Ulama yang (Tak) Dirindukan

Irma Susanti Irsyadi
Karya Irma Susanti Irsyadi Kategori Renungan
dipublikasikan 01 Juli 2017
Ulama yang (Tak) Dirindukan

*picture is taken from http://4.bp.blogspot.com/-55-uGN7lgi0/TkvPDrM7XCI/AAAAAAAABpc/HBpfCzgTMWE/s400/Quraish-Shihab-biografi-web-1.png*

 

Tulisan ini berkali membuat saya meragu. Sebab ini kontroversial, dan sahabat saya selalu berkomentar, "kamu itu suka banget sih nulis sesuatu yang kontroversi" namun seperti di tulisan saya tempo hari, hati ini tak bisa bohong. Tak bisa dikendalikan atau diembargo. Hati dan intuisi saya mutlak hak prerogatif saya. Maka, inilah.

 

Dahulu, yang namanya ulama pastilah sosok yang dipercayai dan dihormati. Ilmunya diserap, nasihatnya didengar. Orang yang tangannya selalu basah karena peluh orang-orang yang mencium punggungnya. Orang yang bahkan suara dehemnya saat masuk waktu shalat di Masjid bisa membuat banyak orang gugup dan segan.

 

Itu sebelum politik dan ampas-ampasnya menyerang dan melesakkan negeri ini ke jurang perpecahan lini masa lewat provokasi media sosial.

 

Kini, ada ungkapan, "Bergurulah pada ulama anu, anu, anu ... jangan ke ulama yang itu ..."

Seolah umat sedang memilih baju di Pasar Baru. Pilih kelir acak corak.

Lucunya, terkadang yang berkomentar ada juga dari kalangan non muslim, sebab politik yang merusak tadi sudah membuat nalar banyak orang tumpul sehingga menyangka bisa menyebrang semena-mena ke lintas kepercayaan yang sampai kapan pun mungkin tidak akan mereka pahami benar. Jika kalian merasa saya bertindak rasis saat menuliskan ini, silakan dipikirkan bahwa yang paling mengenali halaman rumah kita ya kita sendiri, bukan tetangga. Meskipun tidak saya bantah, jika keelokan taman depan rumah kita semerbaknya hingga ke hidung tetangga. Atau sebaliknya, tengiknya bau sampah di halaman rumah kita membuat tetangga mengerenyit muak. Entahlah, kalian mengerti atau tidak analogi barusan. Tak apa kalau tak mengerti. Percayalah, saya tidak bermaksud menghina siapapun.

 

Ambil contoh seorang Quraish Shihab, pakar tafsir Qur'an lulusan Mesir yang pernah memangku jabatan Rektor, Duta Besar dan Menteri Agama. Pak Quraish mungkin salah satu ulama yang selalu jadi buah bibir sebab pandangan-pandangannya seringkali berbeda dari ulama lainnya.

 

Suatu ketika orang dikejutkan dengan kata-kata beliau yang menyatakan bahwa "mengucapkan selamat Natal kepada umat nasrani itu boleh".  Terbakarlah hati banyak orang, sebab ucapan itu dianggap melanggar aqidah. Sebagian muslim menganggap begitu. Sehingga kemudian, ada banyak kajian mengenai ucapan tersebut. Baik dari segi bahasa, secara aqidah sampai ke hubungannya dengan akhlak. Saya membaca semuanya dan yah, tidak mengapa. Sebab masing-masing punya dalil dan merasa bisa mempertanggungjawabkannya. Maka siapa sih kamu yang maunya menyalahkan terus?

Beberapa waktu kemudian, soal jilbab dipersoalkan. Sebab menurut Quraish jilbab itu tidak wajib. Efek yang ini lebih hebat dari yang pertama. Sebab mayoritas muslim percaya bahwa menutup aurat (dalam hal ini hijab) adalah wajib mutlak, tak ada celah sedikitpun. Saya termasuk yang memercayai ini.

Setelahnya, beredar tautan berita menghebohkan soal Quraish menyatakan bahwa "nabi Muhammad tidak dijamin masuk surga".  Waduh ini luar biasa mencengangkan. Ketika saya baca keseluruhan kabarnya, termasuk kata-kata persis yang diucapkan Quraish Shihab, baru saya pahami. Bahwa jika dipikirkan kembali, tak ada yang salah dengan kata-kata beliau.  Sebab memang yang membuat kita ditempatkan di surga hanyalah rahmat dan kasih sayang Allah, bukan amalan kita.

berikut link ucapan persis nya jika kalian tertarik ingin membaca:

https://www.google.co.id/amp/m.republika.co.id/amp_version/n8rzyk

 

Demikianlah, pelbagai penafsiran beliau yang memang kalimat-kalimatnya termasuk tidak gampang dipahami jika hanya dibaca selintas lalu. Quraish Shihab kemudian disebut liberal, penganut syiah.

 

Di jaman sekarang ketika banyak kalangan mengaku pendapatnya yang paling benar, kuping ini rasanya bisa pekak mendengar tuduhan "munafik, kafir, syiah, liberal, plural"

 

Tempo hari, penasaran saya mengklik tautan video ustadz Abdul Somad yang lagi ngetren itu (ustadz yang gaya bicaranya menyentak-nyentak dan humoris) di Facebook. Seseorang bertanya apa pendapat Ustad Abduk Somad perihal Quraish yang mengatakan bahwa hijab tidak wajib hukumnya. Dan jawaban Ustadz Abdul Somad membuat saya tersenyum.

