxim of Quality :

ini mengenai seberapa dapat dipercayanya pesan Anda. Sampaikan pesan yang benar dan sesuatu yang Anda sudah tahu pasti kebenarannya.

Ini yang umumnya jarang terjadi jaman sekarang. Banyak orang tiba-tiba fasih menyampaikan sesuatu hanya karena ia sendiri (atau golongannya sendiri) yang merasa itu benar. Mengenai kebenarannya sendiri, ia belum tau dan ia tidak mau susah payah untuk memeriksa. Terkadang ia hanya berpendapat hanya karena banyak orang memercayai hal yang sama (ad populum).

Saya terkadang lelah menyuruh semua orang (yang saya kenal, tentunya) untuk memeriksa kabar atau tautan berita yang mereka dapat sebelum menyebarkannya lagi.

3. Maxim of Relation;

ini terjadi ketika pesan yang coba disampaikan tidak mendapatkan balasan yang sesuai.

Contoh, jika Anda menulis status tentang sebuah film tertentu, Anda akan berharap, orang-orang yang berkomentar adalah orang-orang yang tahu mengenai film tersebut atau paling tidak sama-sama mengikuti perkembangan film.

Maka, ada seorang teman yang mengatakan pada saya, terkadang ia menulis status dalam bahasa Inggris lengkap sebab ia mengharapkan komentar dari orang-orang yang mengerti saja.

"Kalo aku buat status full Inggris, paling engga aku sudah nyaring level kecerdasan teman-temanku".

Terdengar kejam memang, tapi saya sedikit banyak setuju. Tujuan teman saya mungkin akan tercapai. Orang-orang yang berkomentar pasti yang mengerti, dan mungkin yang tertarik dengan bahasan yang sama.

4. Maxim of Manner;

ini mengenai jelas tidaknya pesan kita tersampaikan. Sampaikanlah pesan kita secara langsung dan tidak bersifat ambigu.

Misal; ketika saya menulis dalam bahasa Inggris,

"He is playing with his balls"

kira-kira pesan apa yang Anda tangkap? Setidaknya ada dua pesan yang mungkin saya maksudkan.

Dan Anda tidak tahu yang saya mau sampaikan yang mana. Pesan secara harfiah atau bermakna lain?

Meskipun saya sering menganggap maxim yang ini agak bersinggungan dengan prinsip bahasa kiasan atau "figure of speech". Sebab sah-sah saja orang memasukkan metafora atau ironi dalam tulisannya.



Apapun itu, ingatlah juga siapa orang yang mungkin menjadi pendengar atau pembaca kita. Apakah kelompok usia tertentu? Apakah semua orang dewasa? Apakah semua berbagi "common ground" yang sama?



*common ground = kurang lebih latar belakang dan atau wawasan yang setara*



Apakah Anda akan keukeuh memasukkan banyak istilah asing ke dalam pesan Anda jika yang menjadi pembaca atau pendengar adalah anak usia TK-SD?



Apakah Anda akan keukeuh mencampuradukkan bahasa Anda dengan bahasa Inggris yang menurut Anda sudah benar?

Sementara di luar sana ada seorang "grammar-nazi" yang mengerenyit tersiksa melihat tulisan Anda yang tata bahasanya kacau?



Semuanya Anda yang menentukan.



Pakailah bahasa yang kita merasa nyaman menggunakannya. Selipkanlah pesan yang ingin kita sampaikan dengan cara yang baik. Kontroversi akan muncul jika pesan kita memang dari awal sudah merangsang adanya polemik.




Salam.



  • view 127