 

Beliau mengatakan,

"Saya menyaksikan sendiri pada waktu kuliah di Mesir, bahwa Quraish Shihab (pada saat itu menjabat sebagai dubes); jangankan anaknya, istrinya pun tidak memakai hijab. Dalam hal ini ia keluar dari jumhur (mayoritas) ulama. Hanya dalam hal ini saja."

Saya merasa Ustadz Abdul Somad bijak sekali. Jikapun ia tidak menyetujui pendapatnya Quraish Shihab, ia tidak mengatakannya secara terus terang. Ia masih menjaga izzah atau kehormatan seorang Quraish Shihab sebagai seorang ulama besar. Maka siapa kamu, yang terang-terangan menyebut Quraish Shihab sebagai seorang munafik?

Maka kepandaian dan kecemerlangan Quraish Shihab ketika memaparkan Quran dalam "Tafsir Al-Misbah" dan semua karya-karyanya yang luar biasa seketika hangus sebab ia memiliki pandangan berbeda dengan kita. Dan kita ini, yang mengaji saja masih patah-patah, dengan entengnya menunjukkan jari, menuding dan melabeli.

Padahal kata DR. Zakir Naik, selama seseorang percaya bahwa Allah itu satu dan meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya, maka ia muslim. Dua itu saja. Preman pasar pun yang mungkin punya tato sebadan-badan dan seumur hidup tak pernah menyentuh air wudhu (mungkin ya, ini cuma dramatisasi saja) jikalau ia meyakini dua hal di atas, maka ia muslim. 

Dan DR. Zakir Naik tidak luput dari benci. Banyak kalangan menilai ia seharusnya tak dijinkan ceramah lagi karena ceramahnya selalu menyinggung umat agama lain dengan membandingkan kitab-kitab suci yang ada. 

Seorang Aa Gym yang dahulu dipuja sebagai ulama pemersatu umat sempat dicaci sebab ia memutuskan beristri dua. Segala yang baik tentangnya hilang seketika. Padahal banyak orang dimudahkan jalannya menggapai hidayah lewat beliau, termasuk saya. Mungkin ceramahnya terkesan biasa, mungkin sering dianggap basi. Tapi mau ngomong apa kamu, jika ternyata ia menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang?

 

Pada jaman dahulu kala, ulama dirindukan. Kini tidak lagi. Kini ulama ada clusternya. Ada kategorinya. Semacam bahan hijab, ada yang dianggap berkualitas tinggi ada yang KW. 

 

Suatu hari, di kantor kami membahas soal pilkada Jabar. Beberapa diantara kami menyayangkan adanya nama Aa Gym sebagai salah satu kandidat. Sebab kamu menganggap Aa lebih cocok jadi ustadz saja. Saya berujar, bahwa saya sangat hormat pada Aa tapi saya kurang setuju kalau beliau maju.

Seorang rekan mendelik,

"Ngapain lo pake respek2 segala ama dia? Dia tuh apa sih, hianatin istrinya ... bla bla bla"

Terus terang saya langsung sakit hati. Sebab saya mengenal Aa sejak usia saya belasan tahun, meskipun hanya sebatas jemaah pengajian. Namun saya sadari bahwa pengetahuan saya dan pengetahuan teman saya tentang Aa berbeda, maka perasaan kami pun berbeda. Mungkin sama dengan  banyak orang sangat membela dan menghormati Habib Rizieq. Betapapun kontroversialnya ia.

 

Menjadi orang berilmu itu tidak mudah, kawan.

Ketika kita pergi berobat ke dokter, kita tahu bahwa ongkos pemeriksaan yang mahal itu kita keluarkan sebab dokter yang melayani kita sekolahnya susah, ilmunya mahal. Ia memiliki tanggungjawab moral sebagai seorang penyembuh. Dan tanggungjawab ini mungkin sangat tidak sebanding dengan uang ratusan ribu yang kita bayar.

 

Demikian pula ulama. Kau pikir ia hanya tamatan sekolah agama di kampung? Kau kira ucapan-ucapannya hanya keluar dari hasil menyontek kata-kata mutiara versi hallmark?

Ingatlah bahwa orang berilmu ditinggikan derajatnya lebih tinggi oleh Allah SWT.

Dan orang berilmu, tidak akan seperti kita, yang petantang petenteng merasa sudah paling oke padahal cuma modal browsing ayat di google. 

Sedih.

Semoga nanti ulama tetap dirindukan. Dan orang-orang yang kurang ilmu seperti kita sanggup menahan mulut dan mengkaji terlebih dahulu. Sebab seringkali kecepatan mulut tidak diimbangi dengan kecanggihan otak.

Mereka ulama dengan keilmuannya, dan mereka bersandar pada Allah atas pertanggungjawaban mereka. 

sementara kau, dengan mulutmu,

bagaimana akan kau bela nanti?

 

 

 

 

  • view 65